Saham

Menebak Nasib Pemegang Saham BJBR Pasca Merger

saham-bjbr

Ajaib.co.id – Saham BJBR dari PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk selama ini dikenal memiliki valuasi yang menjanjikan. Namun kini rencana merger dengan PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk. (BEKS) membuat publik bertanya-tanya nasibnya mendatang.

Harga saham ini biasanya dianggap terjangkau namun dengan perkembangan perusahaan yang potensial. Murahnya valuasi tersebut dapat tercermin dari rasio harga saham per nilai buku (price to book value/PBV), terutama karena BJBR masih di bawah rata-rata industri perbankan dan keuangan.

Dilansir dari CNBC Indonesia, PBV Bank BJB tercatat 0,96, dengan total aset Rp 123,56 triliun. Jika dibandingkan dengan bank-bank dengan total aset serupa, saham bank bjb masih lebih murah. Jika dibandingkan PBV industri keuangan, saham BJBR masih terhitung murah karena jauh di bawah rata-rata PBV industri perbankan yakni 3,22.

Sementara jika dibandingkan PBV rata-rata industri keuangan yang termasuk dalam Indeks saham sektor keuangan (JAKFIN), PBV Bank BJB pun masih di bawahnya. Pada 2019 rata-rata PBV industri keuangan pada indeks tersebut yakni 2,05. Tak heran kemudian emiten ini banyak diserbu pelaku pasar yang ingin mengoleksi saham perbankan dengan harga terjangkau.

Emiten Saham BJBR, Dahulu Menjanjikan, Sekarang Bagaimana?

Pandemi Covid-19 memberikan sentimen negatif terhadap pasar modal secara keseluruhan. Sektor perbankan juga tidak mendapatka pengecualian. Tekanan yang muncul membuat berbagai saham perbankan yang selama ini jadi unggulan juga mengalami pelemahan.

Demikian pula harga saham BJBR yang ada di angka Rp 770 per lembar saham pada penutupan perdagangan Jumat 8 Mei 2020. Meskipun penurunannya tidak terlalu dalam toh ini membuktikan perbankan daerah juga tak kebal akan dampak Corona.

Investor juga tambah khawatir dengan perubahan yang akan disebabkan oleh merger yang dilakukan oleh perusahaan. Dikutip dari Warta Ekonomi, Bank BJB bersama Bank Banten memutuskan untuk melakukan penggabungan usaha atau merger. Rencana tersebut telah dituangkan dalam Letter of Intent (LOI) yang ditandatangani Kamis (23/4/2020) oleh Gubernur Banten, Wahidin Halim, selaku Pemegang Saham Pengendali Terakhir Bank Banten dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, selaku Pemegang Saham Pengendali Terakhir Bank BJB.

Merger PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten tbk (bjbr) dengan Bank Banten ini termasuk pula melaksanakan kerja sama bisnis, termasuk dukungan Bank BJB terkait kebutuhan likuiditas Bank Banten. Direktur PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten tbk (BJBR), Yudy Renaldi juga meyakinkan bahwa hal ini akan membeirkan dampak positif.

Sayangnya, peleburan BEKS ke dalam PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten tbk (BJBR) membuat para pemegang saham mempertanyakan nasibnya mendatang. Dikutip dari Bisnis.com, hingga April 2020, kedua bank masing-masing memiliki porsi kepemilikan saham publik yang cukup besar, yakni 49 persen.

Per 31 Maret 2020, pemegang saham BEKS terdiri dari PT Banten Global Development selaku pengendali sebesar 51 persen dan masyarakat sejumlah 49 persen. Masing-masing pihak memegang 32,69 miliar dan 31,41 miliar saham.

Sementara itu, dalam periode yang sama, pemegang saham BJBR terdiri dari Pemda Provinsi Jawa Barat selaku pengendali sebesar 38,18 persen, Pemda Kabupaten Bandung 7,24 persen, Pemda Provinsi Banten 5,29 persen, dan masyarakat 49,29 persen. Masing-masing pihak memegang 3,76 miliar saham, 712,48 juta saham, 520,59 juta saham, dan 4,85 miliar saham.

Ada kekhawatiran bahwa penggabungan ini akan mempengaruhi kinerja perbankan sehingga ke depannya tidak akan sanggup lagi membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Apalagi merger ini tidak terjadi antara dua perusahaan dengan kinerja yang setara.

Saham BEKS selama ini masuk dalam kategori saham gocengan sehingga bukan pilihan favorit para pelaku pasar sebelumnya. Harga saham ini ada di angka Rp50 per lembar, stagnan selama 2,5 tahun terakhir. Meski demikian, penggabungan ini diyakinkan akan memberikan dampak baik bagi perusahaan.

Pasalnya, setelah terealisasikannya Bank banten menjadi anak perusahaan Bank BJB, maka akan mengakibatkan beralihnya aset, liabilitas, dan ekuitas Bank Banten sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Sementara itu, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai penggabungan ini akan membuat bank lebih efisein. Hans menjabarkan bahwa masing-masing bank memiliki kelebihan sehingga bila digabung akan menghasilkan sinergi yang kuat. Ada sederet keuntungan dari penggabungan usaha yang disebutkan Hans, mulai dari kenaikan jumlah aset bank sehingga menghasilkan bank dengan nilai aset yang lebih besar.

Kemudian, kenaikan nasabah baik deposan maupun peminjam. Selain itu, dia menyebutkan jumlah cabang utama dan cabang pembantu juga menjadi lebih banyak sehingga dapat melayani nasabah lebih banyak sekaligus menghemat beban operasional. Proyeksi saham BJBR di masa mendatang tetap akan menjanjikan sehingga pemegang saham tak perlu khawatir.

Adapaun, data dari CNBC Indonesia menyebutkan BJBR juga menjadi salah satu emiten yang konsisten membagikan dividen, terhitung dari 2015-2018, bBank BJB menebar dividen payout ratio (DPR) di kisaran 55-60% dengan kisaran Rp 800 miliar. Hingga November 2019, Bank BJB mencapai laba bersih sebesar Rp 1,3 triliun, sedikit terkoreksi dibandingkan periode yang saham tahun sebelumnya.

Jika Bank BJB mencapai targetnya mencapai laba bersih Rp 1,6 triliun, dan kisaran dividen masih 55-60%, maka potensi dividen mencapai Rp 880-960 miliar. Hingga November BJBR pun mencatat total aset mencapai Rp 120,99 triliun. Selain itu kas BJBR hingga November mencapai Rp 1,98 triliun dan penempatan pada bank Indonesia senilai Rp 10,33 triliun.

Rasanya, merger ini akan memberikan peluang cuan lebih besar bagi pemegang sahamnya. Kondisi ini bisa kamu manfaatkan untuk mendapatkan saham perbankan yang potensial dengan harga yang terjangkau. Terlebih lagi, Bank BJB sangat responsf dengan perubahan industri keuangan sehingga perkembangannya juga menjanjikan.

Dibalik Kokohnya Saham BJBR

Pertahanan saham BJBR kokoh diprediksi karena mereka berhasil merespons kebutuhan konsumen. Terlebih, mereka menjadi bank daerah pertama yang mempelopori perbankan digital.  Hal ini ditandai dengan peluncuran secara resmi QR Payment (transfer on us) yang dilakukan Bank BJB.

Peresmian QR Payment (transfer on us) adalah langkah nyata bank BJB untuk menjadi bank daerah pertama yang mempelopori perbankan digital. Fitur baru QR Payment (transfer on us) pada Iayanan e-channel yang dimiliki oleh bank BJB yaitu BJB Digi, akan semakin memudahkan nasabah bank BJB untuk bertransaksi perbankan kapan saja dan dimana saja.

Respon Bank BJB atas Perkembangan Digital

Direktur Utama bank BJB, Yuddy Renaldi, mengatakan bahwa pengembangan fasilitas BJB Digi dengan adanya fitur tambahan QR Payment (transfer on us) merupakan implementasi kesiapan bank BJB untuk mengakselerasi kinerja di era digital.

“Khususnya melalui kegiatan ini, kami mengenalkan kepada masyarakat mengenai kemudahan layanan yang dimiliki oleh bank BJB, sehingga masyarakat akan semakin nyaman untuk memilih bank BJB sebagai mitra strategis dan tentunya harapan kami akan berdampak pada peningkatan volume bisnis bank BJB,” tutur Yuddy.

Menurut Yuddy, saat ini bank BJB sedangn bertransformasi menjadi bank nasional. Bank BJB, yang juga sebagai Agen Pembangunan, terus melakukan peningkatan layanan untuk memahami setiap kebutuhan masyarakat Indonesia.

Yuddy menyebutkan bahwa berbagai inovasi layanan terus dikembangkan, salah satunya dengan hadirnya fitur baru pada BJB Digi QR Payment (transfer on us) yang menjadi kelanjutan langkah Bank BJB dalam menyambut era digitalisasi perbankan untuk menyuguhkan digitalisasi jasa layanan keuangan. “Juga sekaligus menjadi salah satu senjata utama bank BJB untuk mengakselerasi penumbuhan kinerja bank BJB,” katanya.

Karena itu, mungkin kamu bisa mengoleksi saham BJBR jik tertarik dengan industri perbankan. Tak perlu ragu berinvestasi karena sedikit uang di masa sekarang akan memberikan imbal hasil memuaskan di masa depan nanti.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait