Reksa Dana

Deposito Bank vs Reksa Dana Pendapatan Tetap: Pilih Mana?

Ajaib.co.id. Deposito mungkin adalah salah satu instrumen investasi yang cukup populer dan banyak diminati masyarakat Indonesia, dibandingkan reksa dana pendapatan tetap. Pasalnya, deposito bank memang dapat memberikan bunga yang lebih besar daripada jika kamu menyimpan uang di tabungan bank biasa. Namun dengan tren dunia keuangan saat ini apakah deposito masih ada pilihan yang paling tepat?

Sebagai instrumen investasi, deposito bank sangat digemari karena termasuk ke dalam jenis investasi dengan risiko rendah, rerata keuntungannya pun relatif stabil jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya seperti saham, emas, hingga obligasi yang memberikan jaminan pasti. Sebagian menyebut jika deposito cocok untuk investor pemula.

Namun, meskipun berisiko rendah dan menawarkan bunga yang tinggi, deposito berjangka juga mengharuskan kamu menyimpan uang dalam kurun waktu tertentu. Dikarenakan ketentuan penyimpanan dana dalam jangka waktu tertentu, berinvestasi di deposito kurang cocok bagi investor yang berinvestasi dengan tujuan investasi guna mengumpulkan dana darurat. Pasalnya, kamu tidak bisa langsung mengambil uangmu jika suatu saat kamu benar-benar membutuhkannya di saat-saat genting.

Selain itu, kamu perlu dana yang besar untuk permulaan investasi ini. Hal ini kadang kala cukup memberatkan bagi anak muda yang baru belajar berinvestasi. Jangan mulai investasi, bahkan uang tabungan pun kerap tergerus habis kebutuhan harian.

Lalu, jika ingin berinvestasi di instrumen yang menawarkan keuntungan yang cukup stabil dengan risiko rendah, apakah ada alternatif lain selain deposito bank? Tentu saja ada. Pernah dengar mengenai reksa dana pendapatan tetap?

Hmm… kemana saja sih kamu, hari gini belum tahu tentang reksa dana pendapatan tetap. Tapi tidak apa-apa, mari kita kupas satu persatu terkait reksa dana pendapatan tetap dan perbedaannya dari deposito bank.

Reksa Dana Pendapatan Tetap, Alternatif Lebih Terjangkau Daripada Obligasi

Reksa dana pendapatan tetap adalah salah satu jenis reksa dana di mana minimal 80 persen dari asetnya diinvestasikan ke dalam efek utang atau obligasi. Obligasi atau dikenal juga dengan surat utang bisa diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan.

Reksadana pendapatan tetap ini sangat cocok bagi investor yang bertujuan mendapatkan pengembalian yang stabil. Pasalnya meskipun tingkat risikonya lebih besar dari pada reksa dana pasar uang, namun juga lebih moderat dibandingkan reksa dana pasar saham. Reksa dana saham dan reksa dana campuran memang lebih pas bagi investor dengan profil agresif.

Selain itu, reksa dana pendapatan tetap sangat cocok bagi investor yang ingin mendapatkan keuntungan dengan berinvestasi selama satu tahun hingga tiga tahun, jangka pendek hingga menengah. Berinvestasi di instrumen ini, investor akan mendapatkan imbal hasil tetap secara periodik yang berbentuk kupon bunga pinjaman.

Umumnya, pembagian kupon ini dilakukan setiap tiga bulan sekali untuk obligasi atau surat utang perusahaan dan setiap enam bulan sekali untuk obligasi pemerintah. Namun, beberapa Manajer Investasi akan menginvestasikan lagi kupon-kupon tersebut ke obligasi yang berikutnya sehingga akan menambah harga reksa dana.

Lalu, apa sih obligasi itu? Obligasi merupakan salah satu instrumen pasar modal yang berisi pernyataan berutang dari pihak yang menerbitkannya kepada pihak pemberi utang yang akan memegang surat utang tersebut, dengan janji untuk melunasi pokok utang berikut bunganya ketika tanggal jatuh tempo pembayaran telah tiba.

Jadi, dengan kata lain, sebagai investor kita memberikan pinjaman uang kepada perusahaan atau pemerintah. Pinjaman uang ini bisa digunakan untuk berbagai keperluan, yang pasti para peminjam modal ini berkewajiban untuk membayar cicilan utang ditambah dengan bunganya kepada investor secara berkala.

Oleh karena itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unitnya juga akan dipengaruhi oleh harga obligasi dan besaran kupon bunga. Pergerakan ini yang nantinya harus dijadikan acuan dalam menghitung potensi laba atau rugi dalam reksa dana pendapatan tetap. Semakin besr nilai kupon, harga obligasi akan semakin tinggi. Sebaliknya, jika nilai kuponnya kecil maka harga obligasi pun rendah.

Nah, ini adalah poin pertama yang membedakan keuntungan dari investasi reksa dana pendapatan tetap dan bunga deposito bank.

Bunga deposito adalah sejumlah nilai yang harus pihak bank berikan kepada para nasabah sebagai imbalan karena telah mempercayakan uangnya di bank tersebut. Tingkat suku bunga ini ditentukan oleh beberapa faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Besar suku bunga deposito biasanya berkisar dari 3 persen hingga 7 persen, meskipun ada juga bank yang menawarkan bunga deposito tertinggi yang mencapai angka 9 persen.

#Minimal Setoran

Aspek selanjutnya yang membedakan reksa dana pendapatan tetap dan deposito bank adalah jumlah uang yang harus disetorkan di awal.

Sama seperti ketika kamu membuka rekening tabungan di bank, ada sejumlah uang yang harus kamu setorkan ketika pertama membuka deposito. Meskipun jumlah berbeda sesuai dengan kebijakan yang diterapkan oleh tiap-tiap bank, namun pada umumnya kamu harus menyetorkan minimum Rp5.000.000 untuk dapat memiliki deposito bank.

Ini juga merupakan salah satu perbedaan deposito bank dan reksa dana pendapatan tetap. Tidak ada nominal minimum dana yang harus kamu setorkan untuk dapat berinvestasi di reksa dana pendapatan tetap.

Bahkan, di sini kamu bisa mulai berinvestasi di reksa dana pendapatan tetap hanya dengan Rp10.000 saja!

# Perpajakan

Perbedaan besar lainnya adalah perpajakan. Pengembalian dari deposito bank adalah pendapatan bunga dan karenanya harus ditambahkan ke penghasilan normalmu. Dengan kata lain, kamu masih harus membayar Pajak Penghasilan (Pph) atas keuntungan yang kamu dapatkan dari deposito.

Pph untuk bunga deposito dikenakan sebesar 20% per tahun untuk nilai simpanan di atas Rp 7,5 juta. Saat ini simpanan minimal produk deposito Rp 8 juta sehingga besar kemungkinan nasabah deposito tidak bisa menghindar dari pajak bunga deposito. Bunga yang ditanggung akan semakin besar jika nilai simpanan semakin besar.

Nah, berikut ini adalah gambaran sederhana mengenai seberapa besar Pph yang harus kamu bayarkan jika kamu memiliki simpanan sebesar Rp50 juta dengan bunga deposito sebesar 6 persen per tahun. Sementara depositomu tersebut bertenor 12 bulan: 

Bunga deposito per tahun = 50 juta x 6% = 3 juta

Bunga deposito per bulan = 3 juta : 12 bulan = 250 ribu

Pajak bunga deposito per bulan = 250 ribu x 20% = 50 ribu

Pajak bunga deposito per tahun = 50 ribu x 12 bulan = 600 ribu

Dengan perhitungan ini, maka bunga bersih yang akan kamu dapatkan ketika jatuh tempo adalah sebesar Rp2.4 juta. Kamu harus membayarkan Rp600.000 dari total keuntungan yang kamu dapatkan dari depositomu selama 12 bulan. Sehingga, total dana yang akan kamu dapatkan ketika jatuh tempo adalah Rp52,4 juta dari pokok simpanan, ditambah dengan bunga bersih.

Bagaimana dengan reksa dana pendapatan tetap? Nah, catat ini baik-baik ya. Reksa dana merupakan satu-satunya instrumen investasi yang tidak termasuk sebagai objek pajak. Sehingga kamu tidak perlu membayar Pph dari keuntungan investasi yang kamu dapatkan, seberapa pun tinggi angkanya.

Ketentuan ini sangat jelas tertulis dalam UU PPh pasal 4 ayat 3.

# Likuiditas

Aspek selanjutnya yang membedakan deposito bank dan reksa dana pendapatan tetap adalah likuiditas. Apa sih likuiditas itu? Likuiditas aset adalah kemampuan suatu aset untuk dapat dijual sesegera mungkin tanpa banyak kehilangan harganya.

Dalam segi likuiditas, reksa dana merupakan salah satu instrumen investasi dengan tingkat likuiditas yang paling tinggi karena aset yang kamu investasikan di reksa dana dapat dicairkan atau dijual kapan saja, berdasarkan harga NAB yang berlaku saat penjualan.

Menurut peraturan yang disusun oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), metode pembelian reksa dana yang dilakukan sampai pukul 13.00 akan diproses berdasarkan harga portofolio di hari itu. Sementara, pembelian reksa dana yang dilakukan setelah pukul 13.00 akan diproses berdasarkan harga acuan di hari selanjutnya.

Ketika menjual reksa dana, Manajer Investasi sebagai pihak yang mengoperasikan dana (fund manager) harus membayar atau mengembalikan dana investor selama tujuh hari kerja atau T+7 ( tidak termasuk hari Sabtu, Minggu dan tanggal merah), terhitung dari tanggal ketika investor menjual reksa dana tersebut.

Lalu bagaimana dengan deposito bank? Seperti yang telah dijelaskan sebelumya, salah satu jenis deposito yang paling populer di Indonesia adalah deposito berjangka, di mana nasabah akan menyimpan uangnya selama jangka waktu yang telah disepakati di awal.

Terdapat beberapa opsi terkait jangka waktu penyimpanan ini, mulai dari 1, 3, 6, 12 hingga 24 bulan. Namun, nasabah tidak dapat mengambil dana yang tersimpan tersebut hingga jangka waktu yang telah disepakati selesai. Jika sebagai nasabah kamu sedang berada dalam kondisi darurat dan butuh untuk segera menarik uang di akun depositomu, maka kamu diwajibkan membayar penalti.

# Prospek Masa Depan

Dari berbagai penjelasan terkait deposito bank dan reksa dana pendapatan tetap, tentunya kamu sudah dapat memilih salah satu diantara kedua instrumen investasi tersebut yang paling cocok dengan portofolio dan tujuan keuanganmu, ya?

Reksa dana pendapatan tetap merupakan instrumen alternatif yang tidak kalah menguntungkan dengan risiko yang rendah, seperti deposito bank. Bahkan, kinerja pasar obligasi dilaporkan meningkat secara signifikan selama tahun 2019 dan memberikan dampak yang positif bagi keseluruhan pasar reksa dana.

Masa depan reksa dana terproteksi diprediksi masih aman terkendali. Hal ini karena fitur dividen alias pembagian laba keuntungan yang ditawarkan reksa dana masih bisa diterima nasabah secara reguler. Belum lagi ditambah dengan harga obligasi yang memiliki potensi upside (perkiraan peningkatan nilai saham di masa depan). Sentimen positif dari ekspektasi penurunan suku bunga acuan akan berdampak positif terhadap obligasi maupun saham.

Dengan begitu, obligasi menjadi semakin menarik, karena hubungan langsung antara yield (persentase keuntungan) dan suku bunga mampu mendorong harga obligasi untuk terus bergerak naik. Tentunya, produk reksa dana yang masih terproteksi menjadi hal yang menarik di pasar investasi. Dengan kebutuhan masyarakat yang tinggi, dividennya tetap membuat investor bisa menerima arus kas, meski kondisi pasar sedang naik atau turun.

Bacaan menarik lainnya:

Pozen, Robert C. (1998). The Mutual Fund Business. Cambridge : MIT Press

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Jakarta.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait