Analisa Saham

Perlu Banyak Pertimbangan Untuk Mengoleksi Saham ALTO

Sumber: Alto Spring Water

Ajaib.co.id – PT Tri Banyan Tirta Tbk (kode saham ALTO) adalah perusahaan produsen air minum dalam kemasan dengan merek ALTO Natural Spring Water. ALTO memanfaatkan sumber mata air Gunung Salak di Sukabumi, Indonesia dan oleh karenanya pabrik ALTO juga terletak di Sukabumi.

Produk-produknya didistribusikan ke seluruh Indonesia melalui pusat distribusi yang meliputi Jakarta, Bandung, Bogor, Bekasi, Cirebon, Cileungsi, Serang, Sukabumi, Pontianak, Palembang, Bengkulu.

Perusahaan didirikan pada tanggal 3 Juni 1997 dan melaksanakan IPO dengan kode saham ALTO di tanggal 10 Juli 2012 di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan jumlah saham beredar sebanyak 2.191.870.558 lembar, kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 846,06 Miliar.

Pemegang saham dengan kepemilikan signifikan atas ALTO diantaranya PT Fikasa Bintang Cemerlang (38,88%), PT Tirtamas Anggada (16%), PT Trimegah Sekuritas Indonesia, Tbk (13,44%), Persero Danareksa, PT S/A PSC (6,82%) dan yang beredar di masyarakat adalah sebesar 22,64% dari jumlah saham beredar.

Kinerja Pada Laporan Keuangan Terakhir

Hingga Juni 2021 emiten belum menyampaikan laporan keuangan Kuartal I-2021 sehingga laporan keuangan terakhir adalah Full Year 2020.

  2020 2019 Perubahan
Pendapatan 321,5 miliar 343,97 miliar -6,53%
Laba Kotor 37,38 miliar 41,93 miliar -10,85%
Laba Bersih -10,48 miliar -7,36 miliar -42,36%
Liabilitas     732,99 miliar 722,7 miliar 1,42%
Ekuitas 372,88 miliar 722,71 miliar -48,41%
Beban Keuangan 9,15 miliar 5,53 miliar 65,37%

Perolehan pendapatan per tahun buku 2020 melemah 6,53% dibandingkan dengan yang diperoleh emiten di tahun 2019, yakni Rp 343,97 miliar. Dalam paparan publiknya tanggal 19 Agustus 2020, emiten mengaku bahwa pandemi menyebabkan turunnya permintaan Air Minum Dalam Kemasan ukuran botol dan dan cup 240 mL.

Penerapan social distancing menyebabkan tidak diperbolehkannya terbentuk kerumunan. Padahal kerumunan adalah faktor yang mempengaruhi permintaan air mineral cup dan botol merek ALTO.

Penurunan yang terjadi di upper line ternyata berdampak besar pada penurunan kinerja di bottom line. Per tahun 2019 rugi bersih yang dialami emiten adalah sebsar Rp 7,36 miliar, sedangkan di tahun 2020 kerugian bertambah besar menjadi Rp 10,48 miliar.

Demikian, kerugian membuat emiten berutang lebih banyak dan menjual sebagian aset untuk membantu operasional perusahaan. Liabilitas meningkat tipis menjadi Rp 732,99 miliar dari sebelumnya Rp 722,7 miliar di 2019.

Nilai aset turun dan menyisakan ekuitas yang anjlok 48,41% dari semula  Rp 722,7 miliar menjadi hanya Rp 372,88 miliar di tahun 2020. Beban keuangan pun naik 65,37% menjadi Rp 9,15 miliar dari semula hanya Rp 5,53 miliar.

Turunnya ekuitas diiringi kenaikan liabilitas menyebabkan rasio kesehatan keuangan emiten turun. Berikut rasio-rasio yang dapat disampaikan:

  2020 2019
ROE -2,81% -1,93%
DER 196,57% 189,82%
Current Ratio 82,79% 88,38%
NPM -3,26% -2,14%
ICR 0,02 -1,01

Adapun rasio laba per ekuitas memburuk dari semulai minus 1,93% menjadi minus alias merugi 2,81%. Rasio utang per ekuitas juga meningkat menjadi 196,57%, utamanya disebabkan oleh penurunan nilai ekuitas.

Rasio lancar juga memburuk menjadi hanya 82,79% saja di tahun 2020. Rasio lancar menghitung aset lancar per utang lancar dan angka minimal yang dibutuhkan adalah 100%. Di bawah 100% maka kesehatan keuangan secara jangka pendek rawan terhadap kebangkrutan.

Marjin laba bersih memburuk menjadi minus 3,26% karena memang emiten sedang mengalami kerugian lebih dalam dari sebelumnya di tahun 2019.

Riwayat Kinerja

Tercatat emiten memiliki empat segmen usaha yakni AMDK (air minum dalam kemasan), air rasa, galon dan botol kosong. Terkait galon dan botol, keduanya diperuntukkan bagi usaha makloon yang telah dimulai emiten sejak 2019.

Perusahaan kini membuka kesempatan makloon untuk membantu pengemasan air minum merek lain. Pelanggan jasa makloon emiten diantaranya merek VIT dari PT Tirta Investama, lalu dari Kino, Sinarmas dan Orang Tua.

Oleh karenanya kini kita dapat melihat adanya peningkatan pendapatan yang pesat di tahun 2019 berkat pesanan galon dan botol dari usaha makloon-nya.

  Pendapatan Laba Kotor Laba Usaha Laba Bersih
2017 262,14 miliar 41,17 miliar -33,99 miliar -62,4 miliar
2018 290,27 miliar 28,77 miliar -22,94 miliar -32,87 miliar
2019 343,97 miliar 41,93 miliar -5,57 miliar -7,36 miliar
2020 321,5 miliar 37,38 miliar 212,4 juta -10,48 miliar
CAGR 7,04% -3,17% 42,95% -44,83%

Secara keseluruhan pendapatan emiten naik dengan pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 7,04% per tahun. Pendapatan naik signifikan sejak tahun 2019 berkat datangnya pendapatan tambahan dari makloon galon dan botol. Sayangnya pendapatan mesti terkikis sedikit di tahun 2020 gegara pembatasan sosial yang mesti tunduk pada protokol kesehatan.  

Laba usaha emiten yang sejak bertahun-tahun lalu negatif alias berada dalam posisi rugi, kini mulai membukukan keuntungan sebesar Rp 212 juta. Perbaikan dari upper line sejak tahun 2019 juga berpengaruh terhadap perolehan secara bottom line.

Tercatat kerugian bersih yang dicatatkan emiten telah berkurang banyak. Dari semula merugi bersih hingga puluhan miliar, lalu turun menjadi hanya rugi Rp 7,36 miliar saja di tahun 2019. Sayangnya per tahun 2020 emiten mencatatkan kenaikan rugi bersih sebesar Rp 10,48 miliar dari semula hanya merugi Rp 7,36 miliar di tahun 2019.

  Liabilitas Ekuitas Beban Keuangan
2017 690 miliar 419,28 miliar 36,2 miliar
2018 722,71 miliar 387,12 miliar 18,76 miliar
2019 722,71 miliar 380,73 miliar 5,53 miliar
2020 732,9 miliar 372,8 miliar 9,15 miliar
CAGR 0,47% -3,83% -21,29%

Kondisi kesehatan emiten tak lebih baik dari waktu ke waktu. Liabilitas meningkat tipis seiring waktu, bagusnya adalah emiten berusaha mengurangi utang berbunga menjadi di bawah Rp 10 miliar saja. Di sisi lain ekuitas turun 3,83% per tahun menjadi hanya Rp 372,8 miliar di tahun 2020.

Dengan kenaikan liabilitas diiringi penurunan pada ekuitas menjadi rasio kesehatan emiten tak menarik. Di bawah ini adalah  

  DER Current Ratio ICR
2017 164,59% 107,50% -0,94
2018 186,69% 76,34% -1,22
2019 189,82% 88,38% -1,01
2020 196,57% 82,79% 0,02

Kesimpulan

Ada satu hal yang mesti kita apresiasi dari emiten, yakni usaha emiten untuk menambah penghasilkan dari penjualan galon dan botol melalui usaha makloon-nya sejak tahun 2019.

Meningkatnya pendapatan membuat emiten dapat mengurangi kerugian operasional dan pada akhirnya membukukan laba usaha yang positif di tahun 2019. Sayangnya usaha emiten tersebut belum cukup untuk membuatnya membukukan laba bersih.

Nampaknya kita masih perlu waktu untuk menyaksikan ALTO benar-benar membuktikan dirinya mampu mencetak laba bersih. Perbaikan dari sisi kesehatan keuangan juga perlu ditunjukkan oleh emiten.

Liabilitas meningkat meski dengan pertumbuhan yang terbatas yakni CAGR sebesar 7% saja per tahun, namun ekuitas turun dengan pertumbuhan negatif sebesar 3,83% per tahun. Dengan demikian rasio-rasio likuiditas dan solvabilitas emiten tak menunjukkan perbaikan.

Sampai emiten benar-benar bisa laba dan kesehatan keuangan menjadi lebih baik, kita perlu pertimbangkan matang-matang tentang berinvestasi di saham ALTO karena hingga saat ini ALTO belum nampak menarik.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi

Artikel Terkait