Analisa Saham

Gagal Efisiensi Beban, Saham KINO Kurang Dilirik

Sumber: KINO

Ajaib.co.id – Berdasarkan penjualannya dan dalam hal pembagian dividen, saham KINO sangat menarik namun efisiensi beban yang payah membuatnya gagal membukukan marjin laba yang cukup tebal untuk bisa memenuhi belanja modal dan menyimpan kas sebagai cadangan kerugian jika terjadi sesuatu.

Dari KINO kita bisa belajar bahwa peningkatan kuantitas penjualan saja tidak cukup, kemampuan manajemen juga mesti dinilai dari caranya mengelola beban-beban yang nilainya mesti dijaga agar tidak terlalu besar. Berikut bedah saham KINO, emiten barang konsumsi yang merek-mereknya beredar di sekitar kita dan umum digunakan masyarakat.

Profil Emiten

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) adalah perusahaan manufaktur berbagai produk Consumer Goods seperti produk perawatan diri, minuman, makanan, farmasi dan makanan hewan. Merek yang dipasarkan di bawah manajemen PT KINO Indonesia diantaranya Eskulin, Elips, Ovale, Resik-V, Cap Kaki Tiga, Kino Candy, Snackit, Segar Sari dan lain-lain. Pabrik-pabrik KINO tersebar di tiga titik di Indonesia yakni di Sukabumi, Serang dan Pasuruan.

Perusahaan didirikan pada tanggal 24 Maret 1972 dan melaksanakan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 11 Desember 2015. Dengan jumlah saham beredar sebanyak 1.428.571.500 lembar di harga Rp 2130 maka kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 3,04 triliun.  

Adapun pemegang saham dengan kepemilikan signifikan di KINO diantaranya PT Kino Investindo (70%), Harry Sanusi (12,53%), DBSSG S/A Nusantara FMCG Limiteddbssg S/A Nusantara FMCG Limited (11,23%), sedangkan yang beredar di masyarakat hanya sebesar 6,24% dari total saham beredar.

Kinerja Pada Laporan Keuangan Terakhir

1Q21 1Q20 Perubahan
Pendapatan 964,26 miliar 1.11 triliun -13,37%
Laba Bersih 17 miliar 57.95 miliar -70,63%
Liabilitas 2.78 triliun 2.24 triliun 23,84%
Ekuitas 2.59 triliun 2.79 triliun -7,04%

KINO adalah salah satu emiten yang telah melampirkan laporan keuangannya di Kuartal I-2021. Tema di kuartal I-2021 bagi KINO adalah pelemahan kinerja dengan menurunnya pendapatan, laba bersih dan ekuitas dan diiringi peningkatan yang signifikan pada total liabilitas.

Adapun pendapatan KINO hingga Maret 2021 turun 13,37 persen menjadi Rp 964,26 miliar dari sebelumnya Rp 1,11 triliun di periode yang sama di tahun 2020. Meski penurunan yang terjadi di top line hanya 13,37% saja, laba bersih drop hingga 70,63% dari Rp 57,95 miliar di Kuartal I-2020 menjadi hanya Rp 17 miliar saja di Kuartal I-2021.

Penurunan laba bersih adalah dikarenakan meningkatnya beban-beban seperti misalnya beban keuangan yang naik hingga 75,7% menjadi Rp 42,2 miliar dari sebelumnya hanya Rp 24 miliar saja. Beban keuangan alias bunga atas pinjaman meningkat disebabkan oleh naiknya total liabilitas secara keseluruhan.

Liabilitas emiten saham KINO per Kuartal I-2021 adalah sebesar Rp 2,78 triliun atau meningkat 23,84% dibandingkan sebelumnya di periode yang sama tahun 2020 yakni Rp 2,24 triliun. Naiknya liabilitas tak sebanding dengan peningkatan aset dan menyebabkan ekuitas melemah sebanyak 7,04% menjadi Rp 2,59 triliun saja dari sebelumnya Rp 2,79 triliun. Berikut rasio-rasio yang dapat disampaikan:

1Q21 1Q20
ROE 0,66% 2,07%
GPM 48,40% 49,93%
NPM 1,76% 5,21%
DER 107,10% 80,39%
Current Ratio 118,47% 139,67%
ICR 0,35 3,14

Setiap tahunnya, bahkan hingga ke laporan keuangan terakhir, emiten saham KINO tidak memiliki masalah dengan beban pokok pendapatan. Hal ini menyebabkan marjin laba kotor (GPM) emiten tetap berada di kisaran 42 – 49 persen setiap tahunnya. Jadi meskipun GPM per Maret 2021 mengalami penurunan menjadi 48,4 persen, GPM masih berada dalam kisarannya.  

Marjin laba bersih emiten saham KINO per Maret 2021 hanya 1,76% saja, turun dari 5,21% di periode yang sama di tahun 2020. Demikian pula dengan laba per modal kerja alias ROE yang juga turun menjadi hanya 0,66% dari semula 2,07% di Maret 2020.

Utang per ekuitas (DER) emiten saham KINO naik jadi 107,1% dari semula hanya 80,39% dengan penambahan pada liabilitas jangka panjang atau yang usianya lebih panjang dari satu tahun. Rasio lancar emiten membaik menjadi 118,47% saja dari sebelumnya 139,67% menandakan adanya perbaikan kualitas kesehatan keuangan secara jangka pendek.

Penambahan utang, yang mayoritas berusia lebih dari satu tahun membuat emiten saham KINO mesti membayar bunga pinjaman lebih mahal. Laba sebelum pajak KINO per Maret 2021 adalah sebesar 0,35x beban bunga yang dimilikinya. Padahal semestinya angka ICR minimal adalah 1x, sebelumnya di Maret 2020 ICR emiten adalah 3,14x.

Riwayat Kinerja

  Pendapatan Laba
Kotor
Beban
Penjualan
EBIT Laba
Bersih
2017 3,16 triliun 1,33
triliun
895,1
miliar
140,96
miliar
109,69
miliar
2018 3,61 triliun 1,64
triliun
1,12
triliun
200,38
miliar
150,11
miliar
2019 4,67 triliun 2,19 triliun 1,45 triliun 636 miliar 515,6 miliar
2020 4,02 triliun 1,92 triliun 1,22 triliun 135,15 miliar 113,66 miliar
CAGR 8,39% 13,18% 10,94% -1,39% 1,19%

Tahun 2020 adalah tahun yang kurang menyenangkan bagi emiten karena penjualan turun dari Rp 4,67 triliun di 2019 menjadi hanya Rp 4,02 triliun saja di 2020.  Sebelumnya dari 2017 ke 2019 penjualan emiten bertumbuh naik dengan tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 22%. Per tahun 2020 pendapatan KINO adalah sebesar Rp 4,02 triliun sehingga jika dirata-ratakan pertumbuhan tahunannya hanya 8,39% saja.

Beban penjualan juga bertumbuh dengan CAGR 10,94% mengimbangi pertumbuhan pendapatan. Laba sebelum pajak dan bunga (EBIT) juga mengalami kenaikan setiap tahun khususnya pada tahun 2019 berkat adanya keuntungan yang berasal dari diskon. Namun EBIT di tahun 2020 mesti turun dikarenakan naiknya beban keuangan dan hal lainnya. Berikut rasio-rasio profitabilitas yang dapat disampaikan:

GPM OPM NPM ROE
2017 42,10% 4,46% 3,47% 5,34%
2018 45,50% 5,55% 4,16% 6,86%
2019 46,82% 13,60% 11,02% 19,08%
2020 47,92% 3,36% 2,82% 4,41%

Setiap tahunnya beban pokok pendapatan emiten memakan sekitar 52-58% pendapatan dan menyisakan marjin laba kotor (GPM) sebesar 42-48%. Setiap tahun beban penjualan menggerus sekitar 63-69% laba kotor dan menyebabkan laba usaha nilainya mini sekali.

Setelah dikurangi beban penjualan dan beban-beban lainnya, laba usaha per pendapatan (OPM) adalah sebesar 3-6% per tahun. Pada tahun 2019, OPM naik menjadi 13,6% berkat keuntungan diskon namun hal itu tidak terjadi setiap saat sehingga tidak dapat diandalkan.

Laba setelah pajak alias laba bersih lebih kecil lagi nilainya, laba bersih yang dibandingkan dengan pendapatan (NPM) nilainya tidak sampai 5%. Di akhir tahun 2020 besar NPM adalah 2,82% saja. Tahun 2019 marjin laba bersih (NPM) bernilai 11,02% disebabkan keuntungan diskon semata, dan oleh karena itu tak berpengaruh terhadap kualitas kinerja sama sekali di tahun tersebut.

Mininya marjin laba membuat KINO kurang menarik secara profitabilitas karena jika marjin laba terlalu kecil maka tidak akan banyak menyisakan kas untuk dibayarkan utang, dan menambah belanja modal. Berikut pembahasan seputar neraca untuk melihat kesehatan keuangan emiten:

Aset Liabilitas Ekuitas Beban Keuangan
2017 3,23 triliun 1,18 triliun 2,05 triliun 70,48 miliar
2018 3,59 triliun 1,4 triliun 2,18 triliun 55,68 miliar
2019 4,69 triliun 1,99 triliun 2,7 triliun 83,25 miliar
2020 5,25 triliun 2,67 triliun 2,57 triliun 137,91 miliar
CAGR 17,52% 31,33% 7,84% 25,08%

Adapun liabilitas bertumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 31,33%, di akhir tahun 2020 besar liabilitas adalah Rp 2,67 triliun. Sedangkan pertumbuhan aset hanya 17,52% saja. Pertumbuhan liabilitas yang meningkat lebih pesat ketimbang aset menyisakan pertumbuhan ekuitas dengan CAGR sebesar 7,84% saja.

Liabilitas yang diambil emiten kemudian menghasilkan beban keuangan alias bunga pinjaman, dan terakhir per tahun 2020 beban keuangan emiten adalah sebesar Rp 137,91 miliar. Beban keuangan emiten bertumbuh dengan CAGR sebesar 25,08%. Untuk mengetahui seberapa membahayakan liabilitas dalam kelangsungan usaha emiten, berikut rasio-rasio yang dapat disampaikan:

DER Current Ratio
2017 57,53% 165,39%
2018 64,26% 150,11%
2019 73,73% 134,73%
2020 103,91% 119,37%

Adapun rasio utang per modal kerja (DER) selama ini selalu berada di bawah ambang batas atas yang dianjurkan yakni 100%. Namun di akhir tahun 2020 DER emiten meningkat jadi 103,91%. Sebenarnya jika diperhatika terdapat tren DER yang terus meningkat yang dialami emiten.

Berikutnya adalah tentang rasio lancar (current ratio) yang mengukur risiko liabilitas jangka pendek dibandingkan dengan aset lancarnya. Current ratio mengukur kemampuan emiten memenuhi utang jangka pendek dilihat dari likuiditasnya. Makin besar nilai Current Ratio makin baik, sedikitnya angka Current Ratio adalah 100%.

Sejauh ini emiten cukup baik karena current ratio selalu berada di atas 100%, artinya aset jangka pendek emiten besarnya cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Namun jika dilihat dari trennya, ada tren turun yang mengkhawatirkan. Terakhir per tahun 2020 besar current ratio dari KINO semakin mendekati 100%, yakni 119,37%.

Dividen

Sebagai emiten yang penjualannya bagus dan menghasilkan laba, meskipun kecil, emiten rutin membagikan sebagian dari labanya sebagai dividen tunai kepada pemegang sahamnya. Terakhir di tahun 2020 emiten membagikan dividen tunai sebanyak dua kali yang jika dijumlahkan sebesar Rp 103 per saham.

Di tahun 2019 dividen yang dibagikan adalah Rp 57 per lembar, di 2018 nilainya Rp 27 dan sebelumnya di 2017 sebesar Rp 25 per lembar saham. Setiap tahunnya dividen tunai yang dibagikan jumlah totalnya mencapai 28-55 persen dari laba bersih yang dihasilkan di tahun sebelumnya.

Kesimpulan

KINO adalah emiten yang memiliki penjualan yang baik yang nilai pendapatannya selalu meningkat. Pengelolaan beban pokok pendapatan pun sangat baik dan menyisakan marjin laba kotor sebesar 40-an persen setiap tahun.

Sayangnya manajemen emiten kurang pandai dalam hal pengelolaan beban penjualan dan beban-beban lainnya, sehingga marjin laba usaha dan marjin laba bersih nilainya terlalu kecil. Beban penjualan sendiri memakan sampai 60-an persen dari laba kotor.

Ketika marjin laba terlalu kecil, maka emiten akan kesulitan dalam belanja modal dan lain sebagainya. Kita mengetahui bahwa perusahaan manufaktur memiliki risiko depresiasi mesin manufaktur yang tinggi. Maksudnya, apabila mesin terus dipakai maka segera akan menjadi usang dan perlu diganti.

Jika marjin laba terlalu kecil maka kas yang dapat dikumpulkan nilainya juga kecil, dan untuk belanja modal maka emiten perlu menambah utang terus-menerus. Kamu bisa lihat bahwa utang emiten bertumbuh lebih pesat dari pertumbuhan laba. Pelan tapi pasti DER emiten semakin membesar.

Sebenarnya emiten cukup menarik dilihat dari penjualan dan dari niatnya dalam membagikan sebagian keuntungannya kepada pemegang saham dengan cara membagikan dividen tunai secara rutin namun emiten perlu memikirkan tentang cara untuk meningkatkan marjin laba usaha dan laba bersihnya sesegera mungkin.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan untuk investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait