Analisa Saham

Bisnis Hotel Bali Sepi, Ini Kinerja Keuangan Saham SSIA

Ajaib.co.id – PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang properti, konstruksi, dan hospitality secara langsung maupun melalui anak usaha.

Perusahaan ini awalnya berdiri dengan nama PT Multi Investments Limited pada tahun 1971, sebelum kemudian bertransformasi menjadi PT Surya Semesta Internusa pada tahun 1995.

Portofolio PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dan anak-anak usahanya antara lain Kota Industri Suryacipta seluas 1400 hektare di Kawang, Hotel Gran Melia Jakarta dan Melia Bali Hotel (bintang 5), Jumana Bali (bintang 5), serta jaringan BATIQA Hotels (bintang 3). Salah satu anak usahanya, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), merupakan kontraktor penggarap proyek jalan tol Cikampek-Palimanan dan beragam infrastruktur lain.

SSIA memiliki divisi investasi yang memegang saham di perusahaan lain melalui PT Enercon Paradhya International. Perusahaan juga telah meluncurkanplatform sewa hunian online Travelio di bawah anak usaha lainnya, PT Horizon Internusa Persada.

SSIA melakukan pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia pada 27 Maret 1997 dengan harga penawaran Rp975 per lembar. Saham SSIA saat ini memiliki market cap sebesar Rp2,16 triliun dengan harga penutupan Rp460 per lembar pada tanggal 14 Juni 2021.

Kepemilikan saham SSIA terbesar berada di tangan masyarakat, yakni sebesar 66,52%. Bagian saham lainnya berada di tangan PT Arman Investments Utama (9,02%), PT Persada Capital Investama (7,85%), GSI S/A Intrepid Investments Limited (7,73%), Reksa Dana HPAM Ekuitas Progresif (5,55%), serta treasury (3,33%). SSIA tidak memiliki pemegang saham pengendali.

SSIA memiliki pengalaman bisnis selama lebih dari 40 tahun. Tapi, bagaimana dengan kinerja bisnis dan prospek sahamnya? Berikut ini analisis saham SSIA yang perlu kamu tahu.

Kinerja Laporan Keuangan Terakhir

Laporan keuangan SSIA untuk kuartal pertama tahun 2021 membukukan kerugian yang semakin menumpuk lantaran bisnis hospitality yang terpuruk di tengah pandemi Covid-19. Berikut rangkuman kinerja laba SSIA berdasarkan laporan tersebut (dalam miliar rupiah kecuali jika dinyatakan secara khusus):

Data di atas menunjukkan bahwa hasil penjualan dan pendapatan usaha SSIA semakin merosot. Perusahaan sudah berupaya menekan beban-beban, tetapi tetap saja tak mampu menyelamatkan kinerja keuangan. Alhasil, kerugian meningkat 3,51 persen secara year-on-year.

Riwayat Kinerja

Bagaimana dengan rasio-rasio keuangan SSIA dari tahun ke tahun? Apakah kinerja keuangan pra-pandemi cukup baik? Berikut ini perbandingan kinerja keuangan SSIA sejak kuartal terakhir 2017 hingga kuartal pertama 2021:

Tabel menunjukkan bahwa kinerja SSIA tak selalu buruk. Sebelum kasus Covid-19 melanda, SSIA rutin membukukan kinerja positif. Namun, NPM di bawah 5 persen menandakan bahwa kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba tergolong lemah. Rasio utang lebih dari 90 persen juga termasuk cukup tinggi.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Surya Semesta sering membagikan dividen, tetapi jumlahnya makin menipis dari tahun ke tahun. Berikut ini riwayat pembagian dividen saham SSIA sejak 2012 (dari laba tahun fiskal 2011) hingga 2020 (dari laba tahun fiskal 2019):

Prospek Bisnis SSIA

Pada 18 November 2020, SSIA baru saja melakukan peletakan batu pertama Subang Smartpolitan. Proyek pengembangan baru seluas 2717 hektare yang mengusung konsep smart housing ini terletak sekitar 89 KM Timur Jakarta.

Proyek terhubung dengan jalur transportasi strategis ke Trans Jawa Toll Road, Bandara Internasional Kertajati, Pelabuhan Laut Patimban, serta kereta api untuk penumpang dan kargo.

Surya Semesta mencanangkan anggaran belanja modal (Capex) sebesar Rp700 miliar untuk tahun 2021 dari dana tunai SSIA dan pinjaman International Finance Corporation (IFC). CAPEX terutama akan dipergunakan untuk mengakuisisi lahan dan membangun infrastruktur dasar Subang Smartpolitan, serta renovasi hotel di Ungasan Bali.

Perusahaan optimistis hasil pendapatan pra-penjualan (marketing sales) properti tahun ini akan lebih baik dibanding tahun 2020, demikian pula dengan pendapatan dari sektor konstruksi dan perhotelan. SSIA telah mematok target pra-penjualan dari Karawang sebanyak 20 hektare dengan harga USD125 per m2, serta Subang sebanyak 40 hektare dengan harga USD100 per m2.

Terlepas dari optimisme tersebut, masalah utang SSIA patut untuk disoroti. Pefindo telah memangkas peringkat utang SSIA dari idA- dengan outlook negatif menjadi idBBB+ dengan outlook stable.

Salyadi Saputra, Direktur Utama Pefindo, menyatakan dalam keterbukaan infomasi bertanggal 11 Januari 2021, “Efek utang dengan peringkat idBBB mengindikasikan parameter proteksi yang memadai dibandingkan efek utang Indonesia lainnya. Walaupun demikian, kondisi ekonomi yang buruk atau keadaan yang terus berubah akan dapat memperlemah kemampuan emiten untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas efek utang.”

Untuk mendongkrak profil keuangannya, SSIA mengambil beberapa langkah seperti efisiensi biaya dan menegosiasikan ulang persyaratan pinjaman dengan kreditor. Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 8 Maret 2021 akhirnya menyetujui waiver untuk Obligasi Berkelanjutan I Surya Semesta Internusa Tahap I Tahun 2016 Seri B dengan nilai pokok Rp328 miliar.

RUPO juga menyetujui waiver atas tidak terpenuhinya kondisi keuangan Interest Coverage Ratio dalam laporan keuangan SSIA 2020.

Kesimpulan

Kinerja usaha Surya Semesta terpukul hebat akibat terpuruknya bisnis hotel di tengah pandemi Covid-19. Perusahaan telah berupaya menggali celah bisnis lain, termasuk platform Travelio, tetapi belum mampu memberikan hasil yang memuaskan. Di sisi lain, risiko utangnya meningkat.

Kondisi keuangan SSIA untuk saat ini masih tergolong aman, karena renegosiasi sebagian utangnya berlangsung lancar. Perusahaan punya peluang untuk turn around seiring dengan meningkatnya trafik hotel dan penjualan properti pasca-pandemi kelak. Namun, syaratnya di sini adalah pemulihan kondisi makro yang belum tentu dapat terealisasi dalam waktu dekat.

Artikel Terkait