Dunia Kerja

Prospek Pekerjaan Gonta-ganti Karir yang Bakal Terus Ngetren

Ajaib.co.id – Seperti dilansir wartaekonomi.co.id pada pertengahan Agustus 2020, Menteri Ketenagakerjaan RI Ida Fauziah memperkirakan jumlah tenaga kerja yang kehilangan pekerjaannya di Indonesia akibat pandemi berpotensi tembus 5,23 juta orang. 

Meskipun demikian, menciutnya lapangan pekerjaan tidak berarti punahnya kesempatan bagimu untuk mendapatkan pekerjaan. Ternyata di tengah era new normal tetap ada jenis pekerjaan yang mempunyai prospek bagus, bahkan hingga nanti jauh di masa depan. 

Dengan ditetapkannya social distancing sebagai norma baru, maka dunia usaha dituntut untuk melakukan adaptasi kinerja. Pastinya hal inilah yang kemudian membuat prospek pekerjaan yang tersedia jadi berbeda dari masa pra pandemi dulu. 

Prospek Pekerjaan Terbagus Sejak New Normal

NTUC Learning Hub – sebuah lembaga Survei Keterampilan Pemberi Kerja baru saja mensurvei lebih dari 200 bisnis, dan seperti dirilis cnbcindonesia.com TECH pada Juni 2020 lalu, mereka mencari tahu bagaimana para pebisnis merespon penurunan ekonomi serta tingkat keterampilan digital calon tenaga kerjanya.

 Survei melaporkan hasil bahwa 10 shortlist profesi berikut ini ternyata paling dicari perusahaan dan punya prospek bagus hingga ke masa mendatang:

  1. Digital marketing
  2. Keterampilan manajemen proyek
  3. Data analysis
  4. Basic IT support
  5. Keterampilan data-driven decision making
  6. Web/app design and development
  7. Cybersecurity
  8. Governance (tata kelola), Manajemen risiko, Perlindungan data pribadi
  9. Artificial Intelligence/Machine Learning
  10. Robotic Process Automation

Prospek Gonta-ganti Karir

Saat para pemberi kerja dan tenaga kerja menghadapi pasar kerja yang terus berubah-ubah drastis di tengah pandemi, dapatkah gonta-ganti karir menjadi sebuah prospek di new normal? 

Seperti dilansir theatlantic.com, para pakar ketenagakerjaan telah menyimpulkan bahwa berkarir di satu jenis pekerjaan sudah jadi kenangan masa lalu. Baru-baru ini, The Federal Bureau of Labor Statistic melaporkan bahwa gonta-ganti karir bukan lagi eksklusif milik karyawan first-jobber, namun malah sudah jadi norma baru di berbagai sektor, kerah biru maupun putih. 

Puncak masa kerja karyawan antara usia 25-50 tahun yang tadinya merupakan periode penting bagi stabilitas produktivitas dan tingkat penghasilan, kini telah berubah menjadi periode untuk eksplorasi, pengungkapan dan penjajakan tanpa akhir. 

Ketika Baby Boomers diperkirakan rata-rata memiliki 11 pekerjaan sepanjang masa kerjanya, Milenial yang masuk pasar kerja di bibir jurang Resesi Besar harus rela untuk tak hanya gonta-ganti pekerjaan, tapi bahkan gonta-ganti karir hingga jauh lebih sering dari pendahulunya. Penulis dan jurnalis Farai Chideya mendeskripsikan situasi saat ini sebagai era Episodic Career.

Jika kamu termasuk yang bertekad untuk beradaptasi, kamu pasti menyadari bahwa kini jalur karir nggak harus merupakan perjalanan mendaki puncak, namun lebih ke sebuah rangkaian episode, di mana pengalaman-pengalaman saling memperkaya pemahaman, yang akan menumbuhkan potensi dan kebahagiaan baru. 

Managing Director of Human Resources JP Morgan Chase – Mike D’Ausilio malah telah membagikan pengalamannya dari kedua sisi, sebagai pemberi kerja sekaligus karyawan. Cara pasar terus berdisrupsi, kecepatannya, minat tinggi terhadap digital, semuanya akan menciptakan serangkaian skill yang dulunya tidak pernah dicari. 

Tren ini tampaknya akan masih berlangsung lama, dan akan muncul rangkaian skill baru yang mungkin sekarang bahkan belum ada.

Akhir-akhir ini, skill yang dapat ditransfer adalah hal yang paling diburu pemberi kerja, yaitu serangkaian skill yang terbukti bisa relevan bagi berbagai jenis sektor pekerjaan. 

Sementara dari sisi pencari kerja, Founder and Principal of Parachute Coaching – Lauren Laitin mengungkapkan bahwa sebagai pencari kerja, kamu perlu mengemukakan cerita jujur tentang mengapa pilihanmu untuk gonta-ganti karir sebenarnya adalah masuk akal, bahkan ketika pivoting yang kamu lakukan itu sekilas tampak sedikit ajaib! 

Pada dasarnya, para pemberi kerja hanya membutuhkan 2 hal dari dirimu yaitu: kamu mampu menjalankan tugas, dan kamu senang mengerjakannya. 

Founder LifeStyle Integrity – Devin Martin menegaskan bahwa yang akan menjadi bernilai adalah kapasitas pivoting (beralih), beradaptasi dan mempersatukan, tanpa harus adanya spesifikasi industri. 

Head of Recruitment Company Talenya – Rafael Cosentino mengungkapkan bahwa mayoritas pemilik bisnis menghargai karyawan yang punya rasa memiliki yang tinggi.

6 Skill Wajib Dalam Bisnis di Era New Normal

Seperti dilansir oleh Stephanie Lukins di topuniversities.com pada Juni 2020 lalu, situasi paska pandemi tak akan kembali persis seperti dulu, dan itu belum tentu artinya buruk.

Lalu seiring munculnya prospek pekerjaan baru, apa yang bisa kamu lakukan untuk menjadikan dirimu salah satu kandidat terkuat? Sebuah laporan yang dibuat oleh Deloitte Access Economics memperkirakan bahwa 75% dari keseluruhan peluang kerja yang tersedia hingga tahun 2030 nanti akan membutuhkan 9 soft-skill ini:

  • Leadership (kepemimpinan)

Nggak terbatas pada mensupervisi dan memanage karyawan lain, Leadership lebih merupakan skill mengkomunikasikan visi dan strategi sambil mendorong kerjasama antara anggota team lainnya  dan pimpinan.

  • Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi

Dengan dilanjutkannya pemberlakuan WFH, fleksibel bukan saja dinilai dari segi mobilitas geografik, tapi juga keterbukaan pikiran, tahan tekanan, mampu menyesuaikan diri dengan dengan deadline mendadak, memprioritaskan tugas, dan dalam beberapa kasus mengambil tanggung jawab lebih.

  • Berpikir kritis

Data yang dipublikasikan The Society for Human Resource Management mengungkapkan bahwa 37% pemberi kerja melihat kemampuan berpikir kritis termasuk yang sulit didapatkan. 

Di tengah era berita palsu dan data saling berlawanan, kemampuan berpikir kritis, rasional dan objektif dalam mengevaluasi informasi guna merumuskan keputusan sangatlah dibutuhkan. 

Hubungan perdagangan internasional yang rumit juga sangat menghargai kemampuan berpikir kritis dan pemahaman lintas budaya.

  • Melek teknologi

82% lowongan pekerjaan saat ini membutuhkan skill digital. Pandemi pun mendorong mayoritas perusahaan untuk mencari skill digital demi menyelaraskan bisnisnya dengan berbagai teknologi dan platform.

 Integrasi pengetahuan literasi data, computer programming, block chain, big data, Cloud, dan Artificial Intelligent akan menjadikan profilmu menonjol di antara kandidat lain. 

  • Cerdas komunikasi dan emosi

Meski sudah era keemasan digital, hubungan asli dan pengertian antar manusia masih dibutuhkan dalam setiap pekerjaan. Skill berkomunikasi yang baik menjadi penting karena WFH berlanjut. 

Kejelasan dalam ber-email dan virtual meeting sangat dibutuhkan guna mengukuhkan rasa percaya dan tingkat produktivitas.

  • Kreativitas dan inovasi

Kemampuan unik manusia dalam berpikir kreatif dan inovatif belum bisa ditandingi teknologi digital. Kreatifitas bukan melulu terkait dengan profesi seniman. 

Setiap pelaku bisnis wajib mampu berpikir kreatif guna menyelamatkan kesuksesan bisnisnya di tengah tantangan dan tekanan krisis.

Jadi jangan apatis duluan ya, kamu cuma perlu lebih lincah pivoting kok! Pasti selalu ada kemungkinan harapan bagimu untuk mendapatkan pekerjaan yang bakal kamu sukai. 

Jangan lupa juga untuk lebih lincah lagi mengembangkan portofolio investasimu dengan memilih platform investasi yang efisien, efektif serta berintegritas seperti Ajaib, yang memungkinkan investasi saham dan reksa dana sekaligus dalam satu aplikasi, biaya beli saham s/d 50% lebih murah, dan daftar 100% online tanpa biaya minimum. 

Ajaib adalah pilihan super smart bagi investor Milenial karena terdaftar resmi dan diawasi oleh OJK juga IDX, serta mendapat penghargaan dari Asia Forbes, Fintech News Singapore, Dunia Fintech dan Top 10 Startups from Y Combinators TechCrunch.

Sumber: 10 Profesi Paling Dicari di New Normal Covid-19, The Next Episode, Jumlah PHK Bakal Tembus hingga 5,23 Juta Orang, Kemenaker Siapkan…, dan 9 Skills You’ll Need to Succeed In a Post-Coronavirus Business World, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait