Saham

Sale Stock di Pasar Saham, Bagaimana Cara Menentukannya?

Ajaib.co.id – Siklus transaksi saham umumnya terbagi menjadi dua bagian yakni masa beli dan masa jual. Setelah melakukan pembelian, investor biasanya akan menunggu waktu yang tepat untuk melepas saham yang dimilikinya dengan harga tertinggi.

Istilah yang dipakai oleh investor dalam hal penjualan saham adalah sale stock. Situasi ini diperkirakan terjadi setelah investor sudah memiliki perhitungan sendiri akan capital gain yang didapatnya. Namun, tak semua investor memiliki kemampuan tersebut, loh.

Investor kawakan Indonesia Lo Kheng Hong bahkan sempat merugi karena uangnya tertahan di saham pertambangan batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pada tahun 2012, harga saham BUMI masih berada di level Rp1.000-an per sahamnya.

Karena isu harga batu bara yang terus tergerus dan utang BUMI yang menebal, harga saham BUMI perlahan lengser hingga menyebabkan Lo Kheng Hong kembali melakukan pembelian di harga terendah.

Baru setelah BUMI berada di level Rp500 per unit, Lo Kheng Hong akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie tersebut.

Cerita yang sama juga datang dari salah satu investor tersukses di dunia yaitu Warren Buffett yang menjual rugi semua saham maskapai penerbangan sebagai bentuk mitigasi risiko Covid-19.

Lewat perusahaannya yakni Berkshire Hathaway Inc., Buffet diketahui memiliki saham maskapai American, Delta, Southwest dan United dengan taksiran nilai investasi pada sektor penerbangan sebesar USD4 miliar atau Rp60 triliun (asumsi kurs USD1=Rp15.000) pada Desember tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama Berkshire, kerugian bersih perusahaan mencapai USD49,75 miliar atau setara Rp746 triliun. Padahal, pada tahun sebelumnya, Berkshire mencatat laba bersih USD21,66 miliar, atau Rp325 miliar.

Jadi, bagaimana cara yang efektif untuk menentukan sale stock pada harga yang sesuai? Berikut ringkasannya.

Ketahui Harga Beli Saham Sudah Sangat Murah

Salah satu cara yang efektif agar investor tidak mudah terkecoh hingga melakukan ‘panic selling’ akibat dari kondisi pasar yang bergejolak adalah melakukan pembelian saham pada harga yang sudah sangat murah.

Sehingga, investor tidak lagi khawatir jika harus menjualnya ketika terjadi krisis ekonomi yang membuat harga saham amblas seperti yang terjadi pada awal masa penyebaran pandemi Maret lalu.

Bagaimana cara mengetahui saham sudah murah? Apakah harga saham BBRI yang berkisar di level Rp3.300-an saat ini bisa dibilang lebih murah dibandingkan saham BBNI yang kini berada di level Rp5.000-an? Belum tentu.

Banyak sekali indikator untuk menentukan harga saham sedang murah-murahnya. Beberapa yang paling terkenal adalah price-to-earning ratio atau perbandingan perhitungan harga saham dengan laba bersih perusahaan dalam periode waktu tertentu.

Cara menghitung PER juga sangat gampang yakni dengan membagi besaran harga saham di level saat ini dengan besaran laba per saham atau earning per share perusahaan yang umumnya ditampikan dalam laporan keuangan.

Adapun, beberapa investor percaya bahwa PER wajar sebuah perusahaan adalah 10 kali. Secara umum, semakin besar angka PER yang ditampilkan maka semakin mahal pula harga saham tersebut.

Jadi, mahal tidaknya suatu saham tertentu tidak bergantung pada besaran nominal uang yang kita keluarkan untuk membeli jumlah terkecil saham yang kita dapatkan, ya.

Sama seperti harga BBRI belum tentu lebih murah dari harga BBNI, karena PER BBRI berada di kisaran 20,18 kali sementara PER BBNI berada di rentang 10,33 kali saat ini.

Tentukan Rencana Investasi

Salah satu kiat untuk menentukan penjualan saham atau sale stock saham yang dimiliki saat ini adalah dengan menentukan rencana investasi. Investor yang memiliki horizon investasi jangka pendek dan menegah umumnya mengambil kesempatan untuk menjual sahamnya berdasarkan kalkulasi capital gain yang sudah ia tentukan sebelumnya.

Namun, di sisi lain, beberapa investor juga menerapkan metode value investing dengan horizon yang lumayan panjang memiliki ekspektasi realisasi keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan investasi jangka pendek dan menegah.

Misalnya, pada bulan September 2020, seorang investor ritel membeli saham BBCA pada rentang harga Rp29.300 dengan harapan kenaikan harga saham mencapai 15 persen dalam waktu dekat. Adapun, kenaikan harga saham 15 persen ini bisa diartikan bahwa keuntungan bisa didapatkan jika harga saham BBCA melejit hingga Rp33.695.

Nah, jika dalam dua minggu, harga saham BBCA bisa menyentuh level tersebut, maka ia bisa saja melakukan sale stock dengan harga tersebut sehingga ia merealisasikan profit sebesar 15 persen dari investasinya di saham BBCA hanya dalam dua minggu.

Di lain pihak, seorang value investor membeli saham BBCA pada bulan September dengan harga Rp29.300 dengan ekspektasi keuntungan 150 persen dalam kurun waktu lima tahun. Investasi ini dilakukannya untuk mendanai pendidikan anaknya yang akan kuliah dalam lima tahun ke depan.

Keuntungan 150 persen bukannya tidak mungkin terjadi, namun memang pertumbuhan harga saham sebesar itu umumnya hanya bisa terjadi dalam jangka waktu panjang. Sehingga dengan durasi tertentu, saham BBCA bisa dijualnya di rentang harga Rp73.250.

Memanfaatkan Momentum

Cara lain untuk menentukan aksi sale stock di pasar saham adalah dengan memanfaatkan momentum yakni sentimen positif yang berkembang.

Beberapa kali pemberitaan berupa rencana ekspansi, pertumbuhan pendapatan dan laba, atau kenaikan harga komoditas akhirnya ditafsirkan pelaku pasar menjadi sebuah sentimen untuk berburu saham hingga membuat harganya melonjak.

Semisal, pemberitaan mengenai pengembangan vaksin Covid-19 hasil kerja sama holding BUMN farmasi PT Bio Farma (Persero) dengan perusahaan asal China yakni Sinovac membuat harga saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF), karena juga merupakan perusahaan yang tergabung dalam BUMN farmasi, melonjak.

Hal ini dikaitkan dengan ekspektasi bahwa KAEF dan INAF ditugaskan untuk melakukan distribusi vaksin Covid-19 yang diharapkan bisa terealisasi pada tahun 2021 mendatang.

Akibatnya, selama enam bulan belakangan, saham INAF dan KAEF sudah meningkat masing-masing 550 persen dan 390 persen. Luar biasa, bukan?

Untuk mewujudkan aksi jual dan beli saham ini, kamu juga diwajibkan untuk memiliki akun investasi. Nah, salah satu platform investasi daring yang bisa menjadi pilihan kamu adalah aplikasi investasi Ajaib?

Mengapa Ajaib? Karena selain nyaman mengingat aktivitas jual dan beli bisa dilakukan secara daring, Ajaib juga memberikan perasaan aman bagi investor karena platform-nya sendiri sudah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

Artikel Terkait