Saham

4 Fenomena Pasar Saham, Manfaatkan untuk Jual Beli Saham

Ajaib.co.id – Investor saham pemula sering kali menanyakan tentang kapan waktu yang tepat untuk menjual atau membeli saham. Waktu yang tepat untuk membeli saham tentunya saat harga saham sedang terdiskon, sedangkan waktu yang tepat untuk menjual saham adalah saat target keuntungan investasi sudah tercapai.

Tapi selain itu, membeli atau menjual saham dapat memanfaatkan beberapa momentum atau fenomena yang terjadi di pasar saham. Momentum pasar saham ini terjadi di bulan-bulan tertentu sepanjang tahun.

Fenomena pasar saham terjadi di awal tahun, pertengahan tahun dan akhir tahun. Apa saja momentum tersebut? Berikut ini daftarnya.

1.    January Effect

Setiap menjelang atau memasuki bulan Januari, istilah yang sering disebut para pelaku pasar saham adalah January Effect.

January Effect adalah suatu fenomena di pasar saham yang dipercayai di mana harga saham cenderung naik di bulan Januari. Efek kalender ini menciptakan kesempatan bagi investor saham untuk membeli saham di harga lebih rendah sebelum Januari dan menjualnya setelah harga sahamnya naik.

January Effect pertama kali diamati sekitar tahun 1942 oleh seorang bankir bernama Sidney B Wachtel. Ia mencatat bahwa sejak tahun 1925, terjadi peningkatan harga saham di bulan Januari, terutama pada saham-saham berkapitalisasi kecil.

Ada beberapa teori yang bisa menjelaskan tentang January Effect. Teori yang paling umum menjelaskan fenomena ini adalah bahwa investor individu cenderung melepas saham untuk menghindari pajak di akhir tahun. Kemudian mereka membeli kembali saham tersebut di bulan Januari, yang mengakibatkan harganya naik.

Teori lain mengatakan penyebabnya adalah kebanyakan investor individu yang bekerja menerima bonus akhir tahun, kemudian bonus tersebut dibelikan saham di bulan Januari.

Apakah efek kalender berupa January Effect itu ada di Indonesia? Data membuktikan sebagai berikut:

Data di atas menunjukkan dalam 30 tahun terakhir (1991-2020), IHSG lebih banyak naik daripada turun sepanjang Januari (dihitung dari akhir Desember hingga akhir Januari). IHSG Januari turun pada 1991, 1995, 2000, 2003, 2007, 2008, 2011, 2017 dan 2020.

Dengan kata lain, IHSG bisa naik dan juga bisa turun di bulan Januari walau sejarah membuktikan lebih banyak naik.

2.    Sell in May Go Away

Sell In May And Go Away pada prinsipnya adalah strategi untuk menjual saham di bulan Mei dan akan kembali membeli saham di bulan November. Tujuannya adalah menghindari periode Mei-Oktober dimana periode tersebut biasanya memiliki tingkat kenaikan harga lebih rendah dibanding bulan lainnya.

Mari kita lihat tingkat kenaikan HSG di bulan Mei-Oktober, dibandingkan dengan bulan November-April.

Secara umum dari data statistik dapat dikatakan bahwa ungkapan Sell In May And Go Away benar-benar terjadi di IHSG. Dalam kurun waktu 1995-2020 (25 tahun), tingkat kenaikan rata-rata IHSG di bulan Mei – Oktober hanya 0,80%, sedangkan di bulan November – April mencapai 13,15%. Perbedaan yang sangat signifikan.

3.    Santa Rally

Setiap menjelang Hari Natal, karakter Santa Claus sering muncul di berbagai tempat, mulai dari pusat perbelanjaan sampai media. Santa Claus adalah sosok yang menghadirkan keceriaan dan memberikan hadiah kepada anak-anak saat Hari Natal.

Sosok “Santa Claus” ternyata juga hadir dalam imajinasi para investor menjelang Hari Natal. Investor saham biasanya menanti Santa Claus Rally atau peningkatan harga-harga saham menjelang dan sesudah hari Natal 25 Desember.

Situs Investopedia mendeskripsikan Santa Claus Rally sebagai peningkatan (harga saham) di pasar saham yang terjadi di pekan terakhir Desember sampai dua hari pertama di Januari.

Mengapa fenomena itu bisa terjadi? Ada berbagai kemungkinan, salah satunya adalah penggunaan bonus akhir tahun para investor untuk berinvestasi saham. Dengan uang bonus, investor membeli saham di bursa. Peningkatan permintaan saham tersebut mengerek harga.

Mari kita simak data perubahan IHSG dalam 10 tahun terakhir. Data perubahan dihitung selama tujuh hari perdagangan yang terdiri lima hari terakhir di Desember dan dua hari pertama di Januari:

Tabel di atas menunjukkan bahwa IHSG selalu positif dalam periode singkat tersebut. Peningkatan bahkan ada yang mencapai 4%-5% dalam tujuh hari perdagangan.

Dengan kata lain, sebagian harga saham cenderung meningkat dalam waktu tujuh hari tersebut.

4.    Window Dressing

Fenomena Window Dressing adalah suatu kondisi dimana harga saham di bursa cenderung menguat jelang pergantian tahun.

Akhir tahun biasanya dimanfaatkan oleh Fund Manager untuk meningkatkan kinerja portofolionya. Singkatnya supaya rapornya bagus. Windows dressing juga dilakukan emiten dalam mempercantik laporan keuangannya.

Dalam pengertian ini, Windows dressing sebenarnya bisa terjadi pada setiap kuartal, saat laporan keuangan kuartalan keluar. Tetapi efek paling besar terjadi pada akhir tahun, saat tutup buku. Karena itu investor cenderung menyebut Window Dressing adalah fenomena menjelang akhir tahun.

Window Dressing selain dipicu oleh usaha dari para emiten dan Manajer Investasi yang ingin mempercantik kinerjanya, secara psikologis investor juga mempengaruhi. Faktor self-fulfilling prophecy (kebiasaan umum yang dipercaya terjadi) pun juga menambah kuatnya peluang window dressing di akhir tahun.

Dari data IHSG secara historis, selama periode 1995-2014 di akhir tahun IHSG cenderung naik di akhir tahun. Perhatikan tabel di bawah. Hanya di tahun 1997 dan 2000 saja IHSG tidak menguat di bulan Desember.

Tingkat kenaikannnya memang bervariasi, dari sekitar 0,12% sampai 14%. Jadi setidaknya dari data 20 tahun terakhir, ada probabilitas 90% terjadi window dressing

Lalu, Apa Dampak dari Berbagai Fenomena Istilah Pasar Modal Tadi?

Sangat penting bagi kamu, sebagai investor, untuk memperhatikan kepemilikan yang muncul di luar strategi dana kamu yang sudah ditentukan sebelumnya. Kamu boleh saja mengikuti euforia fenomena yang terjadi pada akhir tahun di pasar modal ini.

Walaupun kepemilikan ini kemungkinan akan menunjukkan kinerja jangka pendek yang lebih tinggi, namun jenis investasi ini bisa saja tak mampu menarik pengembalian portofolio dalam jangka panjang.

Kamu sebagai investor ataupun trader saham sangat penting memiliki strategi yang tepat. Buat para investor jangka panjang, stay on plan! Itu akan lebih aman.

Tetap perhatikan harga wajar saham, dan latih kepekaanmu. Kelola dengan baik, jangan emosional dan sabar.

Nah, setelah tahu fenomena pasar modal January Effect, Sell in May and Go Away, Santa Rally dan Window Dressing di atas, maka sekarang kamu sih seharusnya sudah bisa objektif dan tetap menggunakan analisis yang benar, baik teknikal maupun fundamental, sebagai dasar pengambilan keputusan.

Semoga tetap cuan!

Artikel Terkait