Analisa Saham, Saham

Bedah Saham PTRO: Menilik Emiten Sektor Pertambangan

Sumber: Petrosea

Ajaib.co.id – PT. Petrosea Tbk (PTRO) beroperasi sebagai kontraktor dengan pengalaman di bidang pertambangan, konstruksi rekayasa, dan jasa pelayanan logistik lepas pantai. Pada sektor pertambangan, emiten dengan kode saham PTRO ini menyediakan layanan mencakup open pit contract mining services, hard rock mining, hingga civil and infrastructure construction. 

Pada  segmen konstruksi rekayasa, perusahaan menawarkan berbagai jasa, diantaranya infrastruktur pertambangan, infrastruktur kelautan, desain teknik, proses pengolahan mineral, manajemen proyek, hingga konstruksi dan fabrikasi.

PTRO didirkan pada tahun 1972 berbasis di Jakarta, Indonesia dan merupakan anak perusahaan dari PT Indika Energy Tbk (INDY), serta  terdaftar pada Bursa Efek Indonesia di tahun 1990 di Papan Utama.

Petrosea memiliki rekam jejak yang baik di bidang keselamatan kerja dan rekayasa, dengan didukung keahlian dari dalam maupun luar negeri. Pencapaian ini memposisikan PTRO untuk memanfaatkan rencana investasi di bidang infrastruktur di Indonesia dan pembangunan energi jangka menengah berbasis bahan bakar fosil.

Perusahaan memperoleh akreditasi sesuai standar meliputi Sertifikasi ISO 9001 untuk Sistem Manajemen Mutu, OHSAS 18001:2007 untuk Manajemen Kesehatan & Keselamatan Kerja, dan ISO 14001:2004 untuk Manajemen Lingkungan.

Berdasarkan data RTI per 21 Februari 2021, harga PTRO turun sebesar 0,28% ke level Rp1,795 per lembar saham di perdagangan Jumat, 19 Februari 20219. Jika dilihat dari harga IPO pada 21 Mei 1990, PTRO sudah turun sangat dalam lebih dari 50% dari Rp9,500.

Namun, yang jadi menarik dari saham PTRO adalah salah satu investor ternama Indonesia Lo Kheng Hong memiliki porsi yang banyak di saham ini, bahkan mencapai 15%, di mana kepemilikan PT Indika Energy sebesar 69,8%, dan total kepemilikan publik sebesar 13,5%. 

Dengan hanya memiliki kapitalisasi pasar sebesar 1,81 T, apa nilai lebih saham PTRO di mata LKK? Mari kita bedah bersama-sama saham dari anak perusahaan INDY ini.

Kinerja Keuangan 

PTRO menjadi salah satu korban anjloknya harga batubara sepanjang 2020, mengingat PTRO merupakan kontraktor Kideco milik INDY yang bergerak di industri batu bara. Berdasarkan laporan keuangan Q3 2020, PTRO membukukan total pendapatan pada 9M2020 sebesar US$249,93 juta atau terkoreksi 34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar $US378,74 juta.

Mayoritas pendapatan perusahaan berasal dari bisnis pertambangan senilai US$151,72 juta disusul pendapatan dari jasa sebesar US$47,30 juta, pendapatan rekayasa dan konstruksi sebesar senilai US$46,53 juta, dan pendapatan lain-lainnya US$4,37 juta. Penurunan pendapatan perusahaan disebabkan adanya permintaan dari sejumlah klien, seperti Kideco Jaya Agung, Indonesia Pratama, dan Binuang Mitra Bersama untuk mengurangi volume produksi batubara.

Hingga Q3 2020, PTRO sudah merealisasikan volume pengupasan lapisan tanah penutup atau overburden removal (OB) sebesar 68,8 juta bank cubic meter dan serta volume produksi batubara sebesar 19,1 juta ton. Angka tersebut dianggap dalam capaian target perusahaan di akhir tahun ini, yakni 118 juta bcm untuk volume OB dan 31 juta ton untuk volume batubara.

Turunnya pendapatan sudah pasti berdampak ke laba bersih perusahaan Pada Q3, laba bersih PTRO merosot 37% secara YoY dari US$20,5 juta ke US$13 juta. Selain itu, pada sisi aset tercatat senilai US$505 juta turun 13% dari US$578 juta. Namun, ekuitas perusahaan justru naik tipis ke 6% dari US$202,7 juta ke US$ 214,3 juta. 

Sementara pada pos liabilitas, PTRO berhasil menekan liabilitas hingga 23% ke US$290,7 juta dari periode yang sama di 2019 sebesar US$373,3 juta. Menurunnya angka liabilitas saham PTRO dipicu oleh angka penurunan liabilitas jangka pendek dan jangka panjang. Ini artinya perusahaan menjalankan kewajibannya dengan benar. 

Komponen LabaSeptember 2019 ($ Juta)September 2020($ Juta)
Pendapatan 378,74249,93
Laba Bersih20,513
Aset578505
Ekuitas202,7214,3
Liabilitas373,3290,7

Kinerja keuangan perusahaan di 9 bulan pertama 2020 merupakan efek domino dari merosotnya harga batubara global, tampak terjadinya penurunan yang cukup dalam di beberapa pos keuangan. Namun, jangan lupakan fakta bahwa pos ekuitas saham PTRO naik dan perusahaan mampu menekan liabilitas hingga 23%. Ini bisa menjadi nilai positif bagi PTRO di mata investor.

Selanjutnya, mari kita beralih ke rasio keuangan saham PTRO di bawah

RasioSeptember 2019September 2020
ROA3,56%2,57%
ROE10,15%6,07%
NPM4,62%7,52%
GPM15,09%19,08%
OPM5,3%5,2%
DER1.851.36

Menurunnya kinerja keuangan saham PTRO berdampak pada rasio profitabilitas nya di Q3 2020. Rasio ROA dan ROE yang berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan return ke pemegang saham ikut turun. ROA 9M 2020 tercatat di level 2,57% turun dari 3,56% di tahun lalu, serupa dengan ROE yang juga turun dari 10,15% ke 6,07%.

Menariknya, rasio margin perusahaan justru tercatat mengalami kenaikan, dengan NPM yang naik 2,90% ke 7,52%, GPM naik 3,99% ke 19,08%, dan OPM yang masih stabil jika dibandingkan angka tahun lalu. PTRO juga sukses menekan angka DER hampir 50%, dari yang sebelumnya 185% menjadi 136%.

Nilai DER saham PTRO masih masuk di level ideal DER perusahaan sehat <2. Ini mengindikasikan bahwa perusahaan mampu mengelola utang dan ekuitasnya secara efisien, sehingga angka utangnya tidak lebih besar dari ekuitas.

Riwayat Kinerja

KomponenCAGR 2017-2020
Laba Bersih30%
Pendapatan11%
Total Aset7%

Pertumbuhan kinerja keuangan saham PTRO selama 4 tahun cukup menjanjikan. pada komponen pendapatan dan laba bersih. CAGR perusahaan di kedua komponen tersebut rata-rata naik 30% dan 11%. Ini artinya perusahaan terus meningkatkan keuntungan di setiap tahun.

Pertumbuhan laba bersih dan pendapatan yang signifikan juga mempengaruhi aset perusahaan. CAGR total aset periode 2017 – 2020. Ini artinya perusahaan terus meningkatkan aset untuk mendukung operasi bisnis di masa depan.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

TahunDividen per SahamJumlah yang dibayarkan ($ Juta)
2016
2017
201862,164,5

Sekarang kita beralih ke salah satu indikator penting terhadap kesehatan keuangan perusahaan, yaitu dividen. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, PTRO pernah tidak membagikan dividend di tahun 2016 dan 2017.

Namun, semenjak 2018 hingga sekarang, saham PTRO rutin membagikan dividen ke investor. Ini menjadi bukti bahwa perusahaan mampu mencetak keuntungan tiap tahun dan menyisakan sejumlah keuntungannya untuk mengapresiasi investor. 

Prospek Bisnis PTRO

INDY baru saja memutuskan melebarkan sayap bisnisnya ke jasa kontraktor pertambangan dengan mengakuisisi PTRO. Ini artinya, PTRO merupakan salah satu pilar bisnis INDY. Perusahaan tersebut membeli saham PTRO sebesar 68% – 77% pada 16 Februari 2009, praktis membuat INDY sebagai pengendali utama perusahaan.

Untuk operasi, PTRO tengah menyiapkan infrastruktur untuk mengembangkan 13 proyek pertambangan batu bara di Kalimantan Barat yang dibeli sejak 2008 silam dengan cadangan 150 juta ton. Jumlah tersebut diperkirakan menambah cadangan PT Kideko Jaya Agung hingga 416 juta ton..

Meskipun turunnya harga batu bara menjadi biang utama menurunnya pendapatan PTRO di tahun 2020, tetapi permintaan akan batu bara yang berasal dari luar negeri, terlebih China yang melonggarkan kebijakan impor akan menjadi sentimen positif bagi PTRO, ditambah harga batu bara perlahan-lahan berangsur pulih setelah beberapa bulan terakhir di tahun 2020 mengalami kemerosotan.

Namun, perlu diingat bahwa batu bara adalah bisnis komoditas yang siklikal, artinya akan ada waktunya harga batu bara melonjak tinggi atau meluncur tajam. Misalnya, sejak akhir 2020 hingga akhir Januari 2021, harga batu bara sejatinya mengalami tren penguatan, tetapi masuk bulan Februari, harga terlihat bergerak lemah. Penyebabnya tentu berakhirnya puncak musim dingin sehingga kebutuhan penghangat ruangan menurun. 

Meskipun turun, harga batubara diprediksi akan membaik di 2021 didukung pemulihan ekonom dunia yang diperkirakan akan tumbuh 5,21%. International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan batubara akan di 2021 akan naik 2,6% secara yoy. IEA juga menambahkan bahwa permintaan batubara dunia pada 2022 – 2025 akan stagnan dan tergantikan ke energi baru dan terbarukan. 

Ekspansi bisnis PTRO ke komoditas nikel dipandang dari perspektif sentimen mobil listrik yang semakin kompetitif serta banyaknya negara yang melihat Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki sumber nikel yang melimpah, mengingat salah satu komponen penting mobil listrik adalah baterai yang mengandung nikel.

Sejumlah manufaktur mobil perlahan-lahan beralih menciptakan mobil listrik, Tesla sebagai pionir, diikuti oleh beberapa merk mobil lainnya seperti Hyundai hingga BMW. Naiknya tren mobil listrik menyusul isu pencemaran lingkungan diproyeksikan akan membuat konsumsi nikel meningkat hingga tahun 2031.

Terkait operasi di tahun ini, PTRO sudah mengalokasikan belanja modal sebesar US$100 juta, lebih tinggi dari panduan belanja modal 2020 yang dipangkas menjadi US$34 juta seiring dengan strategi defensif perusahaan menghadapi COVID-19. Sebagian alokasi belanja modal akan digunakan untuk jasa pertambangan PT Kideco Agung Jaya dan mendukung target tambahan & klien baru. 

Perusahaan juga akan menjalankan ekspansi yang berfokus pada implementasi strategi 3D, diversifikasi, digitalisasi, dan dekarbonisasi yang nantinya akan berdampak bagi pertumbuhan PTRO di masa depan.

Kesimpulan

Meskipun kinerja keuangan di tahun 2020 turun, tetapi PTRO nampaknya akan memanfaatkan momentum kenaikan harga batu bara dengan maksimal, ditambah meningkatnya belanja modal untuk mendukung operasi dan rencana ekspansi berpeluang mendongkrak kinerja PTRO di 2021.

Data RTI per 21 Februari menyebutkan PER PTRO berada di angka 7 kali, sedangkan PBV nya yang berada di angka 0.57 kali. Ini mengindikasikan, harga saham PTRO sedang terdiskon. Jika kamu adalah investor jangka panjang yang memiliki strategi growth investing, saham PTRO saat ini salah satu pilihan terbaik untuk dibeli

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait