Saham

Saham AUTO Melorot, Dampak Penjualan Astra Sepi

saham-auto

Ajaib.co.id – Saham AUTO dari emiten PT Astra Otoparts tbk biasanya menjadi salah satu yang diminati pelaku pasar di sektor otomotif. Meski demikian, agaknya kinerja saham ini pada tahun 2020 di pasar modal kurang menggembirakan. Salah satu alasannya adalah penjualan PT Astra International selaku induk perusahaannya kurang optimal.

Setidanya ada 15 saham otomotif yang tersedia di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk dikoleksi investor saham. Beberapa diantaranya merupakan Grup Astra sebagai salah satu perusahaan otomotif terkemuka negeri ini termasuk saham AUTO. Selama ini harag saham AUTO dinilai paling ramah di kantong dengan kinerja yang cukup menjanjikan.

Grup Astra memang memiliki berbagai perusahaan lain yang terdaftar di bursa saham Indonesia. Emiten tersebut antara lain PT Astra International Tbk (ASII), PT Astra Graphia Tbk (ASGR), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Namun diantara lainnya memang kinerja AUTO paling terkait dengan Astra International karena bisnisnya yang fokus pada penjualan suku cadang untuk sepeda motor dan mobil yang menjadi ladang bisnis dari ASII.

Tren Terus Menurun, Bagaimana Peluang Saham AUTO?

Harga saham AUTO pada penutupan perdagangan Jumat (30/04/2020) tercatat ada di level Rp 780 per lembar saham. Angka ini menunjukkan tren kenaikan yang minor dibandingkan waktu sebelumnya. Padahal harganya pernah ada di level Rp1.315 per lembar saham pada 17 September 2019 lalu.

Memang emiten ini ikut terseret dengan sentimen negatif Corona yang menyerang pasar saham secara keseluruhan. Namun bahkan tanpa dampak Virus Corona pun, saham AUTO telah terseret buruknya kinerja keuangan dari PT Astra International.

Kinerja penjualan mobil PT Astra International merosot drastis sehingga bertanggung jawab atas pelemahan harga saham anak perusahaannya. Hal itu pun mempengaruhi kinerja saham PT Astra International Tbk di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Seperti dilaporkan, penjualan mobil PT Astra International melorot sebanyak 42,65 persen, terhitung periode Januari hingga Agustus 2019.

Dilansir dari CNBC Indonesia, perusahaan tersebut meraih laba bersih Rp 21,71 triliun pada 2019, terbesar sepanjang sejarah perusahaan. Meskipun naik tipis 0,18% dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp 21,67 triliun.

Berdasarkan keterangan resmi Grup Astra, laba bersih tersebut dicetak di tengah penurunan pendapatan menjadi Rp 237,17 triliun, atau turun 1% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp 239,21 triliun.

Laba bersih dari divisi otomotif Grup mengalami penurunan sebesar 1% menjadi Rp 8,4 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan mobil dan meningkatnya biaya-biaya produksi, yang sebagian diimbangi oleh kenaikan volume penjualan sepeda motor.

Penjualan ASTRA Menurun di Periode Awal 2019

Dalam keterangan resmi yang mereka publikasikan, penjualan mobil Astra mencapai 660.286 unit sepanjang Januari hingga Agustus di tahun ini. Kinerja penjulan ini merosot hampir separuhnya dari penjualan pada tahun lalu sebesar 1,15 juta unit.

Dalam periode tersebut, subtotal penjualan kendaraan Astra yang terdiri dari merek Toyota, Daihatsu, Isuzu, dan Peugeot mencapai 344.216 unit. Angka penjualan itu menurun 40,9 persen dibandingkan Januari hingga Agustus 2018 sebanyak 582.446 unit.

Adapun, pada penjualan mobil Non grup Astra seperti Mitsubishi, Suzuki, Honda, dan Nissan mencapai 316.070 unit. Dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, angka penjualan itu menurun 44,45 persen.

Pada segmen low cost green car (LCGC) total penjualan Toyota, Daihatsu, Isuzu, dan Peugeot mencapai 97.833, turun 42,77 persen. Adapun, penjualan LCGC milik Astra secara total mencapai 137.406, turun sebesar 40,92 persen.

Dari seluruh merek mobil yang didistribusikan dan diproduksi Astra, hanya Nissan yang tercatat mengalami pertumbuhan. Total penjualan Nissan mencapai 9.575 unit, meningkat 39,07 persen dibandingkan penjualan pada Januari hingga Agustus 2018 sebanyak 6.885 unit.

Kendati demikian, pangsa pasar Astra masih relatif stabil. Berdasarkan data tersebut, pangsa pasar Astra secara total mencapai 52 persen, naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 51 persen. Sementara itu, pangsa pasar Astra pada segmen LCGC tercatat sebesar 71 persen, turun 2 persen.

Momentum Saham AUTO

Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto menjelaskan, tekanan terhadap penjualan mobil itu disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang mengarah kepada ketidakpastian. Di sisi lain, faktor kondisi sosial politik di dalam negeri turut berdampak.

“Jadi kita lihat memang global trend ini tidak jauh dari yang namanya Trump Effect. Kedua faktor makro yang lain 2014 itu market turun karena ada pilpres, bedanya dengan tahun ini pemilihan ada bunganya. Ada demo, dan lain sebagainya,” ucapnya, seperti dikutip dari Bisnis.

Dia mengatakan, dampak faktor itu terhadap pasar dapat dilihat dari dua gelaran auto show yang diadakan pada tahun ini. GIIAS 2019 menurutnya mendapatkan momentum lebih baik dibandingkan IIMS 2019 karena diadakan setelah hiruk pikuk politik usai.

Menurutnya, kondisi ini tidak akan berlalu dengan cepat seiring dengan isu resesi global yang masih akan menghantui hingga akhir tahun. Hal ini, menurutnya akan membuat pasar tetap cenderung wait and see untuk membeli kendaraan.

“Jadi kalau saya bilang, sebenarnya bukan persoalan daya beli, hal itu tidak turun. Orang hanya tunggu momentum saja, tapi momentum itu kelihatannya belum datang. Pilpres selesai tapi muncul isu resesi global, orang akan cenderung wait and see,” ucapnya memaparkan.

Hingga akhir tahun ini, menurutnya masih ada momentum yang dapat mendorong penjualan hingga akhir tahun yakni, program penjualan pada akhir tahun dan pengenalan produk. Dia mengatakan, 11 produk yang telah diperkenalkan pada tahun ini merupakan upaya untuk menggairahkan pasar.

Selain itu, dia mengatakan pihaknya akan menggenjot pemasaran secara digital untuk mempertahankan angka penjualan hingga akhir tahun. Menurutnya, pola perilaku konsumen untuk mencari informasi mengenai kendaran berubah seiring dengan perkembangan teknologi.

Update Saham PT ASTRA di tengah Pandemi Virus Corona

Kinerja bisnis otomotif PT Astra International Tbk (ASII) hingga kuartal I 2020 tidak bergerak dan berada jauh dari pencapaian pada periode tahun lalu. Di mana, Perseroan mengantongi laba bersih sebesar Rp1,93 triliun atau naik 1% bila dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp1,90 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, emiten ini selama tiga bulan di tahun 2020 hanya membukukan pendapatan Rp 3,84 triliun. Angka tersebut menurun 2,53% dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 3,94 triliun. Sedangkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 114,73 miliar selama kuartal I-2020. Ini artinya laba bersih AUTO di kuartal I-2020 turun 28% dari periode yang sama pada tahun 2019 sebesar Rp 159,36 miliar. 

Berdasarkan yang dikutip dari Investing.id, Presiden Direktur Astra International, Prijono Sugiarto, mengungkapkan hal tersebut didorong atas penurunan penjualan otomotif baik mobil maupun motor. Prijono mengatakan bahwa penurunan tersebut mampu diimbangi oleh peningkatan margin operasi dan keuntungan translasi mata uang asing.

Ia juga menambahkan penjualan mobil secara nasional turun 7% menjadi 237.000 unit. Kondisi serupa juga dialami sepeda motor di mana secara nasional menurun sebesar 7% menjadi 1,6 juta unit.

Astra Otoparts (AUTO) tambah modal Rp73 miliar

Berdasarkan data yang dikutip dari Kontan.co.id, pada 22 April, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) melakukan penambahan modal pada anak usahanya yaitu PT Bridgestone Astra Indonesia (BSAI) hingga Rp72,03 miliar. Adapun BSAI merupakan perusahaan joint venture antara saham AUTO dengan Bridgestone Corporation Japan (BSJ). 

Dalam keterbukaan informasi, telah disampaikan bahwa direksi telah memutuskan untuk menggunakan dana tersebut guna memperbaiki struktur modal BSAI. Menurut Direktur/Corporate Secretary Astra Otoparts Wanny Wijaya, pihak AUTO memperbaiki struktur modal dengan cara konversi utang pemegang saham menjadi modal. Di mana, hal ini tidak memengaruhi perubahan komposisi pemegang saham di BSAI, yaitu kepemilikian saham AUTO di BSAI mencapai 49%. 

Selain itu, agar dapat memenuhi target untuk mencetak pertumbuhan kinerja di sepanjang 2020, AUTO berencana untuk melakukan ekspansi bisnis penjualan komponen di pasar suku cadang pengganti. Hanya saja agaknya dengan tren perekonomian yang juga kurang baik rasanya saham AUTO belum akan kembali pada kinerja terbaiknya.

Meski demikian, para analisis saham tetap menyarankan untuk membeli saham ini. Asalkan memahami risikonya dengan benar, maka valuasi saham ini dinilai sangat menjanjikan. Nilai investasinya di masa mendatang juga dianggap masih potensial. Hanya saja memang sektor ini tidak akan mudah pulih pasca Corona.

Itulah beberapa update mengenai saham AUTO. Mungkin bagi kamu yang masih pemula hal ini sangat membingungkan bukan? Nah, bagi kamu yang masih memiliki pengetahuan minim di dunia saham, kamu bisa memilih investasi lain yang lebih stabil dan dengan risiko minim seperti reksa dana.

Ajaib merupakan salah satu platform reksa dana yang dapat membantu kamu memulai investasi reksa dana kapan dan di mana saja, hanya dengan minimal modal awal mulai dari Rp10 ribu. Selain itu, dengan Ajaib, kamu juga bisa memilih jenis reksa dana yang sesuai dengan karakter kamu dan juga tujuan investasi yang ingin kamu capai. Yuk mulai reksa dana kamu sekarang juga!.

Artikel Terkait