Analisa Saham, Saham

Bedah Saham Bola: Harga Meroket, Fundamental Masih Medioker

Sumber: Bali United

Ajaib.co.idSaham klub sepak bola mancanegara sudah lazim masuk bursa. Di Indonesia juga ada satu saham klub sepak bola yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (kode saham BOLA) yang mengelola Bali United.

Saham BOLA baru-baru ini mengalami kenaikan harga yang sangat luar biasa sampai menyentuh ambang ARA (Auto Rejection Atas). Harga saham BOLA yang berada di bawah Rp400 per lembar pada 26 Juli, mendadak meroket beruntun hingga ditutup pada Rp1110 pada 9 Agustus 2021.

Otoritas BEI menganggapnya sebagai situasi di luar kebiasaan (Unusual Market Activity/UMA), sehingga mensuspensi perdagangan saham BOLA untuk sementara waktu.

Mengapa kenaikan harga tersebut dianggap tidak wajar? Bagaimana pula dengan kondisi fundamental saham BOLA? Mari kita ulas bersama.

Profil Singkat Emiten

PT Bali Bintang Sejahtera Tbk awalnya mengakuisisi klub sepakbola Putra Samarinda (Pusam) pada tahun 2014. Perusahaan kemudian memindahkan kandang klub ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, dan melakukan rebranding menjadi “Bali United Pusam” pada tahun 2015. Nama klub selanjutnya berganti lagi menjadi “Bali United” pada tahun 2016. 

Pada tanggal 17 Juni 2019, Bali United menjadi klub sepak bola pertama yang memiliki saham go public di Asia Tenggara dan kedua di Asia. PT Bali Bintang Sejahtera Tbk kini merupakan pemilik hak merek “Bali United”, sekaligus pengelola klub dan Official Store terkait. 

Harga saham BOLA dari tahun ke tahun sering mengalami fluktuasi yang tidak biasa. Sahamnya dibanderol dengan harga Rp175 per lembar saat penawaran perdana, kemudian melonjak sampai Rp460 dalam hitungan hari setelah IPO. Tapi harganya ambruk lagi ke Rp125 per lembar dalam beberapa bulan berikutnya.

Harga saham BOLA nyaris tidur lelap di bawah Rp200 sepanjang tahun 2020. Pergerakannya baru menggeliat lagi dalam tahun 2021 ini. Dengan harga saham saat ini tersuspensi pada Rp1.110 per lembar, BOLA memiliki market cap sebesar Rp6,66 triliun.

20210811-bedah-saham-bola-2

Kepemilikan BOLA terbesar berada di tangan pemegang saham pengendalinya, yaitu taipan Pieter Tanuri (36,82%). Pemegang saham besar lain adalah PT Asuransi Central Asia (8,88%), PT Indolife Pensiontama (5,39%), Ayu Patricia Rachmat (5,25%), PT Asuransi Jiwa Kresna (0,01%), dan masyarakat (43,65%).

Kinerja Laporan Keuangan Terakhir

PT Bali Bintang Sejahtera Tbk membukukan penurunan pendapatan signifikan pada kuartal I/2021 dibandingkan dengan kuartal I/2020. Namun, perusahaan berhasil menekan beban pokok.

Alhasil, emiten BOLA mampu menorehkan kenaikan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk hingga 597% menjadi Rp48,70 miliar per 31 Maret 2021 dibandingkan dengan perolehan Rp6,99 miliar per 31 Maret 2020.

Berikut rangkuman kinerja laba BOLA berdasarkan laporan tersebut (dalam juta rupiah kecuali jika dinyatakan secara khusus):

Komponen LabaI/2021I/2020
Penjualan dan pendapatan usaha18.896,0541.894,52
Beban pokok penjualan dan pendapatan402,32975,77
Laba bruto18.493,7340.918,75
Laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk48.702,816.985,34
Laba per saham (rupiah penuh)8,121,16

Total aset BOLA meningkat menjadi Rp605,12 miliar dalam laporan kuartal I/2021 dibandingkan Rp550,06 miliar pada akhir tahun 2020. Ekuitas juga bertambah menjadi Rp513,04 miliar dari sebelumnya Rp465,11 miliar. Sedangkan liabilitas meningkat menjadi Rp85,92 miliar dari sebelumnya Rp79,22 miliar. 

Data menunjukkan bahwa kinerja keuangan BOLA relatif baik. Namun, perusahaan masih membukukan laba operasional negatif. Laba operasional (Operating Profit) tercatat minus Rp7,17 miliar per 31 Maret 2021.

Riwayat Kinerja

Apakah rasio-rasio keuangan BOLA dari tahun ke tahun sama menterengnya dengan laporan keuangan kuartal I/2021? Berikut ini perbandingan kinerja keuangan BOLA selama tiga (3) tahun terakhir:

RasioIV/2020IV/2019IV/2018
ROE0,71%  1,57%4,20%
ROA0,61%  1,36%3,39%
NPM4,37%  3,43%4,31%
DER16,83% 15,62% 23,99%
Current Ratio616,02% 789,21% 76,61%

Tabel di atas menunjukkan bahwa BOLA memiliki kinerja yang stabil, tetapi kemampuannya menghasilkan laba tergolong medioker. Dari sisi positifnya, perusahaan memiliki rasio utang yang rendah dan tidak terlihat tanda-tanda masalah keuangan signifikan.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Sejak IPO, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk belum pernah membagikan dividen sama sekali. Perusahaan juga belum pernah menyelenggarakan aksi korporasi berdampak besar selain rapat pemegang saham tahunan (RUPST) dan rapat pemegang saham luar biasa (RUPSLB). 

Prospek Bisnis BOLA

Masalah utama yang membayangi BOLA saat ini adalah moratorium kompetisi olahraga Indonesia sehubungan dengan pandemi COVID-19. PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) memulai kompetisi Liga 1 Indonesia Musim 2020 pada 29 Februari 2020, atau dimajukan dari rencana awal yakni pertengahan Maret. Namun, kompetisi hanya berlangsung selama 3 pekan. 

Bali United merupakan pemenang dari Liga 1 Indonesia Musim 2019, dan sedianya bakal bertanding sebagai juara bertahan pada Musim 2020. Tapi kompetisi dibubarkan secara resmi dengan status Force Majeure pada tanggal 20 November 2021, akibat pandemi dan tidak diterbitkannya surat izin dari POLRI.

Kompetisi sepak bola Indonesia tahun 2021 kemudian dimulai dengan turnamen pramusim Piala Menpora 2021 pada 21 Maret-25 April lalu. Namun, Bali United tak menampilkan kinerja impresif dan tersisih di perempat final. Sedangkan izin untuk penyelenggaraan Liga 1 Indonesia Musim 2021 juga belum diberikan oleh pemerintah.

Harga saham klub sepak bola tidak selalu selaras dengan prestasi klub itu sendiri. Namun, minimnya penampilan klub selama pandemi tentu akan memengaruhi pendapatan dari penjualan tiket, iklan, penjualan merchandise, hak siar, dan lain sebagainya.

BOLA berhasil menggenjot laba untuk kuartal I/2021 dengan memangkas beban-beban, tetapi kebijakan ini tak mampu menopang kinerja keuangan secara berkelanjutan. 

Harga Saham BOLA

Saat artikel ditulis (11/08/2021), saham BOLA memiliki PBV sebesar 12,98x dan PER sebesar 34,19x. Rasio ini mengisyaratkan bahwa harga saham BOLA sudah terlalu mahal. 

Kinerja keuangan perusahaan memang berpeluang membaik apabila kompetisi olahraga digelar kembali kelak. Namun, kita belum tahu kapan hal itu akan terjadi.

Setelah kinerja membaik pun, perusahaan belum tentu akan membagikan dividen bagi para pemegang saham (mengingat perusahaan selama ini juga tidak pernah memberikan dividen). Dengan demikian, saham BOLA lebih cocok untuk trader spekulatif daripada investor jangka panjang.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait