Saham

Nilai Restrukturisasi Kredit Tinggi, Bagaimana Saham Bank 2021?

Ajaib.co.id – Restrukturisasi kredit menjulang tinggi sepanjang 2020 akibat pandemi COVID-19 yang memengaruhi seluruh sendi ekonomi Indonesia. Akankah tantangan restrukturisasi ini akan berhenti pada 2021?

Pengertian Restrukturisasi Kredit

Mengutip OJK.go.id, restrukturisasi kredit secara sederhana dapat diartikan sebagai keringanan pembayaran cicilan di bank atau perusahaan pembiayaan. Adapun, jenis keringanan yang diberikan disesuaikan dengan kesepakatan antara pemberi kredit atau pinjaman dengan debiturnya.

Terdapat beberapa jenis pembiayaan yang bisa diberikan kepada debitur, di antaranya penurunan suku bunga, perpanjangan jangka waktu atau tenor, pengurangan tunggakan pokok, pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit/pembiayaan, dan konversi kredit/pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara.

Bagi debitur, program restrukturisasi kredit ini terbilang mendesak di tengah pandemi. Pasalnya, banyak pelaku usaha, baik di segmen UKM maupun non-UKM seperti korporasi yang harus menghadapi penurunan kinerja akibat pandemi. Hal ini turut memengaruhi kemampuan mereka membayar utang kepada pihak bank atau perusahaan pembiayaan.

Adapun, bagi perbankan restrukturisasi kredit dapat diartikan pisau bermata dua. Restrukturisasi dibutuhkan untuk menghindari kenaikan Non Performing Loan (NPL) atau biasa disebut kredit bermasalah. Namun, hal ini juga berarti pendapatan bunga perbankan akan berkurang atau tertunda akibat adanya restrukturisasi.

Restrukturisasi Kredit Kala Pandemi

Mengutip Bisnis.com, sampai dengan 30 November 2020, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa total restrukturisasi kredit perbankan terkait COVID-19 di Tanah Air telah mencapai Rp951,2 triliun dari 7,53 juta debitur.

Dari jumlah tersebut, 5,8 juta debitur berasal dari segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan nilai restrukturisasi Rp382 triliun, dan non-UKM sebanyak 1,73 juta debitur dengan nilai Rp569,2 triliun.

Tak hanya perbankan, perusahaan non-bank juga getol melakukan restrukturisasi sepanjang tahun ini. Terhingung hingga 15 Desember 2020 data OJK menunjukkan total restrukturisasi kredit di perusahaan pembiayaan mencapai Rp188,3 triliun dari 4,94 juta kontrak. Sementara itu, nilai restrukturisasi di Lembaga Keuangan Mikro (LKM) mencapai Rp26,4, miliar, termasuk Rp4,5 miliar di Bank Wakaf Mikro (BWM).

Berkurangnya pendapatan bunga sebagai salah satu sumber pendapatan utama bank juga diperkirakan akan menggerus laba. Dilansir dari kumparan.com, Analis Moody’s Tengfu Li menjelaskan, hal ini bahkan bisa bertambah parah apabila debitur tetap gagal membayar kredit setelah masa keringanan berakhir. 

Hal ini juga semakin menambah berat langkah perbankan dan industri pembiayaan di tengah mandeknya penyaluran kredit atau pinjaman baru. Sampai November 2020 saja, data OJK menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan nasional masih terkoreksi 1,39 persen secara year on year (yoy).

Tak heran apabila Mandiri Economic Outlook 2021 memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2020 hanya akan mencapai kisaran -1 persen sampai 0 persen, alias pertumbuhan kredit bisa tumbuh negatif.

Prospek Saham Emiten Bank

Meski begitu, sejumlah bank besar di Indonesia sudah mulai bangkit dari kondisi keterpurukan akibat pandemi 2020. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) misalnya, telah mencatatkan kenaikan kredit per akhir September 2020. Tercatat kredit bank BUMN ini tumbuh 3,8 persen yoy meski harus merestrukturisasi kredit sebanyak Rp116,4 triliun sampai dengan September 2020.

Di sisi lain, BMRI masih bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 4,1 persen menjadi Rp42,16 triliun. Meski begitu, laba bersih BMRI harus terkoreksi 30,7 persen yoy akibat kenaikan biaya provisi 52,8 persen. Kenaikan biaya provisi ini tak lain disebabkan oleh pencadangan yang meningkat untuk mengantisipasi kenaikan NPL.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga mencatatkan kinerja serupa dengan mencetak pertumbuhan kredit sebanyak 4,2 persen menjadi Rp582,38 triliun per akhir September 2020. Di sisi lain total kredit yang direstrukturisasi di bekas bank sentral itu mencapai Rp101,7 triliun.

Meski demikian, BBNI gagal mencetak pertumbuhan pendapatan bunga bersih. Per akhir September 2020, pendapatan bunga bersih bank ini mengalami koreksi tipis 0,8 persen yoy. Sama dengan bank-bank lainnya, beban pencadangan atau provisi BBNI juga meningkat tinggi hingga membuat laba terkoreksi. Pada akhir periode tersebut laba bersih BBNI mengalami koreksi 63,9 persen yoy.

Di antara bank-bank besar di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi bank dengan performa paling baik sepanjang pandemi. Meski juga tak bisa membuat bottom line alias laba bersih tumbuh, namun koreksi yang dialami bank milik Grup Djarum ini menjadi yang terendah dibandingkan kompetitornya.

Di tengah pertumbuhan kredit yang terkoreksi 0,6 persen yoy, BBCA merestrukturisasi kredit sebanyak Rp90,7 triliun. Restrukturisasi kredit ini sudah termasuk restrukturisasi kredit yang terdampak COVID-19 dan non-COVID-19. Dibandingkan dengan bank besar lain, restrukturisasi BBCA menjadi yang terendah.

Namun, BBCA masih mampu meningkatkan pendapatan bunga bersihnya sebesar 9 persen yoy menjadi Rp40,8 triliun. Namun, setelah dikurangi pencadangan, laba bersih BBCA tercatat sebesar Rp20,03 triliun. Nilai tersebut terkoreksi tipis 4,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Meski rata-rata masih mengalami koreksi laba, nyatanya bank-bank besar sudah mampu keluar dari dilema restrukturisasi kredit. Hal ini juga yang mendorong kinerja harga saham-saham BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA sudah jauh meninggalkan posisi terburuknya pada Maret 2020.

Nah, apakah kamu tertarik untuk membeli saham-saham bank buat modal 2021? Apapun saham bank andalan kamu, mulailah berinvestasi lewat aplikasi Ajaib! Aplikasi ini telah mendapatkan izin dari OJK dan menjadi salah satu platform andalan investasi saham dan reksa dana online saat ini. Kamu bisa mengunduh aplikasi investasi Ajaib melalui Google Play Store dan Apple App Store.

Sumber: Nilai Restrukturisasi Kredit Tinggi, Bagaimana Saham Bank 2021?, Ekonom dan Otoritas Pesimistis Akhir 2020, Bankir Masih Berupaya Poles Kinerja, Mandiri 3Q 2020, BNI 3Q 2020, BCA 9M20 Results, dan 8 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Restrukturisasi Kredit/Pembiayaan, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait