Analisa Saham

Bedah Saham ASRM: Emiten Asuransi Ramayana

Sumber: Asuransi Ramayana

Ajaib.co.id – PT Asuransi Ramayana Tbk (kode saham ASRM) saat ini adalah perusahaan yang bergerak dalam bisnis asuransi kerugian saja. Pendapatan yang masuk lainnya berasal dari persewaan gedung kantor dari antar segmen sehingga pemasukan dari sewa gedung kantor dieliminasi.

Perusahaan telah berdiri sejak tahun 1956 dan memiliki kantor pusat dan kantor unit yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia seperti di Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Semarang, Malang, Jember, Denpasar, Medan, Batam, dan lain sebagainya.

Pada tahun 1990 perusahaan melakukan penawaran saham perdananya di papan pengembangan bursa dengan kode saham ASRM. Dengan jumlah saham beredar sebanyak 304.283.840 lembar di harga Rp 1490, kapitalisasi saham ASRM adalah sebesar Rp 453,38 Miliar.

Berikut rincian para pemegang saham Asuransi Ramayana TBK (ASRM) dengan kepemilikan diatas 5% dari jumlah saham beredar; Syahril (31%), A Winoto Doeriat (19.17%), Masyarakat (17.87%), Wirastuti Puntaraksma, S. H. (11.39%), PT Ragam Venturindo (10.57%), Korean Reinsurance Company (10%).

Ulasan Laporan Keuangan Terakhir

2020 2019
Pendapatan Premi  1,32 triliun 1,17 triliun
Klaim neto 724,3 miliar 614,6 miliar
Hasil Underwriting  309,12 miliar  334,87 miliar
Hasil Investasi  29,95 miliar  24,78 miliar
Pendapatan Usaha 339 miliar  359,65 miliar
Laba Bersih  65,5 miliar  62,8 miliar
  • Pendapatan premi

Adapun pendapatan premi per FY 2020 adalah sebesar Rp 1,32 triliun, naik 12,82% dari sebelumnya Rp 1,17 triliun di tahun 2019. Setelah dikurangi beban underwriting dan premi reasuransi, hasil underwriting yang didapat adalah sebesar Rp 309,12 miliar, turun dari sebelumnya Rp 334,87 miliar per tahun 2019.

Yang menarik adalah Premi Bruto emiten sama besar dengan pendapatan premi, hal ini menandakan bahwa tidak ada masalah dalam hal penagihan pembayaran premi sehingga tidak ada tutup polis.

Biasanya Premi bruto umumnya selalu lebih besar dari nilai pendapatan premi karena perhitungan Premi Bruto adalah dengan memasukkan keuntungan dari penutupan polis diakibatkan nasabah telat membayar premi, atau lain sebagainya.

Sebagai informasi segmen usaha ASRM hanya berasal dari asuransi kerugian saja dengan jumlah nasabah yang terbatas sehingga proses penagihan pembayaran premi tidak menjadi masalah.

  • Pendapatan Usaha dan Laba Bersih

Selain itu pendapatan juga datang dari kegiatan investasi yang menghasilkan hasil investasi sebesar Rp 29,95 miliar. Dengan demikian per tahun 2020, pendapatan usaha emiten mencapai Rp 339 miliar. Sedikit lebih rendah dibandingkan sebelumnya di tahun 2019 yakni Rp 359,65 miliar.

Adapun laba bersih yang berhasil dicatatkan adalah Rp 65,5 miliar. Naik tipis dibanding sebelumnya di tahun 2019 yakni hanya sebesar Rp 62,8 miliar.

  • Klaim

Per tahun 2020 total klaim yang terjadi mencapai Rp 878,56 miliar namun di-cover oleh klaim reasuransi emiten sebesar Rp 154,24 miliar dan menyisakan klaim neto yang mesti ditanggung sendiri oleh emiten sebesar Rp 724,3 miliar.

Klaim yang mesti ditanggung sendiri oleh emiten nilainya cukup besar dibandingkan dengan pendapatan preminya. Berikut rasio-rasio yang dapat disampaikan;

  2020 2019
Own Retention 89,11% 81,01%
Investment Yield 7,86% 6,40%
Underwriting Ratio 9,69% 7,40%
DER 201,39% 249,21%
RBC 38,01% 37,26%
Loss Ratio 48,76% 41,84%
  • Reasuransi Bernilai Kecil

Rasio-rasio yang didapat di atas menunjukkan Retensi Sendiri sebesar 89,11% yang menandakan kecilnya reasuransi emiten dan sebagian besar klaim yang diajukan nasabah ditanggung sendiri. Sebagai informasi perusahaan asuransi juga membeli asuransi agar risiko yang diambil alih oleh mereka dibagi juga ke perusahaan asuransi lain. Hal ini dinamakan reasuransi. Dengan adanya reasuransi maka risiko terjadinya gagal bayar klaim bisa ditekan.

Reasuransi yang rendah akan membuat emiten punya kemampuan untuk menjual premi di harga rendah. Semestinya ini bisa menjadikan emiten punya daya saing sehingga emiten bisa lebih selektif dalam proses underwriting.

Adapun Loss Ratio alias rasio kerugian emiten berada di angka 48,76% padahal angka Loss Ratio yang dianjurkan OJK adalah maksimal 20% saja. Hal ini berarti telah ada klaim yang terjadi yang melebihi kemampuan emiten.

  • Rawan Gagal Bayar

Tercatat ASRM memiliki rasio utang per ekuitas (DER) sebesar 201%, batas maksimal yang dianjurkan adalah 100% saja. Lebih dari itu maka emiten dikhawatirkan mengalami masalah pada kesehatan keuangannya. Nasabah juga patut cemas karena rasio RBC saham ASRM berada di bawah yang dianjurkan.

Rasio RBC dalam hal ini diperoleh dengan membagi aset yang diperkenankan dikurangi dengan seluruh kewajiban alias ekuitas dengan premi neto yang merupakan jumlah dana yang dibutuhkan untuk menutup risiko kerugian yang mungkin timbul.

Hal ini tunduk pada pasal 2 Keputusan Menteri Keuangan No. 424/KMK.06/2003 tentang kesehatan Perusahaan Asuransi dan perusahaan Reasuransi. RBC dari ASRM adalah sebesar 38,01%, jauh di bawah batas minimum yang dianjurkan pemerintah yakni 120%.

Rasio solvabilitas ini akan mengukur seberapa besar kemampuan keuangan perusahaan asuransi kerugian dalam mendukung kewajiban yang mungkin timbul dari penutupan risiko yang telah dilakukan.

Singkat kata rasio ini mengukur seberapa kuat perusahaan asuransi menghindari gagal bayar klaim nasabah. Semakin besar rasio ini semakin baik, yang dianjurkan pemerintah adalah minimal 120%.

Riwayat Kinerja

  • Pendapatan Premi
Pendapatan Premi Laba Bersih NPM
2017  983,46 miliar  60,92 miliar 6,19%
2018  1,13 triliun  76,59 miliar 6,77%
2019  1,17 triliun  62,86 miliar 5,34%
2020  1,32 triliun  65,54 miliar 4,95%

Premi yang berhasil didapat emiten saham ASRM setiap tahunnya meningkat dari Rp983 miliar di 2017 dan akhirnya menjadi Rp 1,32 triliun di 2020. Sayangnya laba bersih tidak dalam tren naik, berkisar di angka 60-70-an miliar naik-turun tidak stabil dari tahun ke tahun. Marjin laba bersih yang diperoleh juga tergolong minim yaitu sebesar 4-6% saja setiap tahunnya.  

Berikut rasio keuntungan per kegiatan usaha yang dapat disampaikan;

  Underwriting Investasi Pendapatan Usaha
2017  767,17 miliar 47,57 miliar 814,75 miliar
2018  971,23 miliar 40,72 miliar 1,01 triliun
2019  334,87 miliar 24,78 miliar 359,65 miliar
2020  309, 12 miliar 29,95 miliar 339 miliar

Boleh dikatakan emiten sedang berada dalam krisis underwriting karena hasil underwriting yang terus menurun setiap tahunnya. Kegiatan underwriting adalah pencarian nasabah sambil menyeleksi kelayakan nasabah untuk mengikuti program asuransi. Hasil underwriting emiten berangsur-angsur turun terus hingga hanya Rp309,12 miliar saja di tahun 2020.

Hal ini tidak sejalan dengan pendapatan premi yang terus meningkat. Berarti masalah ada pada pengelolaan beban underwriting yang terus membesar melebihi pertumbuhan premi yang masuk.

Dari sisi investasi juga tidak banyak membantu karena bernilai kecil saja, itu pun terus mengecil. Alhasil pendapatan usaha yang terdiri dari kegiatan underwriting dan investasi nilai terus menurun.

Berikut rasio kegiatan usaha yang dapat disampaikan:

Investment Yield Underwriting Ratio
2017 11,92% 78,01%
2018 10,05% 85,87%
2019 6,40% 7,40%
2020 7,86% 9,69%

Investment yield adalah hasil investasi dibandingkan dengan jumlah investasi sedangkan rasio underwriting adalah rasio yang membandingkan hasil underwriting dengan pendapatan premi.

Kedua kegiatan utama emiten ini nampaknya mengalami masalah sejak tahun 2019 karena beban-beban yang timbul mendadak membesar dan ksehatan keuangan emiten:

Loss Ratio RBC DER
2017 36,85% 45,42% 298,13%
2018 34,65% 43,32% 264,23%
2019 41,84% 37,26% 249,21%
2020 48,76% 38,01% 201,39%
  • Loss Ratio/Rasio Kerugian

Rasio kerugian adalah rasio yang membagi klaim yang terjadi dengan pendapatan premi. Rasio ini akan memperlihatkan kepiawaian perusahaan asuransi dalam proses seleksi nasabah.

Jika kamu belum tahu, tidak semua orang yang mau berasuransi bisa masuk ke dalam kategori layak asuransi tergantung dari usia, pekerjaan, riwayat kesehatan dan lainnya.

Dengan melakukan reasuransi emiten dapat memperkecil nilai klaim yang mesti ditanggungnya sendiri. Reasuransi emiten saham ASRM sendiri nilainya kecil, tidak banyak membantu emiten dalam menanggung jumlah klaim yang terjadi.

Adapun Rasio Kerugian emiten berada di atas 20% yang merupakan ambang yang ditetapkan.

Rasio kerugian emiten ada di kisaran 30-40an persen setiap tahunnya. Menandakan adanya seleksi  nasabah yang longgar, seleksi nasabah yang tidak semestinya menyebabkan banyak terjadi klaim dan mengakibatkan rasio kerugian membengkak.

  • RBC

Hal ini diperparah  dengan kecilnya rasio RBC di bawah batas minimal yang dianjurkan. Adapun batas minimal yang dianjurkan adalah sebesar 120%, sedangkan RBC dari ASRM hanya sekitar 30-an sampai 40-an persen setiap tahunnya.

Rasio ini menghitung seberapa kuat perusahaan asuransi dalam menanggung risiko klaim yang terjadi. Semakin kecil maka semakin rawan emiten dalam memenuhi kewajibannya dan menghindari gagal bayar klaim.

  • Rasio Utang per Ekuitas (DER)

Rasio DER mengukur kemampuan emiten dalam memenuhi kewajibannya membayar utang. Adapun DER emiten kini sebesar 201%, sedangkan batas maksimal yang dianjurkan adalah sebesar 100% saja. Namun ada yang menarik yakni tren turun yang diperlihatkan emiten dalam memenuhi kewajibannya.

Setiap tahunnya rasio DER emiten ternyata berangsur-angsur membaik dari semula 298% di tahun 2017 menjadi 264% di 2018. Tak berhenti sampai di sana di tahun 2019 rasio DER turun kembali menjadi 249% dan terus menguat ke 201% di tahun 2020. Jika tren ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin suatu saat rasio DER emiten akan berada di bawah 100%.  

Kesimpulan

ASRM adalah perusahana asuransi yang sumber pendapatannya hanya dari asuransi kerugian saja. Nilai pendapatan premi setiap tahun terus meningkat namun sejak tahun 2019 beban underwriting juga meningkat dan menyisakan marjin underwriting yang lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya.

Pendapatan usaha dari sisi investasi pun melemah, hal ini tidak menjadi soal karena pendapatan usaha utama emiten adalah dari kegiatan underwriting-nya. Klaim yang terjadi, meski sudah ditutup oleh reasuransi tetap masih saja besar, menghasilkan Rasio Kerugian mencapai 48% di tahun 2020. Di atas batas yang dianjurkan.

Rasio DER emiten berada di atas batas maksimal yang dianjurkan, namun berada dalam tren turun yang mana apabila terus berlanjut maka suatu hari bisa berada di level yang sehat. Rasio RBC emiten stabil di angka yang mengkhawatirkan. Emiten dikhawatirkan akan mengalami gagal bayar klaim karena angka RBC berada jauh di bawah batas minimal yang dianjurkan.

Emiten sebagai perusahaan asuransi berpengalaman yang sudah berdiri sejak 1956 memang telah tersohor dalam asuransi kerugian, itulah sebabnya pendapatan premi emiten terus meningkat padahal kegiatan marketing menurun.

Saran kepada emiten adalah untuk memperbesar reasuransi dan memperketat proses seleksi nasabah agar klaim yang terjadi bisa ditekan nilainya. Dan dengan reasuransi yang lebih besar tentu akan sangat membantu emiten dalam memenuhi kewajibannya dalam membayar klaim.

Disclaimer: Penyebutan saham dan analisis dalam artikel ini bukan rekomendasi. Segala posisi transaksi yang diambil oleh pembaca berkaitan dengan saham yang disebutkan tidak akan mengikat penulis secara hukum. Penulis tidak memiliki saham yang disebutkan sehingga analisis bebas dari bias. Pembaca diharapkan melakukan analisis lanjutan terkait segala posisi transaksi yang diambil atas saham yang disebutkan setelah membaca artikel ini.

Artikel Terkait