Saham

Apa Itu Indikator Moving Average Dalam Saham?

Ilustrasi artikel Ajaib: investasi saham dan indikatornya

Ada banyak cara dalam menganalisa sebuah saham, salah satunya menggunakan analisa teknikal berdasarkan indikator moving average (MA).

Tahukah kamu, bahwa saat ini ada banyak hal yang dapat kita syukuri? Di antaranya adalah kenyataan bahwa kita saat ini hidup dalam dunia yang serba mudah. Sebelum dunia memasuki era komputerisasi saat ini, aktivitas trading cukup memakan waktu. Pasalnya, para trader harus membuat grafik sendiri, menghitung indikator teknikal yang akan digunakan, dan menggambarnya dengan tangan. 

Kini dengan kecanggihan teknologi, kita tidak lagi perlu menggambarnya dengan tangan karena layanan grafik sudah tersedia secara gratis dan dapat diakses melalui internet. Indikator pun bisa disetel dengan otomatis dan kita sudah dapat menganalisis grafik yang dihasilkan dari harga dan volume

Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, sebaiknya jangan melakukan analisis menggunakan grafik yang disediakan platform trading dari sekuritas kamu saja, karena banyak keterbatasannya. Beberapa software penyedia grafik saham yang cukup lengkap seperti Chart Nexus atau AmiBroker bisa kamu gunakan, tapi kedua software ini berbayar. Jika kamu menyukai grafik yang bersifat gratis secara online, kamu bisa gunakan TradingView atau Investing. 

Moving Average dalam Saham  

Dalam melakukan analisis teknikal, ada sebuah indikator favorit yang dinamakan dengan Moving Average (MA). Tampilan visual indikator teknikal ini berupa garis yang merupakan rata-rata periode tertentu. Karena praktis, indikator ini sangat populer. Sayangnya, tidak semua orang tahu bahwa indikator Moving Average hanya dapat diterapkan pada kondisi tertentu saja. Bahkan dalam fase tertentu, indikator ini akan memberikan banyak sinyal palsu yang tidak dapat dipercaya. 

Untuk kamu yang masih tergolong pemula di dunia investasi dan hendak mulai mendalami trading, sebelum membaca artikel mengenai Moving Average ada baiknya kamu membaca artikel yang membahas tentang Support dan Resistance terlebih dahulu di sini (Link artikel).  

Mengapa Menggunakan Moving Average?

Indikator Moving Average adalah sebuah indikator yang sudah digunakan lebih dari seratus tahun yang lalu. Pada tahun 1909 G. U. Yule dalam Journal of the Royal Statistical Society, hal. 72, 721-730 Yule mendeskripsikan sesuatu yang R. H. Hooker temukan di tahun 1901 sebagai “moving-averages.”

Dalam statistika, Moving Average digunakan sebagai salah satu cara untuk memprediksi jumlah permintaan produk. Namun dalam perdagangan saham, Moving Average tidak digunakan sebagai indikator prediktif melainkan hanya sebagai alat bantu konfirmasi tren saja. 

Kita tahu bahwa harga saham digerakkan oleh transaksi jual-beli di bursa, baik transaksi yang didasari FOMO (Fear of missing out/fenomena jual-beli yang didasari ketakutan ketinggalan momen), maupun transaksi normal oleh investor sehingga membuatharga saham menjadinaik-turun/berfluktuasi. 

Walau berfluktuasi, dalam suatu waktu, para pelaku saham memiliki kecenderungan untuk menggerakkan harga saham dalam jangka waktu tertentu. Konsensus yang terjadi inilah yang akan membentuk sebuah tren harga. Nah, Moving Average  memainkan peran penting dalam menentukan tren harga sebuah saham dalam periode waktu tertentu.

Bagaimana Sifat Moving Average

  • Moving Average adalah indikator teknikal yang menghaluskan gerakan harga saham yang berfluktuasi. 
  • Merupakan indikator trendfollowing, indikator ini akan mengidentifikasi tren harga sesuai periodenya. 
  • Indikator Moving Average didasarkan pada informasi harga sebelumnya maka sinyal yang diberikan lagging (terlambat). 

Tampilannya adalah sebagai berikut:

C:\Users\Shanti\Desktop\TLKM cyin.png

Garis Moving Average didapat dari nilai rata-rata aritmatika dari pergerakan harga sebuah saham dalam suatu periode waktu (n). Garis Moving Average diperoleh dengan menerapkan formula sebagai berikut:

MA =A1+A2++Ann

Keterangan:

MA adalah Simple Moving Average/Rerata Gerakan Sederhana

A adalah rata-rata dari periode n 

n adalah jumlah periode waktu

Formula Moving Average di atas disebut juga dengan Simple Moving Average (SMA). Data yang dihasilkan dari formula di atas akan disajikan secara visual dalam bentuk garis beriringan dengan grafik harga saham. 

Biasanya garis Moving Average digunakan sebagai indikator yang memberikan sinyal beli dan jual. Jika harga menembus ke bawah garis Moving Average maka itu adalah sinyal jual, dan jika sebaliknya maka terdapat sinyal beli. Alangkah indahnya trading jika sesederhana. Sayangnya kenyataannya tidak semudah itu. 

Seringkali setelah harga menembus garis Moving Average, ternyata harga kembali ke titik awal dan bahkan menjauh dari posisi trading kita. Oleh karenanya, dua garis Moving Average pun digunakan. Jumlah periode yang digunakan biasanya 5, yang mewakili 5 hari bursa dalam seminggu, juga 20 yang mewakili 20 hari bursa atau dalam sebulan.  

Cara analisis Moving Average sebagai sinyal beli atau jual dengan dua garis Moving Average adalah; Jika SMA 5 memotong SMA 20 dari bawah ke atas maka bursa saham dianggap sedang bullish (disebut juga dengan Golden Cross), dan jika SMA 5 memotong SMA 20 dari atas ke bawah, maka dianggap sedang bearish (disebut dengan Dead Cross). Berikut adalah contohnya; 

C:\Users\Shanti\Desktop\TLKM cyin.png

Pada grafik saham Telkom Indonesia Tbk (TLKM) di atas, golden cross dan dead cross yang diberikan oleh SMA 5 dan 20. menghasilkan sinyal jual (dead  cross) dan akan naik ketika terdapat sinyal beli (golden cross), akan tetapi tren saham telkom secara jangka pendek  tidak bisa dipercaya. 

Hal seperti ini sering terjadi karena periode pendek yang digunakan sehingga banyak trader memutuskan untuk mengalikan kedua periode tersebut 10 kali lipatnya menjadi SMA 50 dan SMA 200. Banyak juga yang memutuskan untuk menggunakan SMA 50 dan 200. 

C:\Users\Shanti\Desktop\MNCN.png

Golden Cross terbentuk dengan sempurna di saham MNCN dengan menggunakan SMA 50 dan SMA 200.

Kalau kamu tidak puas dengan Moving Average di grafikmu, kamu bisa ubah setelan periodenya menjadi lebih kecil atau lebih besar. Misalnya kamu menganggap SMA 5 masih terlalu lambat, lalu kamu ubah ke periode 3. Tetapi harap diingat bahwa semakin pendek periode moving average, maka akan semakin sering berfluktuasi dan menghasilkan sinyal yang akurat. 

Eksponensial Moving Average (EMA)

Jika kamu menyukai moving average yang lebih sensitif dan lebih halus terhadap perubahan arah tren, kamu bisa menggunakan garis Moving Average jenis eksponensial yang perhitungannya didapat menggunakan formula di bawah ini:

EMAt=[Vts1+d]+EMAy[1-s1+d]

Keterangan:

EMAt  = MA Eksponensial hari ini

Vt  = Nilai hari ini

s = bobot smoothing

d = jumlah hari

EMA menambahkan pembobotan (s) dalam hitungannya sehingga menghasilkan garis Moving Average yang lebih halus daripada SMA. EMA bergerak secara eksponensial, merespons lebih cepat daripada SMA karena memiliki bobot yang lebih berat daripada sebelumnya. Sekali lagi, terima kasih atas kecanggihan masa kini, kamu tidak perlu menghitung EMA dari harga close satu persatu karena sudah tersedia secara otomatis di Investing, atau di Chart Nexus kamu. 

Jika kelemahan SMA adalah kurang sensitif terhadap perubahan harga terkini, maka kelemahan dari EMA adalah peningkatan jumlah sinyal palsu. 

Biasanya SMA digunakan sebagai acuan batasan harga. Sementara sinyal trading golden cross pada EMA dianggap sebagai sinyal untuk membeli dan dead cross dianggap sebagai sinyal untuk menjual. Namun tetap ingat bahwa sinyal yang diberikan Moving Average tidak selamanya benar karena Moving Average tidak dapat berfungsi di kondisi sideways/harga saham bergerak menyamping atau ranging, yang artinya naik-turun di dalam area support dan resistance.

Apa yang Salah?

Masih tidak puas juga dengan sinyal yang dihasilkan indikator Moving Average mu? Mungkin itu karena kamu menerapkan indikator Moving Average-mu di saat pasar sedang berada dalam kondisi ranging atau disebut juga fase akumulasi atau distribusi. 

Jadi, dalam kondisi ranging harga bergerak dalam suatu area tertentu yang dibatasi oleh level support dan resistance. Indikator trending seperti Moving Average bisa menghasilkan sinyal palsu di kondisi ranging (fase akumulasi/distribusi) karena indikator tersebut salah mengasumsikan bahwa harga sedang bergerak ke level support atau resistance yang menunjukkan awal dari tren yang baru (pada kenyataannya, pergerakan pada fase sideways hanyalah fluktuasi harga normal dalam kisaran yang dibatasi level support dan resistance).

Harap Diingat!

Seringkali, trader menerapkan indikator trending seperti Moving Average secara serampangan ke semua grafik harga saham. Padahal, indikator Moving Average hanya bisa digunakan saat kondisi sedang tren (naik/turun) dan bukan pada saat ranging/harga naik-turun di dalam area yang dibatasi support dan resistance

Indikator Moving Average selalu menganggap pasar selalu bergerak dalam tren, dan akan memberikan sebuah sinyal palsu ketika diterapkan pada saham yang sedang ranging. Oleh karenanya, kamu perlu memahami siklus normal akumulasi-ekspansi-distribusi-kontraksi. Berikut sekilas mengenai siklus tersebut:

Akumulasi dan Distribusi

Pada umumnya, harga sebuah saham bergerak dalam siklus akumulasi lalu ekspansi, setelah itu distribusi dan kontraksi.  

Fase akumulasi merupakan fase terlama, selama periode ini harga tidak bergerak naik maupun turun secara signifikan. Seringkali harga sebuah saham dari hari ke hari hanya bergerak dalam kisaran terbatas dan mendatar atau disebut juga dengan sideways

Fase akumulasi ditandai dengan adanya pembelian secara rutin oleh para pelaku pasar dari satu atau dua broker yang itu-itu saja. Biasanya di fase ini selalu net buy alias tidak ada perlawanan yang berarti dari para penjual tetapi harganya tidak kemana-mana. Di kondisi ini para pembeli tidak mampu/sengaja membuat harga untuk menembus resistance. Para penjual pun tak punya cukup amunisi untuk membanting harga hingga menembus level support

Kamu bisa dengan mudah mengidentifikasi support dan resistance dalam kondisi akumulasi, dengan melihat di titik mana saja harga saham selalu memantul. Jika 3 sampai 4 kali saham memantul di suatu titik terhenti, maka terkonfirmasi bahwa itu adalah batas atas/bawah. Area support dan resistance ini biasanya dibentuk oleh kondisi fundamentalnya. 

Para pelaku pasar mungkin merasa pesimis bahwa emiten dapat dihargai lebih dari nilai kapitalisasinya saat ini. Hal ini akan berubah jika laba emiten meningkat dan ada perubahan dalam manajemen yang memberi dampak yang besar terhadap perusahaan.

Setelah fase akumulasi, terjadi ekspansi, lalu dilanjutkan dengan fase distribusi. Dalam fase distribusi, harga saham cenderung bolak balik dalam suatu area yang dibatasi oleh support dan resistance. Namun dalam fase ini, para penjual lebih mendominasi. Para pembeli biasanya masih meyakini bahwa kenaikan akan masih terjadi. Ini adalah fase yang berbahaya karena berikutnya terdapat fase kontraksi.

Di kedua fase inilah Moving Average tidak dapat digunakan karena sinyal yang diberikan Moving Average termasuk lagging/terlambat, sedangkan gerakan saham di fase akumulasi dan distribusi ini terbatas sehingga garis Moving Average yang dihasilkan di kedua fase ini cenderung tidak berguna. 

Ekspansi dan Kontraksi

Inilah fase trending yang berlangsung setelah fase akumulasi. Di fase ini biasanya ada sesuatu yang menakjubkan terjadi seperti labanya yang loncat seperti kodok, terbang ke bulan, apapun sebutannya. Ada juga informasi right issue/penerbitan saham baru dengan harga waran di atas harga saat ini, akuisisi perusahaan, buyback/pembelian ulang saham oleh perusahaan. 

Di fase ekspansi, mayoritas pelaku bursa melirik saham ini dan berpartisipasi dengan melakukan jual-beli, menambah kuat harga saham untuk terus naik/upside. Para peserta pasar berharap bisa membeli saham ini lebih dini, namun membeli lebih dini berisiko merugi karena ada kalanya harga yang menembus resistance berbalik arah dan kembali ke fase akumulasi. 

Di fase ekspansi, harga saham naik perlahan dari hari ke hari dan bisa berlangsung beberapa bulan. Saat fase ekspansi diskusi berlangsung panas di banyak grup trader dan investor saham, perlahan-lahan orang mulai percaya akan kisah emiten yang labanya “loncat kodok” atau “terbang ke bulan”. Contoh dari saham seperti ini adalah PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) yang memasuki fase ekspansi di tahun 2017. 

Setelah fase ekspansi, berikutnya dilanjutkan dengan fase distribusi, lalu fase kontraksi. 

Di fase kontraksi, semua orang ingin keluar cepat-cepat. Isu yang digoreng sudah tidak seru lagi dan konfirmasi dari emiten pun keluar dan pesta pun bubar. Bank Ganesha Tbk (BGTG) yang rumornya akan dibeli oleh Bank BCA Tbk (BBCA) ternyata bohong belaka. Sebelumnya BGTG sempat melambung karena isu tersebut namun akhirnya BBCA mengonfirmasi bahwa bank yang diakuisisinya adalah bank yang belum IPO. 

Fase kontraksi ini singkat namun penurunannya sungguh sangat cepat. Biasanya di fase ini ada informasi tidak mengenakkan yang beredar seperti contoh BGTG di atas dan jatuhnya rating emiten, dll. Seringkali tidak ada berita apa-apa sama sekali tapi harga sahamnya terbanting hingga 25%-35% atau disebut dengan Auto Reject Bawah (ARB). 

Untuk hal yang seperti ini, indikator trending seperti Moving Average sangat cocok digunakan sebagai konfirmasi untuk masuk posisi maupun keluar dari pasar. Indikator Moving Average yang cenderung lagging justru bagus digunakan dalam situasi ini karena dapat menyaring arah saham dengan baik.

Moving Average paling baik digunakan bersamaan dengan indikator yang mengukur kekuatan tren, seperti ADX yang merupakan turunan dari indikator DMI. Mengenai indikator ADX akan dijelaskan di artikel selanjutnya. 

Adakah Periode Moving Average yang Paling Akurat?

Untuk menjawabnya maka mau tidak mau kita harus menggunakan spreadsheet excel dan menghitung rata-rata errornya. Jika kamu tertarik, kamu bisa download spreadsheet-nya di sini.

Cara pengisian:

  • Masukkan harga close 30 hari terakhir di baris yang berjudul Close Price (Baris berwarna jingga). Data tersebut bisa diperoleh di Yahoo Finance.
  • Lalu semua akan otomatis terhitung. Penulis menyediakan periode 3, 5, 10 dan 15.
  • Di bagian MSE, cari yang nilainya paling kecil. Itulah periode yang paling tepat yang bisa kamu gunakan. Berikut contohnya:
C:\Users\Shanti\Desktop\MA.JPG

Dari data yang dimasukkan, ternyata Moving Average periode 10 hari memberikan nilai MSE yang paling rendah. Nilai MSE yang rendah menandakan garis Moving average yang dihasilkan memberikan tingkat kesalahan yang paling kecil. Selanjutnya SMA yang digunakan adalah periode 10 hari. 

Kalau kamu tidak ingin “ribet” memasukkan data-data seperti itu, kamu boleh tiru trader pada umumnya yang menggunakan SMA 5 dan EMA 200 dan menunggu terbentuknya golden cross. Jangan lupa pasang Moving Average hanya saat trending ya! Gabungkan dengan analisis lainnya seperti pola grafik, pola candlestick (baca di sini https://ajaib.co.id/seni-memahami-grafik-candlestick-bagi-calon-investor-saham/) dan memasang indikator penguji kekuatan tren. 

Namun, tempatkan satu atau dua indikator saja, semakin banyak indikator yang kamu tambahkan semakin besar kemungkinan sistem-mu akan gagal menghasilkan sinyal yang konsisten. Jarang sekali semua indikator menunjukkan sinyal ke arah yang sama, karena semua indikator didasarkan pada harga, volume, atau keduanya. Ketika Anda menerapkan lima atau enam indikator teknikal pada grafik harga saham secara simultan, maka jumlah noise (informasi yang menggaggu) akan semakin banyak. 

Selain mengelola portofolio, kamu juga bisa melakukan diversifikasi investasi dengan membeli reksa dana di aplikasi  Ajaib. Ada beragam reksa dana yang bisa kamu pilih yang sesuai dengan profil investasimu. Kinerja reksa dana dari beragam manajer investasi bisa kamu pantau dari grafik yang disediakan Ajaib. Kalau kamu mau coba, kamu bisa memulainya dari Rp10.000. 

Kalau kamu punya cita-cita finansial, maka sebaiknya investasimu lebih dari Rp10.000 agar pengembaliannya bisa lebih besar.

Selamat berinvestasi.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait