Analisa Saham, Saham

Saham BMTR Terus Berjuang di Tengah Kasus Pailit

Ajaib.co.id – PT Global Mediacom Tbk (berkode saham BMTR) berdiri sejak tanggal 30 Juni 1981. BMTR telah tercatat publik di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang Bursa Efek Indonesia) pada tanggal 17 Juli 1995 sebagai papan utama.

Pada awal berdirinya, BMTR adalah konglomerasi yang bergerak di sektor perdagangan umum. Pada 2007, perseroan menegaskan fokus baru, yakni industri media. BMTR pun melakukan rebranding.

BMTR menggarap bisnis stasiun televisi free-to-air (FTA), TV Berlangganan, dan konten multimedia. Tak hanya itu, BMTR juga menjalankan bisnis portal online, surat kabar, majalah, radio, dan layanan internet broadband

Berdasarkan Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir 

Pada periode Januari-September 2020, BMTR mencatat sebesar Rp8,9 triliun. Angka ini turun 7,28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp9,6 triliun.

Selain itu, BMTR mencatatkan adanya penurunan beban keuangan menjadi Rp702,03 miliar dari sebelumnya Rp808,4 miliar. 

Komponen LabaSeptember 2019September 2020
Penjualan dan pendapatan usahaRp9,6 triliunRp8,9 triliun
Pendapatan keuanganRp35,5 miliarRp23,4 miliar
Laba KotorRp4,5 triliunRp4,3 triliun
Beban keuanganRp808,4 miliarRp702 miliar
Jumlah laba (rugi)Rp1,6 triliunRp1,4 triliun
Pendapatan (beban) pajakRp418 miliarRp248 miliar

Riwayat Kinerja

Kinerja BMTR relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir. Total asetnya pun terus bertambah. Berikut ini rata-rata pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) sejumlah komponen kinerja BMTR periode 2017 hingga 2019:

KomponenCAGR 2017-2019
Pendapatan 19,4%
Laba Kotor19,5%
Jumlah Aset8,8%
Jumlah Liabilitas-5,7%

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

BMTR tidak termasuk emiten yang tiap tahun membagi dividennya. Berikut adalah besaran pembayaran dividen BMTR beberapa tahun terakhir:

TahunDividen per SahamJumlah yang dibayarkan (miliar)
2017569,16
2018
2019– 

Tercatat, terakhir kali BMTR membagikan dividen pada tahun 2017. Pada tahun tersebut, BMTR berdasarkan persetujuan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) sepakat membagikan dividen. Kala itu, dividen tunai yang dibagikan  kepada pemegang saham senilai Rp69,16 miliar. Angka tersebut artinya 14% dari keseluruhan laba bersih tahun 2017 yang diperoleh oleh BMTR. Pada tahun 2017, BMTR berhasil meraup laba bersih senilai Rp494 miliar.

Pada dua tahun selanjutnya, BMTR absen membagikan dividen. Pada tahun buku 2019, BMTR tidak membagikan dividen karena mengingat kondisi saat ini masih penuh ketidakpastian akibat situasi pandemi COVID-19 yang berdampak pada banyak hal.

Manajemen BMT menyatakan, laba perseroan untuk tahun buku 2019 akan dibukukan sebagai laba ditahan. Laba ditahan ini guna memperkuat struktur permodalan perseroan dan disisihkan Rp1 miliar sebagai dana cadangan untuk memenuhi anggaran dasar perseroan dan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Prospek Bisnis BMTR

Berdasarkan data statistik perdagangan, saham Group MNC, khususnya BMTR, sempat anjlok beberapa kali sejak kasus gugatan pailit terhadap pertengahan tahun lalu. Pada tanggal 30 Juli 2020, misalnya, saham BMTR anjlok 3,60% dan tanggal 3 Agustus 2020 pun anjlok hingga 6,54%. 

Gugatan tersebut bermula dari sengketa utang piutang pada 2006 silam. Singkatnya, KT Corporation menggugat pailit Global Mediacom atas tindakan wanprestasi.

Gugatan pailit terhadap emiten bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Tak bisa dipungkiri, dampak pandemi COVID-19 turut berkontribusi terhadap potensi gugatan pailit yang bisa dialami oleh emiten. Pada periode pandemi COVID-19, sejumlah emiten mencatatkan penurunan kinerja hingga merugi.

Sebagian emiten pun tidak mampu untuk melunasi kewajiban kepada kreditur maupun konsumen. Memang, ini bukan berarti BMTR gagal melunasi kewajibannya kepada kreditur, terlebih pailit karena belum ada putusan pengadilan dalam kasus gugatan pailit BMTR.

Tapi, notasi khusus ‘B’ disematkan kepada BMTR. Emiten yang menerima notasi ini artinya emiten tersebut berada dalam permohonan pernyataan pailit. Inilah yang perlu dicermati oleh para calon investor atau yang sudah memiliki saham BMTR.

Tentu akan menjadi citra negatif di mata konsumen dan masyarakat luas bila emiten menghadapi kasus pailit. Tambah pula, kondisi tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran bagi pihak-pihak yang bekerja sama dengan emiten tersebut. 

Harga Saham (Kesimpulan)

Mengutip data RTI, saham BMTR pada Selasa, (2/2/2021), naik tipis 0,75% ke posisi Rp268 per saham. Saat pembukaan perdagangan di hari tersebut, saham BMTR naik 6 poin menjadi 272 per saham. 

Menarik mencermati investor Lo Kheng Hong yang menambah kepemilikan saham di BMTR pada akhir Januari 2021. 

Sebelumnya, pada tanggal 11 Agustus 2020, BMTR melakukan private placement dengan menerbitkan 700 juta lembar saham baru pada harga pelaksanaan Rp200 per saham, sehingga perusahaan memperoleh tambahan modal Rp140 miliar.

Lo Kheng Hong, investor saham yang terkenal,  merekomendasikan sejumlah saham media yang saat ini berada pada level harga murah untuk dapat dikoleksi. Dari sisi valuasi, ia menilai BMTR bisa dikoleksi karena memiliki rasio price to book value (PBV) relatif murah.

Investor yang memiliki saham dengan notasi ‘B’ dihadapkan pada dua pilihan, yaitu mengikuti proses gugatan pailit dengan harapan adanya perjanjian damai. Namun jalan tersebut akan memakan waktu yang lama. Investor boleh saja tidak mengikuti proses gugatan pailit.

Dengan kata lain, investor dapat melepas sahamnya di pasar negosiasi. Risikonya ialah harga saham akan menukik tajam. Tapi, setidaknya, investor akan mendapatkan uang tunai dari saham tersebut alias masih bisa membawa uang ke kantongnya.

Disclaimer

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait