Saham

Menghitung Variabel Volume Perdagangan Saham

perdagangan-saham

Ajaib.co.id – Investor saham harus memperhatikan sejumlah variabel atau indikator agar teknik analisis yang dilakukannya menjadi lebih akurat dan tepat. Salah satu variabel itu adalah volume perdagangan saham. Namun, tak sedikit investor yang belum bisa menghitung volume perdagangan saham atau menerjemahkan angka volume perdagangan saham. Padahal, pemahaman volume perdagangan saham wajib dimiliki bila ingin menuai kesuksesan dalam investasi saham.

Seringkali, volume perdagangan saham disebut juga dengan aktivitas volume perdagangan (trading volume activity/TVA). Nah, sejumlah pakar telah mengemukakan pemikiranya mengenai definisi volume perdagangan saham atau TVA.

Widayanto dan Sunarjanto (2005), misalnya, mengungkapkan bahwa aktivitas volume perdagangan merupakan indikator yang bisa digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi. Parameter yang dipakai adalah pergerakan aktivitas volume perdagangan saham di pasar modal.

Pernyataan tak berbeda banyak disampaikan oleh Wang Sutrisno (2000). Ia berpendapat bahwa aktivitas volume perdagangan ialah instrumen yang bisa digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi. Namun, ia menggunakan parameter volume saham yang diperdagangkan di pasar saham bersangkutan.

Lain halnya dengan Jogiyanto (2010) yang menyatakan aktivitas volume perdagangan sebagai ukuran besarnya volume suatu saham yang diperdagangkan.

Kesimpulannya, aktivitas volume perdagangan adalah jumlah keseluruhan lembar saham yang diperdagangkan oleh suatu emiten pada periode waktu tertentu. Jadi, setiap penjualan yang terjadi dan ditransaksikan di bursa saham, maka disebut volume perdagangan.

Sekarang, mari kita cari tahu cara menghitung volume perdagangan saham. Rumus dalam mencari nilai aktivitas volume perdagangan adalah:

Rumus ini membandingkan jumlah saham yang diperdagangkan (tradeable shares) dengan jumlah saham yang beredar (listed shares).

Jika sudah didapat angkanya, maka cara membaca hasilnya adalah nilai aktivitas volume perdagangan tinggi berarti investor bisa dengan mudah membeli ataupun menjual aset miliknya. Aset dengan nilai aktivitas volume perdagangan tinggi tidak rentan terdampak perubahan harga yang mendadak. Tak hanya itu, aset itu juga tak mudah terdampak praktik manipulasi pasar.

Bila investor kurang percaya diri dengan penghitungannya sendiri, maka ia bisa mendapatkan dan menggunakan data volume saham melalui berbagai platform. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya volume perdagangan saham merupakan data penjualan aset yang beredar di pasaran.

Salah satu platform yang menyediakan data volume saham adalah Yahoo Finance. Investor bisa membuka situs Yahoo Finance sebagai permulaan. Lalu, investor dapat memasukkan kode atau nama perusahaan yang ingin diketahui data volumenya pada kolom “Search Bar”.

Kemudian, klik “Search” untuk memulai pencarian data pada perusahaan tersebut. Investor bisa memilih menu “Historical Data” dan mengatur filter sesuai yang diinginkan, misalnya periode tanggal tertentu. Investor bisa memilih data harian atau bulanan yang ingin dimunculkan. Lalu, klik “Apply”yang diakhiri dengan mengunduhnya.

Selain platform Yahoo Finance, investor juga bisa menemukan data volume saham melalui IDX. Pada laman web IDX, investor dapat membuka bagian menu “Data Pasar” yang dilanjutkan dengan memilih bagian “Ringkasan Saham”.

Setelah muncul tampilan baru, maka investor harus memilih opsi yang diinginkan, seperti tanggal, nama perusahaan dan lain-lain. Langkah selanjutnya adalah meng-klik “Cari”. Sama seperti Yahoo Finance, investor juga bisa mengunduh data yang diinginkannya di platform IDX.

Mengapa investor sangat disarankan untuk mengetahui volume perdagangan saham? Hal ini karena volume perdagangan saham dinilai sebagai faktor utama atau kunci untuk memprediksi pergerakan harga saham.

Di samping itu, volume saham berpengaruh terhadap berbagai variabel lainnya. Salah satunya adalah volatilitas harga saham. Secara sederhana, volatilitas adalah besarnya selisih atau jarak antara naik atau turunnya harga saham atau valuta asing (valas).

Volatilitas tinggi berarti harga saham naik dengan tinggi dalam waktu cepat dan turun dalam waktu yang cepat secara tiba-tiba. Alhasil, selisih atau jarak antara harga terendah dan harga tertinggi sangat besar dalam suatu periode waktu tertentu.

Sebenarnya, volatilitas adalah sesuatu yang wajar terjadi dalam dunia saham. Pengukuran risiko saham pada tahun selanjutnya bisa dilakukan dengan mengetahui volatilitas. Jadi, investor wajib memperhatikan volatilitas ketika berinvestasi saham.

Selain volatilitas, volume perdagangan saham juga terkait dengan likuiditas saham. Saham yang aktif diperdagangkan berarti saham likuid. Saham likuid ditandai dengan selalu adanya antrean order pada fraksi-fraksi harga di harga permintaan (bid price) maupun penawaran (offer price). Di samping antrean bid offer, saham likuid juga dapat dinilai berdasarkan bid offer split dan lot saham.

Sebaliknya, transaksi saham yang dikategorikan tidak likuid biasanya memiliki volume sedikit atau kecil. Dengan kata lain, minat terhadap saham tersebut terbilang rendah.

Sebaiknya, investor menghindari saham tidak likuid karena sulit dibeli dan dijual. Belum lagi fluktuasi harganya yang bisa naik cepat dan bisa cepat menukik pula dalam waktu sekejap. Hal ini mengingat jumlah saham beredar atau jumlah permintaan dan penawarannya kecil.

Di Indonesia, perusahaan yang sahamnya terbilang likuid termasuk pada Indeks LQ45. Lazimnya, volume saham yang tinggi hanya dimiliki oleh perusahaan yang likuid. Jadi, pemahaman investor terhadap volume perdagangan saham sangat penting, terutama saat ia hendak mengambil keputusan investasi.

Selain pada bisnis, lazimnya, volume perdagangan sering kali digunakan pada penelitian di kalangan akademisi. Penelitian-penelitian yang pernah dilakukan kerap membahas tentang likuiditas saham, volatilitas harga saham, stock split, dan reverse stock split. Sebuah penelitian, contohnya, membahas mengenai perusahaan yang melakukan stock split. Kemudian, penelitian tersebut diarahkan untuk menilai dampak stock split terhadap volume perdagangan saham miliknya.

Artikel Terkait