Analisa Saham

Kinerja Saham KEJU Segurih Kejunya, Begini Analisanya

Sumber: Prochiz

Ajaib.co.id – PT Mulia Boga Raya Tbk (kode saham KEJU) terkenal sebagai produsen keju cheddar yang dipasarkan dengan merek Prochiz dan Top Chiz. Perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan produk susu ini memiliki tiga lini produk yakni keju blok, keju slice, dan salad dressing. Jenis produk lainnya seperti Prochiz Quick Melt dan Spready adalah pengembangan dari tiga lini produk yang disebutkan.

Perusahaan diketahui telah berdiri sejak 25 Agustus 2006 dan melakukan penawaran saham perdana alias IPO di papan pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 25 November 2019 dengan kode saham KEJU. Dengan jumlah saham beredar sebanyak 1.500.000.000 lembar di harga Rp 1230 maka kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp.1,84 Triliun.

Pada tanggal 14 Oktober 2020, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (“Garudafood”) membeli 825 juta saham Perseroan atau setara dengan 56,55% kepemilikan) dari para pemegang saham pendiri.

Sebagai penguasa 56,55% saham KEJU, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk menjadi pengendali, namun PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU) tetap dikelola secara independen sebagai perusahaan publik terpisah dari Garudafood. Fokus utama saat ini adalah mempertahankan kinerja dan mengimplementasikan proses integrasi dan peluang sinergi bersama dengan tim dari Garudafood.

Pemegang saham lainnya dengan jumlah signifikan adalah PT Tudung Putra Putri Jaya (14,52%), Lie Po Fung (alias Jaya) (11,25%) selaku Komisaris Utama dan Sandjaya Rusli (6,88%) yang juga berperan sebagai Direktur Utama.

Kinerja Pada Laporan Keuangan Terakhir

Produsen keju Prochiz mencatatkan peningkatan pendapatan dan penurunan beban penjualan yang signifikan.

1Q21 1Q20 Perubahan
Pendapatan 249,6 miliar 230 miliar 8,48%
Laba Bersih 36,7 miliar 25,94 miliar 41,47%
Liabilitas 224,45 miliar 166,5 miliar 34,79%
Ekuitas 478,36 miliar 461,28 miliar 3,70%

Pendapatan bertumbuh sebesar 8,48% menjadi Rp 249,6 miliar per Kuartal I-2021. Adapun penjualan keju blok masih mendominasi pendapatan sebesar 87,86% disusul oleh penjualan keju lembaran sebesar 10,67%. Penjualan produk keju lainnya adalah sebesar 1,47% dari pendapatan. Terdapat kenaikan signifikan dari penjualan keju slice/lembaran sebesar 26,87%.

Meski pendapatan hanya naik 8,48% namun laba bersih naik 41,47% dari Rp 25,94 miliar per Kuartal I-2020 menjadi Rp 36,7 miliar di periode yang sama di tahun 2021. Hal tersebut terjadi berkat efisiensi pada beban penjualan.

Liabilitas naik 34,79% menjadi Rp 224,45 miliar dari Rp 166,5 miliar sebelumnyadi Maret 2020. Di sisi lain ekuitas juga bertumbuh dengan pertumbuhan sebesar 3,7% saja menjadi Rp 478,35 miliar. Meski liabilitas meningkat lebih pesat dari pertumbuhan ekuitas namun keuangan emiten saham KEJU masih termasuk ke dalam kategori sehat.

1Q21 1Q20
DER 46,92% 36,10%
Current Ratio 286,96% 347,22%
NPM 14,71% 11,28%
ROE 7,67% 5,63%
EPS 24,47 17,30
BVPS 318,91 307,53
PER 50,26 75,15
PBV 3,86 4,23

Rasio laba per ekuitas (DER) adalah hitungan untuk meninjau kesehatan keuangan emiten, adapun batas atas yang dianjurkan OJK adalah 100%. DER emiten naik dari 36,1% di Kuartal I-2020 menjadi 46,92% di Kuartal I-2021, meski demikian masih berada dalam cakupan batas keuangan yang sehat.

Rasio lancar emiten turun menjadi 286,96% dari sebelumnya 347,22% di Kuartal I-2020. Hal ini menandakan bahwa aset lancar emiten, yang terdiri dari segala aset emiten yang dapat dicairkan dalam waktu kurang dari satu tahun, besarnya 2,86x dari utang-utangnya yang berusia kurang dari satu tahun. Hal ini masih sangat baik, menandakan bahwa emiten sangat kuat terutama dalam jangka pendek.

Secara profitabilitas marjin laba emiten masih tergolong baik yakni 14,71%, naik dari sebelumnya di Kuartal I-2020 sebesar 11,28%. Laba per modal kerja (ROE) juga meningkat meski tipis saja dari 5,63% menjadi 7,67% di periode yang sama di tahun 2021.

Jika dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar maka laba per saham (EPS) emiten adalah sebesar Rp 24,47 sehingga harga saat ini mencerminkan 50,26x dari EPS nya. Dengan demikian harga saat ini tergolong premium. PER 50,26x artinya jika berinvestasi di saham KEJU di harga saat ini dengan besar laba saat ini maka akan dibutuhkan 50,26 tahun untuk bisa balik modal.

Begitupun adanya jika dibandingkan dengan modal kerjanya. Laba per nilai buku (BVPS) emiten adalah sebesar Rp 318,91 naik tipis dari sebelumnya Rp 307,53 di Kuartal I-2020. Harga saat ini mencerminkan 3,86x nilai bukunya (PBV). Artinya harga saat ini termasuk sangat premium dibandingkan dengan nilai bukunya. Disarankan untuk memilih emiten yang nilai PBV-nya di bawah 1x.

Riwayat Kinerja

Karena KEJU baru mencatatkan sahamnya di bursa pada tahun 2019 maka penelusuran riwayat kinerja hanya dapat dilakukan sejak tahun 2018 saja.

Sejauh ini emiten berkembang dengan sangat baik dan per September 2020 perusahaan telah memiliki ikatan kerja sama dengan 42 distributor yang tersebar di lebih dari 90 kota di seluruh Indonesia. Hal ini didukung oleh kapasitas produksinya yang mencapai 30.000 Metrik Ton/tahun. Dengan kapasitas produksi sebesar itu maka KEJU adalah salah satu produsen processed cheese terbesar di Indonesia.

Pengoperasian pabrik, peralatan, serta karyawan dan produk-produk keju yang dihasilkan emiten telah terstandar ISO, GMP, HAACP dan bersertifikat Halal dan SNI. Diketahui emiten juga telah mengekspor produk, utamanya Blok Cheddar dan Gold, Slice dan Slice Gold, serta Spready, ke Malaysia, Thailand, Filipina dan negara lainnya seperti Maldives, Brunei, Timor Leste, Myanmar, Kamboja dan Seychelles. Berikut ulasan kinerjanya:

Pendapatan Laba Kotor Laba Usaha Laba Bersih
2018 856,75 miliar 301,7 miliar 95,98 miliar 67,47 miliar
2019 900,8 miliar 355 miliar 136,94 miliar 98 miliar
2020 900,85 miliar 290 miliar 154,2 miliar 121 miliar
CAGR 2,54% -1,96% 26,75% 33,91%

Sejak 2018 pendapatan naik dengan CAGR sebesar 2,54%, per akhir 2020 pendapatan emiten adalah sebesar Rp 900,85 miliar. KEJU adalah emiten manufaktur yang pandai melakukan efisiensi, meski beban pokok pendapatan terus merangkak naik dan menyebabkan laba kotor terkoreksi rata-rata 1,96% setiap tahunnya namun laba usaha dan laba bersih masing-masing bertumbuh dengan baik.

Setiap tahun laba usaha bertumbuh dengan CAGR 26,75%, sementara itu pertumbuhan laba bersih lebih baik lagi yakni 33,91%. Per tahun 2020 laba usaha dan laba bersih emiten masing-masing benilai Rp 154,2 miliar dan Rp 121 miliar. Berikut rasio profitabilitas:

ROE GPM NPM
2018 18,00% 35,22% 7,88%
2019 22,50% 39,41% 10,88%
2020 27,44% 32,19% 13,43%

Berkat efisiensi bebannya rasio profitabilitas emiten meningkat, adapun laba per modal kerja (ROE) yang meningkat dari 18% menjadi 27,44% di tahun 2020. Beban pokok pendapatan naik turun di kisaran 65-68% setiap tahunnya, menyisakan marjin laba kotor (GPM) sekitar 32-39% per tahun. Beban pokok pendapatan tentu akan sulit diminimalisir karena berkaitan dengan resep perusahaan untuk menghasilkan keju standar Prochiz.

Meski beban pokok pendapatan tidak dapat ditekan, efisiensi dilakukan emiten pada beban penjualan dan beban-beban lainnya sehingga masih bisa menyisakan marjin laba bersih (NPM) yang terus meningkat dari 7,88% di tahun 2018, 10,88% di 2019 dan menjadi 13,43% di tahun 2020.

Liabilitas Ekuitas Aset Lancar Liab. Lancar
2018 161,68 miliar 374,78 miliar 322,85 miliar 140,4 miliar
2019 230,6 miliar 435,69 miliar 498,88 miliar 201,26 miliar
2020 233,9 miliar 440,9 miliar 500,56 miliar 197,36 miliar
CAGR 20,28% 8,46% 24,52% 18,56%

Emiten yang sedang menjangkau pasar ekspor terus menambah kapasitas produksinya dengan ekspansi menambah belanja modal dan menyebabkan liabilitas alias jumlah pinjaman meningkat dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) sebesar 20,28%. Di akhir 2020 liabilitas emiten adalah Rp 233,9 miliar. Di sisi lain ekuitas emiten hanya bertumbuh sebesar rata-rata 8,46% per tahun.

Liabilitas yang diambil rata-rata berusia jangka pendek, itulah sebabnya liabilitas lancar naik dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 18,56% per tahun dan per tahun 2020 jumlahnya mencapai Rp 197,36 miliar. Artinya sekitar 84,3% dari total liabilitas berusia kurang dari satu tahun.

DER Current Ratio
2018 43,14% 229,95%
2019 52,93% 247,87%
2020 53,05% 253,62%

Secara kesehatan emiten sangat baik, jauh dari kata kebangkrutan karena meski rasio utang per ekuitas meningkat dari 43,14% di 2018 menjadi 53% di tahun 2020 namun masih berada dalam batas aman yakni di bawah 100%.

Secara jangka pendek pun meski mayoritas utang emiten berusia kurang dari satu tahun, namun rasio lancar (current ratio) emiten masih menunjukkan bahwa keuangan emiten sangat kuat untuk menutupi utang lancarnya yang harus dipenuhi dalam waktu kurang dari satu tahun.

Prospek

Dengan PER sebesar 50,26x dan PBV sebesar 3,86 maka harga saat ini yakni Rp 1255 termasuk ke dalam kategori premium alias overpriced. Kamu dapat mengharapkan dividen saja dari KEJU karena perusahaan produsen keju Prochiz ini ternyata sangat murah hati.

Per tahun 2020 emiten telah membagikan dividen tunai sebanyak dua kali yakni di tanggal 6 Januari 2020 sebesar Rp 33 per lembar dan pada 22 Juli 2020 sebesar Rp 80 per lembar. Dividen yang dibagikan pada 6 Januari adalah sebagian dari jumlah laba yang diperoleh di tahun 2018 dan dividen yang dibagikan tanggal 22 Juali berasal dari laba tahun 2019. 

Dividen tunai Rp 33 per lembar saham di tanggal 6 Januari adalah setara dengan 73,36% dari laba tahun 2018. Sedangkan dividen tunai sebesar Rp 80 di tanggal 22 Juli adalah setara dengan 122,39% dari laba tahun 2019.

Emiten saham KEJU mengeluarkan sebagian kasnya untuk dibagikan kepada para pemegang saham sehingga jumlah dividen yang dibagikan lebih besar dari laba yang diperoleh di tahun 2019.  Emiten memang murah hati dalam membagikan sebagian besar labanya kepada investor.

Kesimpulan

KEJU adalah emiten yang sangat cocok untuk mereka para investor yang mengejar dividen karena berturut-turut sebagian besar laba bersih dibagikan dalam bentuk dividen tunai. KEJU saat ini sedang berada dalam level harga yang overpriced sehingga kurang cocok bagi kamu yang mengincar capital gain dalam investasi.

Emiten pandai dalam melakukan efisiensi beban-beban sehingga meski beban pokok pendapatan tidak dapat ditekan nilainya, namun laba usaha dan laba bersih bisa naik terus setiap tahunnya. Per tahun 2020 marjin laba bersih emiten adalah sebesar 13,43%, bandingkan dengan pada tahun 2018 marjin laba emiten hanya sebesar 7% saja.

Keuangan emiten pun termasuk ke dalam kategori sehat karena rasio utang per modal kerja alias DER setiap tahunnya berada di bawah 100%. Meski sebagian besar utang berusia kurang dari satu tahun alias jangka pendek namun aset lancar emiten bernilai 2,86 kali lipat dibandingkan dengan utang lancarnya. Kinerja KEJU memang gurih, akan lebih gurih lagi jika harganya tidak semahal saat ini.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait