Analisa Saham

Ada Rencana Buyback Saham RALS, Ini Dampaknya untuk Bisnis

Ajaib.co.id – PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) berdiri pada tanggal 14 Desember 1983. Perusahaan memulai operasi secara komersial pada tahun 1983.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan dipaparkan ruang lingkup kegiatan bisnis dari RALS yakni, perdagangan umum. Dengan menjual berbagai macam barang berupa pakaian, aksesoris, tas, sepatu, kosmetik dan produk-produk kebutuhan sehari-hari melalui gerai serba ada Ramayana Supermarket (Department Store).

Selain itu, emiten berkode saham RALS ini pun menjalin kerja sama dengan Spar International. Yakni, sebuah jaringan retail dan franchise multinasional Belanda yang mempunyai sekitar 12.500 toko di 35 negara di seluruh dunia. Setiap gerai hasil kerja sama dengan Spar akan menggunakan nama SPAR Supermarket.

Pada tanggal 26 Juni 1996, RALS mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK. Pernyataan ini untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham RALS (IPO) kepada masyarakat sebanyak 80.000.000 dengan nilai nominal Rp500 per saham dan harga penawaran Rp3.200 per saham. Saham-saham tersebut tersebut pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 24 Juli 1996.

Apakah saham ini masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham RALS

Kinerja RALS di 2020 Lesu

Dilansir dari kontan.co.id, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) mencatatkan kinerja bisnis yang kurang memuaskan hingga kuartal III 2020. RALS memperoleh total pendapatan bersih Rp1,9 triliun. Angka ini turun 56,88% secara year on year (yoy).

Selain penurunan pendapatan, perseroan juga harus menanggung rugi tahun berjalan hingga Rp95,22 miliar. Padahal berkaca dari kuartal yang sama tahun 2019, emiten ritel ini masih mencatatkan laba tahun berjalan hingga Rp612,42 miliar.

Laporan keuangan di kuartal III 2020 RALS membukukan rugi bersih hingga Rp99,1 miliar. Kerugian ini pun membengkak bila dibandingkan kuartal II 2020 yang mencapai Rp9,5 miliar. Padahal di kuartal III tahun 2019, RALS berhasil meraup laba hingga Rp22,6 miliar. 

Kerugian yang sudah dipikul perusahaan ini pun diperberat oleh rugi operasional yang mencapai Rp146,9 miliar di kuartal III 2020. Jumlah kerugian operasional yang ditanggung itu meningkat dibanding kuartal sebelumnya yang tercatat Rp16 miliar. 

Adapun kerugian yang semakin dalam ini disebabkan oleh biaya penjualan yang secara kuartalan (qoq) meningkat 122% karena penerapan PSAK 73. Kendati demikian, RALS masih mampu membukukan penurunan opex hingga 28,2% yoy. 

Untuk terjadinya bottom line yang tertekan itu tak terlepas dari pendapatan RALS yang menurun dalam. Pendapatan RALS tertekan karena adanya pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan pelemahan daya beli konsumen RALS yang sebagian besar berpendapatan rendah.

Meskipun ada bantuan dari pemerintah, pelanggan RALS biasanya berbelanja saat momentum Lebaran. Namun, karena kondisi tekanan ekonomi dan daya beli masyarakat yang rendah, momen Lebaran tersebut tak mampu berkontribusi apapun pada perusahaan.

Laba Bisnis RALS Meningkat Terus 3 Tahun Terakhir

Sebelum adanya situasi pandemi covid-19, emiten peritel, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) secara bisnis selalu mencatatkan laba sejak tahun buku 2017 hingga 2019. Namun mengalami kerugian pada kuartal 3 2020 karena terdampak penurunan daya beli masyarakat di tengah pandemi.

Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam jutaan rupiah):

Dari data tersebut, secara penjualan beli putus RALS memang dalam kondisi yang stabil di angka sekitar Rp4 triliun. Sementara itu, dari sisi laba tahun berjalan, perusahaan justru mampu memperoleh kenaikan setiap tahunnya. Artinya selama tiga tahun terakhir, RALS mampu mengefisienkan beban perusahaan.

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) meraup pendapatan Rp5,59 triliun hingga periode 31 Desember 2019. Capaian ini termasuk turun dari pendapatan Rp5,74 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Menurut laporan keuangan perseroan di Keterbukaan Informasi BEI, menyebutkan laba bruto (kotor) turun jadi Rp2,49 triliun dari laba bruto Rp2,51 triliun tahun 2018. Laba usaha juga ikut turun menjadi Rp581,55 miliar dari laba usaha Rp606,95 miliar.

Sementara itu, laba sebelum pajak meningkat jadi Rp733,16 miliar dari laba sebelum pajak Rp717,17 miliar. Penurunan ini disebabkan salah satunya karena kenaikan pendapatan keuangan jadi Rp186,90 miliar dari Rp134,79 miliar.

Sedangkan untuk laba tahun berjalan tercatat Rp647,89 miliar naik dari laba tahun berjalan Rp587,11 miliar tahun sebelumnya. Adapun total aset perusahaan mencapai Rp5,65 triliun hingga periode 31 Desember 2019. Total aset ini terhitung naik dari total aset Rp5,24 triliun hingga periode 31 Desember 2018.

Sebelumnya, Mirae Asset Sekuritas sudah memprediksi pertumbuhan penjualan toko atau same store sales growth emiten ritel PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) melemah sepanjang tahun 2019. Prediksi tersebut keluar mengingat adanya pelambatan ekonomi di sejumlah kota-kota besar di Indonesia. Karena menjelang Pemilihan Umum Presiden dan gelombang demonstrasi yang terjadi tahun 2019.

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis RALS selama 3 tahun ke belakang sebelum pandemi sedang cukup sehat. Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Bagaimana Prospek Bisnis MPPA ke Depannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

Mengutip dari cnbcindonesia.com, RALS sudah memiliki rencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback saham pada April 2020 ini. Berdasarkan informasi dari keterbukaan informasi kepada pemegang saham perusahaan, Senin (8/3), RALS berencana membeli kembali sebanyak-banyaknya 5% atas sejumlah modal disetor perseroan atau maksimum sebanyak 354,8 juta (354.800.000) saham.

Perkiraan biaya yang akan dikeluarkan untuk aksi buyback saham ini sebanyak-banyaknya sekitar Rp350 miliar. Biaya tersebut sudah termasuk biaya perantara pedagang efek serta biaya lainnya yang berkaitan dengan pembelian kembali saham perseroan.

Rencananya buyback saham ini akan dilaksanakan setelah RALS mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham lewat rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 14 April 2021 mendatang. Untuk, periode pelaksanaan buyback akan dilaksanakan dalam waktu paling lama 18 bulan setelah tanggal persetujuan RUPSLB.

Lalu apa tujuan dari aksi buyback saham ini? Pihak manajemen RALS sudah menjelaskan kalau pembelian kembali saham perusahaan dilakukan untuk meningkatkan nilai pemegang saham. Hal ini dilakukan dengan mengembalikan arus kas kepada para pemegang saham perusahaan.

Hal ini juga mempertimbangkan kemampuan RALS yang sudah mencetak laba pada tahun-tahun sebelumnya. Walaupun perseroan membukukan kerugian pada tahun 2020 akibat dampak Covid-19 yang juga menghantam sektor ritel dan mal.

Selain itu, persetujuan atas rencana buyback saham ini akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi perusahaan dalam mengelola modal untuk mencapai struktur permodalan yang lebih efisien.

Adapun pelaksanaan rencana pembelian kembali saham perseroan tidak akan memengaruhi pembiayaan kegiatan usaha perusahaan. Karena RALS mempunyai modal kerja dan arus kas yang cukup dan memadai untuk melaksanakan rencana tersebut, termasuk pembiayaan kegiatan usaha perseroan.

Sementara itu, dari sisi track deviden, RALS termasuk emiten yang rajin membagikannya kepada investor sejak 2017. Tren ini terhenti pada 2020, bila dilihat dari data RTI per 8 April ini. Tercatat besaran deviden pada 2017 Rp40, pada 2018 sebesar Rp50, dan pada 2019 sebesar Rp50.

Secara garis besar lewat adanya upaya penjualan saham kembali atau buyback saham memberikan angin segar untuk bisnis RALS ke depannya. Jika perseroan sudah memastikan diri akan melakukan aksi korporasi ini tentunya ada kans untuk koleksi saham yang baik dari RALS. Selain itu, fundamental perusahaan dan trek pembagian dividen bisa menjadi riwayat yang baik.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait