Analisis Saham

Prospek Saham SKRN, Penyedia Alat Berat Proyek Pemerintah

Ajaib.co.id – Didirikan pada tahun 1996, PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN) bergerak dalam bidang suplai dan penyewaan crane beserta alat berat lainnya untuk industri konstruksi, tambang, dan petrokimia.

Dengan motto “To be Your Lifting Partners Always“, Superkrane memiliki visi untuk menjadi perusahaan lifting terkemuka di Indonesia dan Asia Tenggara.

Perusahaan memiliki aset beragam, mulai dari crane, telehandler, forklift, man lift, scissor lift, dan beragam alat transportasi khusus yang umumnya dibutuhkan pada lokasi proyek. Beberapa proyek besar terakhir yang memanfaatkan peralatan dari Superkrane, antara lain Holtekamp Landmark Papua, PLTB Sidrap Sulawesi Selatan, serta kereta api cepat Jakarta-Bandung.

Superkrane melakukan pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Oktober 2018 dengan harga penawaran Rp700 per lembar. Saham SKRN saat ini memiliki market cap sebesar Rp1,06 triliun dengan harga penutupan pada Rp705 per lembar pada 11 Juni 2021.

Kepemilikan saham SKRN terbesar berada di tangan pemegang saham pengendalinya, yaitu PT Sumi Traktor Perkasa (58,73%). Pemegang saham lainnya adalah Yafin Tandiono (23,33%) yang juga memegang jabatan sebagai Presiden Direktur PT Superkrane Mitra Utama Tbk, serta masyarakat (7,50%).

Bisnis Superkrane cukup unik, tetapi termasuk niche yang mendukung pembangunan nasional. Bagaimana kinerja keuangan dan prospek bisnisnya? Mari kita analisis aspek fundamental saham SKRN bersama-sama.

Kinerja Laporan Keuangan Terakhir

PT Superkrane Mitra Utama Tbk membukukan laba yang menurun sangat drastis pada tahun pertama pandemi Covid-19. Perusahaan juga mencatat penurunan aset dan ekuitas yang cukup besar pula dalam laporan keuangan akhir tahun 2020.

Berikut rangkuman kinerja laba SKRN berdasarkan laporan tersebut (dalam miliar rupiah kecuali jika dinyatakan secara khusus):

Total aset SKRN menyusut 6,9% menjadi Rp1,56 triliun dalam laporan akhir tahun 2020 dibandingkan Rp1,67 triliun pada tahun sebelumnya. Ekuitas juga berkurang menjadi Rp566,07 miliar dari sebelumnya Rp737,38 miliar. Sedangkan liabilitas meningkat menjadi Rp990,75 miliar dari sebelumnya Rp935,07 miliar.

Data menunjukkan bahwa kinerja keuangan SKRN relatif stabil hingga dihadapkan pada krisis Covid-19 di tahun 2020. Dengan demikian, kita bisa berharap kinerja keuangan SKRN akan membaik apabila situasi makro telah pulih dan proyek-proyek konstruksi beroperasi kembali.

Riwayat Kinerja

Apakah rasio-rasio keuangan SKRN sama stabilnya dengan laporan laba/rugi tahunan pra-pandemi? Berikut ini perbandingan kinerja keuangan SKRN selama empat (4) tahun terakhir:

Tabel di atas menunjukkan bahwa SKRN memiliki kinerja yang stabil, tetapi cenderung medioker alias “pas-pasan”. Kemampuannya menghasilkan laba cukup rendah, sedangkan rasio utang perusahaan cukup besar.

Margin laba sempat meningkat pesat antara 2018-2019, tetapi momen itu bertepatan dengan masa pasca-IPO yang kemungkinan mendongkrak pamor perusahaan secara temporer. Di sisi lain, rasio utang hanya turun sejenak antara 2018-2019 lalu melonjak lagi akibat pandemi COVID-19.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Setelah menggelar IPO pada tahun 2018 hingga kini, saham SKRN telah membagikan dividen sebanyak dua kali. Masing-masing sebesar Rp25 per lembar pada tahun 2019 (dari laba tahun 2018) dan Rp60 per lembar pada tahun 2020 (dari laba tahun 2019).

Prospek Bisnis SKRN

Dilansir dari Kontan (06/04/2021), Corporate Secretary Superkrane Mitra Utama Eddy Gunawin menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20% pada tahun ini. Ia berharap target akan tercapai berkat kenaikan anggaran infrastruktur pemerintah dalam APBN dari Rp281 triliun di tahun 2020 menjadi Rp414 triliun di tahun 2021.

Superkrane telah menganggarkan belanja modal (CAPEX) tahun 2021 senilai Rp50 miliar dari sumber fasilitas pinjaman perbankan, untuk memenuhi kebutuhan pembelian crane. Perusahaan juga tengah mempertimbangkan untuk menggandakan CAPEX guna mendukung perluasan jaringan bisnis ke luar negeri, mengingat dua crane besar telah dikirim ke Vietnam guna memenuhi kontrak kerja sama mancanegara untuk pertama kalinya.

Manajemen Superkrane berkomitmen untuk senantiasa memantau kondisi pasar penyewaan crane. Pelatihan bagi sumber daya manusia yang dimiliki akan terus diperhatikan agar dapat memenuhi permintaan pasar.

Harga Saham SKRN

Saat artikel ditulis (14/06/2021), saham SKRN memiliki PBV sebesar 1,95x dan PER sebesar 112,77x. Rasio ini mengisyaratkan bahwa harga saham SKRN terlalu mahal.

Sebagai perbandingan, mari menilik beberapa saham lain yang sama-sama menghuni sub-sektor industrial goods. Saham United Tractors (UNTR) yang terkenal sebagai distributor alat berat dari grup Astra, memiliki PBV 1,31x dan PER 11,26x.

Saham Hexindo Adiperkasa (HEXA) yang merupakan pemegang merek Hitachi Heavy Equipment dan komponennya di Indonesia, memiliki PBV 1,27x dan PER 7,75x.

Kedua emiten alat berat tersebut juga memiliki rasio utang (DER) dan margin laba (NPM) yang lebih baik daripada SKRN. Jadi singkatnya, banyak saham lain yang lebih potensial jika kamu tertarik untuk berinvestasi pada emiten alat berat saat ini. Saham SKRN mungkin akan lebih potensial kelak jika kinerja profitabilitasnya telah meningkat, rasio utangnya menurun, dan/atau harga sahamnya sudah jauh lebih murah.

Artikel Terkait