Analisa Saham

Menilik Saham PYFA, Emiten Farmasi Layak Koleksi

Sumber: Pyridam Farma

Ajaib.co.id – Emiten farmasi, PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) adalah perusahaan yang bergerak di industri farmasi dan alat kesehatan. Divisi farmasi perseroan memproduksi dan memasarkan obat resep dan penunjang kesehatan dari berbagai area terapeutik termasuk analgesik, antibiotik, antihistamin, antipsikotik, obat batuk dan pilek, dan vitamin dan mineral.

Sedangkan divisi alat kesehatan perseroan menjual produk kesehatan seperti cuvette, wadah sekali pakai, termos, pipet, tabung reaksi dengan berbagai merek. Emiten juga menyediakan jasa makloon dan jasa lainnya termasuk reagen laboratorium, analisis kimia, dan layanan konsultasi.

Perseroan telah berdiri sejak tanggal 27 November 1976, kemudian IPO di tanggal 16 Oktober 2001 di papan pengembangan bursa efek Indonesia dengan kode saham PYFA. Saat ini dengan jumlah saham beredar sebanyak 535.080.000 lembar di harga Rp1.115 per saham, kapitalisasinya adalah sebesar Rp596,61 Miliar.

Adapun pemegang saham terbesar PYFA adalah Rejuve Global Investment PTE LTD (40,48%), PT Aldiracita Sekuritas Indonesia (21,6%), DBS Bank LTD SG-PB Clients (7,48%), PT Global Investment Institusi (5,5%), sisanya beredar di masyarakat (24,94%)

Kinerja Berdasarkan Laporan Keuangan Terakhir

2Q21 2Q20 Perubahan
Pendapatan 222,5 Miliar 121,57 Miliar 83,03%
Laba Kotor 116 Miliar 77,13 Miliar 50,49%
Laba Usaha 32,92 Miliar 8,1 Miliar 306,18%
Laba Bersih 11,36 Miliar 5,69 Miliar 99,50%
Persediaan 71,36 Miliar 58,26 Miliar 22,49%

Total penjualan yang berhasil dibukukan oleh emiten benar-benar pesat selama pandemi dan selama New Normal. Pandemi Covid-19 rupanya telah menyebabkan permintaan vitamin, suplemen, dan beberapa obat dan produk alat kesehatan lain dari Pyridam Farma meningkat.

Biasanya total pendapatan yang berhasil dicapai oleh PYFA dalam setahun adalah sebesar Rp 200-an miliar. Akan tetapi kini per Juni 2021 saja PYFA sudah memperoleh pendapatan sebesar Rp222,5 miliar. Angka pendapatan lebih tinggi 83% dibandingkan di Kuartal 2-2020 yang hanya sebesar Rp121,57 miliar saja.

Meski pendapatan meningkat sebanyak 83% namun laba kotor hanya naik 50,49% saja dari Rp77,13 miliar di Kuartal 2-2020 menjadi Rp116 miliar di Kuartal 2-2021. Hal ini lantaran beberapa bahan baku mesti diimpor dan selama pandemi harga bahan baku dengan nominal dolar telah meningkat.

Laba usaha diketahui meningkat karena emiten kemudian menghemat dari sisi beban usaha. Dan oleh karenanya laba usaha emiten berhasil meningkat hingga 306% menjadi Rp32,92 miliar dibandingkan Rp8,1 miliar di periode yang sama di 2020.

Di bottom line laba bersih meningkat nyaris 100% menjadi Rp11,36 miliar dari sebelumnya Rp5,6 miliar saja. Sebagai emiten manufaktur farmasi, emiten juga diketahui menggenjot produksi sebesar 22% untuk memenuhi lonjakan permintaan suplemen dan vitamin Pyridam Farma terutama merek Immudator, D3 400 dan D3 1000, Damuvit B Complex, Pyfaton, Vinerton, Original E, dan Damuvit C 1000.

2Q21 2Q20
GPM 52,17% 63,45%
OPM 14,80% 6,67%
NPM 5,11% 4,69%

Di atas adalah informasi mengenai marjin laba emiten yang memperlihatkan efisiensi yang sangat baik oleh manajemen PYFA. Marjin laba kotor (GPM) emiten diketahui turun menjadi hanya 52,17% saja, di mana sebelumnya sebesar 53,45%.

Namun naiknya harga bahan baku yang menjadikan laba kotor turun kemudian diakali emiten dengan efisiensi beban usaha yang terdiri dari beban penjualan, beban umum dan administrasi. Alhasil marjin laba usaha (OPM) emiten naik dari 6,67% saja menjadi 14,8% di Kuartal 2-2021.

Penghematan ini berhasil membuat marjin laba emiten naik menjadi 5,11%, lebih tebal sedikit dibandingkan sebelumnya di kuartal 2-2020 yang hanya 4,69%.

2Q21 2Q20 Perubahan
Aset 577,96 Miliar 201.22 Miliar 187,22%
Liabilitas 403,35 Miliar 70,8 Miliar 469,66%
Beban Keuangan 18,16 Miliar 1 Miliar 1711,83%
Ekuitas 174,61 Miliar 130,22 Miliar 34,08%

Mengenai aset, per Kuartal 2-2021 emiten mengalami kenaikan total aset sebesar 187,22% menjadi 577,96 miliar dari semula Rp201,2 miliar di Kuartal 2-2020. Kenaikan ini berupa aset keuangan lancar lainnya yang senilai Rp256,69 miliar berupa investasi jangka pendek di manajer investasi Surya Timur Alam Raya Asset Management.

Emiten membiayai investasinya tersebut dengan menerbitkan obligasi korporat senilai Rp297 miliar, dan menyebabkan total liabilitas naik pesat. Total liabilitas, termasuk utang bank dan obligasi, naik 469,66% menjadi Rp403,35 miliar dari semua hanya Rp70,8 miliar di periode yang sama di tahun 2020.

Peningkatan liabilitas telah menyebabkan beban keuangan yang terdiri dari bunga pinjaman yang mesti diemban emiten meningkat menjadi Rp18,16 miliar dari semula hanya Rp1 miliar saja.

2Q21 2Q20
DER 231,00% 54,37%
Current Ratio 567,65% 355,11%

Untuk membiayai investasinya, emiten menerbitkan obligasi dan oleh karenanya rasio kesehatan emiten pun turun drastis. Rasio utang per ekuitas emiten naik mencapai 230% dari yang semula hanya 54,37% di Kuartal 2-2020.

Meski rasio kesehatan keuangannya secara keseluruhan turun, emiten tetap menjaga kesehatannya secara jangka pendek. Rasio lancar emiten kini nilainya lebih tinggi, dan ini adalah hal baik di mana aset lancar saat ini nilainya 5,67 kali lipat dari utang jangka pendeknya.

Riwayat Kinerja

  Aset Liabilitas Ekuitas Persediaan
2017 159.56 Miliar 50,7 Miliar 108,85 Miliar 36,89 Miliar
2018 187 Miliar 68,12 Miliar 118,92 Miliar 41,59 Miliar
2019 190,78 Miliar 66 Miliar 124,72 Miliar 44,26 Miliar
2020 228,57 Miliar 70,94 Miliar 157,63 Miliar 51,03 Miliar
CAGR 12,73% 11,84% 13,14% 11,43%

Aset emiten meningkat rata-rata sebesar 12,73% per tahun, didukung oleh liabilitas yang juga meningkat sebesar 11,84% per tahun. Per tahun 2020 total aset adalah sebesar Rp228,57 miliar, sedangkan liabilitasnya hanya Rp70,94 miliar.

Emiten diketahui menggenjot produksi, utamanya di tahun 2020 sehingga persediaan meningkat nilainya menjadi Rp51 miliar per tahun 2020. Rata-rata pertumbuhan produksi PYFA per tahun adalah 11,43%.

  Pendapatan Laba Kotor Laba Usaha Laba Bersih
2017 223 Miliar 134,97 Miliar 12,06 Miliar 7,12 Miliar
2018 250,44 Miliar 151,1 Miliar 14,5 Miliar 8,44 Miliar
2019 247,11 Miliar 140,2 Miliar 15,28 Miliar 9,34 Miliar
2020 277,39 Miliar 163,89 Miliar 32,14 Miliar 22,1 Miliar
  CAGR 7,55% 6,68% 48,85% 45,83%

Dari tahun ke tahun pendapatan emiten meningkat, utamanya di tahun 2020, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 7,55% per tahun. Di akhir 2020 perolehan pendapatan emiten adalah Rp277,39 miliar.

Adapun pendapatan kemudian dipotong disisihkan untuk biaya pokok pendapatan untuk menghasilkan laba kotor. Diketahui bahwa laba kotor emiten bertumbuh lebih pelan daripada pertumbuhan pendapatan yakni hanya 6,68% per tahun. Di akhir 2020 laba kotor PYFA adalah Rp163,89 miliar.

Memang bahan baku farmasi di dalam negeri utamanya diperoleh secara impor dan semua perusahaan farmasi juga mengalami kenaikan harga bahan baku, itulah sebabnya beban pokok pendapatan tak dapat dihemat.

Namun yang menarik adalah fakta bahwa emiten melakukan efisiensi dengan sangat baik di bagian beban usaha yang terdiri dari beban penjualan dan administrasi. Laba usaha emiten telah tumbuh rata-rata 48,85% per tahun. Hal ini menghasilkan marjin laba yang tebal utamanya di tahun 2020. Berikut adalah pembahasan mengenai marjin laba PYFA;

  GPM OPM NPM
2017 60,53% 5,41% 3,20%
2018 60,33% 5,79% 3,37%
2019 56,74% 6,18% 3,78%
2020 59,08% 11,59% 7,97%

Meski emiten tak mampu melakukan efisiensi pada beban pokok pendapatan, manajemen PYFA dengan gesit melakukan efisiensi pada beban usahanya.

Dari hasil pengolahan data diperoleh bahwa marjin laba usaha (OPM) terus meningkat dari tahun ke tahun. Dan di tahun 2020 OPM dari PYFA telah menyentuh dua digit yakni 11,59%. Ini adalah marjin laba terbesar bila dibandingkan dengan yang perusahaan-perusahaan farmasi lainnya bisa lakukan.

Selanjutnya emiten berhasil membukukan marjin laba bersih sebesar 7,97% di akhir 2020. Adapun laba bersih emiten di tahun 2020 adalah sebesar Rp22 miliar.

  DER Current Ratio
2017 46,58% 100,00%
2018 57,29% 100,00%
2019 52,96% 352,77%
2020 45,01% 289,04%

Rasio kesehatan keuangan emiten selama ini selalu baik, rasio utang per ekuitas PYFA setiap tahunnya berada di bawah 100%. Secara jangka panjang pun kesehatan keuangan emiten semakin baik saja.

Akan tetapi mulai tahun 2021 rasio-rasio kesehatan ini akan berubah karena emiten telah menerbitkan obligasi senilai Rp256,69 miliar untuk dibelikan investasi jangka pendek di manajer investasi Surya Timur Alam Raya Asset Management.

Dividen

Emiten sudah dua kali membagikan dividen yakni sebesar Rp4 per saham di tahun 2019 dan Rp2,9 di tahun 2018.

Kesimpulan

Selain terjadi peningkatan pendapatan, emiten juga melakukan efisiensi beban sehingga marjin laba emiten bisa semakin tebal.

Emiten sangat pandai dalam melakukan efisiensi beban. Dari tahun ke tahun marjin laba emiten semakin besar saja dan di akhir 2020 marjin laba operasional telah mencapai 11% dan menyisakan marjin laba bersih sebesar 7,9%

Selama ini rasio kesehatan keuangan emiten seperti DER selalu berada di dalam batas aman. Namun mulai dari tahun 2021 emiten akan memiliki DER yang lebih besar dari 230% karena emiten menerbitkan obligasi untuk kegiatan investasinya sebesar Rp256 miliar.

Jika investasinya berhasil maka emiten akan menerima penghasilan lain-lain sebagai tambahan dari penghasilan operasionalnya.

Berkaca dari pengalaman investasi jangka pendek ala korporat lainnya seperti Metro Healthcare dan Astrindo, biasanya investasi jangka pendek dengan model yang dilakukan PYFA membuahkan hasil sekitar 9-10% per tahun.

Dengan begitu maka mulai Laporan Keuangan 2021 emiten disinyalir akan menerima penghasilan tambahan sebesar Rp20-an miliar daripadanya. Dan dengan demikian di LK 2021 kelak akan menghasilkan lonjakan tambahan laba bersih sebesar Rp20-an miliar atau 100% dari laba bersih yang sekarang.

Kesimpulannya, PYFA adalah emiten farmasi yang penjualannya bagus, efisiensinya dalam menghemat beban usaha patut diacungi jempol. Dan lagi PYFA saat ini sedang merencanakan penghasilan tambahan selain kegiatan operasionalnya. Boleh banget buat dikoleksi!

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait