Analisa Saham

Merugi Sejak 2019, Apakah Saham ACST Masih Punya Prospek?

Sumber: Pexels

Ajaib.co.id – PT Acset Indonusa Tbk (kode saham ACST) merupakan perusahaan bidang konstruksi yang telah beroperasi komersial sejak tahun 1995. Anggota grup Astra ini mulai melantai di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 24 Juni 2013 dengan harga penawaran perdana Rp2.500 per lembar saham.

PT Acset Indonusa Tbk (ACST) menggarap gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, serta bangunan infrastruktur seperti jalan tol, pembangkit listrik, dan lain-lain. Sejumlah portofolionya antara lain Thamrin Nine, Millenium Centennial Center, Plaza Pasar Cikampek, Kota Kasablanka, Pacific Place, Gandaria City, jalan tol akses Bandara Kertajati, PLTU Soma Karimun, dan masih banyak lagi.

Kepemilikan saham ACST terbesar berada di tangan pemegang saham pengendalinya, yakni PT Karya Supra Perkasa (64,84%). Sisanya dimiliki oleh PT Cross Plus Indonesia (7,12%) dan masyarakat (28,04%). PT Karya Supra Perkasa merupakan anak usaha yang dimiliki sepenuhnya oleh PT United Tractors Tbk (UNTR), sedangkan 59,50% saham UNTR dipegang oleh PT Astra International Tbk (ASII).

Saham ACST memiliki market cap sebesar Rp1,72 triliun dengan harga penutupan Rp268 per lembar pada tanggal 11 Mei 2021. Mari kita analisis saham ACST untuk mengenalnya lebih dalam.

Kinerja Laporan Keuangan Terakhir

Laporan keuangan PT Acset Indonusa Tbk untuk kuartal pertama tahun 2021 menunjukkan bahwa perusahaan masih terus merasakan dampak buruk dari pandemi COVID-19 yang melanda sejak tahun lalu. Alih-alih menghasilkan laba, ACST malah lagi-lagi merugi miliaran rupiah.

Berikut rangkuman kinerja laba ACST berdasarkan laporan keuangan terakhir (dalam miliar rupiah kecuali jika dinyatakan secara khusus):

Komponen Laba1/2021I/2020
Penjualan dan pendapatan usaha381,05477,61
Beban konstruksi-401,49-490,44
Laba sebelum pajak penghasilan-82,04-120,42
Laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk-79,68-124,44
Laba per saham (rupiah penuh)-12-178

Data di atas menunjukkan bahwa hasil penjualan dan pendapatan usaha ACST masih lesu. Untungnya, perusahaan mampu mengurangi beban-beban sehingga kerugian dapat ditekan.

Total aset ACST masih mencatat kenaikan tipis sebesar 0,56% menjadi Rp3,07 triliun per 31 Maret 2021 dibandingkan Rp3,06  triliun pada akhir tahun 2020. Namun, liabilitas ACST meningkat sementara ekuitasnya menurun dalam periode yang sama.

Liabilitas perusahaan meningkat menjadi Rp2,83 triliun per 31 Maret 2021 dibandingkan Rp2,73 triliun per 31 Desember 2020. Sedangkan ekuitas yang dapat diatribusikan kepada entitas induk ACST terpangkas menjadi Rp197,04 miliar dari sebelumnya Rp275,31 miliar.

Riwayat Kinerja

Bagaimana dengan rasio-rasio keuangan ACST dari tahun ke tahun? Berikut ini perbandingan kinerja keuangan ACST selama empat tahun terakhir hingga kuartal I/2021:

RasioI/2021IV/2020IV/2019IV/2018IV/2017
ROE-161.76%-480,63%-497,64%1,33%10,95%
ROA-10,36%-43,31%-10,88%0,20%2,91%
NPM-20,91%-109,86-28,79%0,49%5,10%
DER1435,38%991,99%4449,81%546,86%274,31%

Beberapa rasio penting dalam tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba sudah mulai mengendur sejak sebelum pandemi COVID-19. ACST sudah mulai merugi sejak tahun 2019, sedangkan penurunan laba bahkan sudah berlangsung sejak jauh sebelumnya. Hal itu terlihat pada ROA, ROE, dan NPM yang kian menurun. 

Berkebalikan dengan kemampuan menghasilkan laba yang semakin memburuk, rasio utang ACST justru membengkak. Sempat terjadi penurunan DER yang cukup signifikan antara IV/2019 dan IV/2020, tetapi hal itu semata-mata karena adanya perubahan besar dalam aset dan liabilitas terkait penerimaan dana dari proyek jalan tol Jakarta-Cikampek II elevated, pelaksanaan rights issue pada pertengahan tahun 2020, serta pelunasan pinjaman bank jangka pendek. Singkatnya, belum ada perbaikan kinerja keuangan yang substansial.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

PT Acset Indonusa Tbk sempat rajin membagikan dividen hingga tahun 2019 (berdasarkan laba dari tahun fiskal 2018). Akan tetapi, perusahaan juga berhenti membagikan laba ketika kerugian mulai mengemuka dalam laporan keuangannya. Berikut ini riwayat pembagian dividen ACST selama beberapa tahun terakhir:

TahunDividen per Saham
2017Rp30
2018Rp58
2019Rp5
2020Rp0

Prospek Bisnis ACST 

Terlepas dari kinerja keuangan yang agak mengenaskan, ACST terus memenangkan tender proyek baru. Pada kuartal pertama tahun 2021, ACST telah mengantongi proyek pembangunan fondasi dan infrastruktur senilai total Rp142 miliar. Hal ini menandakan bahwa perusahaan masih eksis dan belum masuk fase yang sangat kritis.

Beberapa proyek tersebut antara lain pembangunan Terowongan Silaturahmi Masjid Istiqlal, fondasi Menara BRI dan fondasi penambahan lajur 3 Tol Tangerang-Merak Segmen Cikande-Serang Timur serta perbaikan fondasi Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan. Perusahaan juga mendapatkan kontrak pekerjaan sipil Pembangkit Listrik Tenaga Mini-Hidro (PLTM) Besai Kemu, Lampung.

Berdasarkan wawancara Kontan dengan Sekretaris Perusahaan ACST Maria Cesilia Hapsari (26/4/2021), fokus tahun 2021 tetap pada tiga sektor usaha yakni fondasi, struktur, dan infrastruktur. Akan tetapi, perusahaan akan bersikap lebih hati-hati dalam memilih proyek, khususnya analisa know your customer (KYC) sebelum mengikuti tender.

Perusahaan enggan menyebutkan berapa besar anggaran belanja modal (CAPEX) untuk 2021. Yang jelas, perusahaan akan menambah dan mengganti alat produksi yang sudah habis masa pakainya.

ACST juga mencoba melengkapi value chain yang ada melalui anak perusahaan yang bergerak di bidang usaha rental alat berat, jasa formwork/bekisting, rental passenger hoist dan tower crane, serta entitas asosiasi yang menyediakan jasa concrete pumping.

Kesimpulan

Sektor konstruksi memang termasuk bidang yang paling terdampak oleh pandemi COVID-19 melanda, sehingga bisa jadi ada yang berkomentar bahwa kinerja buruk ACST ini wajar. Akan tetapi, rekor kinerja ACST sesungguhnya juga tidak menarik jika dibandingkan dengan sesama emiten konstruksi lainnya.

Menurut data RTI, saham ACST saat ini memiliki PBV 8,74x. PBV ini tergolong mahal. Apalagi PER ACST berada di bawah nol akibat kerugian yang dialaminya, yaitu tepatnya sebesar -5,40x.

Mari coba tengok parameter serupa pada beberapa emiten konstruksi populer. WIKA memiliki PBV 0,95x dan PER 69,77x. Emiten pelat merah lainnya, WSKT memiliki PBV 1,95x dan PER -1,99x. Emiten konstruksi milik Pemda DKI, JKON juga memiliki parameter lebih masuk akal dengan PBV 1,12x dan PER 56,05x. Singkatnya, ada banyak emiten konstruksi selain ACST yang lebih layak dipilih untuk berinvestasi di Bursa Efek Indonesia. 

Bagaimana kalau untuk trading jangka pendek saja? Harga saham ACST saat ini cukup murah untuk trading, tetapi emiten ini tidak termasuk dalam LQ45 dan volume perdagangan hariannya relatif tipis. Jika kamu berminat untuk main saham ini, sebaiknya tunggu hingga munculnya sinyal teknikal kuat atau berita berdampak besar terlebih dahulu.

Artikel Terkait