Analisis Saham

Saham BRIS Semakin Melejit, Bagaimana Kinerja Perseroan?

Ajaib.co.id – Setelah berhasil merger dengan tiga bank syariah lainnya, PT Bank Syariah Indonesia Tbk ditargetkan berubah status menjadi BUMN di tahun ini. Dengan adanya perubahan status ini diperkirakan akan menjadi satu sentimen positif bagi saham bank syariah dengan kode saham BRIS tersebut.

Mengacu data Indo Premier Sekuritas, sepanjang tahun berjalan (ytd) saham BRIS telah diperjualbelikan investor dengan nilai Rp1,74 triliun. Selain itu, saham ini juga cukup laris di kalangan investor asing, meski rasionya tidak besar. Rekapitulasi net buy asing sebesar Rp 81,81 miliar ytd per penutupan 9 Maret 2022 lalu. Dengan perubahan status ini, nantinya juga akan memberikan keuntungan kepada BSI. Investor dalam hal ini akan melihat fleksibilitas BSI untuk mempertebal permodalan.

Menurut Asep Muhammad Saepul Islam, Pendiri Syariah Saham mengatakan bahwa BSI mampu membuktikan dapat mengelola modal dengan sangat baik untuk meningkatkan profitabilitas. Ia juga menjelaskan jika menarik data dari awal tahun saat ini saham BRIS dalam tren naik. Namun, harganya masih diuji pada level Rp 1.805 per saham.

Dari sisi grafik, harga rata-rata setahun BRIS adalah Rp 1.895 per saham. BRIS harus mencapai level Rp1.900 terlebih dahulu untuk naik lebih jauh. Adapun secara fundamental ia bilang kinerja BSI juga baik. Pada tahun lalu, bank syariah terbesar di Tanah Air itu membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 38,42% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 3,03 triliun.

Nah, sebelum memutuskan untuk membeli saham BRIS, yuk kita pelajari lebih jauh mengenai saham BRIS.

Profil Singkat Saham BRIS

Sejak akhir tahun saham BRIS semakin melejit. Selain itu, banyak yang mengamati bahwa BRIS menjadi investasi yang menarik pasca perseroan merger dan berganti nama. Bagaimana dengan kinerja perseroan?

Saham BRIS merupakan emiten Bank Syariah Indonesia (BSI), yang kini menjadi Bank Syariah terbesar di tanah air Indonesia. Bank syariah tersebut berdiri pada awal tahun lalu, yaitu pada 01 Februari 2021. BSI adalah perseroan hasil merger dari tiga bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu Bank Rakyat Indonesia Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah.

Sebelum merger, perseroan bernama BRI Syariah yang berdiri pada 03 April 1969. Dulu Bank Jasa Arta, lalu diakuisisi oleh Bank Rakyat Indonesia pada 19 Desember 2007.

Pada Mei 2018, BSI d.h. Bank BRI Syariah Tbk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten berkode saham BRIS ini memiliki pemegang saham PT Bank Mandiri Tbk dengan porsi 51,2%, PT Bank Negara Indonesia Tbk sebesar 25,0%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk 17,4%, DPLK BRI Saham Syariah 2%), dan publik 4,4%.

Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Berikut ini, laporan keuangan perseroan periode 2019 dan 2020. Data diambil dari laman BSI.

Komponen Laba 2019 2020
Pendapatan Pengelolaan Dana Rp3,37 triliun Rp4,3 triliun
Hak Pihak Ketiga Atas Bagi Hasil -Rp1,48 triliun -Rp1,32 triliun
Hak Bagi Hasil Milik Bank Rp2 triliun Rp2,88 triliun
CKPN -Rp853,8 miliar -Rp1,18 triliun
Laba Bersih Rp74 miliar Rp248 miliar

Meski industri perbankan terkena imbas pandemi Covid-19, tetapi BSI berhasil membukukan laba bersih. Bahkan laba bersih sepanjang 2020 tumbuh 235,14% dibandingkan tahun sebelumnya.

Rasio 2019 2020
ROA 0,20% 0,40%
ROE 1,50% 4,60%
CAR 25,26% 19,04%
NPF Gross 5,22% 3,24%
NPF Net 3,38% 1,77%

Riwayat Kinerja

Riwayat kinerja selama lima tahun di bawah ini, ketika perseroan masih berstatus BRI Syariah. Secara garis besar, kinerja perseroan cukup baik.

Komponen 2016 2017 2018 2019 2020
Pendapatan Pengelolaan Dana Rp2,6 triliun Rp2,8 triliun Rp3,12 triliun Rp3,37 triliun Rp4,3 triliun
Hak Pihak Ketiga Atas Bagi Hasil -Rp1 triliun -Rp1,19 triliun -Rp1,31 triliun -Rp1,32 triliun -Rp1,45 triliun
Laba Bersih Rp170 miliar Rp101 miliar Rp106,6 miliar Rp74 miliar Rp248 miliar
Dana Pihak Ketiga Rp22,9 triliun Rp26,36 triliun Rp28,86 triliun Rp34,12 triliun Rp49 triliun
Pembiayaan Rp17,25 triliun Rp17,25 triliun Rp21,86 triliun Rp27,38 triliun Rp40 triliun
Total Aset Rp27,68 triliun Rp31,5 triliun Rp37,87 triliun Rp43 triliun Rp57,7 triliun

Kinerja perseroan dari 2019 hingga 2020 mengalami peningkatan pesat. Baik dari himpunan dana pihak ketiga, penyaluran pembiayaan, laba bersih, hingga total aset.

Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Karena BRIS adalah emiten baru, maka perseroan baru satu kali membagikan dividen kepada pemegang saham. Dividen untuk tahun buku 2019 sebesar Rp1,09 per saham.

Prospek Bisnis BRIS

Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI memiliki prospek bisnis yang luas. Ditambah lagi industri perbankan sedang gencar-gencarnya memasuki ranah digital. Kehadiran BRIS juga memberikan alternatif bagi masyarakat yang ingin mendapatkan layanan perbankan berdasarkan syariah.

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi mengatakan perseroan memiliki rencana bisnis dalam tiga tahun ke depan, Kontan.co.id (16/12/2020). Pertama, branding. Hery menjelaskan perseroan akan membangun branding yang menggambarkan BSI lebih inklusif dan universal bagi semua nasabah.

Kedua, memperkuat segmen wholesale. Dengan permodalan semakin kuat, BSI akan membangun anchor klien dan bisa menjadi pemimpin dalam pembiayaan sindikasi. Karena selama ini, tiga entitas hanya mengikuti bank induknya.

Ketiga, rencana ekspansi ke luar negeri. Perseroan berencana membuka kantor di Dubai tahun depan. Hal tersebut dilakukan untuk memasuki pasar sukuk global.

Keempat, memperkuat segmen konsumer. Melalui Mitraguna, produk berbasis payroll yang telah digunakan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN), perseroan akan melakukan pembiayaan pada kepemilikan perumahan dan kendaraan.

Kelima, memperkuat Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Perseroan akan memperkuat UMKM melalui KUR dan mikro.

Keenam, digitalisasi perbankan. Perseroan akan mengembangkan kanal digital untuk melayani gadai emas, jual emas, zakat, infak, hingga sedekah dan menjangkau nasabah lebih luas.

Baca juga: Mengenal Saham BRIS, Gabungan 3 Bank Syariah di Indonesia?

Kesimpulan

Kinerja perseroan cukup baik. Kenaikan kinerja secara signifikan terjadi pada 2020 di tengah pandemi. Merger dengan bank syariah BUMN mengerek performa saham BRIS.

Pada penutupan bursa 01 Maret lalu, harga saham BRIS berada pada level Rp2.920. Sebelum merger, tepatnya 03 Maret 2020, saham BRIS berada pada level Rp200.

Sebagai perbandingan, cek PER dan PBV pada saham BRIS dan saham BBTN. Data dari laman Ajaib berdasarkan kuartal IV-2020.

BRIS

PER: 89,82 kali

PBV: 4,09 kali

BBTN

PER: 11,4 kali

PBV: 0,91 kali

Dari rasio di atas, valuasi saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) lebih tinggi dibanding saham BBTN. Demikian juga dengan harga saham BBTN sebesar Rp2.130 (01/03/2021).

Jika investor tertarik dengan saham BRIS, beli dulu dalam jumlah kecil. Tambah kepemilikan saham, jika kegiatan ekonomi telah kembali aktif dan kinerja perseroan semakin baik.

Selain itu, investor wajib mengecek kinerja perseroan beberapa tahun silam hingga mengecek aksi korporasi sebelum membeli saham. Hal tersebut dilakukan agar investor bisa memperoleh keuntungan optimal.

Nah, itulah beberapa informasi mengenai saham PT Bank Syariah Indonesia (BSI) BRIS. Bagi kamu yang ingin membeli saham BRIS atau saham perbankan lainnya, kamu bisa membelinya dengan mudah melalui aplikasi Ajaib. Melalui Ajaib, kamu bisa memulai investasi dengan mudah, kapan dan di mana saja, dengan modal mulai dari Rp100 ribu. Yuk investasi sekarang!

Artikel Terkait