Analisa Saham

Saham SDMU: Harga Gocap, Kinerja Perseroan Makin Menurun

Ajaib.co.id – PT Sidomulyo Selaras Tbk (kode saham SDMU) merupakan perusahaan di bidang jasa transportasi bahan berbahaya dan beracun. Perusahaan yang berdiri sejak 13 Januari 1993 ini memiliki kegiatan usaha mengantarkan, menyimpan, menyewakan tangki penyimpanan bahan berbahaya dan beracun (B3) khususnya bahan kimia, minyak, dan gas seperti bahan-bahan kimia, minyak, dan gas untuk kebutuhan sektor industri kimia hulu.

Pada Juli 2011, perseroan terdaftar sebagi salah satu emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham SDMU. Saat penawaran umum perdana, harga sahamnya adalah Rp225. Adapun pemegang saham SDMU per Januari 2019 adalah Tjoe Mien Sasminto 33,95%, PT Asabri (Persero) 18,06%, Sugiharto 12,25%, dan publik 35,74%.

Saham SDMU dan Skandal PT Asabri

Pada akhir 2019, Indonesia dihebohkan dengan skandal korupsi PT Asabri (Persero) sebesar Rp23,7 triliun. Perusahaan asuransi yang mengelola dana pensiun Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) itu rugi besar akibat salah investasi.

Dalam asuransi, perusahaan akan menghimpun dana nasabah berbentuk premi dan mengelolanya ke instrumen keuangan seperti saham, obligasi, deposito, reksa dana, maupun kontrak investasi kolektif atau investasi lain untuk mendapatkan untung, CNBCIndonesia.com (08/02/2021).

Apa hubungannya dengan saham SDMU?

Asabri menginvestasikan dananya pada saham SDMU sebesar 18,06% atau setara dengan 205 juta lembar saham. Pada dasarnya, sah-sah saja Asabri berinvestasi pada instrumen saham.

Namun investasi Asabri tidak dibarengi dengan manajemen risiko yang baik serta keputusan yang tidak prudent. Sehingga Asabri mengalami kerugian sangat besar. Bahkan Asabri menginvestasikan dananya pada saham-saham gocap dan ada pula yang terancam delisting di BEI.

Diketahui bahwa Sejak November 2018, harga sahamnya sering pada level Rp50-an alias saham gocap. Selain SDMU, Asabri berinvestasi pada delapan saham. Tiga di antaranya saham gocap, termasuk SDMU.

Pandemi COVID-19 Hambat Bisnis SDMU 

Pandemi COVID-19 yang terjadi mulai Maret 2020 di Indonesia menghambat bisnis SDMU. hal tersebut ditunjukkan dengan penurunan kinerja operasional untuk kuartal III-2020.

Laporan keuangan SDMU untuk penjualan sebesar Rp63,9 miliar atau turun 24% dari kuartal III-2019, Bisnis.com (03/12/2020). Laba kotor menjadi Rp11,2 miliar atau minus 188% dan rugi bersih Rp44,8 miliar padahal sebelumnya Rp15,92 miliar.

Direktur Keuangan SDMU Erwin Hardiyanto menjelaskan bahwa penurunan kinerja tersebut akibat dari pandemi COVID-19. Pandemi, lanjut Erwin, telah mengubah pola transportasi yang biasanya dilakukan.

Sebelum pandemi, kendaraan yang berangkat membawa muatan dan pulang pun akan membawa muatan. Ketika pandemi, kendaraan pulang tidak membawa muatan. 

Selain itu, depresiasi kurs dan bunga juga menghambat kinerja perseroan. Target pendapatan senilai Rp100 miliar sepanjang 2020 cukup sulit untuk direalisasikan. Namun perseroan berupaya untuk mengikuti beberapa tender angkutan minyak mentah di Sumatera Selatan dan Jambi serta melakukan pengiriman tepat waktu untuk menjaga kepuasan pelanggan .

Perseroan juga membenahi sistem administrasi dan operasional dengan menerapkan sistem daring. Sistem tersebut untuk pemesanan dan pelaporan selama pengiriman produk.

Kinerja SDMU

Untuk mengetahui kinerja SDMU, mari kita lihat laporan keuangan selama ini tahun ke belakang. Mulai 2015 hingga 2019, data berdasarkan laman sidomulyo.com.

Laporan Laba Rugi20192018201720162015
Pendapatan BersihRp106,27 miliarRp102,99 miliarRp102,96 miliarRp118,19 miliarRp143,21 miliar
Laba KotorRp4,68 miliarRp16,43 miliarRp15,41 miliarRp43,1 miliarRp54,57 miliar
Laba Tahun Berjalan-Rp36,22 miliar-Rp26,29 miliar-Rp37,8 miliarRp1,12 miliarRp804 juta

Selama lima tahun, pendapatan bersih yang diperoleh SDMU fluktuatif. Namun perseroan belum mampu mengerek nilai laba bersih setiap tahunnya. Begitu pula dengan total aset pada 2019 senilai Rp217,8 miliar atau turun 14,82% dari tahun sebelumnya. Total ekuitas juga turun 40,19% menjadi Rp51,2 miliar tetapi total liabilitas turun dari Rp170 miliar menjadi Rp166,6 miliar.

Walaupun kinerja menurun, perseroan mengupayakan berbagai cara di tengah pertumbuhan sektor transportasi dan logistik yang ketat, yaitu:

  • Melakukan optimalisasi kinerja melalui peremajaan pada kendaraan operasional.
  • Memperbarui teknologi informasi untuk mendukung kelancaran operasional usaha.
  • Meningkatkan efisiensi kinerja serta mempertahankan dan memperoleh pelanggan baru.
Rasio 20192018
ROA-16,7%-8,5%
ROE-74,3%-16,2%
NPM-34,2%-30%
CR58%103,9%
DER341%89%

Data dari laman Ajaib, diketahui bahwa ROA, ROE, dan NPM perseroan minus karena kinerja keuangan sedang menurun. Sedangkan DER melonjak tinggi menandakan bahwa total liabilitas lebih tinggi dibanding ekuitas.

Hal tersebut akan menjadi beban perseroan karena liabilitas atau kewajiban akan menghasilkan biaya pinjaman yang harus dibayar. Beban biaya akan mengurangi pendapatan dan laba.

Prospek Bisnis SDMU

Meski pandemi COVID-19 masih berlangsung, SDMU optimis kinerja perseroan membaik pada 2021. Perseroan telah mengikuti sejumlah tender dan optimis dapat meraihnya. Tender yang diikuti di antaranya angkutan minyak mentah di Sumatera Selatan dan Jambi, serta berencana mengikuti tender di Riau dan Sumatera Utara.

Direktur SDMU Erwin Hardiyanto mengatakan saat ini perseroan memiliki 267 unit armada. Namun pihaknya belum memutuskan untuk melakukan peremajaan atau penambahan armada pada 2021, Kontan.co.id (03/12/2020). Pasalnya perseroan harus menjaga arus kas agar tidak negatif.

Mengenai pembayaran utang, Erwin mengatakan pihaknya sedang membahas restrukturisasi kepada kreditur. Perseroan mengajukan alternatif konversi utang menjadi saham. Utang perseroan jatuh tempo pada 31 Mei 2022.

Bagaimana dengan Saham SDMU?

Dilihat dari laporan keuangan dan pergerakan harga saham, sebaiknya jangan membeli saham SDMU dulu. Karena kondisi keuangan perseroan kurang sehat dan pandemi yang memengaruhi kinerja SDMU masih berlangsung.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.a

Artikel Terkait