Analisa Saham

Saham DUCK Menarik Untuk Diserok Bawah

Sumber: JBI

Ajaib.co.id – Pandemi COVID-19 merupakan masa yang sulit bagi semua pegiat bisnis restoran. Pasalnya semua restoran mesti tunduk pada protokol kesehatan dengan membatasi jam operasional dan hanya mengizinkan konsumen memenuhi maksimal 50% saja dari total ruang yang tersedia. 

Alhasil pendapatan emiten-emiten restoran menurun tajam bahkan harus menderita kerugian, dan umumnya harga saham emiten restoran terkapar saat ini. Akan tetapi penurunan harga saham emiten berkinerja baik merupakan sinyal beli yang bagus bagi para value investor. Dan mungkin DUCK adalah salah satu saham dari emiten-emiten restoran berkinerja baik yang kini harga sahamnya sedang merana. Berikut penjelasan lengkapnya. 

Profil Emiten 

PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) adalah perusahaan yang mengelola jaringan restoran Chinese food terbesar di Indonesia dengan nama The Duck King. 

Perusahaan bertindak sebagai entitas induk dan tidak menjalankan bisnis secara langsung. Sedangkan operasi bisnis dilakukan oleh PT Selera Indonesia Makmur (SIM) sebagai entitas anak. Melalui anak usahanya, DUCK mengoperasikan empat merek restoran, yaitu The Grand Duck King, The Duck King, Imperial Chef dan Fook Yew.

SIM dan sejumlah perusahaan, dengan pola kerja sama perjanjian waralaba, mengelola 36 restoran di bawah merek Fook Yew, Imperial Chef, The Duck King dan The Grand Duck King di kota-kota besar di Indonesia.

Konsep yang ditawarkan restoran-restoran milik PT Jaya Bersama Indo adalah Chinese resto bernuansa fine family dining dalam suasana modern kontemporer dengan menu oriental seperti bebek peking panggang, dimsum, dan deep-fried bun with roasted duck meat and black pepper sauce. Meski menawarkan Chinese food namun Duck King menargetkan semua orang termasuk muslim perkotaan modern. 

Berdiri sejak tahun 2013, kini total kapasitas restoran DUCK telah mencapai 5.300 seat dengan luas lantai seluruh restoran mencapai lebih dari 14.000 meter persegi dan tersebar di berbagai kota seperti Bandung, Bekasi, Jakarta, Surabaya, dan Tangerang.

Kemudian PT Jaya Bersama Indo melaksanakan IPO pada bulan Oktober 2018 di papan utama bursa dengan kode saham DUCK. Dengan jumlah saham beredar sebanyak 1.283.330.000 lembar di harga Rp 212 per saham maka kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 272,07 Miliar. 

Adapun pemegang saham dengan kepemilikan signifikan diantaranya PT Asia Kuliner Sejahtera (6,39%), PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (23,45%), BBH Luxembourg (6,6%) dan yang beredar di masyarakat adalah sebesar 63,54% dari seluruh saham beredar. 

Ulasan Riwayat Kinerja

Meski telah memasuki semester kedua di tahun 2021, namun DUCK laporan keuangan terakhir yang telah disampaikan adalah laporan keuangan kuartal 3-2020. Sayang sekali jika DUCK mesti dinilai dari performa terakhirnya saja.

Di laporan keuangannya yang terakhir performa DUCK mesti terkoreksi banyak, hal ini sangat dimaklumi karena memang pandemi menyebabkan jam buka operasional terbatas dan maksimal restoran hanya boleh terisi hingga 50% nya saja. 

Oleh karenanya pembahasan mengenai kualitas kinerja akan dimulai dari pembahasan riwayat kinerja yang tersaji sejak tahun 2017 yang sangat berharga untuk dicermati. Berikut ulasan kinerja saham DUCK.


PendapatanLaba KotorLaba UsahaLaba Bersih
2017538.254.996.942390.459.841.981118.688.020.90971.771.139.508
2018617.769.716.781454.013.402.215140.630.050.321111.450.390.905
2019736.796.880.212568.956.377.960184.560.412.709150.338.701.263
CAGR17,00%20,71%24,70%44,73%

Secara umum kondisi emiten sangat baik dengan peningkatan penjualan yang sehat dan efisiensi beban yang baik. Setiap tahunnya pendapatan emiten terus meningkat dan di akhir tahun 2019 pendapatan DUCK adalah sebesar Rp 736,79 miliar atau naik dengan pertumbuhan sebesar rata-rata 17% per tahun.  

Yang menarik adalah laba kotor dan laba usaha juga meningkat namun dengan pertumbuhan yang lebih pesat dari pertumbuhan pendapatan. Adapun laba kotor emiten per tahun 2019 adalah sebesar Rp 568,95 miliar.

Pertumbuhan laba kotor rata-rata sebesar 20,71% per tahun atau lebih besar 3,71% dari pertumbuhan pendapatan. Artinya emiten berhasil menghemat beban pokok pendapatan dan menyisakan laba kotor dengan pertumbuhan yang lebih tinggi.

Penghematan beban-beban tak berhenti sampai di sana. Dari data yang dikompilasi di atas diketahui bahwa laba usaha bertumbuh sebesar 24,70% per tahun, lebih besar dari pertumbuhan secara top line. Artinya beban usaha juga berhasil dihemat oleh emiten dan menyisakan laba usaha yang bertumbuh lebih pesat dari pertumbuhan pendapatannya. 

Di bottom line, laba bersih mengalami pertumbuhan pesat yakni sebesar 44,73% per tahun. Laba bersih yang terus meninggi adalah hal yang diinginkan semua investor. Sayangnya efisiensi yang mengakibatkan laba bersih bertumbuh lebih pesat dari pendapatan ini disebabkan oleh pengemplangan pajak oleh emiten.

Diketahui per akhir 2019 emiten mengemplang pajak senilai Rp 140,42 miliar yang dimasukkan ke dalam liabilitas. Mengenai hal itu, ada yang unik tentang hubungan liabilitas dan aset lancar emiten, berikut pembahasannya. 


AsetLiabilitasEkuitas
2017528.942.657.230210.717.544.926318.225.112.304
20181.047.678.119.105299.242.241.335748.435.877.770
20191.456.015.310.493553.671.914.960902.343.395.533
CAGR65,91%62,10%68,39%

Secara umum aset meningkat dengan sangat baik, yakni 65,91% per tahun. Di akhir tahun 2019 aset DUCK adalah sebesar Rp 1,45 triliun. Liabilitas dan ekuitas juga naik dengan kisaran pertumbuhan yang relatif sama setiap tahunnya yakni 60-an persen setiap tahunnya.   

Jadi diketahui aset emiten meningkat drastis di tahun 2018 berkat penerimaan pelanggan yang luar biasa. Penambahan aset utamanya berasal dari kas dan setara kasnya, dan ternyata kas yang masuk berasal dari arus kas operasional!

Dibandingkan tahun 2017, penerimaan dari pelanggan di 2018 naik hingga 3x lipat. Pantas saja emiten memutuskan untuk IPO di 2018 untuk ekspansi karena ternyata operasionalnya sedang luar biasa baik. 

Sekilas Mengenai Pajak, Utang, dan Kas

Nah, pada tahun 2017 diketahui utang pajak emiten adalah Rp 40 miliar saja, namun yang dibayarkan hanya Rp 17,38 miliar. Di tahun 2018 utang pajak emiten adalah Rp 79,51 miliar dan pajak yang dibayarkan emiten hanya Rp 19,3 miliar saja.

Di tahun 2019 utang pajak telah menumpuk hasil akumulasi denda pajak dari tahun-tahun sebelumnya, total utang pajak emiten di 2019 adalah Rp 140,42 miliar. Berapa pajak yang dibayarkan di 2019? Hanya Rp 27,78 miliar saja. 

Mungkin kamu berpikir, oh ya wajar karena laba emiten di 2019 hanya Rp 150 miliar. Kalau dibayarkan pajak Rp 140 miliar nanti habis dong labanya. Tapi coba lihat Kas dan Setara Kas-nya!

Kas dan Setara Kas emiten nilainya Rp 722 miliar di tahun 2019, dan Rp 709 miliar di 2018. Sebagai informasi, Kas dan Setara Kas adalah uang dingin yang disimpan sebagai cadangan. Uang dingin artinya uang yang benar-benar tidak digunakan untuk belanja modal, operasional atau apapun. Dengan kas sebesar itu semestinya DUCK bisa melunasi utang pajaknya dengan mudah!

Bahkan dengan kas sebesar itu, seluruh utangnya saja bisa dibayar dengan mudahnya! Coba kamu perhatikan berapa liabilitas emiten. Di 2019 nilai total liabilitas adalah Rp 553 miliar, sedangkan kas-nya ada sebesar Rp 722,28 miliar. Secara praktis emiten mampu membayar seluruh utangnya dengan uang dingin yang disimpannya di bank. 

Tapi tidak, DUCK rupanya penggemar berat investasi. Daripada mesti dibayarkan utang-utang, DUCK lebih suka mengendapkannya di bank dan deposito berjangka dan kemudian menerima bunga daripadanya. 

Dari arus kas investasi, diketahui bahwa DUCK telah menempatkan Rp 690,5 miliar di deposito berjangka di tahun 2018. DI 2019 deposito berjangkanya ditambah lagi senilai Rp 220 miliar. Jadi diluar Kas dan Setara Kas yang senilai Rp 709 miliar, emiten memiliki deposito berjangka senilai Rp 910,5 miliar.

Padahal emiten punya opsi untuk bebas utang sama sekali namun daripada bayar utang seluruhnya, emiten lebih suka membayar sebagian dan menyimpan dana perolehannya sebagai investasi.

Apakah ini buruk? Sama sekali tidak karena rasio utang emiten sangat aman.  

Rasio-Rasio


DERCurrent Ratio
201766,22%220,33%
201839,98%336,29%
201961,36%237,96%

Utang jangka pendek emiten nilainya sangat kecil jika dibandingkan dengan aset lancarnya. Current Ratio membagi aset lancar dengan utang jangka pendek, dengan nilai lebih dari 200% maka artinya aset lancar emiten sudah sangat cukup untuk menutup seluruh utang jangka pendeknya.

Rasio utang per ekuitas (DER) emiten adalah sekitar 30-60an persen setiap tahunnya. Sebagai informasi, rasio DER memang seharusnya di bawah 100% yang menandakan sehat secara keuangan. Ini menarik karena emiten sebenarnya mampu memiliki rasio DER 0% karena hanya dengan kasnya saja seluruh utangnya bisa ditutup. Berikut ulasan mengenai marjin laba emiten.


GPMOPMNPM
201772,54%22,05%13,33%
201873,49%22,76%18,04%
201977,22%25,05%20,40%

Diketahui emiten membukukan marjin laba kotor (GPM) senilai 70-an persen setiap tahunnya. Menariknya adalah besaran GPM semakin besar setiap tahunnya dari 72,54% menjadi 73,49% di 2018 dan terakhir mencapai 77,22%.

Ini adalah hal baik bagi investor karena artinya emiten memiliki nilai tawar yang baik sehingga bisa menghemat biaya bahan baku hingga bisa memperoleh laba kotor hingga 70-an persen. 

Berikutnya marjin laba usaha (OPM) emiten adalah sebesar 20-an persen, dan menariknya besaran OPM terus meningkat juga. Artinya ada efisiensi beban, alias penghematan beban yang dilakukan emiten setiap tahun. Yang lebih menarik lagi adalah marjin laba bersih (NPM) yang juga meningkat seiring waktu. Secara profitabilitas emiten sangat menarik. 

Kinerja Laporan Keuangan Terakhir

Emiten belum melampirkan laporan keuangan akhir tahun 2020, laporan keuangan terakhir adalah Kuartal 3-2020. 


PendapatanLaba KotorLaba UsahaLaba Bersih
3Q19579.713.251.279433.800.594.672151.408.926.250129.210.519.100
3Q20179.775.375.019147.202.157.43628.789.135.02120.587.347.950

Per Kuartal 3-2020 pendapatan emiten hanya sebesar Rp 179,77 miliar saja dengan laba bersih hanya Rp 20,58 miliar. Harga saham DUCK juga terkoreksi banyak, dari puncaknya di 2020 yakni Rp 1905, kini DUCK hanya ditransaksikan di Rp 202 saja per lembarnya. Namun dari neraca tidak ada yang mesti dikhawatirkan.


AsetLiabilitasEkuitas
3Q191.321.640.780.335427.764.603.049877.646.396.870
3Q201.344.583.161.041421.652.417.558922.930.743.438

Adapun aset emiten per kuartal 3-2020 adalah sebesar Rp 1,34 triliun dengan liabilitas hanya Rp 421,65 miliar. Kalau emiten mau, sekarang pun emiten bisa bebas liabilitas karena kas dan investasi deposito berjangkanya jika digabungkan nilainya empat kali lipat total liabilitasnya. 

Prospek

Perhitungan EPS akan disesuaikan dengan kondisi sebelum pandemi yakni tahun 2019. Dengan kinerja terakhir di 2019, maka EPS emiten adalah sebesar Rp 117,15 per lembar saham. Dan oleh karenanya harga saat ini, yakni Rp 202, mencerminkan rasio PE sebesar 1,72x alias sangat murah. 

DUCK adalah emiten restoran dengan profitabilitas yang baik yang didukung oleh kemampuan efisiensi beban yang ciamik. Selain itu emiten sangat-sangat sehat. 

Kesimpulan

Riwayat performa DUCK menunjukkan bahwa emiten memiliki kualitas manajemen yang pandai dalam melakukan efisiensi beban-beban yang tampak dari marjin laba yang semakin membesar dari tahun ke tahun.

Aktivitas operasionalnya pun patut diacungi jempol, pendapatan emiten senantiasa meningkat dari waktu ke waktu. Sayangnya pandemi melanda sehingga pendapatan emiten mesti terkoreksi. Namun justru ini adalah waktu yang sangat baik untuk melakukan serok bawah alias membeli di harga murah. 

Dengan kualitas kinerja yang baik, harga yang masih sangat rendah, maka saham DUCK layak dikoleksi saat ini. Kamu bisa mulai panen hasilnya ketika ekonomi pulih, dan saat ini Indonesia sudah lepas resesi.

Distribusi vaksin juga sedang dilancarkan, dan oleh karenanya restoran-restoran kemudian akan memiliki kesempatan untuk kembali beroperasi normal seperti sedia kala. Dan harga saham restoran akan memiliki kesempatan untuk pulih juga. 

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait