Jangan Membeli Saham Hanya Berdasarkan Harga Saham Saja

test alt text
Jika Anda memiliki 10 juta untuk diinvestasikan dan diberi pilihan antara membeli seribu lot saham perusahaan ABC dengan seribu per saham, atau 20 lot saham perusahaan XYZ dengan harga 50 ribu, mana yang akan Anda pilih? Banyak investor akan membeli seribu lot saham ABC karena harga sahamnya lebih rendah. Mereka berargumen bahwa saham seribu terlihat murah dan harga 50 ribu per saham untuk saham lain terlalu berisiko.
Jika Anda setuju dengan alasan di atas, Anda akan terkejut. Yang benar adalah Anda tidak memiliki informasi yang cukup untuk menentukan saham mana yang harus dibeli berdasarkan harga saham saja. Setelah melakukan analisis yang cermat, Anda mungkin menemukan bahwa saham seharga 50 ribu tersebut justru lebih murah daripada saham dengan harga seribu. Bagaimana maksudnya? Simak contoh di bawah ini.
# Contoh Praktis tentang Cara Mengevaluasi Harga Saham
Setiap saham dalam portofolio Anda mewakili kepemilikan fraksional dalam bisnis. Pada tahun 2017, Gudang Garam mendapat untung sekitar 7,75 triliun rupiah. Perusahaan dengan nilai saham paling mahal di Indonesia ini memiliki sekitar 1,92 miliar saham beredar.
Ini berarti bahwa masing-masing saham tersebut mewakili kepemilikan 1 / 1.920.000.000 dari bisnis (atau 0,0000000521% dan memberikan Anda hak untuk 3.900 ribu dari keuntungan 7,5 triliun keuntungan dibagi dengan 1,92 miliar saham = 3.900 ribu per saham).
Asumsikan bahwa saham perusahaan diperdagangkan pada 90 ribu per saham dan dewan direksi Gudang Garam berpikir itu agak terlalu mahal bagi investor rata-rata. Akibatnya, mereka mengumumkan stock split. Jika GGRM mengumumkan pemecahan saham 2-1, perusahaan akan menggandakan jumlah saham yang beredar (dalam hal ini jumlah saham akan meningkat menjadi 3,84 miliar dari 1,92 miliar).
Perusahaan akan mengeluarkan satu saham untuk setiap saham yang sudah dimiliki investor, memotong harga saham menjadi dua. Misalnya, Jika Anda memiliki 100 saham pada 90 ribu rupiah dalam portofolio Anda pada hari Senin, setelah pemecahan, Anda akan memiliki 200 saham seharga 45 ribu rupiah untuk masing-masing saham.
Setiap saham sekarang hanya bernilai 1 / 3.840.000.000 dari perusahaan, atau 0.000000026%. Karena kenyataan bahwa setiap saham sekarang mewakili setengah dari kepemilikan yang dilakukannya sebelum pembagian, itu hanya berhak atas setengah keuntungan, atau 1.950 rupiah.
Investor harus bertanya pada dirinya sendiri mana pilihan yang lebih baik. Apakah membayar 90 ribu untuk pendapatan sebesar 3.900 rupiah, atau membayar 45 ribu untuk pendapatan sebesar 1.950 rupiah? Tidak ada pilihan yang lebih baik. Pada akhirnya, investor memiliki situasi yang sama persis.
Transaksi ini mirip dengan seorang pria dengan tagihan listrik sebesar 100 ribu rupiah dan membayarnya dengan dua lembar 50 ribu. Meskipun kondisi sekarang tampak seperti pria ini punya lebih banyak uang, realitas ekonominya tidak berubah. Sehingga dapat membuktikan tidak ada gunanya menunggu stock split untuk membeli saham perusahaan.
# Contoh Ilustrasi Harga Saham Relatif terhadap Nilai
Itu semua bertujuan untuk membuat satu poin yang sangat penting, yaitu harga saham sendiri tidak ada artinya. Harga saham dalam kaitannya dengan pendapatan dan aset bersih yang menentukan apakah suatu saham over atau undervalued. Kembali ke pertanyaan yang diajukan di awal artikel ini, asumsikan contoh berikut.
  • Perusahaan ABC diperdagangkan pada seribu rupiah per saham dan memiliki EPS 10 rupiah.
  • Perusahaan XYZ diperdagangkan pada 50 ribu rupiah per saham dan memiliki EPS seribu rupiah.
Saham ABC diperdagangkan dengan rasio harga terhadap pendapatan (rasio P/E) 100 (seribu rupiah per saham dibagi dengan EPS sebesar 10 rupiah, P/E = 100). Saham XYZ, di sisi lain, diperdagangkan pada P/E 50 (50 ribu rupiah per saham dibagi dengan EPS sebesar seribu rupiah, P/E = 50).
Dengan kata lain, Anda membayar 100 rupiah untuk setiap 1 rupiah pendapatan dari perusahaan ABC, sementara perusahaan XYZ menawarkan Anda pendapatan 1 rupiah yang sama dengan hanya 50 rupiah.
Kebanyakan investor percaya nilai saham ditentukan oleh harganya. Itu hanya berlaku sampai batas tertentu. Tetapi ada perbedaan besar yang nyata antara keduanya. Harga saham hanya memberitahu Anda nilai perusahaan saat ini atau nilai pasarnya. Jadi harga hanya menunjukkan seberapa banyak perdagangan saham atau harga yang disepakati oleh pembeli dan penjual. Semakin banyak pembeli berarti harga saham akan naik, sementara lebih banyak penjual berarti harga akan turun.
Di sisi lain, nilai intrinsik adalah nilai aktual perusahaan. Nilai ini mencakup faktor berwujud dan tidak berwujud termasuk analisis fundamental. Anda dapat menggunakan aspek kualitatif dan kuantitatif perusahaan untuk menentukan nilai, menganalisis model bisnis dan laporan keuangannya.
Ada pepatah umum berkata untuk jangan menilai buku dari sampulnya. Bagi investor, pepatah ini bisa diartikan menjadi, jangan menilai saham dari harga sahamnya. Meskipun begitu banyak informasi tersedia bagi investor, banyak orang masih salah berasumsi bahwa saham dengan harga yang lebih murah itu saham murah, sementara saham lain dengan harga lebih mahal adalah saham yang mahal. Gagasan ini dapat membawa investor ke jalan yang salah dan membuat beberapa keputusan buruk untuk uang mereka.
Share to :
Artikel Terkait