Analisa Saham

Prospek Saham BUVA Setelah Digembok Bursa

saham-buva

Ajaib.co.id – PT Bukit Uluwatu Villa Tbk merupakan pengembang hotel dan resort ramah lingkungan bertaraf internasional yang telah berdiri sejak Desember 2000.

Perusahaan mengelola empat properti yang sudah beroperasi secara komersial, yakni Alila Ubud, Alila Villas Uluwatu, Alila Manggis (Bali Timur), Alila SCBD. Ada pula Alila Villas Bintan, Alila Tarabitan (Manado), dan Alila Borobudur yang masih dalam pengembangan.

Bukit Uluwatu Villa melaksanakan penawaran perdana pada tanggal 12 Juli 2010 dengan kode saham BUVA. Harga penawaran perdana dipatok pada Rp260 per lembar.

Pergerakan harga saham BUVA cukup sehat selama beberapa tahun awal di bursa, tetapi merosot drastis sejak Desember 2018. Pandemi Covid-19 kian memperburuk kondisi keuangannya, sehingga harga saham jatuh sampai Rp60 per lembar sebelum perdagangannya disuspensi oleh otoritas BEI pada pertengahan tahun 2021 ini.

Kepemilikan saham BUVA tersebar diantara banyak pihak. Pemegang saham pengendali, Asia Leisure Network, hanya memiliki 25,00% saham BUVA. Sedangkan pemegang saham lainnya berturut-turut Archipelago Resorts and Hotels Limited (27,80%), NV III Holdings Limited (13,00%), dan masyarakat (34,20%). Market cap BUVA sebesar Rp408,68 miliar.

Mengapa Saham BUVA Terkena Sanksi BEI?

Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan suspensi atau sanksi penghentian sementara perdagangan saham BUVA mulai tanggal 16 Juli 2021. BUVA dan 11 emiten lain terkena sanksi tersebut lantaran menunggak biaya pencatatan tahunan atau annual listing fee (ALF) tahun 2021.

Tapi BUVA sebenarnya juga tengah menghadapi sejumlah problema kritis lain terkait kredibilitasnya sebagai anggota bursa.

Pertama, BUVA terbelit masalah utang. Presiden Direktur (Presdir) PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) Franky Tjahyadikarta mengajukan permohonan PKPU secara sukarela pada 11 Oktober 2021. Majelis hakim mengabulkan permohonan itu, sehingga BUVA harus merundingkan proposal perdamaian untuk restrukturisasi utang dengan para krediturnya.

Dalam sidang pada akhir November lalu, Franky Tjahyadikarta menyatakan penyelesaian utang akan dilakukan dari penjualan beberapa aset dan saham. Namun, belum jelas apakah nilai aset dan saham akan memadai untuk menyelesaikan utang-utang yang ada dalam rentang waktu yang sesuai dengan harapan para kreditur. Kisruh ini agaknya masih berlanjut.

Kedua, BUVA menunggak laporan keuangan dan RUPST (Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan). BUVA sampai saat ini (8/12/2021) belum mempublikasikan laporan keuangan auditan per 31 Desember 2020, serta belum menyelenggarakan RUPST. Kedua masalah ini membuat otoritas BEI memasang notasi khusus L dan Y atas saham BUVA.

Bagaimana Kinerja Laporan Keuangan BUVA Terakhir?

Bukit Uluwatu Villa belum mempublikasikan laporan keuangan auditan per 31 Desember 2020, tetapi sudah merilis laporan keuangan yang belum diaudit untuk kuartal III/2021. Laporan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih mencatat rugi bersih dan cash flow negatif.

Berikut rangkuman kinerja laba dan komponen laporan keuangan utama lainnya sejak 2018 (dalam miliar rupiah):

  III/2021 IV/2020 IV/2019 IV/2018
Total Aset 3.632,45 n/d 4.190,49 4.106,73
Total Liabilitas 1.867,30 n/d 1.962,69 1.787,35
Total Ekuitas 1.559,21 n/d 1.764,97 1.802,20
Penjualan dan Pendapatan Usaha 34,03 n/d 612,71 488,80
Beban Pokok -19,05 n/d -266,53 -193,68
Laba Bruto 14,98 n/d 346,17 295,12
Laba/Rugi yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk -79,72 n/d -50,47 32,64

Tabel di atas mengungkap fakta bahwa kinerja keuangan Bukit Uluwatu Villa sudah memburuk bahkan sejak sebelum pandemi COVID-19 merebak. Catatan akhir tahun 2019 sudah menampilkan rugi bersih sebesar Rp50,47 miliar. Memasuki masa pandemi, kerugian tersebut kian membengkak.

Rasio-rasio keuangan BUVA saat ini pun cukup tragis. ROE dan ROA masing-masing -6,81% dan -2,92%. Marjin laba (NPM) sebesar -234,30%. Rasio utang (DER) juga tergolong tinggi pada 119,76%, sedangkan rasio lancar hanya sebesar 18,32%.

Bagaimana Prospek Saham BUVA ke Depan?

Dalam keterbukaan informasi BEI pada 3 Desember 2021, Sekretaris Perusahaan BUVA Benita Sofia berbicara blak-blakan tentang masalah-masalah keuangannya saat ini.

Tingkat hunian di hotel grup BUVA hanya sekitar 13% pada tahun 2020 dan 11% sampai November 2021. Situasi ini terjadi lantaran beragam pembatasan perjalanan bagi wisatawan asing masuk ke Indonesia.

Cash flow perusahaan terkendala. Alhasil, perusahaan masih menunggak biaya ALF kepada bursa dan belum menugaskan kantor akuntan untuk melakukan audit terhadap laporan keuangan 2020. Apabila arus kas sudah pulih, barulah perusahaan akan membayar biaya-biaya tersebut.

Benita mengaku tengah mengerahkan hasil usaha untuk pemenuhan modal kerja hotel-hotel agar tetap bisa beroperasi. Perusahaan juga sedang berupaya untuk menjual aset perusahaan, serta menggaet investor untuk masuk.

BUVA mengungkapkan tidak memiliki rencana untuk delisting sukarela. Perusahaan menyatakan terus berusaha untuk menyelesaikan kewajiban kepada bursa agar suspensinya dibuka. Namun, kita dapat menyimpulkan bahwa emiten ini sesungguhnya belum menemukan jalan keluar dari masalah keuangan yang membelitnya.

Tak dapat dipungkiri bahwa saham hotel sangat terpukul di tengah pandemi. Lebih buruk lagi, kemunculan berbagai varian baru Covid-19 silih berganti menjegal rencana pemulihan bisnis-bisnis hospitality. Namun, kinerja keuangan BUVA tampak lebih buruk daripada sejumlah saham hotel lain.

Saham EAST (PT Eastparc Hotel Tbk) masih mampu membayar dividen interim kedua kepada pemegang sahamnya pada akhir tahun 2021 ini. Harga saham DFAM (PT Dafam Property Indonesia Tbk) juga sudah beranjak dari rekor terendahnya setelah diakuisisi oleh Artotel baru-baru ini.

Investor yang ingin berinvestasi pada saham hotel masih punya banyak opsi yang lebih baik daripada BUVA. Apabila kamu sudah telanjur memiliki saham BUVA, ada baiknya mempertimbangkan untuk cut loss dengan menjualnya via pasar negosiasi.

Tanpa cut loss, kamu mungkin harus bersabar hold BUVA hingga kondisi keuangannya pulih suatu saat kelak dan suspensi perdagangan dibuka oleh bursa.

Artikel Terkait