Analisa Saham

Saham JAST “Tergulung” Pandemi, Ini Strategi Emiten

Ajaib.co.id – Sudah setahun ini harga saham JAST cenderung menurun. Padahal bisnis telekomunikasi cukup bagus di Indonesia. Bahkan perseroan memiliki strategi bisnis untuk mengatasinya.

Bagaimana prospek bisnis emiten JAST? Cek di bawah ini.

PT Jasnita Telekomindo adalah perusahaan dari divisi telekomunikasi Rajawali Group yang berdiri sejak 1996. Namun perusahaan ini diakuisisi oleh Transpacific Group.

Bisnis utama Jasnita pada akhir 1990 memberikan layanan pada solusi voice berbasis IP. Awal 2000, perusahaan merilis layanan calling card Dolphin. Layanan ini untuk pekerja asing atau keluarga pekerja asing yang membutuhkan layanan telepon ke luar negeri dengan tarif rendah. Perusahaan juga meluncurkan salah satu saluran informasi pertama di Indonesia, 13TYP.

Sepanjang 2009, Jasnita memperoleh lisensi sebagai penyedia layanan internet dan pembangun fiber optik nasional serta 4G LTE. Pada 2015, perusahaan melakukan restrukturisasi besar dengan tujuan menjadi salah satu perusahaan komunikasi terkemuka di Asia.

Saat ini, kegiatan bisnis utama perseroan dibagi menjadi tiga, yaitu telekomunikasi, call center, dan komunikasi cloud. Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, perseroan melakukan penawaran umum perdana pada April 2019 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Emiten yang memiliki kode JAST ini mempunyai susunan pemegang saham per 2019 yaitu PT Persada Inti Sejahtera dengan porsi 53,01%, PT Karta Mulia Berkembang memiliki 15,94%, PT VIAeight Indonesia dengan 2,81%, Kristina Dwi Suryani Pangerapan dengan 2,82%, Nurhajanto memiliki 0,41%, dan masyarakat dengan 25%.

Fokus Pada Bisnis SaaS

Walaupun JAST terkena dampak pandemi Covid-19, tetapi perseroan optimistis dapat mendongkrak kinerja pada tahun ini. Perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp140 miliar untuk 2021.

Corporate Secretary JAST Nathania Olinda memaparkan perseroan fokus pada lini bisnis software as a service (SaaS) yaitu JasCloud dan terus menambah produk baru, Kontan.co.id (18/04/2021).

Selain itu, perseroan juga fokus pada call center dan layanan tanggap darurat 112. Target perseroan adalah kedua pengguna dapat mencapai 100 kota hingga akhir tahun ini. Terlebih bisnis JasCloud, call center, dan layanan 112 memberikan kontribusi yang baik.

Jasa perseroan, lanjut Nathania, yang memudahkan para pelanggan ketika harus menerapkan work from home (WFH) adalah cloud solution seperti cloud PBX, cloud call center solution, omni-channel (Customer Relationship Management/CRM dan WhatsApp Business), communication API, dan aplikasi lainnya.

Kinerja Kuartal III-2020 Turun

Hingga tulisan ini dibuat, JAST belum merilis laporan tahunan 2020. Laporan kuartal III-2020 mengalami penurunan dibanding kuartal III-2019.

Hal itu tercermin dari pendapatan hingga September 2020 sebesar Rp43,30 miliar atau merosot 33% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yaitu Rp64,67 miliar.

Pendapatan tersebut berasal dari jasa interkoneksi dan internet senilai Rp39,41 miliar, dari proyek telekomunikasi senilai Rp3,47 miliar, dan dari jasa nonkoneksi dengan Rp416 juta.

Sedangkan total beban usaha dapat dipangkas menjadi -Rp20,60 miliar dari sebelumnya -Rp26,22 miliar. Laba kotor turun signifikan menjadi Rp15,51 miliar dari Rp25,88 miliar. Rugi bersih dapat ditekan menjadi -Rp248,74 juta, sebelumnya -Rp1,95 miliar.

Menurut Nathania, kinerja JAST untuk kuartal I-2021 telah memperlihatkan pertumbuhannya. Meskipun pihaknya belum memberikan realisasi kinerjanya.

Kinerja JAST

Sejak 2016 hingga 2019, kinerja keuangan JAST cenderung meningkat. Hal itu terlihat dari total pendapatan, tetapi jika diperhatikan lebih detail, perseroan belum mampu mencetak laba bersih yang stabil.

Begitu pula dengan total liabilitas yang mengalami kenaikan. Laporan keuangan bisa diakses di laman perseroan, BEI, atau Ajaib.

Untuk mengatasi dampak pandemi, perseroan menurunkan target pendapatan. Target sebelumnya sebesar Rp132 miliar diturunkan menjadi Rp93 miliar hingga akhir 2020, Kontan.co.id (28/10/2020).

Direktur Utama JAST Yentoro mengemukakan alasan penurunan tersebut karena iklan out of home (OOH) dari anak usaha, PT Karta Indonesia Global, mengalami pelemahan. Sehingga perseroan memperkuat segmen bisnis JasCloud, omni-channel, dan e-loket.

Prospek Bisnis JAST

Karena JAST menargetkan pendapatan Rp140 miliar, maka perseroan memiliki sejumlah strategi bisnis untuk 2021. Strategi tersebut adalah:

–      Memperkuat layanan JasCloud.

–      Mendiversifikasi produk dan jasa, seperti meluncurkan produk omni-channel (merilis Whatsapp Business API dan SMS broadcast dengan target ke 10 kota) dan e-loket (dengan target enam kota dan satelit instalasi VSAT di daerah terpencil untuk layanan internet pedesaan dengan target 220 site).

–      Mengembangkan layanan Smart City dengan memperkuat produk IoT dan CCTV surveillance.

–      Mendukung program pemerintah melalui UMKM Go Digital. Program tersebut adalah aplikasi marketplace untuk UMKM daerah dari pemerintah yang bertujuan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) melalui bisnis daerah dan pajak-pajak yang menyertainya, Kontan.co.id (18/04/2021).

JAST akan ikut mengembangkan aplikasi melalui anak usahanya, PT Sakti Makmur Pratama. Targetnya aplikasi digunakan di lima kota di Indonesia dan mampu bersaing dengan aplikasi belanja digital lainnya.

Beli Saham JAST atau Tunda?

Harga saham JAST sangat terjangkau, yaitu Rp144 pada penutupan bursa 11 Mei lalu. Harga tersebut naik 1,41% dari hari sebelumnya. PER -2,63,41 kali dan PBV 1,34 kali.

Dengan kinerja keuangan yang cukup dan harga saham yang cenderung menurun satu tahun belakangan, sebaiknya tunda dulu membeli saham JAST. Karena prospek bisnis industri telekomunikasi cukup bagus. Hanya saja dengan perseroan belum menunjukkan pergerakan positif.

Bila investor tetap tertarik dengan saham ini, sebaiknya beli saham dengan jumlah kecil dulu. Sembari melihat pergerakan harga dan kinerja perseroan, jika hasil kuartal berikutnya cukup bagus, investor boleh menambah kuota saham. Hal ini berlaku juga sebaliknya.

Disclaimer

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek.

Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait