Analisa Saham

Saham TOYS Optimistis Tumbuh di Tahun 2021

saham-toys

Ajaib.co.id – PT Sunindo Adipersada, Tbk (TOYS) berdiri pada tahun 1991. Beroperasi sejak tiga dekade lalu, TOYS telah berkembang menjadi salah satu produsen mainan (boneka) premium di Indonesia.

TOYS memiliki pabrik yang berlokasi di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Bisnis TOYS terbagi dua kategori produk utama, yaitu produk Original Equipment Manufacture (OEM) dan produk merk sendiri. Pada Agustus 2020, saham TOYS resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan

Laporan Keuangan TOYS terakhir yang telah dipublikasikan adalah pada triwulan ke-2 tahun 2021. Pada triwulan ke-2 tahun 2021, laba TOYS turun dibandingkan periode sama tahun 2020. Hal ini tak terlepas dari penjualan dan pendapatan usaha TOYS yang juga menurun. Namun, TOYS berhasil menekan beban pokok penjualan dan pendapatannya.

 Komponen Laba Juni 2020 Juni 2021
Penjualan dan pendapatan usaha Rp73,3 miliar Rp64,6 miliar
Beban pokok penjualan dan pendapatan (Rp60,5 miliar) (Rp58,6 miliar)
Beban keuangan Rp1,8 miliar Rp1,7 miliar
Jumlah laba bruto Rp12,7 miliar Rp6,0 miliar
Jumlah laba (rugi) Rp1,7 miliar Rp480,2 juta

Riwayat Kinerja

Riwayat kinerja saham TOYS bisa ditelusuri dari Laporan Tahunan. Analisis secara vertikal menunjukkan bahwa pendapatan TOYS tahun buku 2020 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan ini pun berimbas pada laba periode berjalan.

Berikut adalah sejumlah elemen CAGR TOYS dalam kurun waktu tahun 2018–2020.

Komponen CAGR 2018-2020
Pendapatan -4,4%
Laba (Rugi) Periode Berjalan -90,2%
Jumlah Aset 164,6%
Total Ekuitas 418,7%

Dari catatan di atas, diketahui laba periode berjalan TOYS turun signifikan. Tapi, total aset dan ekuitas TOYS bertumbuh.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Saham TOYS belum memiliki catatan pembagian dividen karena baru listed pada Agustus 2020.

Tahun Dividen per Saham Jumlah yang dibayarkan (miliar)
2020

Prospek Bisnis TOYS

TOYS dikenal sebagai produsen boneka atau mainan berkualitas tinggi untuk merek-merek terkenal di berbagai negara. Jelas, segmen pasar TOYS cukup segmented.

Mainan atau boneka sendiri bukan merupakan kebutuhan primer. Tambah pula, pandemi Covid-19 turut memberi dampak pada industri mainan atau boneka. Kondisi ini membuat manajemen TOYS harus berpikir ekstra keras dan cerdas untuk menunjukkan kinerja positif.

Selama ini, TOYS memiliki reputasi cukup baik di mata para pelanggannya, baik dalam dan luar negeri. Hal ini tak terlepas dari bahan berkualitas terbaik pada produk-produk TOYS. Selain itu, TOYS juga mematuhi standar keselamatan produksinya secara ketat, termasuk hal-hal terkait regulasi ketenagakerjaan.

Menilik pencapaian kinerja saham TOYS beberapa tahun terakhir, pendapatan TOYS cenderung menurun. Meski begitu, manajemen TOYS tetap bisa membawa perusahaan mengeruk laba tahun lalu. Hal ini patut memperoleh apresiasi tersendiri mengingat sejumlah pelaku di banyak industri lainnya merugi imbas pandemi Covid-19.

Manajemen TOYS memasang target cukup ambisius di tahun ini, yakni pertumbuhan penjualan sekitar 15% dari tahun lalu. Tapi, TOYS masih mengerem ekspansi dan tidak mengalokasikan belanja modal di tahun ini.

Sampai sejauh ini, perlu terobosan kreatif dan inovatif dari manajemen TOYS agar target tersebut terealisasi. Harus diakui, meningkatkan pertumbuhan penjualan dua digit pada industri mainan atau boneka di tengah pandemi Covid-19 bukanlah pekerjaan mudah.

Tapi, TOYS tetap optimistis bisa mencapai target bisnisnya pada tahun ini. Demi mengejar target tersebut, TOYS tetap membuat berbagai sampel produk untuk dikirimkan ke para pelanggannya. Dengan tetap memberikan sampel, setidaknya para pelanggan mereka mengetahui bahwa bisnis TOYS tetap berjalan meskipun terdampak kondisi pandemi Covid-19.

Ke depan, manajemen TOYS berkomitmen dan berupaya memperbaiki kinerja bisnisnya hingga penghujung tahun nanti. Mempertahankan pasar ekspor adalah salah satu cara untuk memperbaiki kinerja yang dimaksud.

Tapi, ini bukan berarti TOYS melupakan pasar lokal begitu saja. TOYS juga memiliki brand sendiri, yakni OZco. Melalui brand itu, TOYS berupaya menggaet pelanggan dari pasar lokal, Tambah pula, TOYS juga aktif melakukan pemasaran secara digital, baik melalui media sosial maupun marketplace. Tak ketinggalan, TOYS juga melakukan refresh existing customer.

Hingga kuartal I-2021, penjualan ekspor masih menjadi sumber utama pendapatan TOYS dengan nilai Rp11,64 miliar. Bagaimana dengan penjualan lokal? Sampai kuartal I-2021, penjualan lokal berkontribusi sebesar Rp416,64 juta.

Hal lain yang menjadi nilai plus TOYS adalah perusahaan tersebut memiliki kontrak jangka panjang dengan brand luar negeri, seperti brand boneka paling populer di dunia asal Jerman, yaitu Living Puppets GmBH yang memproduksi Sesame Street yang digandrungi banyak anak di dunia. Produk-produk TOYS juga sempat menjadi merchandise pemerintah Indonesia dalam Sidang Umun PBB beberapa tahun lalu.

Hadirnya boneka produksi TOYS di sidang tahunan PBB secara tidak langsung ini merupakan promosi untuk industri mainan Indonesia agar dikenal lebih luas lagi di seluruh dunia.

Singkatnya, strategi marketing yang out of the box diiringi dengan produk berkualitas tinggi menjadi andalan TOYS di tengah lesunya pasar akibat pandemi Covid-19.

Harga Saham (Kesimpulan)

Merujuk data tanggal 24 Maret 2021, kondisi saham TOYS adalah sebagai berikut:

Pembukaan: Rp344

Penutupan Sebelumnya: Rp344

Penawaran (Offer): Rp340

Penawaran (Bid): Rp338

Harga Terendah: Rp338

Harga Tertinggi: Rp350

Volume: 3.241.800 (Saham)            

Nilai Transaksi: Rp1.115.677.400

Frekuensi: 488 (Kali)

EPS: Rp9

PE Ratio: 23 (Kali)

Berdasarkan data tersebut dan konsistensi TOYS yang masih meraup laba, maka rekomendasi untuk saham TOYS adalah beli.

Disclaimer

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait