Asuransi & BPJS

Jasindo Hadapi Tantangan Pandemi dengan Strategi Baru

Ajaib.co.id – Pandemi Covid-19 telah memukul telak berbagai sektor, termasuk asuransi. Para pelaku di industri asuransi harus menyusun strategi baru untuk menghadapi tantangan ke depan. Tak terkecuali bagi PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau sering disingkat Asuransi Jasindo.

Asuransi Jasindo merupakan salah satu perusahaan asuransi yang dimiliki pemerintah Indonesia di bawah kendali Badan Usaha Milik Negara. Perusahaan asuransi tersebut berdiri sejak tanggal 2 Juni 1973, tapi sebenarnya sudah hadir di Indonesia sejak tahun 1845.

Jasindo dahulu dimiliki oleh perusahaan asuransi Hindia Belanda dan Inggris yang digabung dari dua perusahaan. Perusahaan tersebut adalah NV Assurantie Maatschappij de Nederlander dan Bloom Bander.

Sejarah Singkat Jasindo

Seperti telah disebutkan di atas, Jasindo merupakan perusahaan asuransi yang semula dimiliki oleh Hindia Belanda dan Inggris, yakni NV Assurantie Maatschappij de Nederlander dan Bloom Bander.

Setelah Indonesia merdeka, perusahaan asuransi tersebut dinasionalisasi dan berubah menjadi perusahaan asuransi yang punya dua cabang besar. Ada PT Asuransi Bendasraya, perusahaan asuransi yang menggunakan rupiah dalam operasinya dan PT Umum International Underwriters (PT.UIU) yang menggunakan mata uang asing dalam operasinya.

Lalu, secara resmi kedua perusahaan tersebut bergabung menjadi PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau disingkat menjadi Jasindo pada tahun 1973.

Diperkirakan sebanyak 11% marketshare asuransi yang ada di Indonesia dikelola perusahaan pelat merah ini. Kebanyakan mereka yang menggunakan produk asuransi berasal dari perusahaan-perusahaan besar. Jasindo dikenal dapat mengelola asuransi klaim besar dengan sangat baik.

Tantangan Jasindo di Masa Pandemi Covid-19

Menyongsong tahun 2021, Jasindo menerapkan sejumlah strategi baru, termasuk defensive strategy.

Sinyal positif pandemi Covid-19 di tanah air terlihat di bulan Januari 2021. Pasalnya, program vaksinasi mulai dilaksanakan pada bulan Januari 2021.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menyambut baik upaya untuk menekan penyebaran pandemi Covid-19 ini. Ia juga berharap, masyarakat harus tetap waspada meski vaksinasi sudah dijalankan.

Hal senada pun datang dari Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani. Ia turut memberi sambutan positif atas dimulainya vaksinasi.

Shinta menilai pelaksanaan vaksinasi dapat memperlambat penyebaran Covid-19 yang telah membatasi mobilitas dan menurunkan produktivitas pasar.

Jasindo pun optimis menghadapi pertumbuhan bisnis di tahun depan. Direktur Pengembangan Bisnis Asuransi Jasindo Diwe Novara menuturkan, pandemi Covid-19 telah membawa perubahan yang cukup substansial terhadap ekonomi, cara beraktivitas, dan bertransaksi, termasuk perubahan prioritas-prioritas, dan keputusan-keputusan ekonomi.

Ini terjadi pada semua pelaku ekonomi, baik rumah tangga (household), perusahaan/bisnis maupun Pemerintah.

Perubahan ini, lanjut Diwe, memunculkan ancaman dan sekaligus peluang bagi dunia usaha. Di sinilah diperlukan kejelian menganalisa situasi dan kecepatan dalam beradaptasi.

Bukan tak mungkin, kejelian analisa dan kecepatan adaptasi justru membuat pelaku bisnis menangkap lebih banyak peluang daripada sebelum pandemi Covid-19.

Perubahan cukup drastis, Diwe mengaku, tengah dilakukan oleh Jasindo dalam menghadapi tantangan pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, perusahaan menerapkan growth strategy. Kini, setelah pandemi Covid-19, perusahaan mengubahnya menjadi defensive strategy.

Defensive atau bertahan di sini bukan berarti tidak beraksi atau diam menunggu. Defensive di sini berarti perusahaan tetap menjaga kewaspadaannya terhadap perubahan situasi dan aksi pesaing atau calon pesaing.

Perusahaan tetap berusaha menemukan produk, metode, atau sistem baru untuk menjawab tantangan yang ada. Terlebih, masa pandemi Covid-19 bisa mengubah peta industri dengan sedemikian cepatnya.

Diwe menjabarkan, defensive strategy yang dilakukan perusahaan berupa melindungi akun perpanjangan, berfokus pada Coordination of Benefit (COB-COB) yang tetap tumbuh dengan margin yang baik, seperti marine hull, property dan suretyship.

Selain itu, juga mengetatkan kebijakan underwriting menjadi lebih prudent. Tak ketinggalan,pengelolaan piutang yang lebih ketat guna memastikan cashflow tetap sehat pun dilakoni.

Di samping pandemi Covid-19 yang mengguncang banyak sektor, tahun 2020 juga menjadi tahun bersejarah bagi Jasindo. Hal ini karena tahun lalu telah terbentuk Holding Indonesia Financial Group (IFG) dengan induk holding PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia.

Terkait hal ini, Diwe menyampaikan, sinergi antaranggota holding akan diperkuat melalui kerja sama.

Sebagai bagian defensive strategy, Jasindo juga meluncurkan program Cost Leadership. Pada prinsipnya, efisiensi biaya dan restrukturisasi bisnis yang paling terdampak Covid-19 menjadi fokus program ini.

Strategi lainnya dalam defensive strategy adalah conservative investment. Dalam menjalankan strategi ini, Jasindo berfokus pada investasi yang likuid dan instrumen yang berisiko rendah.

Dalam strategi ini, Jasindo mengurangi porsi pada instrumen yang memiliki risiko tinggi, seperti saham dan reksa dana saham atau campuran.

Sebagai gantinya, Jasindo beralih pada instrumen dengan risiko yang lebih rendah, seperti deposito, obligasi, dan reksa dana pendapatan tetap. Instrumen dengan maturity profile pendek dan likuid pun tak luput dari perhatian Jasindo.

Pada tahun 2021, Asuransi Jasindo juga mengusung strategi bertajuk “The New Jasindo”. Fokus strategi ini terletak pada proses bisnis dan sumber daya manusia (SDM): New Win, New Way, New Wave.

New Win merujuk pada aspek bisnis. Pada aspek ini, Jasindo sudah mulai membuat prioritas pada bisnis yang akan menjadi fokus utama. Di samping bisnis yang menjadi fokus utama, Jasindo juga mulai mengelaborasi bisnis mana yang akan menjadi pelengkap dan mana yang akan dikurangi.

Sementara itu, New Way merujuk pada proses bisnis. Proses bisnis ini juga tak luput dari banyak perubahan. Semuanya bertujuan menyederhanakan proses.

Meski lebih sederhana, Jasindo tetap memperhatikan proper process dan governance dari proses bisnis tersebut.

Terakhir, New Wave merujuk pada aspek SDM. Jasindo akan berupaya memiliki sebanyak mungkin talenta terbaik yang disebut talent champion. Talenta ini merupakan leading talent yang memiliki pemahaman mendalam terhadap customer centricity.

Ke depan, juga akan meningkatkan keahlian para tenaga marketing, underwriter, dan adjuster. Peningkatan keahlian tersebut bertujuan untuk lebih memahami risiko yang dihadapi tertanggung.

Selain itu, para tenaga yang meningkat keahliannya diharapkan dapat memberi advice yang tepat bagaimana manajemen risikonya dari sisi asuransi.

Fokus Jasindo tak melulu soal strategi. Jasindo juga akan berfokus pada beberapa produk, contohnya asuransi marine hull dan kargo. Tak hanya itu, juga akan tetap mempertajam produk-produk yang selama ini memiliki positioning kuat, seperti di energi dan properti.

Agak berbeda dengan segmen-segmen lainnya, asuransi pelat merah ini akan banyak melakukan pengembangan-pengembangan pada asuransi-asuransi yang customized pada segmen ritel. Hal ini merupakan adaptasi dari apa yang menjadi gaya hidup masyarakat sekarang.

Pasar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan rural economy ke depan makin akan tumbuh pesat. Hal ini juga menarik bagi Jasindo. Terlebih, Diwe berujar, Jasindo sudah memiliki modal di asuransi pertanian penugasan Pemerintah.

Jadi, Jasindo akan terus mendalami dan menciptakan asuransi-asuransi yang sekiranya berkontribusi dalam memberikan keamanan finansial bagi masyarakat petani dan pedesaan.

Artikel Terkait