Analisa Saham, Saham

Relaksasi PPnBM Dilakukan, Bagaimana Prospek Saham BFIN

Ajaib.co.id – BFI Finance Tbk adalah perusahaan pembiayaan yang berdiri pada 7 April 1982 yang fokus di pembiayaan konsumen, mencakup pembiayaan roda dua dan empat hingga pembiayaan sewa guna. Kantor cabang perusahaan yang memiliki kode saham BFIN tersebut tersebar di seluruh Indonesia di antaranya Jakarta, Tangerang, Bekasi, Medan, Pekanbaru, Bandar Lampung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Balikpapan, Samarinda, Manado, Makassar, hingga Pontianak.

Perusahaan mendapatkan izin listing di pasar modal dan melepas 2,13 juta saham di harga Rp5,750/lembar per saham dan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp12,2 miliar. Per Rabu, (31/3/21), saham BFIN berada di harga Rp655/lembar per saham. Komposisi saham BFIN terbagi menjadi 4 pemilik, yaitu Trinugraha Capital & Cosca sebagai pengendali (42,81%), DB SPORE DCS A/C NTASIAN DISCOVERY MASTER FUND (8,20%), masyarakat (42,71%), dan saham treasury (6,28%).

Dengan dukungan kemudahan kredit kendaraan bermotor lewat relaksasi pajak penjualan barang mewah (PPnBM), industri otomotif dan sektor pembiayaan berpeluang pulih di tahun. Lalu, apa implikasinya terhadap saham BFIN? Apakah BFIN punya prospek yang bagus di masa depan? Bagimana dengan fundamentalnya? Mari kita bedah saham BFIN di bawah ini.

Laba Bersih Turun, Tapi Terbaik di Industri

Saham BFIN mencatatkan penurunan laba bersih menjadi Rp701,59 miiar, turun 1,4% dibandingkan pencapaian di tahun 2019 sebesar Rp711 miliar. Penurunan ini jauh lebih baik dibandingkan penurunan industri pembiayaan yang terkontraksi sebesar 61,2%. Menariknya, pendapatan perusahaan justru merosot 12% ke Rp4,6 triliun dari Rp5,24 triliun di periode yang sama tahun lalu.

Meskipun pendapatan perusahaan turun, kinerja laba bersih yang masih stabil didukung kemampuan perusahaan yang mampu menekan biaya beban hingga 10,81%. Beban perusahaan yang turun mencakup beban gaji & tunjangan, beban bunga & keuangan, hingga beban umum & administrasi.

Menurunnya pendapatan perusahaan disebabkan pembiayaan baru tahun 2020. Di mana, pembiayaan bersih menjadi Rp15,9 triliun dari pencapaian sebelumnya Rp20,4 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Komposisi piutang pembiayaan yang dikelola BFIN didominasi segmen mobil bekas mencapai 72%, diikuti pembiayaan alat berat dan permesinan yang mencapai 14,3%, motor bekas 9,2%, serta sisanya pembiayaan mobil baru, property-backed, dan syariah mencapai 4,7%..

Kinerja Stabil, Menurun Karena Covid-19

Saham BFIN mencatatkan kinerja yang positif di beberapa tahun ke belakang, terlebih di tahun 201. Namun, kinerja tersebut harus menurun di tahun 2020 karena pandemi Covid-19. Di bawah ini adalah ikhtisar keuangan perusahaan dari tahun 2018 hingga tahun 2020.

Komponen Laba 2020 2019 2018
Pendapatan 4,569 5,240 5,017
Laba Bersih 701 711 1,467
Pembiayaan 15,917 15,896 16,372

Naiknya suku bunga acuan dan banyaknya modal asing yang keluar menjadi tantangan sektor pembiayaan di tahun 2018. Namun, pertumbuhan kredit di tahun tersebut naik 12% dibandingkan tahun lalu, sementara industri pembiayaan tumbuh 6%. Hal ini mempengaruhi kinerja saham BFIN di tahun 2018. Perusahaan mencatatkan peningkatan pembiayaan baru sebesar 14,2%, didominasi pembiayaan mobil, pembiayaan sepeda motor pembiayaan alat berat, mesin, dan lain-lain.

Laba bersih perusahaan juga tumbuh 24% sepanjang 2018 ditopang peningkatan piutang dan piutang pembiayaan. Kinerja positif tersebut tidak lepas dari upaya perusahaan menjalankan strategi sehingga berhasil menjaga kualitas aset di tengah krisis pertumbuhan bisnis.

Pada tahun 2019, piutang industri pembiayaan meningkat 3,7% dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhannya yang lambat didasari kelesuan ekonomi dan perlambatan pertumbuhan finansial, terlebih tantangan dari financial tech sebagai pemain baru di industri pembiayaan. Namun, saham BFIN berhasil mengatasinya dengan baik.

Pembiayaan baru perusahaan tercatat hanya turun 2,9% dibandingkan tahun 2018 karena menurunnya penjualan mobil di Indonesia sebesar 11,8% sehingga membuat pembiayaan mobil perusahaan turun 3,4% diikuti kenaikan pembiayaan motor sebesar 18%. Turunnya pembiayaan baru tidak berdampak pada pendapatan perusahaan yang justru naik 4,4% karena peningkatan piutang pembiayaan dan perusahaan mampu mempertahankan marjin bunga bersih.

Perusahaan mencatatkan kenaikan biaya operasional yang signifikan disebabkan biaya penyelesaian kasus sengketa hukum dengan eks pemegang saham BFIN yang berlangsung sejak tahun 2020. Akibatnya, laba sebelum pajak perusahaan turun dari Rp1,8 triliun menjadi Rp1,1 triliun, dan menurunnya laba bersih sebesar 51% menjadi Rp711 miliar.

Beralih ke 2020 di mana, seluruh sektor bisnis menghadapi tantangan bisnis, terlebih industri pembiayaan karena Covid-19, saham BFIN justru mampu mempertahankan kinerja positifnya dengan hanya mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 1% ke Rp701 miliar.

Penurunan laba bersih disebabkan permintaan relaksasi pembiayaan yang besar, pemburukan kualitas pinjaman yang tiba-tiba karena pandemi. Mau tidak mau, perusahaan harus melakukan restrukturisasi kredit melalui penundaan pembayaran pokok angsuran dan perpanjangan tenor angsuran.

Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas bagaimana rasio keuangan perusahaan di tahun 2019 dan 2020.

Rasio September 2020 September 2019
ROA 5 5,7
ROE 11 11,6
NPF 1,72 1,1

Perusahaan mencatatkan penurunan pada rasio profitabilitas, seperti di ROA. Saham BFIN membukukan penurunan ROA ke 5% dari 5,7% di tahun lalu. ROE perusahaan juga turun tipis ke 11% dibandingkan pencapaian tahun lalu sebesar 11,6% Meskipun menurun, ROA dan ROE perusahaan masih tergolong sehat di industri pembiayaan.

Selanjutnya, NPF perusahaan tercatat naik ke 1,72% dibandingkan periode sama tahun lalu di 1,1%. Meskipun naik, angka NPF saham BFIN jauh lebih dibandingkan rata-rata industri di angka 4,0%. Ini membuktikan pembiayaan yang diberikan oleh saham BFIN berkualitas dan kolektibilitasnya lancar.

Track Record Pembagian Dividen

Saham BFIN merupakan salah satu emiten yang rutin membagikan dividen. Berikut adalah besaran pembayaran dividen BFIN beberapa tahun terakhir:

Tahun Dividen per Saham Jumlah yang dibayarkan (miliar)
2017 26 389
2018 39 584
2019 49 733
2020 12 190

Sejak 2017 hingga tahun lalu, saham BFIN rutin membagikan dividen. Konsistensi perusahaan membagikan dividen setidaknya 3 tahun terakhir membuktikan bahwa perusahaan mampu mencetak kinerja keuangan dengan stabil. Kinerja keuangan yang stabil mengindikasikan kondisi fundamental perusahaan yang sehat.

Prospek Bisnis Saham BFIN

Seperti diketahui, saham membukukan laba bersih sebesar Rp701 miliar atau turun 1% dibandingkan pencapaian tahun lalu. Hal ini dikarenakan perusahaan menyalurkan pembiayaan secara selektif untuk mengontrol pemburukan kualitas piutang selama pandemi sehingga NPF membaik di bawah rata-rata industri.

Namun, di tahun ini perusahaan menargetkan kenaikan pembiayaan baru sebesar 75%. Target tersebut sebenarnya masih di bawah pencapaian bisnis di tahun 2019. Selain itu, mengingat pembiayaan perusahaan didominasi mobil bekas, tahun ini perusahaan juga akan menggenjot segmen alat berat. Permintaan alat berat diproyeksikan menanjak karena meningkatnya harga komoditas perkebunan dan pertambangan. Saham BFIN menargetkan pembiayaan alat berat naik 20% di tahun ini.

Komposisi piutang pembiayaan yang dikelola BFIN masih didominasi segmen mobil bekas sekitar 72%, disamping pembiayaan alat berat dan permesinan yang mencapai 14,3%, motor bekas 9,2%, serta sisanya pembiayaan mobil baru, property-backed, dan syariah mencapai 4,7%. Dalam rencana bisnisnya, disebutkan saham BFIN sedang gencar memanfaatkan peluang bisnis di tengah perbaikan ekonomi makro, termasuk mengisi celah yang ditinggalkan oleh sebagian kompetitor.

BFI Finance juga berencana menyelesaikan seluruh restrukturisasi piutang yang terjadi selama kondisi pandemi sehingga tidak ada perbedaan kualitas antara piutang normal dan restrukturisasi, dan transformasi digital untuk seluruh transaksi dengan penerapan teknologi berbasis data. Proses transformasi digital akan berjalan secara berkelanjutan,seperti melakukan kolaborasi dengan beberapa pihak terkait data analytics dan data warehouse untuk credit scoring.

Saham BFIN juga sudah menyiapkan strategi untuk memanfaatkan relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) atas mobil baru. Di waktu yang berdekatan, OJK juga memberikan pelonggaran berupa penurunan perhitungan aset tertimbang menurut risiko (ATMR).

Penurunan ATMR ini berlaku untuk produk pembiayaan multiguna, program kepemilikan kendaraan perusahaan kepada karyawannya (Car Ownership Program), dan pembiayaan beragun rumah tinggal yang membuat perusahaan pembiayaan dapat berekspansi seiring berkurangnya pencadangan.

Salah satu kelonggaran yang diberikan adalah kelonggaran kredit mobil lainnya yang diizinkannya memberikan kredit kendaraan dengan uang muka (DP) 0 persen. Menurut perusahaan, ketentuan ini dapat membantu penyaluran pinjaman dari bank yang selama pandemi lebih ketat dari kondisi normal.

Di sisi lain, untuk menggenjot target pembiayaan,saham BFIN sudah menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp100 miliar-Rp 140 miliar. Alokasi capex akan digunakan terutama untuk pengembangan sistem dan teknologi informasi.

Berdasarkan data RTI per Rabu, (31/3/21), saham BFIN berada di harga Rp665/lembar saham, dengan  PER 15,13x dan PBV di 1,61x. Melihat prospek ke depannya sangat cerah didukung pemulihan ekonomi serta kondisi fundamental yang sehat, saham BFIN masih dihargai sangat murah dan layak untuk dikoleksi investor.

Jadi, tertarik untuk membeli saham BFIN? Yuk beli dan koleksi sahamnya sekarang juga di Ajaib! Mulai dari Rp100 ribu, kamu sudah bisa memiliki saham dari perusahaan pembiayaan ini lho!

Artikel Terkait