Analisa Saham

Bedah Saham CAMP: Apakah Masih Layak Dikoleksi?

Ajaib.co.id – PT Campina Ice Cream Industry Tbk (Kode saham CAMP) didirikan pada tanggal 22 Juli 1972 dengan nama CV Pranoto. Kantor pusat Campina berlokasi di Surabaya.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan CAMP adalah bergerak dalam bidang industri pengolahan es krim.

Pada tanggal 06 Desember 2017, CAMP memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham CAMP (IPO) kepada masyarakat sebanyak 885.000.000 saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp330,- per saham.

Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 19 Desember 2017.

Kinerja Keuangan CAMP

Secara kinerja, rapor CAMP terbilang solid. Perusahaan rutin membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba tahunan dari 2017 hingga 2019.

Berikut ini ringkasan data keuangan CAMP selama tiga tahun ke belakang (dalam miliaran rupiah).

Perusahaan juga termasuk perusahaan yang sehat berdasarkan rasio-rasio keuangannya berikut ini.

Kinerja perusahaan baru terindikasi melemah pada 2020, ketika dalam 9 bulan pertama hanya mampu membukukan penjualan Rp712,5 miliar. Nominal ini susut 7,28% secara year-on-year (yoy) dari posisi Rp768,46 miliar.

Adapun dari segi laba, rapor Rp22,8 miliar CAMP pada periode yang sama, merosot lebih dalam secara tahunan. Tepatnya 55,74% dari Rp51,57 miliar jadi Rp22,82 miliar.

Jika merunut laporan keuangan terkini perseroan, merosotnya laba CAMP banyak didorong oleh membengkaknya pos beban operasional dan lainnya. Pengeluaran pada pos ini secara tahunan mengembang dari Rp1,48 miliar jadi Rp8,53 miliar.

Apabila dibedah lagi, pembengkakan di pos ini disumbang oleh beban pajak yang naik drastis dari Rp320,43 juta jadi Rp4,92 miliar serta rugi selisih kurs yang mencapai Rp2,68 miliar.

Faktor lain yang juga punya peran besar terhadap pelemahan kinerja perusahaan adalah kurang optimalnya penghematan di beban administrasi dan umum yang mencapai nominal Rp216,3 miliar. Padahal, pada saat bersamaan, penjualan perusahaan mengalami koreksi yang tidak sedikit.

Prospek Saham CAMP

CAMP menargetkan bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan sekitar 5%-7% pada tahun ini. Rencana bisnis CAMP di tahun ini adalah bagaimana dapat mengejar target pendapatan agar mencapai angka seperti di tahun 2019 yaitu mengembalikan angka revenue sebesar Rp1,02 triliun

Target pertumbuhan tersebut sejalan dengan optimisme pada program vaksinasi vaksin Covid-19 oleh pemerintah, selain itu sekolah juga akan buka di tahun ajaran 2021-2022 dan momentum Lebaran pada tahun ini. Sehingga diharapkan berpengaruh terhadap rencana penjualan CAMP.

Untuk mencapai target tersebut, di kuartal I dan kuartal II-2021 CAMP akan meluncurkan lima sampai enam varian produk baru. Di samping meluncurkan produk baru, CAMP juga akan fokus pada komunikasi digital dengan menjalankan berbagai kampanye melalui media sosial dan memaksimalkan kanal penjualan digital melalui www.icecreamstore.co.id.

CAMP menjalin kerja sama dengan e-commerce mauput ritel seperti Tokopedia, Blibli dan KlikIndomaret sebagai strategi ‘jemput bola’ agar memudahkan konsumen mendapatkan es krim Campina dan meningkatkan penjualan perusahaan.

Sebab melalui pemasaran digital CAMP telah mencatat tren penjualan produk es krim perusahaan di kanal digital tumbuh lebih dari 20% dibandingkan saat sebelum pandemi.

CAMP juga menyiapkan belanja modal atau capital expenditure(capex) sebesar Rp40 miliar di tahun ini. Dana tersebut diakuinya bersumber langsung dari dana internal. Dana tersebut nantinya akan dialokasikan untuk belanja modal terutama untuk pembelian alat-alat distribusi penjualan di toko-toko.

Nilai pasar es krim sekitar Rp10 triliun di seluruh Indonesia. Potensi pasar es krim Indonesia yang cukup baik dengan konsumsi per kapita masih dinilai rendah, yakni 0,8 liter per kapita, dan penetrasi freezer es krim masih 70%.

Produsen es krim ternama di Indonesia yang berdiri sejak 22 Juli 1972 ini memiliki titik distribusi sebanyak 63 lokasi di seluruh Indonesia. Paling jauh, perseroan telah menjangkau Timika di Papua untuk memenuhi target pemasaran wilayah Indonesia bagian timur.

Dengan titik distribusi yang tersebar diseluruh Indonesia CAMP juga menyampaikan kesiapan apabila pemerintah turut menggandeng perseroan untuk mendistribusikan vaksin Covid-19.

Sebagai perusahaan yang murni mengandalkan es krim sebagai produk jualannya, kesiapan CAMP terkait infrastruktur distribusi rantai pasok dingin (cold-chain) tak perlu dipertanyakan.

Campina mengklaim bahwa kemampuan rantai pasok mereka telah mendapat sertifikasi langsung dari berbagai lembaga keamanan pangan internasional, termasuk Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).

HACCP merupakan sertifikasi di mana kondisi makanan wajib dijamin melalui pengendalian terhadap bahaya biologis, kimiawi, dan fisik sejak tingkat paling bawah yakni produksi bahan mentah. Sertifikasi ini telah diwajibkan oleh negara-negara maju, termasuk oleh Departemen Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat.

Dilansir bisnis.com, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menuturkan akan membuka kerja sama dengan perusahaan swasta yang memiliki kapasitas untuk logistik pendingin agar kapasitas rantai dingin untuk menampung vaksin Covid-19 dapat terpenuhi.

Adapun, vaksin Covid-19 produksi Sinovac yang digunakan pemerintah dalam program vaksinasi virus corona harus disimpan di tempat dengan suhu 2-8 derajat Celcius.

Apakah CAMP Layak Dikoleksi?

Dampak dari pernyataan emiten itu langsung terasa di lantai bursa. Pada perdagangan Selasa (19/1), saham CAMP ditutup menguat 8,33 persen dari Rp288 ke Rp312.

Namun, CAMP mengalami koreksi pada perdagangan Rabu (20/1). CAMP susut 4,49 persen ke angka Rp298.

Cenderung terkoreksinya harga saham CAMP sebenarnya tidak lepas dari banyaknya hal yang belum pasti terkait distribusi vaksin tersebut. Selain belum adanya pembicaraan dengan pemerintah, masih mengawangnya potensi pemasukan terhadap perusahaan dari kerja sama tersebut bikin pasar sulit memproyeksi efeknya terhadap fundamental perusahaan.

Apalagi, selain masih harus bersaing dengan sesama perusahaan konsumer seperti Unilever, Campina juga harus berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan yang murni bergerak di sektor jasa rantai pasok dingin.

Perusahaan yang bergerak di bisnis ini di antaranya adalah PT Diamond Cold Storage, Maersk Line, Wahana, PT Kiat Ananda Cold Storage, PT MGM Bosco, PT Dua Putera Perkasa, hingga GAC Samudera.

Walau demikian, jika sederet tanya itu lekas menemui titik temu dan tawaran dari pemerintah benar—benar datang, kans saham CAMP kembali menguat terbuka lebar.

Artikel Terkait