Saham

Pengertian Koreksi Saham dan Cara Investor Menghadapinya

Koreksi Saham Adalah Wajar Dalam Investasi, Perlukah Diwaspadai

Ajaib.co.id – Dunia saham memiliki banyak istilah-istilah khusus yang mungkin terdengar asing bagi investor pemula. Koreksi saham adalah salah satu istilah tersebut. Mungkin kamu sebagai seorang investor saham pernah mendengar istilah ini, namun belum memahami artinya dan dampaknya bagi seorang investor?

Bila ya, yuk, baca artikel ini untuk mengetahui apa itu koreksi saham dan cara tepat menghadapinya!

Pengertian koreksi saham

Koreksi saham adalah istilah yang merujuk pada kondisi turunnya harga saham dibandingkan dengan harga saham periode sebelumnya atau seluruh indeks bursa saham. Seberapa besar penurunannya? Pada umumnya, tergantung tekanan jual yang terjadi pada suatu saham tersebut, namun batas bawah penurunan ditentukan Bursa Efek Indonesia saat ini paling dalam yakni -7%. Koreksi saham umum terjadi setelah harga saham menguat. 

Cara kerja koreksi

Ada berbagai macam penyebab koreksi saham yang terjadi di pasar modal. Faktor makroekonomi skala besar menjadi salah satunya. Bila harga saham turun relatif bersamaan atau menyeluruh, maka pasar modal disebut mengalami koreksi.

Jika skalanya lebih kecil, misalnya karena rencana manajemen perusahaan, maka bisa menyebabkan koreksi beragam aset, termasuk saham.

Koreksi saham bisa berlangsung selama beberapa hari hingga bulan. Rata-rata, koreksi saham berlangsung selama tiga sampai empat bulan. 

Sebenarnya, koreksi selalu pasti terjadi dalam bursa efek. Saham yang tergolong stabil pun tak luput dari yang namanya koreksi. Forbes, misalnya, mencatat bahwa koreksi muncul tiap 19 bulan sekali pada indeks saham AS S&P 500 (periode tahun 1928 sampai Oktober 2021). 

Bagi investor yang melakukan transaksi saham dalam hitungan hari sampai minggu, koreksi saham bisa saja sering terjadi. Namun, bila kamu adalah seorang investor yang berorientasi jangka panjang, koreksi saham bukanlah hal yang perlu kamu khawatirkan.

Baca Juga: Pilih Growth Stocks Atau Value Stocks?

4 Tips mempersiapkan investasi saat akan koreksi

Meski tak perlu dikhawatirkan, investor bisa mempersiapkan berbagai hal saat terindikasi akan terjadi koreksi saham, seperti di bawah ini:

1. Mencari tahu dan memahami penyebab koreksi

Apakah koreksi saham terjadi akibat kondisi ekonomi yang memburuk? Atau, koreksi saham terjadi karena kinerja perusahaan yang berdampak pada harga saham?

Penting untuk mengetahui penyebab koreksi saham. Dengan mengetahuinya, investor bisa mendapat gambaran lebih komprehensif mengenai peluang saham tersebut segera pulih atau justru semakin buruk. 

2. Memahami profil risiko

Investor dapat menghindari risiko-risiko yang terjadi menjelang koreksi saham. Caranya mengalokasikan aset yang tepat dengan tingkat toleransi risiko. Alih-alih langsung menjual saham karena dorongan emosi, misalnya, investor dapat hold sebagai bagian strategi investasi.

3. Persiapkan uang untuk harga diskon

Bila ingin membeli saham di harga rendah, maka koreksi saham adalah waktu yang paling tepat. Jadi, investor bisa menyiapkan dana ‘segar’ untuk harga ‘diskon’ saat kemungkinan terjadinya koreksi saham. Namun, sebaiknya hindari dana ‘segar’ yang berasal dari pinjaman. 

4. Evaluasi dan rebalancing portofolio

Investor juga perlu untuk mempertimbangkan masa akhir investasi. Oleh sebab itu, perlu untuk mengalihkan portofolio ke aset-aset yang stabil. Tak hanya itu, rebalancing setiap tahun membuat seluruh aset investasi lebih terkendali dari risiko.

Baca Juga: Cara Melindungi Investasimu Ketika Tren Bear Market

3 Tips berinvestasi di saat koreksi saham

Berikut adalah beberapa tips berinvestasi saat koreksi saham. 

1. Jangan panik

Hal pertama yang perlu dilakukan saat benar-benar terjadi koreksi saham adalah jangan panik. Segera setelah informasi mengenai penyebabnya terkumpul, pertimbangkan pilihan langkah selanjutnya. Bila koreksi saham terjadi karena kinerja perusahaan, misalnya, investor bisa segera menjualnya.

Namun, pastikan validitas informasi sensitif seperti ini. Memeriksa laporan tahunan atau ikhtisar keuangan triwulanan bisa membantumu untuk memastikannya.

2. Segera beralih ke saham yang lain

Menjual saham emiten yang memang karena kinerjanya buruk perlu dilakukan di awal sebelum investor mengalami kerugian yang besar. Setelah itu, investor bisa beralih ke emiten lain yang memiliki potensi positif lebih besar. 

Potensi koreksi lebih besar terjadi pada beberapa ekuitas tertentu. Emiten sektor teknologi, contohnya, memiliki korelasi yang tinggi dan termasuk volatile. Oleh sebab itu, emiten seperti ini cenderung bereaksi paling kuat saat koreksi.

3. Diversifikasi investasi

Selain beralih ke saham lain, diversifikasi investasi juga penting guna memberi perlindungan terhadap investasi saham yang mengalami koreksi. Beberapa aset lain bisa menjadi pilihan, seperti reksa dana, emas dan sebagainya. 

Pelajaran dari koreksi saham

Perlu diingat, koreksi saham adalah waktu ideal untuk membeli aset bernilai tinggi dengan harga lebih rendah daripada biasanya.

Selain itu, saham individu bisa saja kuat sebelum terjadinya koreksi pasar. Tapi, selama periode koreksi, aset individu bisa saja berkinerja buruk karena kondisi pasar yang buruk. 

Singkatnya, sejumlah pelajaran bisa dipetik dari koreksi saham antara lain:

1. Uang tunai adalah aset penting

Meskipun tidak boleh menjadi bagian terbesar dari portofolio keuangan investor, uang tunai memainkan peran penting, terutama sebagai dana ‘darurat’. Uang tunai yang tersedia bisa digunakan untuk membeli saham atau aset lain saat terjadinya koreksi saham.

Kesempatan untuk meningkatkan kepemilikan dengan harga yang lebih rendah hanya mungkin dilakukan jika investor memiliki uang tunai yang tersedia untuk digunakan.

Jika tidak memilikinya, satu-satunya cara untuk memanfaatkan penurunan harga saham ini adalah dengan menjual beberapa investasi, yang biasanya bukan ide terbaik.

2. Investor jangka panjang tidak perlu khawatir dengan pergerakan jangka pendek

Berfokus pada jangka panjang adalah kunci sukses bagi banyak investor. Jika investor berinvestasi di perusahaan dan dana yang secara fundamental sehat, kerugian yang belum terjadi seharusnya tidak menyebabkan investor panik untuk menjual saham miliknya yang terkoreksi. Pahami bahwa volatilitas tidak akan pernah hilang, dan fokuslah pada tujuan keuangan jangka panjang.

Daripada keluar dari pasar sepenuhnya, mungkin sudah waktunya untuk menyeimbangkan kembali portofolio untuk mengurangi risiko. Seorang investor, misalnya, dapat menurunkan risiko dengan memiliki portofolio saham dan obligasi yang seimbang.

Ibaratnya, portofolio seimbang adalah airbag pada mobil. Saat terjadi kecelakaan, airbag itu akan melindungi investor dari cedera fatal. Intinya, memiliki campuran aset dapat mengurangi volatilitas dalam portofolio dan membuat koreksi pasar tidak terlalu menyakitkan.  

Artikel Terkait