Investor Pemula, Saham

5 Hal Dasar yang Pengaruhi Harga Saham yang Naik Turun

5 Hal Dasar yang Pengaruhi Harga Saham yang Naik Turun

Ajaib..co.id. Berita keuangan belakangan kerap dihiasi dengan kabar akan harga saham yang terjun bebas. Pasar modal dikabarkan mengalami penurunan kinerja selama akhir Februari sampai dengan Maret 2020. Laporan keuangan juga menunjukkan jike pemelahan terjadi pada sektor ekonomi secara global. Sejumlah mata uang asing yang selama ini dominan seperti Yuan dan Dollar Amerika juga melemah.

Dikutip dari CNN Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terjungkal ke posisi 4.947 atau merosot 200,40 poin (4 persen) pada perdagangan sesi pertama pada Kamis, 12 Maret 2020. Indeks harga saham mencatat level terendahnya dalam empat tahun terakhir. Capaian yang memubuat banyak pelaku pasar ketar-ketir.

Namun, bukan cuma IHSG yang meradang karena indeks saham negara-negara lain juga terjun bebas. TSementara itu, indeks Nikkei Jepang yang amblas 1.003 poin (5,17 persen), indeks Hang Seng di Hong Kong juga melorot 913,7 poin (3,62 persen). indeks Singapura yang turun 100,62 poin (3,61 persen), indeks FTSE London trun 83,71 poin (1,4 persen), serta indeks Dow 30 di New York ambruk 1.465 poin (5,86 persen).

Sejumlah pemegang saham beramai-ramai melepas kepemilikannya karena takut merugi. Kinerja buruk yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bursa pasar modal di berbagai negara ini bukannya tanpa alasan. Tren pelemahan pasar keuangan terjadi setelah Virus Corona merebak di berbagai negara.

Semakin buruk lagi ketika WHO menaikkan status epidemi menjadi pandemi atas penyakit yang diberi kode Covid-19 ini. Para investor takut kehilangan uangnya di pasar saham yang kini berisiko tinggi jika bursa terus melemah dan memilih untuk menggunakan uangnya pada instrumen investasi yang lain. Salah satunya contohnya seperti instrumen investasi berupa emas yang terus mencatatkan rekor akan capaian harganya.

Naik dan turunnya saham memang sulit diprediksi secara pasti. Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi. Penyebaran Virus Corona menjadi salah satu contoh betapa pasar modal sangat rentan terpengaruh akan tren yang terjadi secara global. Meki demikian, fluktuasi harga saham adalah hal yang teramat normal.

Bahkan saham blue chip di BEI seperti saham PT Unilever pun pasti pernah mengalami pelemahan. Sebagai investor saham sudah seharusnya tidak mudah panik akan perubahan harga saham. Tindakan yang lebih baik adalah menganalisa kondisi dan kemudian mengambil langkah yang dibutuhkan untuk menyelamatkan investasimu.

Harga Saham Naik dan Turun, Apa Penyebabnya?

Membeli saham sendiri merupakan salah satu investasi yang paling terkenal karena hasilnya yang relatif tinggi dibandingkan jenis investasi lain. Secara sederhana, harga saham akan naik apabila banyak investor yang ingin membeli saham tertentu dalam satu waktu. Sebaliknya, harganya akan turun apabila banyak investor yang ingin menjual sahamnya bersamaan. 

Namun praktiknya tidak semudah itu dipahami. Ada kalanya satu emiten memiliki kinerja buruk di lantai bursa karena terkena dampak dari berbagai hal. Ada pula momen ketika saham lapis kedua mendadak menguat dan terlihat potensial seketika. Seni dari berinvestasi saham adalah memahami naik dan turunnya harga saham sembari berupaya mendapatkan keuntungan seoptimal mungkin.

Berita soal kenaikan dan penurunan harga saham setiap hari bisa didapatkan. Perubahan yang disebut fluktuasi harga ini sangat umum terjadi bahkan bagi saham blue chip atau saham unggulan. Bagi para investor, berita ini tentunya sangat berdampak dan menjadi acuan bagi langkah mereka berikutnya di bursa efek.

Namun apa saja yang menyebabkan perubahan harga saham selama ini? Berikut Ajaib rangkumkan berbagai alasan dasar yang menyebabkan fluktuasi harga saham di pasar modal antara lain:

1. Aksi Perusahaan

Berbagai kebijakaan perusahaan berpengaruh langsung pada harga saham setiap harinya. Aksi yang dimaksud antara lain pengambilalihan perusahaan atau akuisisi, penggabungan atau merger, right issue, dan divestasi. Right issue adalah hak yang diberikan kepada investor lama untuk membeli saham baru. Sedangkan divestasi ialah pengurangan beberapa jenis aset baik dalam bentuk finanasial atau barang. 

2. Kebijakan Pemerintah

Investor yang bijak akan selalu memantau kebijakan ekonomi yang dilakukan pemerintah karena dapat memengaruhi harga saham. Beberapa kebijakan yang berpengaruh misalnya seperti keputusan ekspor-impor, pemberlakuan bea cukai, utang, Penanaman Modal Asing (PMA), kebijakan perseroan, dsb. Meskipun baru sekedar wacana, kebijakan tersebut menjadi sensitif untuk naik turunnya saham khususnya dalam perdagangan harian. 

3. Proyeksi Perusahaan

Proyeksi kinerja perusahaan penting bagi fluktuasi harga saham. Jika dianggap menjanjikan, besar kemungkinan para investor akan semakin tertarik karena dianggap mampu memberikan keuntungan di waktu mendatang. Beberapa faktor yang paling menentukan dalam analisis kinerja perusahaan ini adalah tingkat rasio utang, tingkat laba perusahaan, rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR), dan laba per lembar saham atau earning per share (EPS).

4. Kurs Rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing juga menjadi faktor penting dalam naik turunnya harga saham. Hal ini khususnya berlaku pada perusahaan yang bergantung pada mata uang asing. Sebabnya, biaya produksi dan utang akan memengaruhi keuntungan yang menjadi takaran para investor dalam melepas atau mempertahankan sahamnya. Secara tidak langsung, ini akan berdampak turunnya harga saham di bursa efek.

5. Faktor Panik

Kepanikan dapat memicu investor saham beramai-ramai menjual sahamnya sehingga harganya akan turun. Salah satu penyebabnya ialah berita buruk terkait produk atau perusahaan terkait. Sebagai contoh, saham Samsung melorot pasca ditariknya Galaxy Note 7 dari pasaran setelah beberapa laporan ledakan akibat cacat pada baterai.

Melansir dari Time, nilai saham Samsung turun hingga 6,3% pada pertengahan Juli 2016 lalu. Pemberitaan buruk membuat investor ingin segera melepas sahamnya karena tidak ingin menanggung kerugian meski sebenarnya hal tersebut belum bisa dipastikan. 

Penjelasan di atas adalah alasan paling mendasar perubahan harga saham. Jika ingin berinvestasi namun masih ragu, kamu bisa memanfaatkan Ajaib untuk memulai investasi pertamamu. Apabila saham terlalu membingungkan maka bisa mulai dengan investasi di reksa dana saham.

Segera unduh aplikasi Ajaib di ponselmu dan daftar hanya dengan nomor telepon dan alamat email. Aplikasi yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini kemudian akan membantu mengembangkan uangmu dengan aman dan nyaman.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait