Analisa Saham, Saham

Bedah Saham TINS dan Prospeknya Tahun Ini

Sumber: Timah

Ajaib.co.id – Didirikan pada tanggal pada 17 April 1961, PT Timah Tbk (kode saham TINS) adalah perusahaan pertambangan timah yang merupakan produsen dan pengekspor timah, serta memiliki usaha penambangan timah terpadu mulai dari eksplorasi, pertambangan, pengolahan sampai dengan pemasaran.

Tidak hanya itu, bisnis emiten saham TINS juga bergerak dalam bidang pertambangan batu bara dan eksplorasi aspal. Wilayah operasi perusahaan mencakup Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Riau, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat Daya, dan Cilegon, Banten, Indonesia.

TINS pertama kali melantai di BEI pada 19 Oktober 1995 dengan harga IPO Rp2.900, total saham yang dijual ke publik mencapai 50,33 miliar lembar saham. Per 15 Februari 2021, saham TINS berada di harga Rp2,150 dengan kapitalisasi pasar mencapai 17,35 triliun.

Kepemilikan saham TINS terbagi menjadi beberapa pemilik, yaitu PT Indonesia Asahan Aluminium sebesar 65%, publik sebanyak 27,6%, DJS Ketenagakerjaan Program JHT memiliki 2,4% kepemilikan, dan sejumlah kepemilikan minor lain yang dipegang sejumlah instansi, seperti Manulife Dana Ekuitas, PT Taspen Asuransi ASF, hingga Prudential Life Assurance.

Mari kita bedah saham TINS untuk mengetahui apakah saham ini menarik untuk dibeli saat ini.

Kinerja Keuangan 

Per September 2020, kinerja keuangan saham TINS menunjukkan penurunan yang cukup dalam. TINS tercatat membukukan kenaikan rugi bersih mencapai 45% YoY, dari Rp-175,78 miliar pada September 2019 ke Rp-255,15 miliar di periode yang sama tahun 2020. Naiknya rugi bersih ini akibat dari pendapatan usaha yang juga ikut turun sebesar 18,42% ke Rp11,87 triliun dari Rp14,55 triliun.

Beban pokok pendapatan perusahaan sepanjang sembilan bulan tahun 2020 juga turun mencapai Rp 11,11 triliun dari posisi Rp 13,53 triliun di periode yang sama tahun lalu. Sayangnya, beban penjualan TINS justru naik ke Rp137,13 miliar dari Rp134,84 miliar, diikuti kenaikan beban keuangan dari Rp525,11 miliar ke Rp533,03 miliar.

Dari pos produksi, TINS membukukan penurunan produksi logam timah pada Q3 2020 sebesar 35,37% dari posisi 58.157 ton ke 37.588 ton. Sementara, produksi bijih timah sepanjang tahun juga ikut anjlok sebesar 47,44% menjadi 34.592 ton dari posisi 65.819 ton di periode yang sama tahun lalu. 

Komponen LabaSeptember 2019
(Rp Miliar)
September 2020
(Rp Miliar)
Pendapatan 1,4551,187
Rugi Bersih-175,78-255,15
Beban Pendapatan1,3531,111
Beban Penjualan134137
Aset2,0361,675
Ekuitas5,5284,815

Lalu, bagaimana dengan rasio-rasio keuangan umum TINS? Mari kita lihat tabel di bawah.

RasioSeptember 2019September 2020
ROA-0,85%-1,82%
ROE-10%-16%
NPM-4,81%-3,22%
GPM5,40%5,26%
OPM25,1%14,2%
DER2,42,4

Dari rasio-rasio keuangan di atas menunjukkan bahwa kondisi bisnis TINS sedang mengalami penurunan. Di beberapa pos mengalami penurunan tipis dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, misalnya ROE yang turun menjadi 16%, ROA yang turun ke angka -1,82%, diikuti NPM, GPM, dan OPM yang juga turun bersamaan.

Meskipun begitu, TINS masih menjaga kestabilan piutangnya, tercatat DER saham TINS di Q3 2020 masih berada di level yang sama dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Namun, investor perlu mempertimbangkan untuk membeli saham TINS dikarenakan angka DER nya >2, yang mana sudah melebihi batas angka DER ideal untuk sebuah saham yang keuangannya sehat. Untuk mengetahui kondisi kesehatan TINS, mari kita berlanjut ke riwayat kinerja di bawah ini.

Riwayat Kinerja

KomponenCAGR 2017-2020
Laba Bersih0.4%
Pendapatan2.6%
Total Aset0.9%

Tingkat pertumbuhan dalam 5 tahun terakhir mencerminkan TINS kesulitan menghasilkan keuntungan secara konsisten. Tampak dari CAGR laba bersih, pendapatan, dan aset periode 2016 – 2020 yang pertumbuhannya di bawah 5%.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

TahunDividen per SahamJumlah yang dibayarkan (Rp Miliar)
201924,97531

Satu lagi bukti bahwa keuangan saham TINS tidak baik adalah jarangnya membagikan dividen dalam 5 tahun terakhir. Dibandingkan saham tambang lainnya, TINS tercatat hanya membagikan dividen satu kali di tahun 2019 di harga Rp24,97/lembar saham. Investor tentu harus mewaspadai hal ini, mengingat indikator saham yang sehat adalah saham yang rutin memberikan dividen setidaknya 3 tahun terakhir.

Prospek Bisnis TINS

Uji coba vaksin menjadi salah satu harapan baik untuk emiten komoditas logam, salah satunya saham TINS. Berdasarkan laporan Q3 2020, perusahaan milik negara ini mengklaim permintaan logam timah naik mencapai 8,07%. Hal ini tentu akan memberikan peluang TINS untuk bersinergi terkait holding pertambangan dan potensi pasar timah dunia.

Naiknya permintaan timah didukung dengan potensi cadangan timah di area operasi TINS menjadi angin segar untuk keberlangsungan bisnis pertimahan di masa depan. Ditambah lagi potensi timah alluvial dalam dan timah primer dalam jumlah besar, serta peningkatan pemulihan penambangan dari bijih timah kadar rendah juga akan membantu TINS  ke depannya.

Sementara, peluang dari pasar non tin mining (mineral ikutan timah dan rare earth element) dan produk hilir timah baik pasar domestik dan global, penambangan cadangan laut dangkal dengan Cutter Suction Dredger (CSD) dan Tambang Kecil Terintegrasi (TKT) masih menjanjikan (misalnya Myanmar), serta pengembangan terhadap logam tanah jarang yang merupakan mineral ikutan berasal dari proses penambangan bijih timah.

Pengembangan logam tanah jarang berasal dari proses penambangan bijih timah, yang mana logam jenis ini akan berjual nilai tinggi sebagai bahan baku produk elektronik, seperti layar TV, laptop, dan telepon genggam di tengah kebutuhan dunia akan perangkat berteknologi digital.

TINS juga sudah dianggap sebagai produsen timah terbesar di dunia, setelah menjadi salah satu the most preferred brand di industri pertimahan dengan trademark yang sudah terdaftar di London Metal Exchange (LME). 

Terkait sentimen positif mobil listrik akhir-akhir ini dan kabar rencana pembangunan pabrik baterai di Indonesia seperti Contemporary Amperex Technology Co. Ltd., LG Chem Ltd dan Tesla, fokus TINS tidak terlalu mengarah ke nikel dan dampak dari proyek baterai EV, sehingga efeknya belum begitu besar ke depannya. 

Kontribusi penjualan nikel ke pendapatan TINS juga tidaklah besar, hanya sekitar 0,47% terhadap keseluruhan pendapatan perusahaan. Kontribusi terbesar perusahaan berasal dari penjualan logam timah, yaitu sekitar 94,38%. Dengan kata lain, mayoritas pendapatan yang dihasilkan oleh TINS berasal dari timah, dan bukan nikel. 

Kesimpulan

Per 16 Februari 2021, PER TINS tergolong sangat rendah, yaitu di angka -51,01 kali, tapi PBV nya mencapai 3.52 kali yang mengartikan harga TINS yang sekarang 3x lebih tinggi dari nilai bukunya. Dengan kata lain, harga TINS sudah cukup mahal. Selain itu, investor juga perlu mewaspadai DER perusahaan yang berada di angka >2.

Pertumbuhan keuangan pun masih jauh dari kata sehat. Namun, jika melihat pertumbuhan EPS di Q3 2020 di angka 18 dibandingkan -51 dari periode sebelumnya di tahun lalu, kinerja TINS berpeluang untuk pulih terlebih didukung prospek permintaan timah yang tinggi di 2021.

Selain itu TINS berencana akan memproduksi perdana batu bara kalori tinggi sekitar 500-700 ton tahun ini. Melalui tambang yang dikelola anak perusahaannya PT Tanjung Alam Jaya di Kalimantan Selatan.

Sumberdaya batu bara yang dikelola memiliki kalori tinggi atau 6.200 kkal per kilogram yang ditujukkan untuk pasar ekspor China, Vietnam dan Filipina.

Kontribusi ini bisa mendorong pendapatan signifikan perusahaan yang tidak hanya bergerak pada pertambangan timah dan non-timah, tetapi juga mulai merambah ke sektor batu bara.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait