Layakkah Saham BNBR Milik Bakrie & Brothers Dikoleksi?

saham bnbr
saham bnbr

Saham BNBR (Bakrie & Brothers Tbk) saat ini berada di level Rp50 per lembarnya. Karena rendahnya nilai saham, akhirnya Bursa Efek Indonesia memutuskan untuk membekukannya karena sudah terlalu lama anjlok.

Saham dari Bakrie & Brothers ini memang sudah tidur cukup lama di level Rp50 alias gocap. Meskipun mereka dapat keluar dari zona gocap , tetapi itu bukan karena memang kinerjanya, melainkan melakukan reverse stock dengan rasio 10:1.

Itu artinya dari posisi Rp50 berubah menjadi Rp500 setelah reverse stock. Tujuannya tentu agar saham BNBR bisa kembali diperdagangkan dan nilainya meningkat.

Saham BNBR Kembali Anjlok

Bukannya tambah naik, harga saham BNBR justru kembali turun hingga hampir kembali ke level gocap. Saham BNBR tercatat sudah turun 75,17 persen dari perdagang 4 Juni 2018 di posisi Rp282 ke level Rp70 pada perdagangan 3 Agustus 2018.

Tentu kondisi ini merugikan bagi pemegang saham BNBR. Mungkin reverse stock bisa menjadi jalan keluar bagi pemegang saham yang sudah lama nyangkut saat saham BNBR di level gocap. Namun tidak bagi yang masih memegang sahamnnya.

Ambil contoh, jika investor memiliki saham BNBR 10 lot ketika harganya Rp50, dengan begitu portofolio di BNBR Rp50.000. Setelah reverse stock kepemilikan sahamnya jadi 1 lot namun nilai portofolionya masih sama.

Namun jika kini harganya di level Rp70, itu artinya nilai portofolio investor tersebut di saham BNBR hanya Rp7.000. Itu artinya sudah tergerus 86 persen.

Dipimpin Putra Mahkota

Pada 16 Mei 2019, saham BNBR resmi dipimpin oleh putra mahkota grup Bakrie. yakni Anindya Novyan Bakrie. Putra sulung Aburizal Bakrie ini resmi menggantikan posisi Direktur Utama BNBR sebelumnya, Bobby Gafur Umar.

Sekadar informasi, Bobby Gafur Umar telah menjabat sebagai orang nomer satu di BNBR sejak 2002 silam. Sementara posisi Wakil Direktur Utama yang diisi Anindra Ardiansyah Bakrie atau yang akrab di panggil Ardi Bakrie.

Tugas Anindya Bakrie dan Ardi Bakrie untuk memimpin BNBR tidaklah mudah. Beberapa pekerjaan rumah sudah siap menanti untuk segera di selesaikan. Salah satunya adalah proses restrukturisasi utang BNBR yang menyulitkan perusahaan untuk tumbuh.

Asal tahu saja, proses bersih-bersih utang BNBR bukan perkara mudah. Skema yang dilakukan adalah mengubah utang kreditur menjadi saham. Sekadar mengingatkan restrukturisasi utang BNBR di tahun 2018 mencapai Rp9,38 triliun.

Adapun kreditur yang utangnya dikonversi menjadi saham pada tahun 2018 lalu adalah Daley Capital Ltd sebesar Rp100,4 miliar, Mitsubishi Corporation RtM Japan Ltd sebesar Rp2,91 triliun dan Levoca Enterprise sebesar Rp6,36 triliun.

Bukan itu saja, beberapa utang jangka pendek dari kreditur besar pun menanti untuk direstrukturisasi. Rinciannya Eurofa Capital Investment sebesar Rp1,49 triliun dan liabilitas derivatif kepada Glencore International AG Rp6,55 triliun.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Ayo bergabung dengan Ajaib, investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Ikuti Kami
Artikel Populer
Artikel Terkait