Saham, Uncategorized

Tetap Profit Walau Terjebak Bull Trap! Begini caranya

Ajaib.co.id – Alasan utama seseorang melakukan analisis pada sebuah saham tertentu ialah untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harganya. Caranya ialah dengan membeli saham di harga murah lalu menjualnya di harga lebih mahal. Jangan sampai kamu terkena tipuan kenaikan harga/Bull Trap ya.

Hampir semua trader pernah melakukan membeli sebuah saham di harga atas lalu terpaksa melakukan Cut loss/merealisasikan kerugian, apalagi untuk kamu yang suka trading saham gorengan, masuk ke dalam jebakan Bull Trap pastinya sudah bukan hal aneh.

Apa itu Bull Trap?

Secara singkat Bull Trap adalah jebakan sinyal kenaikan harga yang malah berujung pada penurunan harga saham. Ini adalah sinyal palsu yang mengindikasikan penembusan resistance yang belum terkonfirmasi. (Pelajari apa itu resistance dengan singkat di sini: https://ajaib.co.id/mengenal-support-dan-resistance-dalam-saham/)

Bagi para trader aliran breakout, penembusan resistance adalah sinyal beli yang kuat. Namun sayangnya penembusan yang belum terkonfirmasi malah menjebak dan selanjutnya harga berbalik arah menghasilkan kerugian. Itulah sebabnya disebut sebagai Bull Trap/Jebakan kenaikan harga.  Perhatikan contoh di bawah ini!

Perhatikan candle dalam area oval biru di atas (pelajari tentang candle di sini: https://ajaib.co.id/macam-macam-grafik-candlestick-dalam-dunia-trading/). Area oval biru adalah Bull Trap. Bull Trap terjadi ketika para pembeli kehilangan kekuatan setelah sebelumnya reli naik dan menembus resistance.

Kamu sebenarnya bisa lihat pergulatan antara kekuatan bulls (pembeli) dan bears (penjual) di areal oval biru tersebut. Candle hijau besar yang menembus resistance adalah sekelompok pembeli yang membeli di harga atas yang berharap harga masih bisa naik lebih tinggi lagi. Lalu dilanjutkan dengan candle merah kecil dengan sumbu panjang di atas tubuhnya, itu menandakan ada tekanan jual setelah ada penembusan resistance sebelumnya. Artinya sebagian besar orang percaya bahwa harga tersebut sudah terlalu tinggi sehingga yang sudah punya “barang” melakukan penjualan.

Kemudian konfirmasi penurunan terjadi setelah muncul candle merah yang lebih besar yang menyusul candle merah kecil dengan sumbu panjang itu. Ketiga candle tersebut seringkali disebut sebagai formasi candle Evening Star. Ini adalah formasi candle mematikan jika terjadi di area resistance.  

Lalu bagaimana dengan para bulls (pembeli) yang sebelumnya sudah menggunakan kekuatannya untuk menekan harga ke atas menembus resistance? Mereka adalah yang kita sebut dengan “beli di harga pucuk” alias “nyangkut”. Mereka adalah orang-orang yang “kebagian cuci piring” saat mayoritas pembeli lainnya jual barang miliknya. Kini kamu tahu istilah-istilah yang kamu temui di forum-forum saham.

Mereka yang terjebak dengan Bull Trap berakhir dengan saham yang dibeli di harga pucuk. Mereka akan menderita ketika saham yang dibelinya di harga atas, lalu dibawa turun disebabkan penjualan yang deras terjadi.

Dan di titik akhir di batas Support mereka sering terpaksa merealisasikan kerugiannya, alias Cut Loss, sebelum kerugian mereka bertambah besar. Sekarang kamu tahu bagaimana ceritanya bisa ada orang-orang yang “membeli di harga atas lalu jual di harga bawah”.

Mari kita lihat lagi contoh yang lain.

Nah, untuk bisa mengenali Bull Trap pastikan kamu mengawasi daerah resistance dan lihat apakah ada candle pola Evening Star yang terbentuk di sana. Selain pola Evening Star, kamu juga harus awasi pola candle seperti di bawah ini;

Perhatikan area kotak pada grafik di atas. Kamu bisa lihat ada dua buah candle yang tubuhnya tipis yang menandakan bahwa harga open dan close berada di titik yang sama. Candle yang demikian itu disebut dengan Doji.

Kamu harus berhati-hati jika sebuah Doji terbentuk di area resistance. Doji menandakan ada keraguan dari kedua kubu bears/penjual dan bulls/pembeli. Ada kecenderungan yang kuat bahwa tren harga akan berbalik arah jika Doji terbentuk di area resistance atau support.

Jika ada sebuah candle menembus resistance dengan bentuk Doji, kamu mesti waspada bahwa kemungkinan besar itu adalah Bull Trap. Konfirmasi akan terjadi setelah candle berikutnya terbentuk yang menunjukkan banyaknya penjualan. Semakin besar candle merah setelah Doji maka semakin kuat kecenderungan untuk turun.

Pola-pola candle pembalikan arah seperti Evening Star dan Doji harus kamu perhatikan di area  Resistance agar kamu bisa waspada. Ada sekitar puluhan pola pembalikan arah yang bisa kamu hapalkan, Evening Star dan Doji adalah dua pola yang paling umum yang terjadi. Kamu juga bisa menghindari “beli di pucuk” dengan memasang indikator osilator seperti Stochastics, RSI agar kamu semakin yakin (pelajari tentang osilator di sini: https://ajaib.co.id/belajar-analisis-teknikal-untuk-pemula/).

Resistance dan Support tidak hanya terjadi di High atau Low sebelumnya dan tidak melulu berupa garis horizontal. Kamu juga bisa mendapati Resistance dan Support berupa garis fleksibel dengan memasang Moving Average (pelajari tentang Moving Average di sini: https://ajaib.co.id/indikator-moving-average-dalam-saham/).

Menggunakan Moving Average (MA) sebagai resistance dan support cukup populer digunakan. Cara menentukan apakah MA sedang berfungsi sebagai resistance atau support adalah dengan melihat posisi harga. Jika harga berada di bawah garis MA, maka artinya MA sedang berfungsi sebagai resistance. Jika harga berada di atas garis MA, maka MA sedang berfungsi sebagai support.

Cara Cuan Setelah Kena Bull Trap

Jika kamu sudah terlanjur nyangkut setelah “beli di pucuk” karena melihat Bullish yang gagal menembus resistance, tenang saja. Kamu masih bisa profit kok. Caranya adalah dengan melakukan strategi yang dinamakan Averaging Down.

Averaging Down adalah pembelian saham yang sama di harga bawah saat tren turun berakhir, sehingga harga rata-rata saham milikmu menjadi lebih rendah. Ketika kamu terjebak di dalam Bull Trap, alias “nyangkut di harga pucuk” maka sebaiknya kamu tidak Cut Loss. Ketika harga sudah terlanjur meluncur turun, kamu bisa lakukan Averaging Down dengan langkah-langkah sebagai berikut;

  1. Kamu bisa tunggu aksi harga menunjukkan tanda-tanda bahwa penurunan sudah berakhir (pelajari secara singkat tentang Price Action di sini: https://ajaib.co.id/cara-mudah-di-saham-dengan-price-action-analysis/).
  2. Di dasar, ketika penjualan sudah tidak menekan lagi, kamu bisa tandai di mana area Support dengan menandai dua Low yang terbentuk.
  3. Biasanya area bottom/dasar ditandai dengan pergerakan saham yang seolah-olah hanya naik-turun dalam area yang dibatasi oleh batas atas/resistance dan batas bawah/support. (pelajari tentang ini di https://ajaib.co.id/pola-grafik-saham-yang-harus-kamu-ketahui-part-2/)
  4. Tandai juga area Resistance di area tersebut dengan mencari dua High yang terbentuk.
  5. Selanjutnya tunggu osilator menunjukkan oversold di titik Support.
  6. Lalu kamu bisa lakukan pembelian di area tersebut sebanyak dua kali lipat jumlah lot yang awal.
  7. Dengan demikian kamu akan dapati harga rata-ratamu turun. Ketika harga mulai bergerak sedikit naik maka kamu akan dapati dirimu floating profit/cuan yang belum direalisasikan.
  8. Lalu di area Resistance tunggu osilatormu memperlihatkan tanda overbought. Di resistance kamu bisa jual sahammu untuk merealisasikan cuanmu.

Misalnya saja begini; kamu membeli saham BBRI di harga 4000 rupiah sebanyak 10 lot di harga 4000 rupiah maka modal kamu di saham BBRI adalah 4 juta rupiah. Setelah itu sesaat BBRI naik ke 4140 tapi kemudian di keesokan hari turun ke 3800. Kamu menyadari bahwa kamu telah masuk ke dalam jebakan yang disebut dengan Bull Trap.

Kemudian BBRI mengalami penurunan hingga ke titik 2000-an rupiah per lembar saham. Kamu memperhatikan bahwa BBRI dalam beberapa hari ini memiliki titik Low di harga 2200 dan mondar-mandir di sekitar harga 2200 dan 2800 selama beberapa hari.

Nah, jika begitu maka kamu bisa berencana untuk beli lagi sebanyak 20 lot. Misalnya kemudian order beli kamu match di harga 2400, itu masih baik karena masih dekat dari 2200.

Dengan demikian kamu akan berakhir dengan memiliki 30 lot saham di harga rata-rata akhir sebesar 2940 dengan perhitungan (4000×10 lot)+(2400×20 lot)/30 lot. Angka LastAVG/harga rata-rata akhir akan otomatis terpampang begitu saja di portofoliomu setelah kamu lakukan Averaging Down, kamu tidak perlu menghitung sendiri.

BBRI adalah saham lapis satu yang likuid, sehingga tidak perlu menunggu waktu lamanya baginya untuk bangkit. Kini saham BBRI sudah naik ke 3000 lebih, maka kamu bisa siap-siap untuk realisasikan cuanmu di sekitar resistance. Begitulah cara untuk lolos dari Bull Trap.

Peringatan! Averaging Down Akan Sulit Dilakukan di Saham Lapis Tiga

Langkah-langkah di atas akan bekerja dengan baik di saham-saham yang likuid, yang rutin ditransaksikan. Saham-saham yang likuid terutama yang bluechip seperti BBRI, ketika mengalami penurunan akan ada banyak pihak yang melihatnya sebagai peluang untuk membeli di harga bawah.

Kamu bisa yakin bahwa ketika kamu terjebak Bull Trap, kamu bisa percaya diri untuk lakukan Averaging Down di area konsolidasi. Karena kenaikannya sudah pasti terjadi. Kadang ada satu atau dua faktor eksternal yang menyebabkan saham-saham bluechip turun.

Saham-saham bluechip adalah saham-saham yang paling pertama bangkit setelah penurunan besar. Kamu bisa berkaca pada masa lalu di tahun-tahun penuh cobaan bagi IHSG seperti di 1998, 2008, 2015, 2018 di semester II dan 2020 di kuartal II.

Saham-saham terbaik dengan kapitalisasi pasar yang besar seperti ASII, BBCA, UNVR, dll biasanya disebut sebagai saam-saham First Liner (Lapis Satu). Sedangkan saham-saham dengan kaitalisasi pasar biasa-biasa saja seperti BNLI dan SMRA dinamakan Second Liner (Lapis Dua).

Di kasta paling bawah ada saham-saham Lapis Tiga; saham-saham yang jarang dilirik, sehari-harinya kurang likuid, sering digoreng dan dihargai murah saja. Kamu akan kesulitan untuk Averaging Down jika terjebak di saham-saham lapis tiga seperti POSA, JGLE dan LRNA.

Jika kamu terjebak Bull Trap di saham-saham lapis tiga yang tidak likuid, alias tidak banyak terjadi transaksi, maka untuk melakukan Averaging Down cukup sulit untuk dilakukan. Penurunan saham lapis tiga biasanya turun sangat dalam. Beberapa jatuh hingga ke dasar di Rp50 per lembar saham dan tidak bangkit hingga beberapa tahun. Averaging Down di saham lapis tiga sebaiknya tidak dilakukan, Cut Loss saja, karena mungkin akan makan waktu bertahun-tahun.

Mungkin lebih baik jika kamu hindari saja saham-saham lapis tiga yang kerap digoreng dengan cara Right Issue atau akuisisi atau berita lainnya. Kalau kamu trading, kamu harus pastikan bahwa kamu bisa “keluar” dengan mudah. Usahakan ketika kamu mau jual, ada orang lain yang siap membeli.

Oleh karenanya likuiditas saham menjadi syarat pertama untuk kamu trading. Supaya jika kamu terjebak dalam Bull Trap maka kamu masih bisa lolos dengan selamat tanpa perlu berdarah-darah. Kamu bisa cek likuiditas di platform trading online kamu dengan memperhatikan frekuensi dan total transaksi setiap hari di rincian transaksi saham.

Kamu bisa memulai perjalanan investasimu di Ajaib, satu platform untuk transaksi saham dan reksa dana. Sudah teregulasi OJK dan didukung oleh Softbank.

Artikel Terkait