Analisa Saham

Saham BRIS Semakin Melejit, Bagaimana Kinerja Perseroan?

Profil Singkat

Sejak akhir tahun saham BRIS semakin melejit. Selain itu, banyak yang mengamati bahwa BRIS menjadi investasi yang menarik pasca perseroan merger dan berganti nama. Bagaimana dengan kinerja perseroan?

Saham BRIS merupakan emiten Bank Syariah Indonesia (BSI). Bank syariah tersebut berdiri pada 01 Februari 2021. BSI adalah perseroan hasil merger dari tiga bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu Bank Rakyat Indonesia Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah.

Sebelum merger, perseroan bernama BRI Syariah yang berdiri pada 03 April 1969. Dulu Bank Jasa Arta, lalu diakuisisi oleh Bank Rakyat Indonesia pada 19 Desember 2007.

Pada Mei 2018, BSI d.h. Bank BRI Syariah Tbk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten berkode saham BRIS ini memiliki pemegang saham PT Bank Mandiri Tbk dengan porsi 51,2%, PT Bank Negara Indonesia Tbk sebesar 25,0%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk 17,4%, DPLK BRI Saham Syariah 2%), dan publik 4,4%.

Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Berikut ini, laporan keuangan perseroan periode 2019 dan 2020. Data diambil dari laman BSI.

Meski industri perbankan terkena imbas pandemi Covid-19, tetapi BSI berhasil membukukan laba bersih. Bahkan laba bersih sepanjang 2020 tumbuh 235,14% dibandingkan tahun sebelumnya.

Riwayat Kinerja

Riwayat kinerja selama lima tahun di bawah ini, ketika perseroan masih berstatus BRI Syariah. Secara garis besar, kinerja perseroan cukup baik.

Kinerja perseroan dari 2019 hingga 2020 mengalami peningkatan pesat. Baik dari himpunan dana pihak ketiga, penyaluran pembiayaan, laba bersih, hingga total aset.

Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Karena BRIS adalah emiten baru, maka perseroan baru satu kali membagikan dividen kepada pemegang saham. Dividen untuk tahun buku 2019 sebesar Rp1,09 per saham.

Prospek Bisnis BRIS

Sebagai bank syariah pendatang baru, BSI memiliki prospek bisnis yang luas. Ditambah lagi industri perbankan sedang gencar-gencarnya memasuki ranah digital. Kehadiran BRIS juga memberikan alternatif bagi masyarakat yang ingin mendapatkan layanan perbankan berdasarkan syariah.

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi mengatakan perseroan memiliki rencana bisnis dalam tiga tahun ke depan, Kontan.co.id (16/12/2020). Pertama, branding. Hery menjelaskan perseroan akan membangun branding yang menggambarkan BSI lebih inklusif dan universal bagi semua nasabah.

Kedua, memperkuat segmen wholesale. Dengan permodalan semakin kuat, BSI akan membangun anchor klien dan bisa menjadi pemimpin dalam pembiayaan sindikasi. Karena selama ini, tiga entitas hanya mengikuti bank induknya.

Ketiga, rencana ekspansi ke luar negeri. Perseroan berencana membuka kantor di Dubai tahun depan. Hal tersebut dilakukan untuk memasuki pasar sukuk global.

Keempat, memperkuat segmen konsumer. Melalui Mitraguna, produk berbasis payroll yang telah digunakan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN), perseroan akan melakukan pembiayaan pada kepemilikan perumahan dan kendaraan.

Kelima, memperkuat Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Perseroan akan memperkuat UMKM melalui KUR dan mikro.

Keenam, digitalisasi perbankan. Perseroan akan mengembangkan kanal digital untuk melayani gadai emas, jual emas, zakat, infak, hingga sedekah dan menjangkau nasabah lebih luas.

Kesimpulan

Kinerja perseroan cukup baik. Kenaikan kinerja secara signifikan terjadi pada 2020 di tengah pandemi. Merger dengan bank syariah BUMN mengerek performa saham BRIS.

Pada penutupan bursa 01 Maret lalu, BRIS berada pada level Rp2.920. Sebelum merger, tepatnya 03 Maret 2020, saham BRIS berada pada level Rp200.

Sebagai perbandingan, cek PER dan PBV pada saham BRIS dan saham BBTN. Data dari laman Ajaib berdasarkan kuartal IV-2020.

BRIS

PER: 89,82 kali

PBV: 4,09 kali

BBTN

PER: 11,4 kali

PBV: 0,91 kali

Dari rasio di atas, valuasi saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) lebih tinggi dibanding saham BBTN. Demikian juga dengan harga saham BBTN sebesar Rp2.130 (01/03/2021).

Jika investor tertarik dengan saham BRIS, beli dulu dalam jumlah kecil. Tambah kepemilikan saham, jika kegiatan ekonomi telah kembali aktif dan kinerja perseroan semakin baik.

Selain itu, investor wajib mengecek kinerja perseroan beberapa tahun silam hingga mengecek aksi korporasi sebelum membeli saham. Hal tersebut dilakukan agar investor bisa memperoleh keuntungan optimal.

Disclaimer

Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait