Analisa Saham

SOHO, Penguasa Distribusi 95% Rumah Sakit di Indonesia

Sumber: Soho Global Health

Ajaib.co.id – PT Soho Global Health Tbk (SOHO) adalah perusahaan industri farmasi terintegrasi mulai dari riset dan pengadaan bahan baku, hingga menjual obat dan suplemen secara langsung kepada konsumen. Sumber pendapatan SOHO terdiri dari lima segmen yakni distribusi, produk professional, Consumer Health, Alliance dan lainnya.

Merek-merek di bawah naungan SOHO diantaranya Imboost, Curcuma Plus, Imboost Force dan Asthin, dan lainnya. Total SOHO menangani lebih dari 10.000 produk dengan 40 merek di bawah manajemennya. Mengenai segmen Alliance, terdapat kerjasama in-licensing dengan perusahaan farmasi multinasional dalam pengadaan obat-obatan resep khusus.

Distribusi obat resep dibantu oleh anak perusahaan yakni PT Parit Padang Global ke lebih dari 45 prinsipal pihak ketiga. Perusahaan juga menjalin bisnis peralatan medis, alat kesehatan, ekspor dan bisnis pemasaran berjenjang dan tol manufaktur.

Perusahaan didirikan pada tanggal 27 Agustus 1956 sebagai perusahaan farmasi, pada tanggal 8 September 2020 perusahaan memutuskan untuk IPO di papan utama bursa dengan kode saham SOHO. Dengan jumlah saham beredar sebanyak 1.269.168.239 lembar di harga Rp 4.970 kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 6,31 Triliun.

Adapun pemegang saham SOHO diantaranya: Eng Liang Tan (38,38%) selaku komisaris, Medisia Investment Holdings Pte. Ltd. (18,4%) selaku pemegang obligasi wajib konversi, Cascade Creek Pty Ltd (12,11), Tan Giok Nio (9,01%), Tan Kin Nio (9,01%), Prysselius Limited (8,92%), dewan direksi (2%) sedangkan saham SOHO yang beredar di publik hanya sebesar 1,54%. ebagai informasi, yang disyaratkan oleh bursa efek Indonesia selaku pengawas pasar modal adalah bahwa saham yang beredar di masyarakat sedikitnya 7% dari total saham beredar.

Kinerja Pada Laporan Keuangan Terakhir

PT Soho Global Health Tbk (SOHO) adalah perusahaan farmasi dengan lebih dari jejaring distribusi sekitar 95% rumah sakit dan apotek di Indonesia. Oleh karenanya publik antusias dalam proses IPO-nya SOHO di bursa.

Pada September 2020 IPO-nya SOHO menjadi pusat perhatian dan harganya naik sembilan kali lipat dalam dua minggu saja dari harga penawaran Rp 1.820 di 8 September 2020 ke Rp 16.300 di hari Rabu, 23 September 2020. Setelah itu harga sahamnya terkoreksi dan kini diperdagangkan di harga Rp 4780 per lembar. Berikut ulasan kinerja berdasarkan laporan keuangan Kuartal I-2021:

1Q21
(jutaan Rp)
1Q20
(jutaan Rp)
Perubahan
Pendapatan 1.626.566 1.693.219 -3,94%
Laba Kotor 378.491 406.270 -6,84%
Laba Usaha 166.789 197.849 -15,70%
Laba Bersih 130.948 129.322 1,26%

Pendapatan per kuartal I-2020 lebih baik 3,94% daripada pendapatan yang tercatatkan pada kuartal I-2021 yang hanya Rp 1,62 triliun saja. Kuartal I-2020 memang menjadi titik balik awal mula Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi.

Saat itu penjualan obat-obatan seperti Imboost dan suplemen vitamin sebagai penambah daya tahan tubuh meningkat drastis. Dan itulah sebabnya pendapatan SOHO per Maret 2020 lebih besar dibandingkan dengan pendapatan yang diraihnya per Maret 2021.

Meski pendapatan turun, namun laba bersih meningkat sebanyak 1,26% menjadi Rp 130,9 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 129,3 miliar per Kuartal I-2020. Perlu dicatat bahwa peningkatan bukan berasal dari penghematan biaya-biaya oleh emiten melainkan dari berkurangnya pajak yang mesti ditanggung emiten.

1Q21
(jutaan Rp)
FY20
(jutaan Rp)
Perubahan
Liabilitas 1.970.440 1.974.141 -0,19%
Ekuitas 2.337.309 2.206.102 5,95%
Liabilitas Lancar 1.792.012 1.797.440 -0,30%
Aset Lancar 3.603.174 3.405.989 5,79%

Dari sisi kesehatan keuangan terdapat peningkatan tipis ditandai dengan turunnya liabilitas sebesar 0,19% saja menjadi tepat Rp 1,97 triliun. Dan ekuitas naik sebesar 5,95% menjadi Rp 2,33 triliun di Kuartal I-2021 dari semula sebesar Rp 2,2 triliun di penghujung tahun 2020.

Secara jangka pendek pun meningkat berkat peningkatan pada aset lancar sebesar 5,79% menjadi Rp 3,6 triliun dari semula Rp 3,4 triliun. Berikut rasio-rasio seputar kesehatan keuangan emiten:

1Q21 FY20
DER 84,30% 89,49%
Current Ratio 201,07% 189,49%

Rasio utang per ekuitas (DER) turun tipis dari 89,49% di akhir tahun 2020 menjadi 84,3% di Kuartal I-2021. DER yang dianjurkan memang di bawah 100%, semakin rendah maka semakin baik dan jauh dari kebangkrutan. Secara jangka pendek, kesehatan keuangan emiten juga menguat berkat peningkatan pada aset lancar dari 189,49% menjadi 201,07%.  

Riwayat Kinerja

Pendapatan
(jutaan Rp)
Laba Kotor
(jutaan Rp)
Laba Usaha
(jutaan Rp)
Laba Bersih
(jutaan Rp)
2017 4.047.677 828.791 95.523 33.297
2018 4.563.185 895.219 141.023 49.392
2019 5.048.301 1.015.726 245.468 118.702
2020 6.163.939 1.346.313 259.843 172.200
CAGR 15,05% 17,55% 39,59% 72,93%

Laporan riwayat kinerja diambil dari prospektus emiten. Melalui pengolahan data lebih lanjut diperoleh informasi bahwa emiten memiliki kinerja yang baik. Kinerja yang baik dapat terlihat dari beberapa hal yang akan dipaparkan lebih lanjut di bawah ini:

Pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) atas pendapatan emiten adalah sebesar 15,05% per tahun dari Rp 4 triliun saja di tahun 2017 menjadi Rp 6,16 triliun di tahun 2020. Kendati pertumbuhan pendapatan naik 15,05% saja per tahun, namun pertumbuhan laba kotor, laba usaha dan laba bersih lebih besar dari itu.

Adapun laba kotor bertumbuh dengan CAGR sebesar 17,55% menandakan bahwa emiten sepanjang waktu telah berhasil menghemat biaya bahan baku yang memakan sebagian besar pendapatan.

Pertumbuhan laba usaha juga tak kalah baik dengan CAGR sebesar 39,59% per tahun. Memberikan sinyal bahwa efisiensi beban-beban juga dilakukan oleh manajemen dalam upaya memperbesar marjin laba.

Yang mengesankan adalah bahwa efisiensi beban-beban telah membuat laba bersih bertumbuh dengan CAGR 72,93% per tahun! Kamu akan lihat bahwa marjin laba memang membesar seiring waktu, berikut laporannya.

ROE GPM OPM NPM
2017 2,88% 20,48% 2,36% 0,82%
2018 4,09% 19,62% 3,09% 1,08%
2019 9,03% 20,12% 4,86% 2,35%
2020 7,81% 79,51% 15,35% 10,17%

Di atas adalah rasio-rasio profitabilitas emiten yang menunjukkan perbaikan marjin laba dari waktu ke waktu dan peningkatan terjadi secara signifikan di tahun 2020.

Marjin laba kotor (GPM) yang membandingkan laba kotor dengan pendapatan sebelum tahun 2020 bertahan di angka 19-20 persenan setiap tahun. Setelah IPO menjadi 79,51%. Penghematan beban-beban memang baik, namun penghematan yang luar biasa pada beban pokok pendapatan dikhawatirkan akan mengurangi kualitas produk.

Selanjutnya marjin laba usaha (OPM) meningkat secara konsisten setiap tahunnya dari 2 persen saja di tahun 2017 menjadi 15 persen lebih di tahun 2020.  Peningkatan marjin juga berlanjut hingga ke bottom line dan menyisakan marjin laba bersih (NPM) yang meningkat dari 0,82% saja di tahun 2017 menjadi 10,17% di tahun 2020. Peningkatan beban-beban memang layaknya dilakukan pada beban keuangan dan beban umum dan administrasi.

Berikut laporan riwayat kesehatan keuangan emiten:

Liabilitas
(jutaan Rp)
Ekuitas
(jutaan Rp)
Beban Keuangan
(jutaan Rp)
2017 1.567.734 1.155.182 27.275
2018 1.582.878 1.206.388 26.137
2019 1.955.092 1.313.993 26.461
2020 1.974.141 2.206.102 7.589
CAGR 7,99% 24,07% -34,72%

Adapun liabilitas meningkat secara tipis setiap tahunnya dengan CAGR sebesar 7,99% per tahun dari Rp 1,56 triliun di tahun 2017 menjadi Rp 1,97 triliun di tahun 2020. Sebuah hal yang unik adalah bahwa emiten kini menghindari utang berbunga, menyebabkan bunga pinjaman alias beban keuangan yang mesti diemban berkurang sebanyak 34,72% setiap tahunnya.

Sebagai informas mayoritas utang emiten terdiri dari utang usaha. Utang usaha adalah hal yang umum terjadi pada emiten consumer goods di mana supplier menitipkan barang-barangnya untuk dijual kembali oleh emiten dan dicatat sebagai utang usaha.  Utang usaha tidak menimbulkan bunga pinjaman dan oleh karena itu sebenarnya utang emiten lebih rendah daripada yang terlihat.

Adapun total liabilitas emiten adalah sebesar Rp 1,97 triliun per Kuartal I-2021, utang usaha adalah Rp 1,43 triliun. Artinya utang emiten yang sebenarnya hanyalah Rp 540 miliar saja. Selanjutnya, meski liabilitas meningkat namun peningkatan juga terjadi dari sisi ekuitas dengan nilai pertumbuhan yang lebih besar yakni 24,07% per tahun.

Berikut laporan mengenai rasio-rasio kesehatan keuangan yang dapat disampaikan:

DER Current Ratio
2017 135,71% 211,17%
2018 131,21% 215,66%
2019 148,79% 129,66%
2020 89,49% 189,49%

Rasio utang per ekuitas emiten turun menjadi 89,49% di tahun 2020. Selama ini utang emiten selalu berada di atas batas yang dianjurkan yakni di atas 100%. Emiten telah menggunakan uang yang diperolehnya dari IPO untuk membayar sebagian utang-utangnya, terutama utang berbunga, dengan baik.

Dividen

Setelah melantai di bursa di bulan September 2020, SOHO membagikan dividen sebesar Rp 236 per lembar. Dengan jumlah saham beredar sebesar 1.269.168.239 lembar dan dengan demikian total dividen yang dibagikan adalah sebesar Rp299.523.704.404.

Adapun jumlah laba bersih yang diperoleh emiten di penghujung tahun 2020 adalah sebesar Rp 172,2 miliar. Dengan demikian laba bersih yang dibagikan adalah 173,94% dari laba bersihnya. Emiten melakukan hal yang demikian sebagai treat pasca IPO untuk mempertahankan investor-investornya.

Prospek

Grup SOHO telah berdiri sejak tahun 1956 dan telah menjadi satu dari sedikit pemimpin pasar dalam kategori obat OTX alami dan herbal di Indonesia. Obat herbal SOHO dibuat dari bahan alami seperti echinacea, curcuma dan xanthorrhiza roxb. Di segmen ini saja emiten memiliki lebih dari 50 produk dengan total 28 merek di 12 area terapi.

Bisnis strategis emiten terdiri dari peralatan medis dan kesehatan dengan lebih dari 45 produk untuk perawatan luka, perawatan medis umum, bedah, ortopedi dan diagnostik in vitro. Selain itu produk SOHO juga telah merambah berbagai negara seperti Myanmar, Sri Lanka, Kamboja, Vietnam, Filipina, Mongolia, Nigeria dan Mauritius.

Singkat kata, SOHO memiliki basis bisnis yang kuat dengan branding yang telah dikenal baik selama berpuluh-puluh tahun di Indonesia.

Kesimpulan

Untuk mengukur kinerja emiten yang baru IPO tahun lalu mungkin terlalu dini karena dana perolehan IPO dan dana murah dari masyarakat belum digunakan secara maksimal dan perubahan kinerja baru terjadi selama satu periode saja.

Namun sejauh ini terdapat lonjakan kinerja pasca IPO dengan adanya lompatan perbaikan marjin laba dari upper line hingga ke bottom line. Marjin laba bersih kini menyentuh dua digit diiringi dengan perbaikan pada kualitas kesehatan keuangan.

Kualitas kesehatan terlihat pada turunnya utang berbunga ditandai dengan turunnya beban keuangan dengan CAGR sebesar 34% setiap tahunnya. Utang kini didominasi oleh utang usaha yang tak menghasilkan bunga dan bukan utang yang mesti dibayar cepat.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait