Memprediksi Prospek PTBA Saham di Saat Melemahnya Harga Batu Bara

Harga batu bara secara global memang sedang tidak seksi, tetapi apakah prospek PTBA juga ikut tidak menggairahkan? Mari kita cek prediksinya!

Pada pertengahan tahun 2019, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) sempat mengalami penurunan. Namun, saham PTBA masih bisa diproyeksikan tumbuh segara signifikan.

Mengutip dari Kontan, pada kuartal I 2019, pendapatan PTBA menurun 7,1% menjadi Rp 5,34 triliun dari Rp 5,75 triliun di periode yang sama tahun lalu. Secara tahunan, laba bersih yang didapatkan PTBA juga turun 21,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu di Rp 1,45 triliun menjadi Rp 1,14 triliun.

Kinerja PTBA mengalami pelemahan, karena harga  minyak dan batu bara juga sedang melemah. Mengutip Bloomberg di perdagangan ICE New Coal kontrak Juli 2019, harga batu bara masih berada dalam tren melemah di 74,05 dolar Amerika Serikat atau berada di angka Rp1.054.844 per metrik ton, Mei lalu.

Sebagai perbandingan, harga komoditas batu bara periode yang sama pada tahun lalu berada di 95 dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp1.353.275 per metrik ton.

Harga batu bara jebol karena tensi perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memanas. Dan membuat permintaan batu bara menurun. Apalagi, kini Tiongkok dan negara maju lainnya sedang berusaha mengurangi penggunaan batu bara dan beralih ke gas alam.

Tentunya, jika terus seperti itu, harga batu bara hingga akhir tahun masih dalam tren melemah, maka kinerja emiten sektor batu bara termasuk PTBA masih akan tertekan.

Namun, tak perlu khawatir. Pada Mei 2019, PTBA Saham bergerak ke arah yang menguat, dalam waktu enam hari terakhir. Pada rentan waktu itu, saham PTBA diperdagangkan pada level Rp2.890/saham atau menguat tipis 0,35%. Volume transaksi mencapai 11,3 juta unit senilai Rp32 miliar.

Lepas dari tren pelemahan, dalam sepekan terakhir, saham PTBA naik 2,85%, kendati secara tahun berjalan saham perusahaan batu bara ini minus 33%. Tim Riset CNBC Indonesia menyebutkan aksi lepas saham treasuri milik perusahaan ini turut mempengaruhi kinerja harga saham di pasar, di tengah penurunan kinerja keuangan.

PTBA memperoleh capital gain hingga 49% atau sekitar Rp948,29 miliar atas penjualan saham treasuri tersebut dibandingkan dengan rata-rata pembelian saham tersebut pada periode 2013-2015. Secara total dana yang diperoleh dari penjualan saham ini mencapai Rp1,95 triliun.

Pembeli saham treasuri adalah Inalum sebagai pemegang saham PTBA. Sesuai definisi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saham treasuri adalah saham sendiri hasil pembelian kembali dan disimpan atas nama perseroan dan tidak dihentikan peredarannya secara formal.

Sepanjang kuartal I-2019, kinerja keuangan yang dilaporkan PTBA masih kurang menggembirakan. Total penjualan turun 5,71% menjadi Rp5,33 triliun dari sebelumnya Rp 5,748 triliun. Akibatnya, raihan laba bersihnya turun sebesar 21% dari Rp1,47 triliun di kuartal I-2018, menjadi Rp1,15 triliun pada kuartal I-2019.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.  

Share to :
Tags: , ,
Buat Deposit Pertama Sekarang
Artikel Terkait