Saham

Menerka Kinerja Perusahaan via Indikator Net Present Value

Ajaib.co.id – Sebelum mulai berinvestasi saham, penting untuk mengetahui kinerja keuangan suatu emiten yang kamu jagokan.

Sehingga kamu bisa memiliki keputusan investasi yang matang sebelum berivestasi pada saham tertentu. Salah satu cara untuk memilih kelayakan investasi adalah memerhatikan komponen dalam laporan keuangan perusahaan.

Nah, informasi mengenai laporan keuangan perusahaan terbuka sebenarnya bisa diakses publik melalui halaman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.

Di tengah kondisi pandemi seperti saat ini, banyak sekali perusahaan yang berbondong-bondong memangkas belanja modal bahkan absen memberikan dividen tunainya kepada investor demi mempertahankan cash flow atau arus kas.

Kamu sebenarnya bisaloh melihat realisasi aliran kas masuk dan keluar ini melalui lampiran laporan arus kas perusahaan.

Pentingnya arus kas tersebut bagi perusahaan memunculkan indikator Net Present Value (NPV) yang banyak dipakai untuk menganalisa keuntungan untuk proyek yang akan dilakukan dalam kurun waktu tertentu.

Pengertian Net Present Value

Net Present Value (NPV) adalah istilah yang digunakan untuk mengetahui selisih arus kas yang keluar dan yang masuk dalam suatu periode tertentu.

NPV biasanya digunakan untuk menentukan penganggaran dan perencanaan modal untuk menganalisis profitabilitas investasi atau proyek.

Jika NPV menunjukkan level positif, hal ini berarti proyeksi pendapatan yang dihasilkan dalam perencanaan proyek atau investasi lebih besar dibandingkan perkiraan biaya yang akan dikeluarkan sehingga menghasilkan keuntungan.

Berkebalikan, jika NPV menunjukkan level negatif, hal ini berarti proyeksi pendapatan yang dihasilkan dari sebuah proyek atau investasi lebih kecil dari perkiraan biaya yang akan dikeluarkan sehingga menghasilkan kerugian.

Dengan demikian, NPV seringkali dianggap sebagai indikator yang menentukan apakah suatu proyek atau investasi bisa untuk dilanjutkan atau tidak.

Cara Menghitung NPV

Setiap arus kas yang masuk per periodenya dihitung secara cermat dan hati-hati lalu kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan nilai NPV. Total NPV kemudikan akan dikurangi oleh biaya investasi sehingga menunjukkan hasil dari proyeksi investasi tersebut.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, jika hasil proyeksi investasi tersebut berada di zona positif berarti investasi yang dilakukan menghasilkan keuntungan, dan begitupun sebaliknya.

Adapun, rumus cara untuk menghitung NPV adalah sebagai berikut:

Keterangan:

N = Jumlah periode

t = Periode arus kas yang diukur

Rt = Arus kas pada periode t

Sebagai contoh, sebuah perusahaan ritel ingin menyewa toko baru dengan lokasi yang strategis yakni di lantai satu di dekat lobi di sebuah mal terkenal di Jakarta.

Dengan keunggulan seperti itu, maka sangat penting untuk mengukur pendapatan dari toko tersebut di masa yang akan datang menggunakan indikator Net Present Value .

Adapun, nilai NPV yang didapatkan perusahaan menggunakan rumus NPV adalah sebesar Rp1 miliar.

Perusahaan tersebut akhirnya bernegoisasi untuk mendapatkan harga sewa terbaik dari pemilik gedung mal, namun pemilik gedung hanya bisa memberikan harga sewa Rp1,3 miliar per tahunnya.

Hal ini berarti, nilai investasi perusahaan tersebut untuk membuka toko di mal itu tergolong mahal.

Solusinya, perusahaan tersebut bisa menyewa toko di tempat yang tidak terlalu strategis di mal tersebut hingga mendapatkan nilai NPV yang berada pada level positif.

Jika pun tidak di mal tersebut, perusahaan bisa membidik pembukaan toko di pusat perbelanjaan lain yang memiliki biaya sewa per tahun lebih rendah dari Rp1 miliar per tahun.

Karena, nilai harga sewa yang harus dibayar di bawah NPV mengindikasikan investasi pembukaan toko tersebut memberikan keuntungan yang lebih dari biaya yang akan dikeluarkan.

Penerapan NPV

Dengan mengaplikasikan cara menghitung NPV, selanjutnya kamu akan mempelajari penerapan NPV dalam kegiatan investasi berdasarkan laporan arus kas di masa yang akan datang.

Indikator Net Present Value juga menerapkan metode time value money yang artinya sejumlah uang yang sama akan jauh lebih bernilai saat ini dibandingkan dengan masa depan karena mempertimbangkan inflasi.

Dengan demikian, dalam penerapannya, NPV juga mempertimbangkan discount rate atau diskonto. Masing-masing perusahaan memiliki cara yang berbeda dalam menentukan diskonto.

Namun, salah satu metode yang paling umum dalam menentukan diskonto adalah dengan menerapkan ekspektasi imbal hasil dari investasi lain yang mempunyai nilai risiko yang sama (internal rate of return/IRR), atau biaya dari pinjaman yang untuk melaksanakan proyek investasi tersebut.

Penerapan indikator Net Present Value juga memiliki kekurangan yakni terlalu bergantung pada banyak asumsi dan perkiraan mulai dari biaya hingga periode waktu. Sehingga membuat indikator Net Present Value ini tidak fleksibel atas kesalahan yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.

Perusahaan pada dasarnya menganggarkan biaya berdasarkan pada asumsi awal tanpa mencadangkan biaya tidak terduga atau biaya tambahan yang besar. Padahal sebuah proyek investasi, apalagi yang baru dilakukan dalam beberapa kali, rentan memakan biaya tak terduga yang cukup besar.

Ditambah lagi, terdapat diskonto dan perkiraan arus kas masuk yang tidak setara dengan risiko yang ada pada sebuah proyek investasi dan kemungkinan perusahaan mengasumsikan arus kas maksimal pada periode investasi. Hal ini umumnya terjadi apabila perusahaan terlalu optimistis terhadap suatu proyek investasi.

Karena itu, manajemen perlu mengantisipasi biaya tak terduga dan mengatur arus kas agar tidak terlalu ‘jebol’ karena terlalu optimis. Begitupun, perusahaan jangan terlalu pesimis memandang proyek investasi dengan menganggarkan biaya pengeluaran yang terlalu banyak.

Hal ini penting agar ke depannya, perusahaan tidak mencatatkan cash flow yang negatif alias besar pasak daripada tiang.

Selain itu, indikator Net Present Value hanya menilai arus kas yang dihasilkan dalam periode yang dihitung dan mengabaikan waktu yang dibutuhkan dalam operasi agar menyentuh level break even point atau BEP.

Tidak ada salahnya juga untuk mencoba indikator Net Present Value untuk mengukur nilai investasi untuk beberapa emiten yang memang bergantung pada pendapatan proyek investasinya seperti halnya emiten di sektor konstruksi.

Kamu bisa melakukan analisa sendiri terhadap nilai orderbook dan biaya yang dikeluarkan emiten tersebut dalam kurun waktu penyelesaian proyek tersebut.

Setelah mendapatkan emiten dengan kinerja keuangan yang baik berdasarkan dengan indikator NPV-nya, kamu disarankan untuk juga membeli saham-sahamnya melalui aplikasi investasi Ajaib yang mudah, nyaman dan aman.

Karena siapa tahu, emiten yang kamu anggap berkinerja baik tersebut bisa mengalami penguatan harga saham dan kamu bisa mendapatkan keuntungan transaksi sahamnya.

Aplikasi Ajaib sudah bisa kamu dapatkan dengan mudah melalui Google Play dan Apple Store. Selain mudah dan relatif lebih nyaman, aplikasi Ajaib juga aman karena sudah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Artikel Terkait