Saham

Mengenal Support dan Resistance Dalam Saham

Belajar Investasi Saham

Level support dan resistance merupakan bagian penting dalam analisis teknikal agar bertransaksi saham semakin maksimal dengan membeli di harga yang tepat.

Tentu kamu sudah tahu bahwa harga saham terbentuk dari kesepakatan yang terjadi antara penjual dan pembeli di bursa.

Jika harga suatu barang dianggap lebih tinggi dari nilai yang ditawarkan, maka transaksi penjualan tidak akan banyak terjadi. Namun, jika harga yang ditawarkan dianggap lebih rendah dari nilainya, maka suatu barang akan laris manis di pasaran. 

Kalau kamu ingat pelajaran ekonomi di Sekolah Menengah Atas, nilai sebuah barang bukan hanya terbatas pada fungsi dan kualitas bahan, namun juga persepsi merek, goodwill, dan lainnya. Dapat disimpulkan bahwa V (Value) sebuah produk adalah Q (Quality) dibagi dengan P (Price).

Harga sebuah saham, terutama untuk jangka pendek, tidak melulu ditentukan oleh besarnya laba, namun seringkali oleh psikologi pasar. Hal ini yang akan menjadi dasar dari pelajaran Support dan Resistance kali ini. 

Support adalah batas bawah harga. Sedangkan resistance adalah batas atas harga. Batasan-batasan ini dapat diketahui dan dapat membantu kamu untuk mengetahui di titik mana kamu mesti beli saham dan di titik mana saja kamu bisa jual. 

Analisis teknikal memang didasarkan pada support dan resistance

Sekilas Mengenai Analisis Teknikal

Profesor Jeremy Siegel dari Sekolah Bisnis Wharton menemukan bahwa pembacaan grafik dan analisis teknikal dapat membantu menentukan kapan waktu untuk membeli dan kapan harus menjual saham. Banyak Manajer Portofolio pada reksa dana dan perusahaan pengelolaan dana lainnya dengan aset lebih dari US$1 Miliar (kurang lebih Rp13 Triliun) yang mendapat keuntungan dari analisis teknikal.

Berdasarkan pengamatan Siegel, para pengelola portofolio biasanya tidak mengandalkan analisis teknikal saja, namun juga menggunakan analisis lainnya seperti fundamental dan analisis makro ekonomi. Analisis teknikal tentu berguna karena:

  • Pelaku pasar sering kali bereaksi terhadap berita besar. Analisis teknikal sebagian didasarkan pada psikologi banyak orang karena harga saham digerakkan oleh transaksi. Di balik transaksi tersebut ada orang-orang yang memiliki emosi seperti keserakahan, ketakutan, dan harapan. 
  • Pelaku pasar tentunya memiliki memori, cenderung ingat harga pembelian dan ingat emosi saat mereka berbahagia dengan meraih untung. Atau jika ternyata harga saham terbanting setelah pembelian, para pelaku pasar akan merasakan perih karena floating loss/kondisi merugi yang belum direalisasikan. Apa yang tidak disadari adalah bahwa ada ratusan atau ribuan pelaku pasar lainnya yang juga mengalami emosi yang sama. Dengan demikian titik-titik support/batas bawah dan resistance/batas atas yang dibentuk dari transaksi itu nyata adanya. 

Seperti Apa Support dan Resistance Dalam Dunia Nyata?

Kalau kamu rutin berbelanja kebutuhan pokok bulanan, kamu pasti ingat tentang kisaran naik-turunnya harga minyak goreng ukuran 2 liter. 

Ilustrasi artikel support & resistance: harga minyak goreng

Di tahun 2015, penulis ingat betul bahwa walaupun harganya berfluktuasi, tetapi  minyak goreng biasa ukuran 2 liter rata-rata berada di harga Rp20.000. Jika pada suatu waktu harga rata-rata minyak goreng ukuran 2 liter dijual di atas harga tersebut maka dalam waktu singkat akan kembali ke Rp20.000. Harga tertinggi yang ditawarkan saat itu adalah Rp25.000 tetapi di harga tersebut penjualan tidak banyak terjadi. Yang terendah adalah sekitar Rp18.800 dan Rp19.000, di harga tersebut penjualan laris manis dan menyisakan hanya satu atau dua buah saja di setiap rak. 

Melalui ilustrasi di atas, kita mengetahui bahwa titik setimbang rata-rata (pivot) harga minyak 2 liter adalah Rp20.000 sedangkan batas bawahnya adalah Rp18.800 dan batas atasnya adalah Rp25.000. 

Di tahun 2020, minyak goreng ukuran yang sama dijual dengan harga sekitar Rp25.000. Kini tidak ada lagi yang menjual minyak goreng ukuran 2 liter di bawah Rp20.000, biasanya antara Rp21.500 hingga Rp26.000. Demikianlah batas-batas harganya menjadi berubah. 

Kesimpulannya?

  • Level support/batas bawah adalah sebuah titik ekstrem yang disepakati bersama oleh para penjual dan pembeli sebagai titik terendah pada sebuah pergerakan harga. 
  • Sedangkan resistance/batas atas adalah sebuah titik ekstrem yang disepakati bersama oleh para penjual dan pembeli sebagai titik tertinggi pada pergerakan harga. 

Semakin sering harga tertahan di suatu titik maka semakin kuat kecenderungan bahwa titik tersebut terkonfirmasi sebagai sebuah batas atas/bawah. Mari kita perhatikan gambar di bawah ini:

Ilustrasi artikel support & resistance: harga saham DMAS

Gambar di atas adalah pergerakan saham dari PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS). Grafik di atas menerangkan bahwa seluruh pelaku pasar yang bertransaksi di saham DMAS di kuartal dua tahun 2019 sepakat bahwa harga terendahnya ada di Rp120. Saat harga turun ke 120, semua sepakat menganggapnya murah dan pembelian terjadi sehingga harganya terangkat kembali. 

Harga harus menyentuh sebuah titik minimal dua hingga tiga kali agar bisa terkonfirmasi sebagai sebuah support, dan DMAS sudah tiga kali menyentuh harga Rp120 tanpa break/menembus ke bawah. Inilah yang kemudian menunjukkan bahwa batas bawah atau supportnya adalah di Rp120. 

Lalu perhatikan kedua lingkaran yang dibatasi garis batas atas. Dua kali sudah DMAS menyentuh harga Rp170 dan memantul kembali ke bawah. Maka, titik harga Rp170 adalah batas atas/resistance untuk saham DMAS. Setelah beberapa kali memantul, ternyata animo pasar cukup tinggi di saham DMAS sehingga harga break/menembus resistance dan naik terus ke atas. 

Nilai Harga Saham

Bursa saham memang sebuah tempat yang unik, penilaian atas sebuah emiten tidak hanya dihargai dari Nilai Bukunya (book value)  saja atau dari laba yang dihasilkan. Ada banyak faktor yang membuat investor tertarik atau melepas suatu saham dengan alasan yang tidak jelas. Value/nilai sebuah saham seringkali berdasarkan psikologi para pelakunya yang tercermin dari perdagangan yang tercipta. 

Pernah suatu ketika beredar sebuah video yang sangat viral mengenai seekor penyu laut yang hidungnya tertusuk sedotan plastik. Sungguh sangat menyayat hati bahwa kegiatan manusia sehari-hari dapat memberi dampak pada seekor hewan laut yang jauh dari ekosistem manusia. 

Ilustrasi artikel support & resistance: video penyu dan kaitannya dengan harga saham

Percaya atau tidak, video ini sempat jadi bahan untuk pompom saham kertas di sebuah grup saham dengan anggota sebanyak lebih dari 5000 orang. Efek ini bersifat domino dan pesan akan ramah lingkungan dan pompom atas saham kertas diteruskan ke grup-grup lain yang jumlah anggotanya juga ribuan. Pasalnya, emiten yang dipompom memproduksi sedotan kertas yang lebih ramah lingkungan dan disinyalir permintaan akan sedotan kertas akan meningkat setelah viralnya video tersebut.

Harga sahamnya naik jauh di atas nilai resistance-nya dan membuat resistance yang baru mulai terbentuk. Padahal ketika ditelisik, sedotan kertas hanya menyumbang kurang dari 1% dari total pendapatan saham perusahaan kertas tersebut. 

Para penganut analisis fundamental jelas menentang logika di atas, namun para trader yang mengandalkan analisis teknikal tidak peduli dengan itu dan para trader mendapat keuntungan dari kenaikan harga tersebut. 

Beli di Support, Jual di Resistance…

Sebelumnya di artikel “Indikator Moving Average Dalam Saham” kamu sudah mempelajari tentang siklus normal sebuah saham yaitu fase Akumulasi-Ekspansi-Distribusi-Kontraksi. 

Saat berada di siklus akumulasi atau distribusi, harga berada dalam area yang dibatasi oleh support dan resistance seperti gambar di bawah ini.

Contoh Level Support & Resistance

Harga yang bergerak bolak-balik dalam satu area tersebut dapat dimanfaatkan untuk posisi trading. Kamu bisa cuan berkali-kali (dengan syarat analisis teknikal kamu benar) dengan menentukan support dan resistance suatu saham. Resep cuan di fase ini sederhana; beli di harga support, jual di harga resistance. Tapi mungkin eksekusinya tidak sederhana, yang jelas kamu perlu banyak latihan untuk itu. 


Membeli Saham Menggunakan Darvas Box

Jika kamu tertarik untuk memanfaatkan support dan resistance untuk mendapatkan saham-saham di fase akumulasi kamu bisa menggunakan darvas box. Nicholas Darvas adalah seorang penari ballroom profesional kelas dunia yang tertarik dengan dunia keuangan. 

Lewat transaksi saham, ia berhasil mengembangkan portofolionya dari $25,000 (Sekitar Rp300 juta) menjadi $2.25 juta (Sekitar Rp30 Miliar) hanya dalam waktu 18 bulan dengan memanfaatkan sesuatu yang ia ciptakan, yakni Darvas Box. 

Darvas Box adalah pola berbentuk kotak yang ia gambar di grafik. Nicholas Darvas yang gemar membaca buku-buku investasi mengenal fase akumulasi dari transaksi beli yang ada. Lalu, ia akan mencari saham-saham yang diperdagangkan dalam batas-batas support dan resistance yang jelas. Lalu ia akan mengamati volumenya untuk melihat net buy atau net sell kah yang terjadi selama harga bolak-balik di area tersebut. 

Setelah yakin bahwa area yang ia lihat adalah fase akumulasi, ia akan membuat sebuah kotak yang didasarkan titik support dan resistance yang ia lihat.   

Picture: Darvas Box

Nicholas Darvas memperlihatkan contoh analisisnya di saham Philips di atas. Ia membuat garis-garis yang jelas di titik support dan resistance nya yang ia sebut dengan Darvas Box. Setelah tergambar, ia akan memantau sahamnya dan menetapkan volume  yang masuk mengalami kenaikan minimal 3 kali lipat dari biasanya dan harga terkerek keluar dari area Darvas Box, kemudian ia akan melakukan pembelian atas saham tersebut.

Sebaliknya, ia juga akan membuat Stop Loss/jual rugi di garis support untuk mengantisipasi pergerakan harga yang tidak diinginkan. 

Bisakah Garis-garis Support dan Resistance Berupa Garis Miring?

ILustrasi Garis Support & Resistance pada tren naik dan turun.

Garis-garis support dan resistance bisa berupa garis miring dengan memperhatikan harga High dan Low yang dibentuk dalam sebuah periode (apa itu High dan Low? Baca di https://ajaib.co.id/seni-memahami-grafik-candlestick-bagi-calon-investor-saham/). Ilustrasinya sebagai berikut:

Garis uptrend adalah garis support dalam fase ekspansi yang titik Low nya terus naik. Sedangkan garis downtrend adalah garis resistance dalam fase kontraksi yang titik High nya terus turun.  

Penutup

Selamat datang di alam teknikal, tempat di mana kamu mengukur batas-batas harga saham yang ditentukan oleh psikologi manusia melalui transaksi yang tergambar dalam grafik. Penulis akan menjawab pertanyaan skeptis para penganut paham fundamental yang bertanya “Memangnya ada orang yang jadi kaya karena trading secara teknikal?” Jawabannya ada: George Soros. 

George Soros (trader tersukses di dunia).

Sumber: Forbes 500 Richest Man in the World

George Soros kini memiliki total harta kekayaan sebanyak  USD 8 Miliar (Setara dengan Rp 104 Triliun). Selain menjalankan sejumlah bisnis, beliau juga melakukan trading saham, dan beberapa efek lainnya seperti mata uang (forex). Beliau sempat menggegerkan dunia (dan Indonesia) di tahun 1998. Tahun 1998 adalah tahun saat Rupiah sempat terjun ke Rp16.000 per US Dollar. Di antara banyak penyebab kejatuhan Rupiah, George Soros sebagai spekulan mata uang juga berkontribusi menggiring Rupiah jatuh sedemikian rupa saat itu. 

Kini beliau menikmati dividen di saham-saham yang dibelinya di harga murah. Analisis teknikal membantunya mendapatkan saham-saham favoritnya di titik-titik support.

Kalau kita bandingkan dengan Warren Buffet yang merupakan orang terkaya di dunia nomor 2, tentu George Soros masih jauh di bawahnya. Namun, penulis tidak menampik bahwa mendapat sekitar USD 8 Miliar dari trading sama sekali tidak buruk.  

***

Selain mengelola portofoliomu sendiri, kamu juga bisa melakukan diversifikasi investasimu dengan membeli reksa dana di Ajaib. Ada beragam reksa dana yang bisa kamu pilih yang sesuai dengan profil investasimu.

Kinerja reksa dana dari beragam manajer investasi bisa kamu pantau dari grafik yang disediakan Ajaib. Dan kamu bisa mulai dari Rp10.000. 

Kalau kamu punya cita-cita finansial maka sebaiknya investasimu lebih dari Rp10.000 agar pengembaliannya bisa lebih besar dan maksimal. 


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait