Analisa Saham

Saham IPO yang Tengah Naik Daun

IPO Stocks

Saat ini selain saham di sektor teknologi dan sektor kesehatan, saham-saham IPO juga menjadi incaran para investor. Terlihat dari total penghimpunan dana lewat penawaran umum perdana saham atau IPO di semester I-2021 mencapai Rp7,61 triliun.

Para investor mengincar saham-saham IPO karena mayoritas saham IPO berhasil mencapai Auto Reject Atas (ARA). Saham IPO belum memiliki harga yang terbentuk dengan stabil, sehingga kemungkinannya untuk mencapai ARA masih sangat tinggi bahkan hingga berhari-hari setelah melantai di bursa.

Batas ARA untuk saham IPO di hari pertama melantai adalah 70% untuk saham harga Rp50 – Rp200, 50% untuk yang kisaran Rp200 – Rp5.000, dan 40% untuk saham di atas Rp5.000.  Hal ini berpotensi memberikan keuntungan cukup menarik bagi investor.

Berikut adalah saham-saham yang baru saja IPO dalam dua bulan terakhir:

Kode Saham Sektor Harga Terakhir Rata-rata Volume Perdagangan(30 Hari Terakhir)
BUKA Teknologi Rp830/ lembar saham (-2,35% YTD) Rp1,9 T/hari
UVCR Teknologi Rp402/ lembar saham (+175,34% YTD) Rp12 M/hari
NICL Energi Rp154/lembar saham (+14,09% YTD) Rp66 M/hari
FLMC Perindustrian Rp420/lembar saham (+72,73% YTD) Rp829 M/hari
BMHS Kesehatan Rp995/ lembar saham (+20,61% YTD) Rp113 M/hari
IPAC Properti Rp184/ lembar saham (+15,72% YTD) Rp52 M/hari
MASB Keuangan Rp3.420/ lembar saham (-6% YTD) Rp5 M/hari
ARCI Energi Rp610/lembar saham (-18% YTD) Rp21 M/hari
TRUE Properti Rp725/lembar saham (+298,35% YTD) Rp8 M/hari
LABA Perindustrian Rp715/ lembar saham (+216,37% YTD) Rp5 M/hari
MGLV Non-primer Rp94/ lembar saham (-51% YTD) Rp13 Juta/hari

Keterangan: Harga per tanggal 18 Agustus 2021

Sentimen positif apa saja yang mempengaruhi saham-saham tersebut dan bagaimana prospek bisnis emiten tiap-tiap saham? Simak penjelasan lengkapnya.

Kode Saham Sektor Kinerja Saham & Prospek Kedepan
BUKA Teknologi Harga saham BUKA melemah 2,35% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp830 per lembar sahamnya;

Saham BUKA juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama 7 hari listing sebesar Rp1,9 triliun per harinya;

Bukalapak adalah perusahaan startup berstatus Unicorn yang pertama kali IPO di Asia Tenggara

Pendapatan perusahaan tumbuh pesat dalam 3 tahun terakhir, termasuk peningkatan bisnis di kala pandemi;

Walaupun masih rugi, namun angkanya kian menurun dan memiliki peluang pertumbuhan seiring animo masyarakat  pada sektor digital.

Kerugian yang kian menurun dalam tiga tahun terakhir;

Dana dari IPO akan digunakan sebagai modal kerja perusahaan serta entitas anak usaha untuk prospek yang lebih maju kedepannya.
UVCR Teknologi Harga saham UVCR melesat 175,34% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp402 per lembar sahamnya;

Saham UVCR juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama 15 hari listing sebesar Rp12 miliar per harinya;

Ada sejumlah sentimen positif bagi UVCR, antara lain:
Riset Bain & Company dan Facebook 2020 memprediksi sektor belanja online Indonesia akan tumbuh 3,7 kali lipat menjadi US$48,3 miliar pada 2025 dibanding US$13,1 miliar pada 2017. Pendorongnya adalah peningkatan kemampuan daya beli masyarakat dan akses internet yang semakin meluas. Potensi perkembangan sektor belanja online Indonesia ini dapat melanggengkan upaya UVCR untuk mengakuisisi merchant baru, serta menambah channel dan mitra distribusi voucher.

UVCR telah mencetak laba dan arus kas positif per akhir tahun 2020 lalu. Laba neto mencapai Rp1,58 miliar per 31 Desember 2020, atau tumbuh 440,65% dibandingkan perolehan Rp291,54 juta per 31 Desember 2019. Ini merupakan nilai plus bagi sebuah startup bidang jasa teknologi yang baru berdiri tahun 2017.
NICL Energi Harga saham NICL melesat 14,09% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp154 per lembar sahamnya;

Saham NICL juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama bulan Juli 2021 sebesar Rp66 miliar per harinya;

Ada sejumlah sentimen positif yang berpotensi mendongkrak harga saham ini, antara lain;

Tren bullish harga komoditas nikel dunia yang telah berlangsung sejak kuartal II/2020 hingga tahun 2021 ini.

Permintaan nikel global kemungkinan akan terus meningkat, karena nikel termasuk komponen vital dalam pembuatan besi baja untuk kebutuhan berbagai industri dan baterai lithium-ion untuk mobil listrik.

NICL telah memetik laba bersih sebesar Rp31,58 miliar pada akhir 2020 berkat kenaikan penjualan domestik dan harga nikel. Perusahaan berpotensi panen lagi jika kenaikan berlanjut.

NICL masih punya banyak area potensi nikel sesuai Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dimiliki perusahaan dan anak usahanya. Total area potensi nikel NICL seluas 198 ha, terdiri atas 47 ha berstatus tertambang dan sisanya belum digarap. Sedangkan area potensi nikel anak usahanya, PT Indrabakti Mustika (IBM), seluas 450 ha; terdiri atas area tertambang 15 ha dan area yang belum ditambang 435 ha.
FLMC Perindustrian Harga saham FLMC melesat 72,73% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp420 per lembar sahamnya;

Saham FLMC juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama bulan Juli  2021 sebesar Rp829 miliar per harinya;

Sejumlah sentimen positif dari segi fundamental, antara lain:Pandemi membuat masyarakat semakin sadar hygiene, sehingga permintaan atas produk alat kebersihan pribadi berpotensi terus meningkat.

Permintaan perlengkapan medis pun kemungkinan tetap tinggi di tengah situasi pandemi yang berkepanjangan.

FLMC telah menjangkau pasar dalam dan luar negeri. Tisu FLMC bukan hanya laris di Indonesia, melainkan juga sudah masuk ke pasar Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Hong Kong, Jepang, Australia, Turki, Afrika, dan Kanada. Selama 10 tahun terakhir, FLMC telah berperan sebagai supplier tisu basah, alcohol wipes, dan serbet multiguna bermerek Indomaret dan Larisst untuk lebih dari 17.000 outlet Indomaret dan Indogrosir yang tersebar di seluruh Indonesia.

Perusahaan baru saja meneken Perjanjian Fasilitas Kredit dengan PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) senilai Rp15 miliar untuk mendukung permintaan rutin ini.
BMHS Kesehatan Harga saham BMHS melesat 20,61% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp995 per lembar sahamnya;

Saham BMHS juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama bulan Juli  2021 sebesar Rp113 miliar per harinya;

BMHS memiliki strategic partnership dengan Northstar Pacific (Perusahaan investasi milik Patrick Walujo). Dimana kerjasama strategic partnership tersebut sudah dimulai sejak BMHS menandatangani perjanjian penerbitan obligasi konversi yaitu sejak tanggal 8 Maret 2021.
IPAC Properti Harga saham IPAC melesat 15,72% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp184 per lembar sahamnya;

Saham IPAC juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama bulan Juli  2021 sebesar Rp52 juta per harinya;

IPAC merupakan perusahaan yang bergerak dalam waralaba dan jasa agen real estate pertama yang terdaftar di BEI.

IPAC akan menggunakan dana setelah IPO untuk memperkuat existing brand Era Graharealty, merekrut software engineer untuk pengelolaan IT System menjadi lebih efisien, dan untuk mengembangkan kerjasama dengan developer besar nasional untuk memasarkan proyek-proyek propertinya.
MASB Keuangan Harga saham MASB melemah 6% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp3.420 per lembar sahamnya;

Saham MASB juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama bulan Juli  2021 sebesar Rp5 miliar per harinya;

Dalam 1 bulan terakhir di bulan Juli kemarin total volume perdagangan saham MASB mencapai 317.557, dan terdapat peningkatan aktivitas volume transaksi pada saham MASB dari bulan sebelumnya yang tercatat 14.183 atau ada peningkatan sebesar 2.238% MoM.

MASB merupakan bank digital milik Wings Group, dengan ekosistem dari Wings group maka MASB berpotensi untuk menjadi bank digital yang kuat secara fundamental. Layanan digitalisasi yang disediakan antara lain adalah online banking, mobile banking, QRIS, virtual account, online onboarding, hingga fasilitas pinjaman online pada mobile banking-nya.
ARCI Energi Harga saham ARCI melemah 18% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp610 per lembar sahamnya;

Saham ARCI juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama bulan Juli  2021 sebesar Rp21 miliar per harinya;

ARCI merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang pertambangan mineral yaitu emas dan perak. Pemerintah Indonesia resmi membebaskan pungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas emas granula dan berlaku pada tanggal 28 Juli 2021.

Dengan adanya sentimen tersebut tentu akan positif sekali untuk emiten emas dalam kegiatan operasionalnya karena biaya produksi bisa lebih efisien. Jika biaya produksi rendah maka berpotensi untuk lebih mempertebal marginnya.
TRUE Properti Harga saham TRUE melesat 298,35% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp725 per lembar sahamnya;

Saham TRUE juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama bulan Juli  2021 sebesar Rp8 miliar per harinya;

Dalam 1 bulan terakhir di bulan Juli kemarin total volume perdagangan saham TRUE mencapai 2.769.446, dan terdapat peningkatan aktivitas volume transaksi pada saham TRUE dari bulan sebelumnya yang tercatat 434.794 atau ada peningkatan sebesar 636% MoM.

Stimulus dari pembebasan PPNBM (Pajak penjualan atas barang mewah) dan juga DP (Down Payment) 0% menjadi katalis positif untuk PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE) yang merupakan salah satu pengembang properti.

Sepanjang tahun 2021 ini, TRUE optimis bahwa penjualan nya dapat tumbuh hingga 10-15%. Salah satu proyek yang dimilikinya adalah The Smith yang berlokasi di Tangerang, Banten. The Smith sendiri memiliki total 652 unit yang terdiri dari 100 unit small office home office (SOHO), 112 unit perkantoran, dan sisanya 440 unit residential.
LABA Perindustrian Harga saham LABA melesat 216,37% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp715 per lembar sahamnya;

Saham LABA juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama bulan Juli  2021 sebesar Rp5 miliar per harinya;

Dalam 1 bulan terakhir di bulan Juli kemarin total volume perdagangan saham LABA mencapai 3.573.982, dan terdapat peningkatan aktivitas volume transaksi pada saham LABA dari bulan sebelumnya yang tercatat 1.891.980 atau ada peningkatan sebesar 188% MoM.

PT Ladangbaja Murni Tbk (LABA) akan menggunakan dana hasil IPO nya untuk renovasi dan peremajaan mesin pada gudang yang dimilikinya di Cibitung.
LABA optimis bahwa peremajaan tersebut dapat meningkatkan kinerja operasional karena akan meningkatkan kapasitas produksinya, dan kualitas produksinya.

Potensi prospek bisnis LABA kedepan juga masih positif dimana industrinya sendiri adalah industri mould, spare part turunan baja dan juga plastic injection mould dengan pasar yang sangat menarik di Indonesia.
MGLV Non-primer Harga saham MGLV melemah 51% sejak awal melantai hingga tanggal 18 Agustus 2021 pada harga Rp94 per lembar sahamnya;

Saham MGLV juga tergolong likuid dengan rata-rata volume perdagangan selama bulan Juli  2021 sebesar Rp13 juta per harinya;

PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) merupakan emiten yang bergerak di bidang perdagangan besar peralatan dan perlengkapan rumah tangga. MGLV dikenal juga dengan mereknya Magran Living.

Melihat trend dan arah pemulihan ekonomi Indonesia yang semakin hari semakin membaik, tentunya harapan untuk tingkat konsumsi masyarakat semakin tinggi sehingga potensi kedepan nya untuk MGLV ini bisa lebih positif lagi.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait