Saham ANDI Merosot Tajam di September Lalu, Kenapa?

Saham ANDI Merosot Tajam di September Lalu, Kenapa?
Saham ANDI Merosot Tajam di September Lalu, Kenapa?

PT Andira Agro menutup pergerakan mereka di lantai saham pada Agustus 2019 di posisi Rp2.190 per unitnya. Namun, setelah pergantian bulan, saham ANDI (kode Andira Argo) malah merosot drastis. Hingga 12 September 2019, saham ANDI berada di posisi Rp1.800 per lembar sahamnya. Artinya, saham ANDI sudah merosot hingga Rp390 per lembar atau 17,81%.

Saham ANDI Masuk TOP Saham Terburuk

Penurunan itu berbanding terbalik bila dibandingkan pencapaian mereka pada bulan yang sama di tahun lalu. Ya, pada September 2018, saham ANDI melonjak hingga 635%. Bahkan, pada pekan pertama September 2019, saham ANDI termasuk dalam top 10 saham terburuk. Mereka mengalami koreksi hingga 11,4% dan berada di harga Rp1.940, yang terjadi pada 6 September.

Mengubah Haluan Bisnis

ANDI juga mengubah haluan bisnis mereka pada tahun ini. Direktur Utama PT Andira Agro Tbk (ANDI) Francis Indarto menyebutkan hal tersebut tak bisa dilepaskan dari prospek crude palm oil (CPO) yang masih digelayuti awan mendung. Hal itu terlihat dari rentetan harga penjualan CPO ANDI yang terus menurun.

Francis mengatakan, setiap perusahaan CPO cenderung akan menuai produktivitas yang lebih tinggi di paruh kedua setiap tahunnya. Namun Francis pesimistis bahwa harga jual rerata ANDI bisa naik pada periode mendatang.

Di semester I dengan produktivitas yang tidak seberapa saja harganya sudah turun. Nah apalagi nanti ketika produktivitas kami tinggi tapi permintaan akan sama seperti semester I,” ungkap Francis pesimistis.

Kondisi tersebut yang membuat ANDI menunda pembangunan pabrik baru. “Kalau kami paksakan bangun pabrik, tapi dari permintaan belum ada peningkatan, hanya akan menambah beban operasional kami,” ujar Francis.

Hal itu dilakukan karena buntut dari pendapatan saham ANDI pada semeseter pertama di tahun 2019 yang dilaporkan mengalami penurunan hingga 7,86 persen. Mereka hanya mendapatkan Rp 135,99 miliar. Padahal, pada tahun lalu di periode yang sama, ANDI meraup pendapatan sebesar Rp 147,60 miliar.

Penjualan Minyak Sawit Jadi Pendapatan Utama

Penjualan minyak sawit mentah (crude palm oil) masih menjadi kontributor utama pendapatan ANDI dengan nilai sebesar Rp116,40 miliar. Nilai tersebut setara dengan 85,59% dari total pendapatan ANDI. Sedangkan penjualan sawit menyumbang 15% dari total pendapatan ANDI. Pada segmen tersebut, ANDI meraup pendapatan sebesar Rp19,59 miliar.

Meski pendapatan menurun, namun ANDI sudah bisa mencatatkan laba pada semester pertama di tahun 2019. Tercatat, laba ANDI tahun ini sebesar Rp10,12 miliar. Padahal pada semester pertama di tahun 2018, ANDI masih mengalami kerugian. Tercatat, kerugian ANDI di periode ini mencapai Rp9,55 miliar.

Berhasil Mengurangi Beban Pokok Penjualan

Dari segi efisiensi, ANDI juga bisa mengurangi beberapa pos beban seperti beban pokok penjualan. Tercatat, ANDI merogoh kocek sebesar Rp 118,84 miliar untuk beban pokok penjualan. Angka itu turun 19,23% dari beban di paruh pertama tahun lalu yang masih membengkak sebesar Rp147,15 miliar.

ANDI juga bisa mengurangi liabilitasnya sepanjang semester pertama di tahun 2019. Total liabilitas perusahaan agrikultur ini sebesar Rp257,47 miliar di paruh pertama 2019. Angka itu masih lebih rendah dibanding liabilitas tahun lalu yang mencapai Rp293,68 miliar

Itulah beberapa fakta mengenai merosotnya harga saham ANDI. Apa kamu berniat menjadi salah satu pemegang saham ANDI dan melihat bahwa saham ini berpotensi untuk meroket ke atas di kemudian hari? Jika iya, kamu bisa pelajari saham ini terlebih duli di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian lakukan investasi sekarang juga di Ajaib.

Share to :
Kembangkan uangmu sekarang juga Lakukan deposit segera untuk berinvestasi
Artikel Terkait