Analisa Saham, Saham

Lumpuh di 2020, Begini Strategi Jitu Emiten BLTZ di 2021

Sumber: Unsplash

Ajaib.co.id – PT Graha Layar Prima Tbk (CGV Blitz) (BLTZ) merupakan perusahaan yang berdiri pada tanggal 03 Februari 2004. Perusahaan kemudian memulai beroperasi secara komersial pada bulan Oktober tahun 2006.

Dilihat dari Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BLTZ yakni menjalankan usaha di bidang perfilman, perekaman video, penyediaan makanan dan minuman hingga jasa rekreasi dan hiburan.

Untuk kegiatan usaha utama yang sedang dijalankan oleh blitz adalah dalam bidang pertunjukan film. Termasuk di antaranya jasa pendukung berupa penjualan makanan dan minuman hingga penyediaan media iklan. 

Selanjutnya, CGV Blitz juga menyajikan jasa konsultasi manajemen dan bantuan teknis dalam bidang pertunjukan film pada pihak ketiga melalui anak usaha (PT Graha Layar Mitra). Sebagai informasi, pada tanggal 06 Agustus 2015 BLTZ mengganti nama brand bioskop dari Blitz Megaplex menjadi CGV Blitz.

Adapun pada tanggal 28 Maret 2014, BLTZ mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pernyataan efektif OJK ini untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BLTZ (IPO) kepada masyarakat sebanyak 74.410.400 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp3.000,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 April 2014.

Apakah saham ini masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham BLTZ

Pandemi Bikin Bioskop Banyak Tutup Layar, Bisnis Pun Rugi

PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) sudah mengklaim kalau kinerja perseroan masih dilanda COVID-19. Sehingga saat ini perusahaan memprioritaskan untuk menjaga arus keuangan (cashflow) saat ini.

Dari sisi kinerja keuangan perusahaan, BLTZ pada 30 September 2020 telah memeroleh pendapatan bersih Rp234 miliar. Capaian ini mengalami penurunan 0,77%, jika dibandingkan periode sama tahun 2019 yang mencatatkan Rp1,02 triliun.

Adapun penurunan tersebut dipicu oleh penurunan pendapatan segmen usaha bioskop menjadi Rp145,99 miliar, serta makanan dan minuman menjadi Rp60,37 miliar. Selanjutnya, segmen bisnis acara-acara dan iklan juga mengalami penurunan menjadi Rp28,02 miliar, sedangkan untuk segmen lisensi dan jasa manajemen turun menjadi Rp87,42 juta.

Sementara itu, rugi sebelum pajak penghasilan yang harus diterima perseroan sebesar Rp 311 miliar dari laba sebelum pajak penghasilan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp78,98 miliar. Sehingga rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk per kuartal III/2020 memperoleh Rp303 miliar dari laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tahun lalu yakni Rp54,61 miliar.

Lalu per Desember 2020 pendapatan perusahaan yang diperoleh turun drastis hanya Rp255,8 miliar. Angka ini mengalami penurunan yang signifikan bila dibandingkan pada akhir 2019 yang mencapai Rp1,4 triliun. Sementara itu, perusahaan harus menelan kerugian sebesar Rp445 miliar di sepanjang tahun 2020. 

Bisnis BLTZ Sehat Dalam 3 Tahun Terakhir

Sebelum adanya pandemi covid-19, kinerja bisnis PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) dalam keadaan yang sehat dalam 3 tahun terakhir. Dari tahun 2017 hingga 2019, perusahaan masih memperoleh keuntungan.

Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam jutaan rupiah).

Laporan Laba Rugi201920182017
Pendapatan bersih1.414.5931.184.323849.242
Laba kotor541.855399.838364.603
Laba (Rugi) tahun berjalan83.34635.22912.443

Dari data tersebut, secara penjualan BLTZ memang terus mengalami kenaikan per tahunnya. Hal yang sama juga berlaku untuk perolehan laba perusahaan yang naik terus sejak 2017. 

Pada 2019, emiten bioskop BLTZ memperoleh pendapatan bersih sebesar Rp1,41 triliun sepanjang tahun 2019. Capaian ini terhitung meningkat dari pendapatan bersih Rp1,18 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, tercatat laba bruto naik menjadi Rp541,6 juta dari laba bruto Rp399,84 juta tahun 2018.

Sedangkan untuk perolehan laba sebelum pajak penghasilan diperoleh Rp114,71 miliar. Angka ini naik dari laba sebelum pajak penghasilan tahun sebelumnya yang Rp51,27 miliar.

Dengan begitu, laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk diraih Rp83,34 miliar naik dari laba tahun sebelumnya yang sebesar Rp35,23 miliar.

Kemudian, total aset perseroan hingga 31 Desember 2019 mencapai Rp1,92 triliun. Total aset BLTZ naik dari total aset Rp1,76 triliun hingga periode 31 Desember 2018. 

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis BLTZ selama 3 tahun terakhir sedang sehat. Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Rasio2019
ROA4,35%
ROE6,70%
NPM5,89%
CR0,44X
DER0,54X

Bagaimana Prospek Bisnis BLTZ Ke depannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) kini sudah membuka kembali jaringan bioskop CGV sejak Oktober 2020 lalu.Head of Sales and Marketing BLTZ, Manael Sudarman sudah memberikan pernyataan jika sekarang ini permintaan dari pasar sudah mulai membaik bila dibandingkan dengan kondisi pada kuartal terakhir tahun lalu.

Kendati demikian, perseroan belum bisa memproyeksi pendapatan kinerja pada tahun ini karena memang baru sekitar 50% bioskop CGV yang kembali beroperasi. Adapun sisanya masih menunggu instruksi dari pemerintah setempat terkait pembukaan bioskop kembali. 

Pihak perusahaan juga masih melihat ketersediaan konten saat ini masih sangat kurang. Sehingga perseroan ada langkah nyata dari pemerintah bagi industri perfilman berupa insentif pajak atau stimulus lainnya.

Adapun dalam upaya BLTZ bertahan dan bisa memperbaiki kinerja pada tahun 2021 ini, BLTZ sudah menyiapkan beberapa strategi. Strategi pertama, dengan memberikan inovasi perluasan kegunaan auditorium. Sehingga tidak hanya digunakan untuk menonton film tapi juga untuk pementasan seni dan budaya. Seperti untuk event musik, tari, stand-up comedy, acara-acara korporasi, dan juga sewa auditorium untuk keperluan pribadi.

Strategi yang kedua menyediakan keragaman konten. Dengan tetap mempertahankan hubungan yang kuat dengan distributor film Hollywood, Graha Layar Prima juga terus berupaya untuk menawarkan beragam konten lainnya.

Baik konten yang berasal dari distributor film lokal hingga berbagai jenis konten alternatif lainnya berupa Anime, Jepang, Thailand, Korea, India. BLTZ berharap melalui keberagaman konten ini, mampu menarik lebih banyak pelanggan dari berbagai segmen.

Kemudian, BLTZ juga sudah menyediakan berbagai produk unggulan. Khususnya dalam bentuk special auditorium untuk menonton film terus dikembangkan. Perusahaan telah mempunyai beragam spesial auditorium seperti, ScreenX, Starium, Sphere-X, 4DX, Sweet Box, Velvet, Gold Class dan regular auditorium yang masing-masing memiliki keunggulannya tersendiri.

Graha Layar Prima pun terus meningkatkan keterlibatan pelanggan melalui platform digital. Dengan tujuan untuk lebih meningkatkan kemudahan dan aksesibilitas pelanggan dalam melakukan pembelian di bioskop Perseroan, baik tiket menonton ataupun makanan dan minuman serta merchandise.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait