Analisa Saham, Saham

Tren Harga Saham TGRA Downtrend, Bagaimana Kinerjanya?

Ajaib.co.id – PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) merupakan perusahaan dengan fokus bisnis pembangkit listrik tenaga air dan surya. Sebelumnya, perusahaan dengan kode saham TGRA ini bernama PT Mitra Megatama Perkasa (MMP) dan berdiri pada 1995.

MPP adalah perusahaan kontraktor mekanikal dan elektrikal khususnya pembangkit listrik yang menjalin kerja sama dengan PLN. Pada 2010, MMP berinvestasi pertama kali di bidang pembangkit listrik, yaitu pembangkit listrik tenaga mini hidro di Sumatera.

Pada 2016, MPP berganti nama menjadi PT Terregra Asia Energy. Saat ini, perseroan fokus pada energi baru dan terbarukan (EBT) dan mengembangkan armada pembangkit listrik tenaga air serta foto-volta skala utilitas dan atap.

Pada Mei 2017, perseroan tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham TGRA. harga saham dibuka pada level Rp200.

TGRA dan WSKT akan Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro

TGRA dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) akan membangun lima proyek pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTMH), Investor.id (09/03/2021).

Tiga PLTMH akan dibangun pada akhir semester I-2021 dan dua proyek lainnya dibangun pada semester II-2021. Kelima proyek tersebut Kelima PLTMH bernilai Rp1,6 triliun dengan  kapasitas 43,8 MW.

Direktur Keuangan TGRA Daniel Tagu Dedo menjelaskan proyek terdiri atas PLTMH Batang Toru-3 kapasitas 10 MW dengan target commercial on date (COD) pada Desember 2022, PLTMH Batang Toru-4 kapasitas 10 MW dengan COD Desember 2022, PLTMH Sisira kapasitas 9,8 MW dengan COD Desember 2022, PLTMH Raisan 1 kapasitas 7 MW dengan COD September 2023, dan PLTMH Raisan 2 kapasitas 7 MW dengan COD September 2023.

Sumber pembiayaan, lanjut Daniel, perseroan sedang mempersiapkan penerbitan saham baru untuk menambah modal (rights issue) I tahun ini dan melakukan kajian mendalam terhadap beberapa skema pembiayaan yang diajukan kepada sejumlah calon investor dari dalam maupun luar negeri.

Selain itu, perseroan juga tengah memproses dua pembangkit listrik hidro skala besar (large hydro power plant, LHPP) di Aceh dengan total kapasitas 467 MW dengan nilai investasi sekitar Rp11 trilliun.

Proyek ini kemungkinan besar menjadi independent power producer (IPP) bagi salah satu industri strategis nasional di Sumatera dan memiliki skema pembiayaan berbeda dari lima proyek PLTMH.

Pendapatan TGRA Turun Lebih Dari 50%

Dari laman terregra.co.id, pendapatan usaha TGRA turun 56,48% menjadi Rp8,89 miliar pada kuartal III-2020. Pendapatan usaha kuartal III-2019 sebesar Rp20,45 miliar.

Pendapatan usaha TGRA berasal dari segmen bisnis penjualan tenaga listrik Rp4,69 miliar, segmen perdagangan Rp4,04 miliar, dan segmen sewa Rp158,72 juta. Sebagian besar pendapatan usaha berasal dari Diamond Energy Pty Ltd senilai Rp4,69 miliar dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Rp4,04 miliar.

Namun perseroan mampu memotong rugi bersih sebesar Rp2,5 miliar, kuartal sama tahun sebelumnya Rp2,89 miliar, juga menurunkan total liabilitas menjadi Rp100,5 miliar sebelumnya Rp207 miliar, tetapi beban usaha naik menjadi Rp9,58 miliar sebelumnya Rp7,99 miliar.

Sedangkan total aset perseroan turun menjadi Rp451 miliar sebelumnya Rp560 miliar. Hal tersebut dikarenakan penurunan aset tetap dari peralatan panel surya Rp90,8 miliar dan proyek dalam pelaksanaan Rp11,2 miliar.

Kinerja TGRA

Sejak 2015, TGRA berhasil membukukan pendapatan usaha. Hanya saja, nilainya masih fluktuatif. Namun pada 2017, tahun yang sama ketika perseroan tercatat di BEI, kinerja keuangan mengalami kenaikan.

Pada 2018, anak perusahaan perseroan di Australia, Terregra Renewable Pty Ltd. mengembangkan skala utilitas SPVP yang dipasangkan di tanah. Setahun kemudian proyek power plant tenaga surya telah selesai.

Pada 2019, perseroan melanjutkan pembangunan proyek Batang Toru 3 dan Sisira. Perseroan juga menandatangani perjanjian jual beli dengan Mitsui dan Co Shikoku Electric Power (Yonden). Mitsui dan Yonden mengakuisisi 30% saham anak usaha TGRA yang bergerak dalam pembangkit listrik tenaga air.

Dari laman Ajaib, rasio keuangan TGRA juga mengalami penurunan. Karena kinerja 2019 terkoreksi cukup signifikan jika dibandingkan 2018. Bahkan total liabilitasnya naik sekitar dua kali lipat sejak 2017.

Prospek Bisnis TGRA

Di masa pandemi COVID-19, kelangsungan bisnis TGRA terganggu. Perseroan sempat menghentikan sebagian kegiatan operasional selama lebih dari tiga bulan, Kontan.co.id (28/05/2020).

TGRA membatasi kegiatan pengadaan barang dan jasa serta menghentikan sementara kegiatan proyek PLTMH selama pandemi. Meski demikian perseroan tidak melakukan PHK atau pemotongan gaji para karyawan.

Perseroan tetap menjalankan kewajiban keuangan jangka pendek dan menerapkan bekerja dari rumah selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kecuali untuk karyawan yang memiliki tugas tertentu dengan menjalankan protokol kesehatan ketat.

Di samping itu, TGRA masih menjalankan strategi berkomunikasi dan pemasaran dengan memanfaatkan sarana digital atau online. Kini perseroan sedang membangun lima proyek PLTMH bersama WSKT.

Sehingga prospek bisnis TGRA masih sangat terbuka. Terlebih pemerintah sedang melakukan kajian dalam memberikan insentif kepada sejumlah industri yang menggunakan EBT guna mendorong bauran energi bersih di Indonesia.

Beli atau Tunggu?

Jika dilihat kinerja keuangan, TGRA dalam kondisi cukup. Ditambah lagi bisnis perseroan terkena dampak pandemi.

Namun ada sejumlah proyek yang tengah dikerjakan oleh perseroan bahkan perseroan menjalin kerja sama dengan WSKT. Ada pula dukungan pemerintah dalam sektor EBT yang dapat mendukung kinerja perseroan.

Jadi beli atau tunggu? Sebaiknya tunggu dulu untuk membeli saham TGRA. Karena sejak November 2019, harga saham TGRA tak lebih dari Rp200 atau downtrend, serta kinerja keuangan belum membaik.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait