Investasi

Kombinasi Saham & Obligasi? Pahami Dua Surat Berharga Ini

Ajaib.co.id – Surat berharga seperti saham dan surat utang dapat menjadi pilihan investasi yang menarik dengan potensi keuntungan besar. Kombinasi portofolio saham dan surat utang yang tepat menjadi kunci untuk memaksimalkan keuntungan dari dua instrumen investasi surat berharga ini.

Sebelum membahas lebih jauh tentang kombinasi ideal antara obligasi dan saham, terlebih dahulu kita perlu memahami persamaan dan perbedaan kedua instrumen tersebut. Secara sederhana, obligasi maupun saham sama-sama merupakan jenis surat berharga.

Dikutip dari Online-Pajak.com, surat berharga adalah dokumen yang memiliki nilai, dilindungi oleh hukum dan diakui oleh negara.

Adapun, saham, yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) adalah modal perseroan dibagi atas saham-saham atau sero-sero atau blanko. Dalam bahasa yang lebih mudah, saham dapat diartikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang maupun badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.

Dalam skema konvensional saham berbentuk kertas yang berisi keterangan bahwa pemilik dokumen tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat saham tersebut. Adapun, porsi kepemilikan ditentukan dari seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut.

Sementara itu, surat utang umumnya terdiri dari tiga jenis, yaitu obligasi, Surat Utang Negara (SUN), dan Surat Berharga Syariah Nasional (SBSN). 

Yang pertama, obligasi adalah jenis surat utang jangka menengah hingga panjang yang dapat dipindahtangankan. Instrumen investasi ini berisi janji untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang ditentukan kepada pembeli.

Berbeda dengan saham, obligasi bisa diterbitkan oleh negara maupun korporasi. Jika negara menerbitkan surat utang atau obligasi, maka disebut sebagai Surat Utang Negara (SUN). Gampangnya, SUN merupakan utang yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara sesuai masa berlaku.

Penerbitan surat utang seperti ini menjadi salah satu cara pemerintah untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan menutup kekurangan kas jangka pendek dalam 1 tahun anggaran.

Tak hanya SUN, pemerintah juga dapat menggalang dana melalui penerbitan SBSN atau yang biasa disebut sebagai sukuk. Bedanya, penerbitan instrumen utang yang satu ini dilakukan secara syariah. Sukuk juga merupakan instrumen utang piutang tanpa unsur riba di dalamnya.

Sampai sini, terlihat perbedaan jelas antara saham dan obligasi. Saham adalah bukti kepemilikan seseorang atas sebuah perusahaan, sedangkan surat utang adalah bukti utang perusahaan kepada pemilik modal yang dilengkapi dengan bunga dan tanggal jatuh tempo pembayarannya.

Surat Berharga Saham Vs Surat Utang

Pemegang saham bisa mendapatkan keuntungan dari dividen atau laba yang dibagikan kepada pemegang saham ataupun capital gain yang didapatkan dari jual beli saham. Sementara itu, pemegang surat utang akan mendapatkan keuntungan dari pembayaran pokok dan bunga yang disepakati, ataupun dari gain yang didapatkan dari transaksi di pasar sekunder.

Keuntungan berupa dividen pada saham akan berfluktuasi sesuai dengan kinerja perusahaan terkait. Jika sedang untung besar, tentu dividen yang akan dibagikan lebih besar.

Tetapi, tidak semua perusahaan selalu membagikan dividen setiap tahunnya, artinya peluang keuntungan dividen bisa saja hilang jika perusahaan tidak membagikan labanya.

Berbeda dengan saham, surat utang atau obligasi menjanjikan keuntungan yang sudah pasti. Pemegang surat utang akan mendapatkan bunga atau kupon secara berkala, sesuai dengan kesepakatan. Alasan ini juga yang membuat obligasi atau surat utang disebut juga sebagai instrumen investasi fixed income.

Tetapi ada saja kalanya pemegang surat utang harus menghadapi kenyataan perusahaan terkait tidak mampu menjalankan kewajibannya untuk membayar bunga dan pokok utang.

Contohnya, Garuda Indonesia yang beberapa waktu lalu kesulitan membayar obligasinya yang jatuh tempo sampai mengajak pemegang obligasi untuk berunding. Akhirnya, disepakati tenor atau tenggat waktu jatuh tempo surat utang ini diperpanjang.

Selain dari sisi keuntungan, kedua surat berharga ini dapat dibedakan dari sisi waktu. Kepemilikan seorang investor atas sebuah saham tidak terbatas waktu tertentu, asalkan perusahaan itu tetap berdiri. Di sisi lain, pemegang saham obligasi hanya dapat mendapatkan keuntungan sesuai dengan tenor atau jangka waktu investasi yang disepakati.

Kombinasi Saham dan Surat Utang

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa saham dan obligasi memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Obligasi memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan saham, tetapi juga menawarkan kemungkinan keuntungan yang lebih rendah. Memadukan saham dan obligasi akan menjadi strategi pengaturan portofolio investasi yang tepat.

Lantas, seperti apa alokasi ideal antara saham dan obligasi atau surat utang ini? Jawabannya, semua dikembalikan kembali kepada profil risiko masing-masing investor. Tetapi, tentunya ada beragam beberapa rekomendasi alokasi investasi yang dapat menjadi acuan para investor.

Salah satunya adalah acuan 100 dikurangi umur. Dikutip dari Investopedia.com, aturan ini tidak terlalu rumit, hanya menyarankan investor untuk berinvestasi sesuai dengan usianya.

Contohnya, jika kamu berusia 25 tahun, maka kamu dapat menginvestasikan 75% (100-25) asetmu ke dalam saham, dan sisanya obligasi atau surat utang. Di sisi lain, jika kamu berusia 75 tahun, maka alokasikan 25% investasi ke dalam saham, dan sisanya ke dalam obligasi.

Secara sederhana, aturan ini menyarankan semakin berumur atau semakin dekat kamu dengan masa pensiun, maka lebih baik berinvestasi lebih besar pada aset berisiko rendah. Sebaliknya, jika masih muda, beranikanlah diri untuk mengambil risiko yang lebih besar dalam berinvestasi.

Bagaimana dengan Profil Risiko?

Apapun pilihan investasi dan profil risiko yang diambil, mulailah berinvestasi lewat aplikasi Ajaib!

Aplikasi ini telah mendapatkan izin dari OJK dan menjadi salah satu platform andalan investasi saham dan reksadana online saat ini.

Kamu bisa mengunduh aplikasi investasi Ajaib melalui Google Play Store dan Apple App Store.

Artikel Terkait