Analisa Saham, Saham

Saham CMPP akan Bebas dari Suspensi, Bagaimana Prospeknya?

Ajaib.co.id – PT AirAsia Indonesia Tbk dengan kode saham CMPP (d.h. PT Rimau Multi Putra Pratama Tbk (RMPP)) merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri transportasi. Pada 29 Desember 2017, perusahaan ini resmi menjadi perusahaan induk dari PT Indonesia AirAsia (IAA).

Melalui PT Indonesia AirAsia (IAA), perseroan melakukan usaha di bidang penerbangan komersial berjadwal. Perseroan memiliki satu kantor pusat, mengoperasikan 16 kantor pelayanan, dan penjualan tersebar di 12 kota besar di Indonesia.

PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) telat tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Desember 1994 dengan kode saham CMPP. Awalnya, RMPP yang tercatat lalu perseroan ganti nama dan kode saham menjadi CMPP.

BEI telah melakukan suspensi pada Agustus 2019 hingga Agustus tahun ini. Jika setelah bebas suspensi, perseroan tidak memenuhi syarat maka BEI akan delisting saham CMPP. Bagaimana kelanjutan aksi korporasi CMPP? 

CMPP Berencana Tambah Saham

CMPP berencana menambah jumlah saham publik beredar (free float). Saat ini porsi free float CMPP masih 1,59%. Berdasarkan ketentuan BEI, free float sebesar 7,5%. Sebelumnya BEI telah melakukan suspensi terhadap saham CMPP selama 18 bulan dan berakhir pada 5 Agustus 2021.

Jika perseroan belum mampu memenuhi ketentuan BEI pasca suspensi, maka CMPP akan delisting atau terhapus dari papan bursa. Adapun susunan pemegang saham CMPP per 31 Desember 2020 adalah PT Fersindo Nusaperkasa dengan porsi kepemilikan 49%, AirAsia Investment Ltd memiliki 49%, dan publik hanya 2%, Kontan.co.id (07/02/2021).

Dalam keterbukaan informasi akhir 2020, Head of Corporate Secretary CMPP, Indah Permatasari Saugi, menjelaskan perseroan memperbaiki kinerja secara optimal dan melakukan aksi korporasi yang telah direncanakan untuk memenuhi ketentuan BEI.

Pendapatan CMPP Turun Drastis Akibat COVID19

Pandemi COVID-19 memukul hampir semua industri termasuk industri penerbangan. Salah satu yang terdampak adalah CMPP. Pasalnya, perseroan sempat menghentikan penerbangan karena adanya lockdown dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). 

Hal tersebut memengaruhi kinerja keuangan perseroan. Hingga kuartal III-2020, pendapatan usaha perseroan turun drastis menjadi Rp1,39 triliun, kuartal III-2019 sebesar Rp4,82 triliun.

Meski beban usaha turun menjadi Rp3,45 triliun (sebelumnya Rp4,76 triliun), tetapi total liabilitas meningkat menjadi Rp8,67 triliun (sebelumnya Rp2,41 triliun). Dengan kondisi tersebut, perseroan mencetak rugi tahun berjalan Rp1,71 triliun. Kuartal III-2019, perseroan membukukan laba 441,3 juta.

Dalam menghadapi pandemi, perseroan melakukan sejumlah upaya. Di antaranya melakukan langkah-langkah penghematan biaya hingga pemulihan bisnis untuk menjaga kesinambungan usaha, bekerja sama dengan AirAsia Group untuk negosiasi ulang biaya dengan vendor, dan mengoptimalisasi kapasitas pesawat.

Kinerja CMPP Selama Lima Tahun

Kinerja keuangan CMPP dimulai pada 2018, karena pada 2017 dan 2016 status perseroan masih RMPP. Data keuangan dari laman ir-id.aaid.co.id. Kondisi keuangan 2018, perseroan mampu meningkatkan laba dari tahun sebelumnya. Meskipun belum mampu mencetak laba bersih dalam angka positif.

Laporan Laba RugiQ3 20202019201820172016
Pendapatan UsahaRp1,39 triliunRp6,7 triliunRp4,23 triliunRp3,81 triliunRp3,88 triliun
Laba Kotor-Rp2 triliunRp144 juta-Rp987 miliarRp378,5 miliarRp185,3 miliar
Laba Bersih-Rp1,71 triliun-Rp157,3 miliar-Rp907 miliar-Rp512,9 miliar-Rp21 miliar

Perbaikan kinerja keuangan terjadi pada 2019. Hal itu disebabkan tingkat penumpang mengalami kenaikan 7.967.000 penumpang, tahun sebelumnya hanya 5.238.000 penumpang.

Di tengah persaingan antar penyedia layanan penerbangan, CMPP meningkatkan bisnis melalui situs dan aplikasi AirAsia.com. Strategi tersebut mampu menarik lebih banyak penumpang.

Selain itu, perseroan menambah empat armada pesawat. Sehingga CMPP memiliki total 28 armada pada Desember 2019. Perseroan juga membuka 14 rute domestik baru dan empat rute internasional baru. Sehingga total rute CMPP adalah 41, baik domestik maupun internasional.

Dari kinerja keuangan tersebut, rasio keuangan perseroan menunjukkan angka minus.

Rasio 20192018
ROA-6,02%-31,9%
ROE-77,9%113,1%
NPM-2,4%-21,4%
CR0,5 kali0,2 kali
DER11,9 kali-4,5 kali

Prospek Bisnis CMPP

Prospek bisnis industri transportasi masih dibayang-bayangi pandemi COVID-19. Meski telah ada peningkatan penumpang di bandara, tetapi jumlahnya belum sama seperti sebelum pandemi. Masyarakat masih enggan melancong keluar kota.

Menurut Indah, berdasarkan keterbukaan informasi, strategi CMPP untuk semester I-2021 fokus memulihkan kinerja keuangan dan dilanjutkan pada kuartal berikutnya. Perseroan membukukan rute domestik yang pernah beroperasi dan rute domestik baru dengan menjalankan protokol keselamatan serta memaksimalkan kapasitas operasional armada.

Dalam menerapkan protokol kesehatan, perseroan memberikan layanan rapid test antibodi, swab atau rapid test antigen, dan tes swab berbasis PCR bagi penumpang AirAsia Indonesia di berbagai lokasi dan layanan rapid test drive-thru di Bandara Soekarno-Hatta.

Selain itu, perseroan melalui anak usaha, PT Indonesia AirAsia, bermitra dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk melakukan promosi dan paket bundling tiket penerbangan AirAsia sekaligus hotel. 

Layakkah Saham CMPP Dibeli?

Sebenarnya, saham CMPP kayak dibeli. Karena jika Indonesia pulih dari pandemi, bisnis transportasi udara memiliki prospek menguntungkan. Hanya saja perseroan masih terdampak pandemi dan kinerja keuangan belum sepenuhnya stabil.

Faktor di atas memengaruhi pergerakan harga saham. Sebelum mendapatkan suspensi, saham CMPP berada di level Rp184. Ketika IPO pada Desember 1994 (RMPP), harga saham ditawarkan Rp2.450.

Bila investor bersabar, tunda dulu untuk membeli saham CMPP. Pantau kinerja perseroan tahun ini dan cek kinerja saham lain. Anda dapat mengecek kinerja keuangan perseroan di situs resmi, BEI, dan Ajaib.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait