Investasi, Saham

Auto Rejection Terbaru Mengincar Minat Investor Milenial

Ajaib.co.id – Bagi para investor milenial yang lagi semangat-semangatnya berinvestasi di pasar saham, pasti cepat atau lambat akan bertemu dengan kata yang keren ini: auto rejection.

Wah, kok bisa gitu? Mau investasi kok malah ditolak? Apanya saham sih yang bisa “otomatis ditolak”?

Ketidakwajaran Nilai

Yup, ternyata harga saham itu ada “pawangnya”, sehingga tidak bisa semena-mena bergerak “liar”. Jadi, auto rejection adalah penolakan secara otomatis dalam batas maksimum dan minimum terhadap laju kenaikan dan penurunan harga suatu saham, yang bertujuan menjaga perdagangan saham tetap berada dalam ambang kewajaran.

Konsekuensi Auto Rejection pada Saham

1. Auto rejection yang terjadi pada suatu saham dengan laju kenaikan terlalu tinggi akan mengakibatkan terhentinya aktivitas penawaran jual (offer) atas saham tersebut.

2. Auto rejection terjadi pada suatu saham dengan laju penurunan drastis akan mengakibatkan terhentinya aktivitas penawaran beli (bid) atas saham tersebut.

Regulasi Auto Rejection

Terakhir kali Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan skema auto rejection JATS (Jakarta Automated Trading System) adalah pada Januari 2016 lalu. Penetapan tersebut dilakukan berdasarkan surat keputusan Direksi BEI nomor 00113/BEI.12-2016.

Melalui regulasi ini, BEI menentukan batas atas dan bawah bagi laju kenaikan dan penurunan harga saham.

3 Kelompok Batasan Auto Rejection

1. Batas 35%

Apabila kenaikan atau penurunan harga jenis saham dengan range harga Rp50 – Rp200,- melampaui angka 35%, maka akan terkena auto reject.

2. Batas 25%

Apabila kenaikan atau penurunan harga jenis saham dengan range harga Rp200 – Rp5.000,- melampaui angka 25%, maka akan terkena auto reject.

3. Batas 20%

Apabila kenaikan atau penurunan harga jenis saham dengan harga di atas Rp5.000,- melampaui angka 20%, maka akan terkena auto reject.

Batasan Auto Rejection Khusus Saham IPO

Mendapatkan pengecualian, harga saham yang ditawarkan dalam Initial Public Offering (IPO) diperbolehkan melaju naik atau turun dengan batasan yang lebih “lebar”:

1. Batas 70%

Apabila kenaikan atau penurunan harga jenis saham dengan range harga Rp50 – Rp200,- melampaui angka 70%, maka akan terkena auto reject.

2. Batas 50%

Apabila kenaikan atau penurunan harga jenis saham dengan range harga Rp200 – Rp5.000,- melampaui angka 50%, maka akan terkena auto reject.

3. Batas 40%

Apabila kenaikan atau penurunan harga jenis saham dengan harga di atas Rp5.000,- melampaui angka 40%, maka akan terkena auto reject.

Karakter Khas Perdagangan Saham Indonesia

Pasar Indonesia selalu langsung tergila-gila, percaya dan menaruh harapan tinggi pada hal baru, tapi cepat bosan dengan hal-hal yang telah lama dikenal. Karakter khas itu merata terasa di segala jenis pasar, mulai dari pasar produk FMCG, fashion, kuliner-kafe, hingga saham.

Legacy bukanlah nilai jual yang “sexy”. Di Indonesia, harga saham pendatang baru (IPO) biasanya akan langsung melejit menyentuh batas atas auto rejection, dan bisa terus berlangsung berhari-hari.

“Euphoria barang baru”, itulah karakter khas pasar Indonesia.

Auto Rejection sebagai Faktor Penarik Minat

Bursa Efek Indonesia menggalakkan kampanye “Yuk Nabung Saham” dalam 4 tahun terakhir, yang mengajak masyarakat menjadi investor rutin di pasar saham. Tujuan gerakan yang diluncurkan pada 15 November 2015 ini adalah menggaet investor milenial.

Gerakan ini memang berdampak meningkatkan jumlah investor. Dari publikasi Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang mendata Single Investor Identification (SID), per akhir 2018 tercatat ada 1,62 juta investor di pasar modal Indonesia (meliputi saham, reksa dana, obligasi, dan pemegang warkat).

Dibandingkan tahun 2017, terjadi peningkatan 44,6%. Namun angka ini dianggap kecil karena rasionya hanya 0,65% dari jumlah total penduduk yang 250.000.000 orang.

Teka-teki Minat Investasi Saham

Apa penyebab tetap rendahnya jumlah investor pasar saham Indonesia?

Salah satu analisanya adalah, pergerakan harga saham di pasar saham Indonesia seringkali “liar”, sehingga membuat investor milenial enggan berinvestasi. Namun batasan auto rejection di negara maju seperti Amerika, atau negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia, juga tidak jauh berbeda dari Indonesia.

Mungkin ada satu faktor lagi yang berpotensi ikut mempengaruhi. Investasi saham adalah investasi yang “cerdas”, karena membutuhkan tingkat literasi yang cukup tinggi untuk bisa membaca, mencerna dan menganalisa berbagai jenis data angka, info makroekonomi, ataupun sentimen pasar.

Berdasarkan data The World’s Most Literate Nations (WMLN) 2016, tingkat literasi masyarakat Amerika Serikat berada di peringkat ke-7, sementara Singapura ke-36, Malaysia ke-53, Thailand ke-59, dan Indonesia ke-60. Tampaknya akan lebih mudah bagi kaum milenial di Amerika Serikat untuk menggeluti investasi pasar saham, dibanding negara lain yang kemampuan literasinya masih lebih rendah.

Khusus dalam konteks auto rejection, mengingat jumlah investor pasar saham Indonesia yang masih kecil, regulasi mengenai batasannya tampaknya memang harus segera ditata-ulang. Strategi ini diharapkan mampu mengendalikan dan mengarahkan “kelakuan” pasar saham Indonesia yang “euforia barang baru” ke sentimen pasar yang lebih sehat dan cerdas.

Wacana “Gas-Rem”Auto Rejection

Inarno Djajadi sebagai Direktur Utama BEI pernah melontarkan wacana revisi batasan auto rejection pada Februari 2019, menyusul rencana mengubah nilai terendah harga saham menjadi di bawah level Rp50,- seperti saat ini, tapi belum ada angka pastinya.

BEI akan melakukan pengkajian ulang tentang batasan auto rejection terhadap saham-saham baru yang sedang Initial Public Offering (IPO) karena sering terjadinya lonjakan harga hingga batas atas auto rejection-nya di hari pertama perdagangan sampai hari-hari berikutnya, sehingga dinilai tidak wajar.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono W Widodo menegaskan, pihaknya sedang meninjau kembali apakah fleksibilitas batas atas dan bawah auto rejection saham IPO yang saat ini dua kalinya saham-saham non-IPO patut dipertahankan, atau justru disamaratakan, untuk memberikan peluang yang sama dalam menarik minat investor.

Nah, ternyata nggak perlu gentar “ditolak” kan, jika bertemu si auto rejection ini, karena yang ia tolak justru semua bentuk ketidakwajaran nilai yang mungkin terjadi pada investasi saham, dan menjadi sahabat terbaik para investor.

Bacaan menarik lainnya:

Abdul, Wahab. (2012). Pengantar Ekonomi Makro, Samata:Alauddin University Pers


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait