Analisis Saham

Menilik ESTA – Emiten Multi Usaha yang Strategis

Sumber: ESTA

Ajaib.co.id – PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) adalah perusahaan yang pada awalnya berfokus pada bidang properti saja, namanya semula adalah PT Esta Asri Propertindo dan memiliki aktivitas usaha di beberapa unit ruko komersial di berbagai daerah. Setelah tujuh tahun berdiri, perseroan bekerja sama dengan Waringin Hotel Group mendirikan Hotel 88 Bekasi.

Tak cukup sampai disitu, perseroan juga melebarkan sayap di bisnis rental kendaraan dan namanya berubah menjadi Esta Multi Usaha. Kini per tahun 2020 perseroan telah memiliki 15 unit ruko komersial, 41 unit kendaraan bermotor, dan satu budget hotel.

Perseroan berdiri pada tanggal 30 September 2011, dan pada tanggal 9 Maret 2020 perseroan memutuskan untuk melantai di papan pengembangan bursa dengan kode saham ESTA. Dengan jumlah saham beredar sebesar 630.000.000 lembar di harga Rp 96 per lembar, kapitalisasinya adalah Rp 60,48 Miliar. 

Pemegang saham ESTA diatas 5% diantaranya PT Esta Utama Corpora (68,17%), Ptesta Dana Ventura (10,93%), Johny Sopandi (5,04%), Masyarakat (15,86%).

Riwayat Kinerja

Karena emiten baru terdaftar di bursa pada di tahun 2020 maka data yang tersaji adalah sejak tahun 2019 untuk membandingkan sebelum dan sesudah emiten mendapat dana segar dari publik.

Dari seluruh pendapatannya, Hotel 88 Bekasi adalah kontributor pendapatan nomor satu bagi ESTA. Yang menarik adalah meski bisnis hotel cukup suram di tahun 2020 karena pembatasan sosial besar-besaran oleh pemerintah, namun ESTA punya dua usaha lain yang mengkomplemen sehingga pendapatan tidak turun.

Yang menarik adalah alih-alih menurun, total pendapatan emiten bahkan meningkat di tahun 2020 dibandingkan dengan yang diperolehnya di tahun 2019.

2020 2019 Change
Hotel 88 Bekasi 4.319.633.175 6.277.061.298 -31,18%
Properti Investasi 1.468.862.976 972.918.506 50,97%
Sewa Kendaraan 3.013.100.000 497.000.000 506,26%
Penjualan Barang 420.000.000 -100,00%
Total Pendapatan 8.801.596.151 8.166.979.804 7,77%

Di atas adalah laporan pendapatan per segmen, dan seperti yang dapat terlihat bahwa kontributor perolehan utama emiten adalah berasal dari Hotel 88 Bekasi. Adapun pendapatan hotel emiten terkoreksi 31,18% menjadi hanya Rp 4,31 miliar saja di akhir tahun 2020.

Sebagai informasi Hotel 88 Bekasi adalah hotel budget dengan kisaran harga terjangkau. Memiliki 70 kamar saja dengan hanya 2 tipe kamar yakni Superior dan Deluxe, dan satu ruang rapat berkapasitas 120 orang. Ketika hotel-hotel berbintang besar menderita cukup parah selama pandemi, budget hotel seperti Hotel 88 Bekasi hanya terkoreksi 31% saja. 

Menariknya  adalah turunnya pendapatan di segmen hotel dapat terkomplemen dengan baik dari pendapatan di segmen lainnya. Misalnya saja segmen usaha Sewa Kendaraan milik ESTA yang naik luas biasa meroket 506% dari Rp 497 juta saja di tahun 2019 menjadi Rp 3 miliar di 2020.

Sebagai informasi usaha penyewaan mobil ESTA bisa berhasil karena ESTA melakukan kontrak jangka panjang dengan konsumen B2B alias sesama perusahaan.

Jadi konsumen usaha penyewaan mobil ESTA adalah konsumen korporat. Kendaraan milik ESTA dikontrak jangka panjang dan digunakan oleh korporasi sebagai kendaraan untuk menunjang kegiatan operasional. ESTA rupanya melihat potensi ini dan pendapatannya meroket di tahun 2020.

Segmen usaha Properti Investasi pun tak mau ketinggalan. Belasan ruko komersial yang disewakannya malah menghasilkan kenaikan pendapatan sebesar 50,97% dari Rp 972 juta saja di 2019 menjadi Rp 1,46 miliar di 2020.

Hal ini menarik karena selama pandemi rata-rata pada umumnya bisnis penyewaan ruko untuk kantor dan bisnis sepi pendapatan karena tren Work From Home. Tapi ruko-ruko yang disewakan ESTA malah meningkat karena selama pandemi disewakan kepada para pemilik toko online sebagai gudang dan kantor.

Berikut pembahasan mengenai kemampuan efisiensi manajemen:

Pendapatan Laba Kotor Laba Usaha Laba Bersih
2018 4.280.529.927 – 3.961.875.576
2019 8.166.969.804 4.801.787.569 477.909.016 1.972.439.033
2020 8.801.596.151 5.650.862.095 875.710.475 1.719.445.744

Informasi yang didapat dari laman pusat data laporan keuangan IDX adalah hanya sampai 2019 saja. Sedangkan informasi mengenai pendapatan dan laba bersih di tahun 2018 didapat dari public expose emiten.

Emiten melakukan penawaran saham perdananya di tahun 2020, sebelumnya di tahun 2019 emiten mengalami kenaikan pendapatan nyaris 100% dan keadaan berbalik arah dari rugi bersih Rp 3,96 miliar di 2018 menjadi laba Rp 1,97 miliar di 2019.

Emiten sednag bagus sekali dalam beroperasi, strateginya terbukti berhasil dan ketika pandemi melanda sekalipun masih dapat membukukan pendapatan yang lebih tinggi. Kini kita memahami mengapa emiten hendak ekspansi dengan mencari dana tambahan dari publik di tahun 2020.

Ada sebuah hal yang menarik di sini mengenai laba bersih yang nilainya lebih besar dari laba usaha. Rupanya ESTA menerima pendapatan dan beban Lain-Lain selain dari yang diusahakannya dengan nilai yang lebih besar dari laba usaha.

Emiten menerima pendapatan keuangan, penjualan properti, beban keuangan dan terdapat depresiasi aset dalam akun Lain-Lain ini. Nilai yang diberikan oleh akun Lain-lain ini bervariasi, bisa kecil dan bisa besar. Di tahun 2020 nilai Lain-Lain turun menjadi Rp 818 juta saja, sebelumnya di 2019 adalah sebesar Rp 1,46 miliar.

Jumlah laba usaha dan Lain-lain berakibat pada bervariasinya laba bersih. Diketahui laba bersih emiten turun menjadi Rp 1,71 miliar saja di 2020, sebelumnya adlaah Rp 1,97 miliar di 2019.

Detail beban-beban usaha yang diberikan emiten rupanya dapat dihemat alias terdapat efisiensi dalam pengurangan beban-beban sehingga memperbesar laba di akhir. Penambahan beban atau pendapatan dari akun Lain-lain dapat dianggap sebagai bonus untuk laba bersih saja yang nilainya bisa bervariasi.

Aset Liabilitas Ekuitas
2018 51.444.421.032 17.750.428.282 33.693.992.750
2019 52.239.377.000 16.504.215.794 35.735.161.206
2020 74.190.327.576 15.548.172.037 58.642.155.539
CAGR 20,09% -6,41% 31,93%

Adapun aset emiten meningkat rata-rata 20% setiap tahunnya, peningkatan utamanya terjadi di tahun 2020 setelah emiten menerima dana segar dari publik di perhelatan penawaran umum perdana sahamnya.

Emiten juga ternyata tak lupa mengurangi liabilitas, dari tahun ke tahun emiten mengalami penurunan liabilitas sebesar rata-rata 6,41% per tahun. Dengan naiknya aset diiringi penurunan liabilitas, alhasil ekuitas bertumbuh rata-rata 31,93% setiap tahunnya.

Yang mesti diperhatikan berikutnya adalah mengenai beban keuangan yang nilainya cukup besar yakni Rp 1,9 miliar di 2020, dan Rp 1,78 miliar di 2019.

Prospek

Cukup sulit menilai prospek pertumbuhan laba emiten secara keseluruhan karena akun Lain-lain nilainya lebih besar dari Laba Usaha. Jika saja seluruh laba berasal dari kegiatan operasionalnya saja maka cukup mudah untuk memprediksi pertumbuhan dan kesuksesannya.

Namun karena ada faktor lain yang datang dari Lain-Lain dengan nilai yang signfikan, maka perubahan pada akun Lain-Lain bisa berdampak besar pada hasil akhir.

Untuk menilai emiten, sampai laba usaha saja dapat dikatakan emiten sudah sangat baik dalam beroperasi. Namun besar kecil laba bersih mungkin akan tergantung pada besaran nilai Lain-lain dan oleh karenanya cukup sulit menebak apakah hasil akhir emiten akan terus meningkat atau merosot.

Kesimpulan

Emiten punya strategi yang unik dalam menjalankan usahanya. Pendapatan emiten melejit di tahun 2019 nyaris 100% dibandingkan di tahun 2018. Dari pendapatan yang hanya Rp 4,2 miliar saja di 2018 menjad Rp 8,16 miliar di 2019, dan keadaan berbalik arah dari rugi menjadi laba di tahun yang sama.

Pandemi memang telah membuat laju pertumbuhan operasional emiten sedikit melambat namun tidak menurun sama sekali. Pendapatan yang hilang dari hotelnya ditutup oleh pendapatan dari sewa kendaraan dan properti investasi.

Strategi emiten untuk bekerja sama dengan banyaknya korporasi untuk kontrak jangka panjang penyewaan kendaraan berhasil sangat baik.

Laba usaha emiten bertumbuh, namun ternyata laba bersih emiten lebih dipengaruhi oleh akun Lain-Lain yang memberikan pendapatan dan beban lain-lain.

Akun lain-lain nilainya bisa bervariasi tergantung pada besarnya pendapatan keuangan, beban keuangan dan jual-beli properti investasi. Memprediksi performa emiten cukup sulit untuk dilakukan karena akun Lain-lain besarnya sangat signifikan.

Namun apabila kita menilai operasional emiten saja sampai perhitungan laba usaha maka akan kita dapati bahwa emiten cukup baik dalam melaksanakan kegiatan perolehan pendapatannya.

Beban umum dan administrasi sangat wajar meningkat karena pendapatan juga meningkat. Efisiensi terlihat dilakukan cukup baik pada beban pokok pendapatan dan beban pemeliharaan dan pemasaran.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait