Analisa Saham, Saham

Saham SUPR Mulai Bergerak Naik, Cek Kinerjanya

Sumber: STP

Ajaib.co.id – Meski sempat terpuruk pada September 2019 hingga Juni 2020, saham SUPR mulai menggeliat sedikit demi sedikit. Harga saham SUPR mulai bergerak naik sejak tahun lalu. Cek kinerja keuangannya jika investor tertarik memiliki saham ini.

PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) merupakan emiten menara telekomunikasi independen yang berdiri sejak 2006. Pada awalnya, perseroan memiliki bisnis inti penyewaan menara telekomunikasi kepada operator telekomunikasi, dengan skema perjanjian kontrak sewa jangka panjang yang rata- rata berjangka waktu sekitar 10 tahun.

Perseroan juga telah memperluas layanan infrastruktur telekomunikasi dengan menyediakan layanan akses terhadap kapasitas backhaul serat optik dan jaringan indoor Distributed Antenna System (DAS) di berbagai pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran yang terletak di kota-kota besar.

Per 31 Desember 2019, perseroan memiliki 6.384 menara telekomunikasi di 34 provinsi di Indonesia dengan 11.154 penyewa. Perseroan juga mempunyai dua shelter-only sites, 38 jaringan Indoor DAS, dan lebih dari 3.000 kilometer jaringan kabel serat optik di seluruh Indonesia.

Perseroan tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Oktober 2011. Dengan kode saham SUPR, penawaran umum perdana (initial public offering, IPO) pada level Rp3.400.

Adapun pemegang saham SUPR per Januari 2021 adalah PT Kharisma Indah Ekaprima sebesar 43,2%, Cahaya Anugerah Nus Hld. Ltd memiliki 25,51%, dan masyarakat dengan porsi 31,29%.

SUPR Terbitkan Obligasi Tenor 7 Tahun

SUPR dan PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo) menerbitkan surat utang atau obligasi untuk membiayai ekspansi bisnis perusahaan, CNBCIndonesia.com (21/07/2020). 

Dalam keterbukaan informasi di laman BEI, manajemen SUPR menyatakan hasil penerbitan obligasi, setelah dikurangi biaya-biaya, akan digunakan untuk menambah modal kerja dan/atau menunjang kebutuhan pendanaan perseroan secara umum.

Obligasi diterbitkan dengan dua opsi. Pertama, obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat senilai USD 400 juta atau setara dengan Rp5,56 triliun. Kedua, obligasi dengan mata uang rupiah senilai Rp8 triliun.

Manajemen SUPR menjelaskan penerbitan obligasi bertujuan supaya perseroan mendapatkan alternatif biaya pendanaan murah dengan struktur pendanaan fleksibel dibandingkan dengan pendanaan yang ada saat ini.

Obligasi SUPR memiliki tenor tujuh tahun sejak diterbitkan atau jangka waktu lain yang disepakati para pihak. Sedangkan tingkat suku bunga rencana transaksi adalah maksimum 8% akan jatuh tempo maksimal tujuh tahun dari tanggal diterbitkan atau jangka waktu lain yang disepakati para pihak.

Cetak Laba di Tengah Pandemi

SUPR mencetak laba bersih di tengah pandemi COVID-19 sebesar Rp164,22 miliar untuk kuartal III-2020. Nilai tersebut naik dua kali lipat dibanding kuartal III-2019 dengan Rp8,20 miliar.

Pendapatan perseroan selama sembilan bulan pada 2020 sebesar Rp1,43 triliun atau naik secara tahunan (year on year, yoy) dari Rp1,30 triliun. Sedangkan total liabilitas naik menjadi Rp8,84 triliun, periode sebelumnya Rp8,19 triliun. Total aset pun mengalami kenaikan menjadi 11,91 triliun, sebelumnya Rp11,16 triliun.

Dalam pernyataan perseroan di BEI pada Agustus 2020, kondisi keuangan dan operasional SUPR tak terdampak secara signifikan oleh pandemi. Bahkan perseroan mendapatkan lebih banyak permintaan dari penyewa, di antaranya permintaan untuk meningkatkan konektivitas serat optik serta broadband nirkabel dan penambahan penyewaan menara

Kinerja SUPR

Kinerja SUPR selama lima tahun dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Data diperoleh dari laman perusahaan, stptower.com, laman BEI, dan Ajaib.

Laporan Laba RugiQ3 20202019201820172016
Pendapatan UsahaRp1,43 triliunRp1,76 triliunRp1,89 triliunRp1,90 triliunRp1,82 triliun
Laba KotorRp947,28 miliarRp1,27 triliunRp1,42 triliunRp1,47 triliunRp1,37 triliun
Laba BersihRp164,22 miliarRp228 miliar-Rp1,22 miliarRp331 miliarRp312,45 miliar

Diketahui bahwa selama lima tahun ini, perseroan mengalami penurunan pada periode 2018. Hal itu karena kenaikan pada beban pokok pendapatan sebesar 9,1% dan beban usaha sebesar 4,1% jika dibandingkan dengan 2017.

Namun 2019, perseroan kembali bangkit dan membukukan pertumbuhan sewa. Sepanjang 2019, perseroan membukukan hampir 1.800 order baru dan menjadi pencapaian order organik tertinggi yang pernah dicapai. Sehingga penyewaan bersih menjadi 11.154 atau tumbuh 6,3% dari tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, rasio keuangan 2019 mengalami perubahan positif dibanding 2018. Hal tersebut terlihat dari perbaikan ROA, ROE, hingga DER. Sehingga kondisi keuangan SUPR berstatus baik.

Rasio 20192018
ROA1,97%-9,36%
ROE7,40%-37,63%
NPM12,92%-64,42%
CR112,61%134,97%
DER275%293%

Prospek Bisnis SUPR

Pada dasarnya bisnis penyewaan menara telekomunikasi memiliki prospek yang bagus. Pasalnya, saat ini provider telekomunikasi berlomba-lomba memberikan layanan serba cepat dan stabil, dukungan dari pemerintah, serta perubahan cara bekerja yang bisa dilakukan di rumah yang memerlukan dukungan internet.

Dalam paparan kinerja keuangan 22 Juli 2020, dikutip dari wartaekonomi.co.id, Presiden Direktur STP Nobel Tanihaha menyatakan bahwa perseroan siap menghadapi industri telekomunikasi di masa depan. Seperti mempertahankan hubungan dengan mitra serta konsisten berinvestasi dalam layanan jaringan data sebagai langkah mengantisipasi konsumsi data yang meningkat dan digitalisasi ekonomi Indonesia.

Nobel juga menjelaskan perseroan memiliki keunggulan solusi komprehensif dan kompetitif yang signifikan seperti jangkauan jaringan di daerah padat populasi. Sebut saja di wilayah Jabodetabek.

Miliki atau Tidak?

Dengan kinerja keuangan yang baik dan industri yang sedang berkembang, saham SUPR layak untuk dimiliki. Tak ada salahnya membandingkan saham SUPR dan saham IBST. 

Dilihat dari harga, IBST sedikit lebih murah dibanding SUPR. Sejak tahun lalu, harga SUPR cenderung bergerak naik dibandingkan IBST. 

Namun secara valuasi, IBST lebih mahal dibanding SUPR. Meski laba bersih yang dicetak masing-masing emiten masih naik turun atau belum menunjukkan kenaikan signifikan.

SUPR
PBV: 1,28 kali
PER: 17,92 kali
Harga pada 19.04: Rp6.625
IBST
PBV: 1,72 kali
PER: 93,38 kali
Harga pada 19/04: Rp6.450

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait