Saham

Daftar Saham BUMN Dengan Harga di Bawah IPO

Ajaib.co.id – Sejak awal tahun 2020, aksi jual masif melanda bursa efek Indonesia. Semakin banyak harga saham yang jatuh secara signifikan. Tak tanggung-tanggung, sejumlah saham BUMN dan anak usaha BUMN ikut menorehkan harga di bawah IPO. Artinya, hampir semua investor yang hold saham tersebut menanggung kerugian (floating loss).

Dari sekitar 25 perusahaan pelat merah yang telah melantai di pasar modal, terdapat sedikitnya tujuh saham yang mencatat harga di bawah IPO. Hal ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan di benak investor dan trader. Mengapa harga saham BUMN dan anak usaha BUMN tersebut bisa babak belur sedemikian rupa? Apakah harga di bawah IPO merupakan peluang multibagger atau justru gelagat buruk bagi prospek saham-saham tersebut? Mari kita ulas satu per satu.

PT Elnusa (ELSA)

Harga saham saat IPO 6 Februari 2008: Rp 400

Harga per penutupan Oktober 2020: Rp212

PT Elnusa awalnya bergerak di bidang jasa hulu migas. Aktivitas bisnisnya antara lain maintenance kapal-kapal milik Pertamina dan kapal-kapal minyak milik asing yang bekerjasama dengan BUMN. Mulai tahun 2015, ELSA merambah pula ke ranah hilir migas. Antara lain bisnis transportasi, penyimpanan, dan distribusi bahan bakar minuak (BBM), dan masih banyak lagi.

Diversifikasi bisnis dari hulu hingga hilir dimaksudkan untuk mengurangi dampak harga minyak dunia terhadap bisnisnya. Namun, harga saham ELSA tetap terpuruk seiring dengan jatuhnya harga minyak dunia. Sejumlah analis meyakini prospek saham ELSA ke depan masih cerah. Tapi investor perlu ingat bahwa ELSA tergolong  saham siklikal yang akan sangat rentan terhadap gejolak pasar serta harga komoditi terkait.

PT Garuda Indonesia (GIAA)

Harga saham saat IPO 11 Februari 2011: Rp750

Harga per penutupan Oktober 2020: Rp240

Tahukah kamu, bisnis apa yang paling terdampak oleh pandemi COVID-19? Ada tiga bidang usaha utama, yakni maskapai, hospitality, dan travel. Jadi, tak heran jika saham maskapai flagship Indonesia ini langsung terjun bebas seusai merebaknya virus Corona. Jumlah orang yang bepergian berkurang, sedangkan banyak negara tujuan memblokir atau membatasi kunjungan lintas negara.

Prospek saham GIAA akan tetap lesu selama pembatasan aktivitas masyarakat terus diberlakukan di berbagai tempat. Namun, ada harapan untuk pemulihannya di masa depan jika muncul vaksin yang terbukti mampu mengatasi virus. Penemuan vaksin akan mendorong orang-orang kembali beraktivitas dan menormalisasi jadwal penerbangan dalam negeri maupun mancanegara.

PT Krakatau Steel (KRAS)

Harga saham saat IPO 10 November 2010: Rp850

Harga per penutupan Oktober 2020: Rp360

PT Krakatau Steel sebenarnya tak terlalu terdampak oleh kejatuhan bursa di awal tahun 2020. Posisi harga saham BUMN ini sekarang justru sudah mencapai level tertinggi sejak Oktober 2019. Namun, emiten baja ini memang terkenal mencatat harga di bawah IPO selama bertahun-tahun gegara kegagalan perseroan menghasilkan laba.

Sepanjang sejarahnya sejak go public, KRAS lebih sering menghuni zona harga di bawah IPO. Emiten ini berupaya melakukan restrukturisasi dan transformasi bisnis mulai tahun 2019, tetapi kinerjanya masih belum cukup stabil.

PT PP Properti (PPRO)

Harga saham saat IPO 19 Mei 2015: Rp185

Harga per penutupan Oktober 2020: Rp50

PT PP Properti merupakan pengembang properti yang menjadi anak perusahaan PT PP (Persero). Harga saham anak usaha BUMN ini sempat melejit pada tahun 2016, tetapi bubble-nya pecah seusai stock split dan rights issue pada awal tahun 2017. Saking illfeel-nya pelaku pasar, PPRO sampai terjerumus masuk dalam golongan saham gocap.

Fundamental PPRO sebenarnya tidak seburuk saham-saham gocap lain. Perusahaan masih membagikan dividen, meskipun dalam jumlah kecil. Namun, prospek ke depan masih dibayangi ketidakpastian yang sangat besar. Pendapatan utama perusahaan bersumber dari one-time income (penjualan properti), bukan recurring income (pendapatan sewa dan sejenisnya). Rasio utang (Debt-to-Equity Ratio) sebesar 325% juga tergolong sangat tinggi.

PT. Semen Baturaja (SMBR)

Harga saham saat IPO 28 Juni 2013: Rp560

Harga per penutupan Oktober 2020: Rp500

SMBR punya kinerja berkebalikan dengan seniornya, PT Semen Indonesia (SMGR). Kalau ada investor yang berminat untuk berinvestasi di perusahaan BUMN yang menggarap bidang semen, maka ia pasti bakal memilih SMGR.

Prospek bisnis semen selama beberapa tahun terakhir memang cukup lesu. Namun, nasib mengenaskan SMBR bukan karena itu saja. Setelah rugi tiga kuartal beruntun sejak awal 2020, Return on Asset (RoA) dan Return on Equity (RoE) SMBR kompak tercatat minus. PBV-nya murah, tetapi EPS-nya negatif dan menandakan kondisi bisnis yang kurang sehat.

PT Waskita Beton Precast (WSBP)

Harga saham saat IPO 20 Sept 2016: Rp490

Harga per penutupan Oktober 2020: Rp155

WSBP merupakan hasil spin off sayap bisnis PT Waskita Karya (WSKT) yang khusus merencah produksi beton precast dan ready mix untuk kebutuhan perusahaan induknya. WSBP awalnya dianggap memiliki prospek cemerlang yang selaras dengan banyaknya proyek pemerintah bagi WSKT. Rencana pembangunan ibu kota baru juga diharapkan dapat mendongkrak laba ke depan. Akan tetapi, ada banyak faktor eksternal yang berulang kali menjegal saham ini.

Pada 2018, omset WSKT anjlok. Pada 2019, Direktur WSBP menjual saham perseroan yang dimilikinya secara massal di bawah harga pasar. Pada 2020, seorang bos WSBP lain dibekuk KPK lantaran tersangkut skandal subkontraktor fiktif Waskita Karya. Prospek saham WSBP kemungkinan sulit pulih secara berkelanjutan sebelum kinerja perusahaan induknya mengalami perbaikan secara nyata.

PT Wijaya Karya Beton (WTON)

Harga saham saat IPO 26 Maret 2014: Rp590

Harga per penutupan Oktober 2020: Rp242

WTON bekerja sebagai pemasok produk beton untuk proyek-proyek yang digarap perusahaan induknya, PT Wijaya Karya (WIKA). Mengingat kinerja WIKA relatif lebih baik dibanding WSKT yang tengah terbelit skandal, prospek saham WTON semestinya lebih cerah. Namun, reli bidang konstruksi kemungkinan bakal alot selama pandemi COVID-19 belum terselesaikan dan proyek-proyek pemerintah belum digencarkan kembali.

Outlook serupa berlaku pula untuk dua anak usaha BUMN bidang konstruksi lain yang sama-sama go public pada tahun 2017 dan memiliki harga di bawah IPO, yakni PT Wijaya Karya Bangunan Gedung (WEGE) dan PT PP Presisi (PPRE). WEGE meluncur dengan harga Rp290, tetapi kemudian jatuh ke Rp179 setelah sempat memuncak pada tahun 2019. Sedangkan listing perdana PPRE dibanderol Rp430, tetapi kini harganya tertekan pada kisaran Rp176.

Ada orang yang mengatakan asal investasi pada saham BUMN apa saja sudah pasti terjamin, karena perusahaan milik pemerintah. Pendapat ini salah kaprah, karena nyatanya saham BUMN dan anak usaha BUMN tetap bisa ambrol. Perusahaan BUMN tidak terjamin laba, juga tidak pasti akan memberikan dividen dan capital gain. Kita harus selalu melaksanakan analisis fundamental dan teknikal secara teliti saat akan berinvestasi pada saham mana pun.

Artikel Terkait